
Aditya yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah melakukan ritual mandinya setelah bercinta, ia melihat ke arah wanita yang tengah bermalas-malasan di atas ranjang setelah momen percintaan panas mereka. Bisa dilihatnya wajah pucat dari istrinya yang tadi baru saja muntah-muntah lagi setelah melakukan hubungan suami istri.
"Masih pusing Sayang?" Mendaratkan tubuhnya di pinggir ranjang dan mengusap lembut wajah pucat itu.
"Iya," jawab Queen yang tidak bersemangat karena merasa sangat lemas setelah mengeluarkan semua isi perutnya.
"Kamu lemas setelah mengeluarkan semua isi perutmu. Sebaiknya aku meminta pramugari untuk membawakan makanan untukmu. Kamu tunggu di sini ya!" ucap Aditya yang beranjak dari tempatnya dan berniat untuk berjalan keluar.
"Tidak perlu keluar untuk menemui para keong racun itu My hubbiy, karena kamu bisa menyuruh para pengawal untuk mengantarkan makanan ke sini. Aku tidak mau kamu bicara dengan wanita lain yang mungkin mengincarmu. Suruh saja Dave bilang pada pramugari untuk mengantarkan makanan dan minuman."
Aditya yang tadi sudah menatap ke arah istrinya yang semakin menunjukkan posesifnya, hanya menganggukkan kepalanya dan mulai berjalan keluar dari ruangan pribadi tersebut untuk segera menemui Dave.
"Dave," teriak Aditya yang berharap pria yang dicarinya segera datang. Sebenarnya itu bukanlah sifatnya yang sebenarnya saat menyuruh-nyuruh orang. Akan tetapi, ia tidak ada pilihan lain karena tidak ingin bertemu dengan pramugari yang malah akan berakhir dipecat oleh sang istri seperti kejadian yang telah lalu.
Dave yang dari tadi asyik menatap foto nona mudanya, buru-buru memasukkan ponselnya begitu mendengar suara bariton dari tuan mudanya. "Iya Tuan muda."
"Tolong antarkan makanan untuk istriku! Kamu tahu sendiri kan kalau dia sama sekali tidak mengijinkan aku untuk sekedar berbicara dengan pramugari? Nona mudamu benar-benar posesif," ucap Aditya seraya sedikit terkekeh.
"Iya Tuan muda, itu karena Nona muda sangatlah mencintai Anda. Karena itulah Nona muda tidak ingin membiarkan Anda berbicara dengan wanita lain. Kalau begitu saya bilang dulu pada pramugari untuk menyiapkan makanannya, nanti saya yang akan mengantarkannya Tuan muda."
Dave mencoba untuk tersenyum, meski sebenarnya jauh di dalam hatinya merasakan kepedihan yang luar biasa karena merasa sangat cemburu dan sakit hati. Tentu saja ia merasa sangat iri dengan keberuntungan dari pria biasa di depannya.
Aditya menepuk pundak Dave. "Terima kasih Dave. Apakah aku bisa menganggapmu seperti adikku sendiri?"
"Eh ... apa maksud Tuan muda? Rasanya tidak pantas saya tiba-tiba dianggap adik oleh Tuan muda." Dave terlihat menggaruk tengkuknya karena merasa tidak enak pada pria yang menatapnya dengan tatapan intens itu.
"Tidak ada maksud apa-apa, hanya saja seperti yang kamu lihat saat ini. Sepertinya aku sama sekali tidak diijinkan untuk berbicara atau pun dekat dengan siapa pun oleh nona mudamu itu. Karena aku tidak ingin membuatnya kesal, bukankah aku harus menuruti semua perintah dari sang tuan putri? Jadi, sepertinya aku hanya akan dekat denganmu Dave."
__ADS_1
Setelah mengungkapkan apa yang ada di hatinya, Aditya kembali menepuk lengan kekar pria di depannya. "Jadi, mulai sekarang aku akan menganggapmu adikku."
"Sebenarnya saya tidak pantas Tuan muda, tapi jika itu alasannya, saya akan dengan senang hati menerimanya," ucap Dave yang sudah membungkuk hormat pada pria yang sangat dihormatinya itu.
"Meski sebenarnya hati saya sangat terluka Tuan Aditya, karena menjadi adik dari suami wanita yang saya cintai," gumam Dave yang sudah berlalu pergi meninggalkan tuan mudanya.
Aditya mengamati siluet dari pria berparas manis yang mempunyai badan agak sedikit lebih besar darinya.
"Dave sepertinya adalah pria yang baik, bagaimana kalau aku coba jodohkan dia dengan Sabrina? Siapa tahu mereka cocok," ucap Aditya dengan lirih.
"Aku harus berbicara dengan Sabrina agar dia tidak selamanya menungguku, karena aku tidak mungkin membiarkannya tidak menikah selamanya akibat berharap aku akan kembali padanya. Aku sangat mencintai istriku, jadi tidak mungkin aku kembali padanya," gumam Aditya.
Saat Aditya tengah sibuk memikirkan tentang wanita yang pernah dekat dengannya, suara dari sang istri yang berteriak memanggilnya langsung membuat lamunannya buyar seketika.
"My hubbiy, kenapa lama sekali?" teriak Queen yang sudah merasa sangat kesal karena ditinggalkan terlalu lama, padahal ia sedang ingin bermanja-manja pada suaminya yang lama tak kembali.
Queen mengangkat kepalanya dan ia taruh di paha pria yang sudah duduk di pinggir ranjang. "Aku rasanya sangat malas beranjak dari sini," ucap Queen seraya melingkarkan tangannya di pinggang kokoh pria yang sudah mengusap lembut wajahnya.
"Aku tahu kenapa kamu seperti ini, semua ini adalah bawaan bayi. Dulu adik dari Ayah juga begini saat hamil muda." Aditya masih terus mengusap lembut kening wanita yang terlihat sangat lemas itu.
"Belum tentu juga aku hamil, jadi jangan mengambil kesimpulan dulu. Besok pagi aku akan mengeceknya dengan testpack. Akan tetapi, jika aku benar-benar hamil, aku akan menghubungi Daddy Azriel dan memamerkan padanya bahwa aku sudah hidup berbahagia bersamamu dan juga telah hamil buah cinta kita."
Queen membayangkan reaksi dari pria yang selama ini sangat dicintainya, tapi tidak pernah membalas cintanya.
"Kira-kira Daddy Azriel bilang apa nanti? Apakah dia akan ikut merasa bahagia karena mempunyai seorang cucu? Astaga ... sekarang aku bilang cucu padanya, padahal dulu aku sangat ingin memiliki anak darinya. Rasanya malu sekali mengingat kebodohanku di masa lalu," gumam Queen.
Aditya tidak berkedip mengamati tatapan kosong dari wanita yang baru saja menyebut nama pria lain yang pernah disukainya. "Sepertinya saat ini kamu sedang memikirkan dia," batin Aditya.
__ADS_1
"Sayang, kamu boleh-boleh saja menghubungi Daddy-mu itu, asal jangan CLBK atau mengenang masa-masa kamu sangat mencintai dia, oke! Aku akan sepenuhnya percaya padamu, apakah kamu bisa bersikap sebaliknya padaku?"
Queen yang dari tadi asyik melamun, langsung tersadar begitu mendengar perkataan dari sang suami. Manik bening miliknya seketika ber-sitatap dengan netra pekat di depannya. "Kamu memintaku untuk sepenuhnya percaya padamu?"
"Iya, jangan pernah mencurigai suamimu dan berpikir macam-macam terhadapku!"
Queen refleks langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa, karena situasiku berbeda denganmu."
"Astaghfirullah," ucap Aditya yang sudah sibuk memijat pelipisnya. "Berbeda yang bagaimana Sayangku?"
"Tentu saja sangat berbeda lah, aku sudah membuktikan cintaku dengan menuruti perintah dari Reynaldi asal kamu tetap hidup dan juga aku memutuskan untuk menutup aurat demi dirimu. Apa itu bukanlah sebuah bukti? Sedangkan kamu belum membuktikan cintamu padaku," rengut Queen dengan sangat kesal.
"Jadi, aku harus melakukan apa untuk membuktikan bahwa aku sangat mencintaimu Istriku?"
"Buktikan dengan cara tidak berbicara atau pun menatap wanita lain. Jadi, kamu harus menuruti semua perintahku, oke! Berjanjilah padaku!" Queen mengarahkan jari kelingkingnya pada pria yang malah geleng-geleng kepala terhadapnya.
Aditya dengan sangat terpaksa menautkan jari kelingkingnya ke jari sang istri yang dari tadi menatapnya dengan tatapan menusuk. "Baiklah Sayang, aku berjanji."
"Suami pintar, kalau begini kan aku jadi makin cinta sama kamu My hubbiy. Menunduklah, aku ingin menciummu!"
"Jangan!"
"Kenapa?"
"Nanti akan terjadi ronde kedua di sini," jawab Aditya yang sudah tersenyum tipis pada istrinya.
"Dasar suami nakal, kalau begitu aku cubit saja perutmu sebagai ganti ciumannya." Queen mengarahkan tangannya untuk mencubit perut sixpack pria yang sudah mencubit pipinya.
__ADS_1
TBC ...