
Queen menatap ke arah Dave dan mulai menanyakan pertanyaannya. "Brother menghubungimu?" sela Queen yang merasa tidak sabar dengan cerita dari pengawalnya.
"Iya Nona muda. Tuan Arthur tadi menelfon dan mengatakan bahwa Tuan baru saja menghubungi sahabatnya yang bekerja di PMI," ucap pria dengan postur tubuh tinggi tegap itu.
"PMI? Oh ya, kenapa aku sama sekali tidak berpikir tentang PMI ya? Karena terlalu panik dan khawatir dengan keadaan dari suamiku, membuatku tidak bisa berpikir jernih." Queen terlihat menepuk jidatnya begitu menyadari kebodohannya. "Lanjutkan saja ceritamu, sepertinya Brother mempunyai kabar baik untuk adik kesayangannya ini."
Queen melirik sinis ke arah pria yang berada di sebelahnya dan kembali fokus mendengarkan cerita dari pengawalnya.
Sedangkan Reynaldi mendadak agak sedikit khawatir saat melihat banyaknya para pengawal yang sudah datang ke rumah sakit.
"Mereka tidak mengetahui bahwa aku lah pelaku di balik penusukan pria miskin itu kan? Jika sekarang mereka mengetahuinya, aku tidak mungkin bisa pergi dari sini karena mereka akan menangkapku. Tidak, itu tidak mungkin terjadi. Tenanglah Rey, kamu tidak boleh gugup. Karena itu akan membuat mereka curiga," batin Reynaldi dengan berdebar.
Lalu, pengawal tersebut mulai melanjutkan ceritanya. "Saat Tuan muda Arthur menghubungi sahabatnya untuk menanyakan tentang stock darah O- di PMI, sahabatnya menjelaskan bahwa untuk golongan darah Rhesus negatif (-) memang tidak ada stock di PMI atau Bank darah."
Sontak saja penjelasan dari pengawalnya itu membuat Queen langsung lemas seketika, seolah tidak ada harapan lagi untuknya. Dengan wajah penuh kilatan amarah, Queen menatap tajam ke arah para pria berseragam hitam-hitam itu.
"Apa kalian semua datang ke sini hanya untuk membuatku menghabisi kalian?" sarkas Queen dengan menatap tajam satu persatu pengawalnya.
Merasa di atas angin, Reynaldi bersorak kegirangan di dalam hatinya. "Untung saja, ternyata hanya itu yang ingin mereka katakan. Bikin deg-degan saja," gumam Reynaldi.
"Sudahlah Queen, jangan membuat keributan di sini! Jadi nggak donor darahnya?" ejek Reynaldi dengan terkekeh.
"Tentu saja jadi, lebih baik kamu cepat masuk!" Queen mengibaskan tangannya pada pria yang masih seolah mengejeknya.
"Baiklah," jawab Reynaldi yang sudah melangkah masuk ke dalam ruangan operasi. Namun, para pengawal langsung menahan kedua lengannya. "Apa-apaan kalian?" Menatap tajam ke arah 2 pria yang berada di kanan dan kirinya.
__ADS_1
"Anda tidak perlu repot-repot untuk mendonorkan darah Anda Tuan Rey!" ucap Dave orang kepercayaan Queen dan mengambil surat perjanjian yang tadi ditandatangani oleh majikannya tersebut. Lalu, ia langsung merobeknya menjadi serpihan-serpihan kecil dan membuangnya ke lantai.
"Apa-apaan kau? Apa kau mau mati?" Reynaldi yang merasa sangat marah pada pria di depannya langsung menoleh ke arah Queen. "Lihatlah kelakuan anak buahmu yang bodoh ini Queen, apakah dia mau pria miskin itu mati?"
Mendengar kata mati dari Reynaldi, tentu saja membuat Queen kembali disulut amarah. "Apa-apaan kamu Dave? Kenapa merobek surat perjanjian itu? Itu adalah penentu hidup dan mati suamiku Dave. Dasar bodoh!"
Masih dengan perasaan marah dan kesal, Queen berniat mengumpulkan serpihan kertas itu. Namun, suara bariton dari orang kepercayaannya itu membuatnya seketika tidak jadi melakukannya.
"Bukan kertas itu yang menentukan hidup mati Tuan muda Aditya Nona," ucap Dave dengan mencoba menyadarkan majikannya.
"Apa kamu mau mengajariku Dave?" sarkas Queen dengan bersungut-sungut.
Dave menggelengkan kepalanya. "Sama sekali tidak Nona muda, saya ingin mengatakan kenyataannya. Karena jika Tuan muda Aditya sadar, dia pasti akan menyuruh Anda untuk memohon pertolongan pada Tuhan. Karena hidup, mati dan jodoh sudah digariskan semenjak kita berada di dalam kandungan oleh Tuhan sang pencipta alam semesta."
Perkataan dari orang kepercayaannya itu seolah sebuah tamparan keras untuk dirinya. Queen yang tersadar dari kecerobohannya, mulai bisa menyadari kesalahan terbesarnya yang tidak pernah menganggap Tuhan adalah orang pertama yang bisa menolongnya.
"Kami sudah menemukan orang yang mempunyai golongan darah O- Nona muda. Dia lah orangnya!" Dave menunjuk ke arah gadis muda yang memakai dress selutut berwarna peach itu.
Jantung Queen seketika berdetak sangat kencang karena saat ini perasaannya benar-benar tidak menentu. Karena antara rasa percaya dan tidak percaya saat mendengar perkataan dari orang kepercayaannya.
"Benarkah yang kamu katakan Dave? Kamu tidak sedang mencoba untuk membohongiku untuk sekedar menghiburku kan? Karena jika kamu sampai melakukannya, aku akan menghabisimu dengan tanganku sendiri!"
Dave menganggukkan kepalanya dan mulai mengeluarkan suaranya untuk menceritakan tentang perihal yang sebenarnya terjadi. "Memang kata sahabat Tuan Arthur tidak ada stok darah di Bank darah atau pun di PMI Nona muda. Akan tetapi PMI memiliki daftar nama-nama orang yang memiliki golongan darah O-."
"Selain itu, golongan darah Rhesus negatif (-) memiliki sebuah perkumpulan dan selalu siap sedia untuk melakukan donor darah jika diperlukan sewaktu-waktu. Dan wanita ini adalah ketua dari perkumpulan itu yang juga memiliki golongan darah O-. Jadi, dia siap untuk membantu."
__ADS_1
Gadis berambut panjang itu langsung berjalan mendekat dan dan mulai membungkuk hormat. "Saya Dewi Kurniasari Nona muda. Saya akan mendonorkan darah untuk suami Anda."
Refleks Queen yang sudah berubah berbinar wajahnya langsung memeluk erat tubuh kurus wanita yang dianggapnya adalah Dewi penolongnya.
"Terima kasih, aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu ini. Mulai sekarang, kamu adalah saudaraku dan apapun permintaanmu, akan aku penuhi."
Dewi seketika menggelengkan kepalanya dan mengarahkan tangannya untuk menolak. "Tidak perlu Nona muda, saya ikhlas menolong dan sama sekali tidak mengharapkan sebuah imbalan."
"Lagipula saya sangat mengagumi Tuan Arthur yang dulu selalu datang ke perkumpulan kami jika berada di Bali. Tuan Arthur selalu memberikan bantuan berupa uang tunai untuk donasi membantu orang-orang yang sudah bersedia mendonorkan darahnya jika diperlukan darurat."
Queen melepaskan pelukannya dan mulai menatap ke arah gadis cantik yang terlihat sangat polos di depannya. Ia menatap penuh selidik gadis muda itu. "Berapa usiamu?"
"20 tahun Nona, kenapa memangnya?" Dewi Kurniawati mengerutkan keningnya.
"Kamu masih muda dan cantik, jadi kamu bisa dengan mudah mendapatkan pria idamanmu, tapi bukan Brother Arthur. Jangan jatuh cinta padanya jika kamu masih ingin hidup, karena dia mempunyai istri yang galak dan akan menghabisi nyawa tiap wanita yang mengincar suaminya. Bukankah kamu menyukai Abangku?" tanya Queen dengan tatapan penuh selidik.
Wajah Dewi seketika berubah merona karena merasa sangat malu telah ketahuan oleh adik dari pria yang disukainya. "Eh ... itu Nona muda ...."
Queen menggelengkan kepalanya dan mulai mengarahkan tangannya ke arah depan. "Kamu tidak perlu menjelaskannya. Perasaan cinta memang tidak pernah salah, tapi lebih baik berpikir rasional agar tidak membuat kita jatuh dalam kesedihan dan kehancuran. Karena aku sudah mengalaminya sendiri, hanya rasa sakit yang kita rasakan." Melirik sinis ke arah pria yang dari tadi hanya terdiam di tangan pengawalnya.
"Iya Nona muda, saya akan mengingat perkataan Anda. Kalau begitu saya masuk dulu ke dalam, semoga suami Nona segera sembuh setelah saya mendonorkan darah saya." Dewi langsung melangkahkan kakinya menuju ke dalam dan sekilas melirik ke arah pria yang masih dipegangi tangannya oleh pengawal.
Sementara itu, Reynaldi merasa sangat frustasi begitu mengetahui rencananya telah gagal. Dirinya saat ini menatap tajam wanita gadis yang telah menghancurkan seluruh rencananya.
"Shit ... dasar gadis sialan, dia harus membayar perbuatannya. Aku akan menghancurkan hidupnya. Kenapa semuanya bisa jadi seperti ini. Sial, aku tidak jadi menikah dengan nona muda arogan ini dan menikmati tubuhnya. Dan gadis sialan ini yang harus menggantikannya dengan tubuhnya," batin Reynaldi.
__ADS_1
TBC ...