
Dengan tatapan intens, serta wajah yang dipenuhi rasa penasaran yang teramat sangat, Queen bisa melihat ekspresi ragu-ragu dari sang suami yang tidak melanjutkan perkataannya. "Sebenarnya apa? Kenapa tidak dilanjutkan?" tanya Queen yang sudah mengangkat kedua alisnya. "Aku melihat ada sebuah rahasia yang kamu sembunyikan."
Awalnya Aditya ingin segera memberitahu tentang hal yang diketahuinya bahwa Dave sebenarnya memiliki perasaan pada istrinya tersebut. Namun, mendadak ia merasa sedikit ragu karena takut akan merusak hubungan baik dari istrinya yang sangat mempercayai pengawal pribadinya tersebut.
"Ya Allah, apakah tidak apa-apa jika aku memberitahu istriku bahwa Dave memiliki perasaan padanya? Apakah istriku tidak akan membenci Dave atau berakhir memecatnya? Bukankah aku sangat bersalah jika sampai istriku membenci pengawal kepercayaannya?" gumam Aditya.
Kecurigaan Queen semakin menjadi saat melihat pria yang duduk di sebelahnya itu malah menatap kosong ke arah depan. Karena merasa sudah tidak sabar, ia mengarahkan tangannya untuk menepuk pundak dari suaminya. "My hubbiy ...."
"Eh ... iya, Sayang. Maaf, karena aku tadi sedang menimbang-nimbang apakah tidak masalah aku mengatakan hal ini padamu," jawab Aditya yang tersadar dari lamunannya.
"Kamu harus mengatakannya padaku, My hubbiy! Karena aku tidak ingin mati penasaran. Sekarang cepat katakan padaku!" Queen sudah menghadap ke arah sang suami yang juga tengah menatap ke arahnya.
"Ehm ... Sayang, ini tentang Dave," ucap Aditya dengan ragu-ragu.
"Dave? Apakah My hubbiy mau membahas tentang perjodohan lagi? Aku malas mendengarnya, lebih baik aku tidur!" Tanpa menunggu jawaban dari pria yang masih duduk di kursi, Queen berjalan masuk ke dalam kamar. Seperti ia sudah terbiasa keluar masuk kamar dan merebahkan tubuhnya di ranjang sederhana yang menurutnya tidak layak ditempati tersebut.
"Sayang, aku belum selesai berbicara!" teriak Aditya yang langsung bangkit berdiri dari kursi dan berjalan mengikuti sang istri yang masuk ke ruangan pribadi miliknya. Dan bisa dilihatnya, sang istri sudah melepaskan hijabnya dan baru saja membaringkan tubuhnya. Senyuman terbit dari wajahnya, "Sepertinya sekarang istriku sudah betah tinggal di gubuk derita ini," ucap Aditya yang mendaratkan tubuhnya di sebelah sang istri.
Queen hanya tersenyum kecut menanggapi kalimat bernada sindiran dari pria yang sudah menggenggam erat tangannya dan mengusapnya lembut. "Ini karena terpaksa. Aku ingin membuat suamiku selalu merasa bahagia," ucap Queen dengan bersungut-sungut.
"Terima kasih, Sayang." Aditya membungkukkan badannya saat mencium kening sang istri dan mulai melanjutkan perkataannya. "Sebenarnya Dave menyukaimu, Sayang." Menatap reaksi dari sang istri yang saat ini sangat terkejut dengan membulatkan matanya. Akan tetapi, itu tidak berlangsung lama, karena Queen malah tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Queen terlihat tengah memegangi perutnya karena tidak berhenti tertawa saat mendengar kalimat konyol dari suaminya. "My hubbiy ... My hubbiy, ada-ada saja kamu ini. Tentu saja Dave menyukaiku lah, karena jika dia tidak menyukaiku, tidak mungkin jadi pengawal kepercayaanku."
Aditya menggelengkan kepalanya, "Bukan itu maksudku, Sayang. Akan tetapi, Dave sangat mencintaimu sebagai seorang pria pada wanita. Aku bisa melihat tatapan penuh cinta dari matanya saat memandangmu. Dan juga tatapan penuh kecemburuan dan terluka saat kita terlihat bermesraan di depannya. Aku mengetahuinya saat kita berada di dalam pesawat. Dave terlihat sangat terluka dengan mata merah yang seolah menahan rasa sakit saat melihat kamu bersikap manja padaku."
Untuk sesaat Queen terdiam dan mencermati perkataan dari pria yang sudah menatapnya dengan tatapan intens. Kemudian ia bangkit duduk dan bersila seraya meraih bantal dan menaruhnya di atas pahanya. Tatapan dari pria yang sangat dicintainya yang terlihat sangat serius itu menunjukkan bahwa suaminya tidak sedang bercanda dengan ucapannya.
"Dave mencintaiku?" tanya Queen yang sudah mengarahkan telunjuknya ke dirinya sendiri.
"Iya, Sayang. Kamu terlalu polos, karena itulah tidak bisa melihat pria yang berada di dekatmu telah jatuh cinta padamu. Karena itulah aku bisa menilai kalau tipe sosok wanita dari Dave adalah wanita sepertimu." Aditya menghentikan perkataannya untuk sejenak, bertujuan untuk menunggu jawaban dari penjelasannya.
"Aneh sekali mendengarnya, rasanya aku tidak mempercayai perkataanmu itu, My hubbiy. Sepertinya aku harus menanyakannya sendiri pada Dave." Queen meraih ponselnya yang berada di atas meja di samping ranjang. Niatnya adalah ingin menanyakan kebenaran dari perkataan suaminya.
Merasa sangat kesal karena istrinya terlalu polos dan tidak peka, membuat Aditya refleks merebut ponsel dari tangan Queen. "Astaghfirullah, kenapa kamu bisa se-polos ini Tuan putri!"
"Kamu akan membuat Dave semakin tersiksa dan merasa sangat malu jika sampai kamu menanyakan ini padanya. Jangan bertanya padanya dan berpura-pura saja tidak tahu, oke!"
"Aku tidak bisa," jawab Queen dengan wajah datarnya.
"Kenapa tidak bisa, Sayang?"
"Karena aku bukan wanita yang munafik," jawab Queen dengan santainya. "Aku tidak bisa bersikap berpura-pura di depan orang lain. Karena itu adalah sebuah topeng kepalsuan, dan aku bukanlah wanita yang penuh kepalsuan."
__ADS_1
"Aku tahu, Sayang. Akan tetapi, ada baiknya kamu berpura-pura demi sebuah kebaikan. Anggap saja ini adalah sebuah balas budimu pada Dave yang selama ini melindungimu," ucap Aditya yang dari tadi tidak berhenti mengusap lembut punggung tangan dari wanita yang terlihat masih tidak puas dengan jawabannya.
"Benarkah Dave menyukaiku? Sepertinya pesonaku memang membuat para pria jatuh cinta padaku, beginilah resiko menjadi wanita yang cantik dan populer," ujar Queen dengan terkekeh.
Aditya hanya geleng-geleng kepala melihat reaksi dari Queen yang malah bercanda dan tidak menganggap serius masalah itu. "Aku sangat serius, tapi kamu malah asyik bercanda, Sayang."
"Baiklah ... baiklah, aku akan serius kali ini. Jadi, maksudmu adalah Dave sudah lama mencintaiku dan memendam perasaannya. Menurut pendapatmu, sosok wanita yang disukai oleh Dave adalah wanita yang sepertiku? Dan kamu berpikir Sabrina yang memiliki watak keras itu sangat cocok dengan Dave, begitu?"
Aditya menganggukkan kepalanya, "Perfect, ternyata istriku benar-benar sangat jenius. Karena itulah, biarkan Dave dan Sabrina dekat dengan bekerja di 1 perusahaan. Bukankah ideku ini sangat menarik dan membuatmu merasa aman dan tidak akan merasa terganggu dengan Sabrina?"
Queen masih terdiam saat pria yang berada di depannya itu menatapnya dengan tatapan penuh permohonan. "Kenapa sekarang kamu malah asyik menyuruh dan memerintahku, My hubbiy?"
"Karena semua ini demi kebaikan bersama, Sayang. Agar hidup kita bahagia dan juga membuat pria yang masih belum bisa move on padamu bahagia. Begitu pula dengan Sabrina, aku ingin dia melupakan aku dan menemukan kebahagiaannya. Menurutmu bagaimana?" tanya Aditya dengan tersenyum tipis.
"Entahlah, sepertinya aku harus memikirkannya dulu," jawab Queen dengan sangat santai.
"Baiklah, terserah kamu saja, Sayang. Yang penting aku sudah berusaha untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Akan tetapi, kamu harus bersikap seperti biasanya pada Dave. Seolah kamu tidak tahu bahwa Dave mencintaimu, oke!"
"Bukankah ini adalah sebuah perintah buruk? Karena suamiku malah menyuruhku untuk bersikap munafik? Seorang pria Sholeh ternyata bisa berbuat seenaknya sekarang. Aku salut padamu, My hubbiy," ejek Queen yang sudah mengarahkan tatapan penuh seringai.
"Aku mengakuinya, Sayang. Asal kamu bahagia," ucap Aditya dengan dengan tak henti mengucapkan kalimat syukur.
__ADS_1
"Alhamdulillah, akhirnya istriku mau mengikuti perintahku. Semoga ini akan menjadi sebuah awal yang baik," gumam Aditya.
TBC ...