
Queen saat ini terlihat tengah serius menatap ponselnya. Tentu saja setelah dua pegawai hotel itu pergi, Queen langsung searching di internet untuk mengetahui ciri-ciri wanita yang sudah tidak perawan. Karena dirinya tidak mengerti apakah masih perawan atau tidak, sehingga ia sibuk mencari tahu di internet.
Dengan serius ia membaca informasi dari ponselnya dan ia berjalan ke arah cermin untuk sesekali memeriksa fisiknya. Apakah sesuai dengan apa yang dibacanya, dimulai dari mata, telapak tangan, bagian dadanya, perut, dan hidung.
"Aditya sialan, dia tidak menjawab apakah tadi dia sudah memperkosaku atau tidak. Kenapa aku tidak mengingat apapun selain saat aku melepaskan handuk yang aku pakai dan dengan brutal menyerangnya. Brengsek ... aku tidak mungkin akan berbuat gila jika tidak dibawah pengaruh obat perangsang."
"Aku harus menjebloskannya ke penjara karena dia telah memberikan obat perangsang padaku. Akan tetapi, bagaimana caranya? Apa itu akan malah membuatku malu? Bagaimana caraku menjelaskan kepada polisi dan pengacaraku nanti? Apa pengacaraku bisa menyelesaikan masalah ini?"
"Bagaimana reaksi daddy dan mommy nanti jika aku melaporkan Aditya pada polisi dengan tuduhan suami memberikan obat perangsang pada istrinya. Apakah itu bisa dipidanakan? Ya ampun, aku benar-benar sangat stres memikirkan ini. Menyebalkan sekali, disaat aku ingin membuat Aditya mempertanggungjawabkan perbuatannya, tapi kenyataannya aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk memenjarakan dia."
"Aaaaaaarrrh ... brengsek!" Queen yang sudah berjalan ke arah ranjang, langsung melemparkan bantal dan selimut yang sudah tertata sangat rapi itu. Setelah puas berteriak dan melampiaskan amarahnya, Queen meraih ponselnya dan langsung menghubungi pengacaranya untuk mengurus perceraian.
*********
Aditya saat ini sudah berada di rumahnya, ia sengaja pulang ke rumah, karena itu adalah tempat teraman untuknya menenangkan diri. Tentu saja ia tidak ingin sampai ada yang tahu bahwa dia telah bertengkar dengan sang istri, karena ia ingin melindungi nama baik wanita yang sudah dinikahinya itu agar tidak sampai tercemar.
Sudah merupakan kewajibannya untuk menutupi aib istrinya, karena ia menganggap istri ibarat pakaian yang ia pakai. Sehingga ia lebih memilih untuk menyembunyikan diri di rumah.
Saat ini Aditya terlihat sedang berdiri di dapur untuk menyeduh teh hangat. Kepalanya yang pusing, membuatnya seolah tidak bisa berpikir jernih untuk memecahkan masalah yang ia hadapi. Sehingga ia mencoba untuk menenangkan perasaannya sejenak dengan bersantai menikmati teh hangat.
__ADS_1
Kini ia mulai duduk di kursi yang berada di ruang makan berukuran dua meter itu, lalu menyeruput teh yang baru saja dibuatnya.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin bersembunyi di sini selamanya, karena papa dan mama mertua akan mengetahuinya nanti. Mereka tidak boleh mengetahui masalah yang sedang aku hadapi ini, aku harus menyelesaikan masalah yang terjadi dalam rumah tanggaku ini berdua tanpa melibatkan orang tua."
"Mungkin aku harus memberikan Queen waktu untuk meredamkan amarahnya terlebih dahulu, siapa tahu nanti setelah beberapa jam, dia akan tenang dan bisa diajak berbicara dengan kepala dingin."
Saat Aditya berbicara sendiri di ruang makan, suara ketukan pintu mulai terdengar di indera pendengarannya. Aditya mengerutkan keningnya. "Siapa yang datang? Apa tetangga yang melihatku masuk ke rumah, sehingga ingin mengucapkan selamat kepadaku?"
Karena tidak ingin membuat tamu yang datang menunggu lama, Aditya langsung berjalan ke depan untuk membukakan pintu. Ia pun membuka kenop pintu dan melihat pria yang dengan postur tinggi besar telah berada di hadapannya. Sontak saja Aditya merasa sangat terkejut begitu melihat orang yang ada di hadapannya.
"Papa ... bagaimana Anda bisa ada di sini? Apa Anda tahu bahwa aku dan Queen sedang ada masalah?"
Aditya langsung mengarahkan tangannya untuk mempersilahkan mertuanya itu masuk ke dalam rumah. "Maafkan aku Pa, silahkan masuk ke gubuk saya! Tidak mungkin kita berbicara di luar."
Abymana melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah berukuran tidak terlalu besar itu, lalu ia langsung mendaratkan tubuhnya di atas sofa yang ada di ruang tamu berukuran tiga meter itu.
Sedangkan Aditya langsung menutup pintu dan berjalan menghampiri mertuanya yang sudah duduk di sofa. "Papa mau minum apa, biar saya buatkan!"
Abymana menggelengkan kepalanya dan mengarahkan tangannya menunjuk ke arah sofa. "Aku datang ke sini bukan untuk minum, duduklah! Aku ingin kamu menceritakan padaku bagaimana kamu bisa berakhir di sini!"
__ADS_1
Aditya menuruti perintah dari mertuanya untuk duduk di sofa, lalu dirinya mulai menjawab pertanyaan dari pria yang sangat dihormatinya tersebut. "Aku pulang untuk mengambil beberapa pakaian Pa, sebentar lagi juga aku kembali ke hotel. Lagipula istriku sudah menungguku, meskipun dia masih belum menganggap aku suami."
Abymana refleks langsung terkekeh mendengar perkataan dari menantunya tersebut yang dianggapnya sangat polos dan suci. Karena tidak menjelekkan putrinya dan malah terkesan menutupi kesalahan putrinya yang jelas-jelas diketahuinya bersalah.
"Aditya ... Aditya, apa kamu selamanya akan memendam perasaanmu yang terluka sendirian tanpa memberikan kesempatan untuk orang lain menghiburmu? Aku baru saja mendapatkan telefon dari pengacaranya Queen."
Aditya yang merasa sedikit paham arti dari kalimat ambigu mertuanya itu, membuatnya sedikit kebingungan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. "Aku tidak bisa menjelaskan apa-apa Pa, biar Queen yang menjelaskan semuanya pada Papa. Lagipula aku di sini memang harus menuruti semua perintah dari putri Papa, karena pernikahan ini memang terjadi atas dasar sebuah perjanjian."
"Apa isi perjanjian itu Aditya? Aku belum mengetahui surat perjanjian yang kalian tanda tangani, jadi jelaskan padaku apa isinya!" tanya Abymana seraya menatap ke arah menantunya.
Aditya menggelengkan kepalanya dan netra pekatnya kini bersitatap dengan netra pekat mertuanya. Sebenarnya Queen belum sempat membuat surat perjanjiannya Pa, jadi kami belum menandatangani apa-apa."
"Bagus, sekarang serahkan semuanya pada Papa! Biar Papa yang menyelesaikan masalah kalian, ini hanya perkara yang mudah," jawab Abymana dan bangkit berdiri dari posisinya yang tadinya duduk di sofa berwarna biru itu.
Aditya seketika berdiri dan langsung menanyakan apa yang ada di pikiran mertuanya yang merupakan orang hebat itu. "Memangnya Papa mau berbuat apa? Jika Queen memang ingin bercerai, maka apa yang bisa aku lakukan? Aku tidak mungkin menolak keinginan dari Queen."
"Biarkan Queen menggugat cerai dirimu, tapi sebelum itu tanda tangani dulu surat perjanjian ini!" Abymana mulai membuka tas yang dibawanya, lalu mengeluarkan kertas dengan tulisan di atasnya dan menyerahkannya pada menantunya yang berada di depannya.
Aditya langsung menerima kertas putih itu dan seketika membulatkan kedua matanya begitu membaca tulisan yang tertera di sana.
__ADS_1
TBC ...