
"Iya, kamu benar. Wanita yang aku cintai dulu adalah nona muda Queen. Akan tetapi, wanita yang saat ini aku cintai adalah Sabrina Anggraini." Tatapan teduh Dave mengarah pada ekspresi wajah Sabrina yang terlihat sangat shock begitu mendengar pernyataan cintanya.
Entah mengapa ia tiba-tiba merasa sangat mudah saat mengungkapkan tentang apa yang dirasakannya ketika melihat kemarahan dari Sabrina. Tentu saja ia bisa melihat kecemburuan dari wanita yang ingin ia lindungi selamanya, sehingga menurutnya sudah saatnya memberi tahu tentang perasaannya yang terpendam.
"A-apa ...." Lagi-lagi Sabrina mundur beberapa langkah dan wajahnya terlihat sangat shock begitu mendengar Dave mengungkapkan perasaannya. "Kamu mencintaiku? Astaga, kamu konyol sekali." Sabrina refleks langsung terbahak untuk menyembunyikan degub jantungnya yang tiba-tiba berdebar kencang setelah mendengar pernyataan cinta Dave.
"Astaga, dia bilang apa tadi? Mencintaiku? Apa tidak salah? Secepat itu? Memangnya cinta bisa datang secepat itu, tetapi kenapa aku tiba-tiba jadi berdebar-debar ya? Padahal aku tidak merasakan apa-apa padanya. Aku masih mencintai mas Aditya, karena dia yang menjadi sosok suami idaman. Akan tetapi, apakah dia akan kembali padaku? Aku sangat tahu, kalau hal itu tidak akan pernah terjadi. Dasar bodoh, aku memang benar-benar bodoh," gumam Sabrina yang mencoba melihat netra pekat di depannya untuk memastikan kejujuran di sana.
Rahang Dave yang mengeras dengan bunyi gemeretak giginya, seolah menandakan bahwa saat ini ia merasa sangat geram dan kesal karena pernyataan cintanya malah ditertawakan oleh Sabrina. Ia pun berjalan mendekati Sabrina dan menahan rusuk belakangnya, tak lupa ia mengarahkan tatapan menusuk.
"Jangan buat aku mengingkari janjiku padamu, Sayang. Kamu tahu kan kalau aku tidak bisa mengendalikan diri saat sedang marah, jadi jangan terus memancingku. Jangan sampai aku membuatmu pingsan lagi, oke!"
Sabrina yang semakin berdebar-debar berada pada posisi yang sangat dekat dengan Dave yang masih mengungkungnya, membuat ia menelan salivanya untuk menetralkan kegugupannya. "Lepaskan aku, Dave!"
"Kenapa? Kamu gugup? Coba aku lihat." Dave menundukkan wajahnya pada dada Sabrina dan mengarahkan telinganya di sana. Niatnya adalah untuk memeriksa degub jantung Sabrina dan bisa didengarnya bahwa wanita yang berada dalam kuasanya itu sangat berdebar kencang degub jantungnya. "Bahkan detak jantungmu lebih cepat dari batas normal, Sayang. Apakah kamu masih mau mengelak?"
Sabrina mencoba sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari kungkungan Dave, "Lepaskan aku, Dave. Kamu konyol sekali, semua wanita jika berada pada posisi se-intim ini dengan seorang pria, pasti akan berdebar-debar sepertiku. Jadi berasumsi seenaknya sendiri. Aku lapar, cepat lepaskan aku karena makanannya akan dingin nanti."
__ADS_1
Dave hanya terkekeh melihat Sabrina sibuk bergerak seperti cacing kepanasan dalam kuasanya. "Lihatlah tingkahmu, kamu mau melarikan diri dengan mengalihkan pembicaraan kita yang serius. Aku tidak akan melepaskanmu semudah itu."
"Astaga, memangnya kamu mau apa, Dave?" tanya Sabrina yang akhirnya berusaha bersikap biasa dan menatap tajam ke arah wajah dengan rahang tegas dengan pahatan sempurna tersebut. "Kenapa dilihat semakin dekat seperti ini, dia terlihat sangat tampan. Aku sudah gila," gumam Sabrina yang meremas kimono handuknya.
Dave tersenyum menyeringai dan langsung semakin mendekatkan wajahnya untuk berbisik di dekat daun telinga wanita yang terlihat sudah memerah wajahnya. "Aku mau kamu bilang mencintaiku, karena aku tidak menerima sebuah penolakan." Mengarahkan bibirnya untuk menggigit kecil telinga Sabrina.
Tubuh Sabrina semakin meremang dan sentuhan dari Dave berhasil membuat tubuhnya bergetar hebat. Bahkan gairahnya kembali bangkit saat mendapatkan sentuhan kecil di cupingnya. Namun, dengan sekuat tenaga ia menahan diri dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Kamu sudah gila, Dave. Mana ada orang yang menyatakan perasaannya dan memaksakan kehendak." Sabrina sengaja berteriak dengan suaranya yang kencang karena hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menyembunyikan kegugupannya.
"Memangnya kamu baru tahu kalau aku sudah gila karenamu?"
Dave yang merasa semakin kesal karena seperti kesabarannya diuji oleh Sabrina, membuat ia tidak bisa lagi menahannya. Sehingga lagi-lagi ia langsung mendekatkan wajahnya untuk membungkam bibir sensual dari wanita yang selalu mentertawakan dirinya.
Awalnya ia hanya menyesap kecil untuk memberikan pelajaran, tetapi karena bibir kenyal itu selalu menjadi candunya, membuat ia semakin bermain-main di sana dengan cara mengeksplore setiap sudut bibir Sabrina.
Sementara itu, Sabrina yang awalnya sangat terkejut dengan serangan tiba-tiba dari Dave, memilih hanya diam saja. Namun, saat gairahnya kembali bangkit, akhirnya ia terbawa suasana dan membalas ciuman itu. Sedangkan tangannya sudah berpegangan pada pinggang kokoh pria yang saat ini semakin liar menciumnya. Bahkan tulang-tulangnya seolah lemas saat mendapatkan sentuhan dari tangan kekar yang sudah meremas dadanya.
__ADS_1
Dave melepaskan pagutannya setelah merasa pasokan oksigennya mulai habis dan membuat napasnya tersengal. Ia mengusap bekas ciumannya di bibir basah Sabrina yang saat ini terlihat memerah wajahnya.
"Kita lanjutkan nanti setelah makan. Aku sekarang sudah mengetahui jawabannya. Jawaban yang keluar dari bibirmu tidak bisa dipercaya, semuanya penuh kebohongan. Ayo, kita makan dulu." Menggandeng tangan Sabrina dan mengajaknya untuk duduk di sofa.
Sementara itu, Sabrina yang merasa sangat malu karena tidak pernah bisa menolak perbuatan dari Dave, membuat permukaan kulit wajahnya memerah. Sehingga ia kini terlihat seperti kerbau yang dicucuk hidungnya karena hanya mengikuti pergerakan dari pria yang sudah duduk di sebelahnya dan asyik menikmati makanan.
Sehingga ia pun melakukan hal yang sama untuk membuang kegugupannya dengan cara menundukkan kepala saat makan. Tidak lupa ia sibuk merutuki kebodohannya.
"Dasar bodoh kamu Sabrina, kenapa kamu sangat lemah saat Dave menyentuhmu. Harusnya tadi aku mendorongnya agar tidak bermain-main dengan bibirku. Bahkan sekarang bibirku terasa kebas akibat perbuatannya yang menciumku dengan brutal."
Dave melirik sekilas ke arah Sabrina yang masih sibuk mengaduk makanannya, "Tidak perlu galau begitu, setelah makan kita lanjutkan ronde kedua yang sempat tertunda."
Kalimat vulgar yang tertangkap indera pendengarannya, berhasil membuat Sabrina mengangkat pandangannya dan menatap tajam ke arah Dave yang tersenyum penuh seringai padanya. "Dasar pria gila."
"Aku memang gila karenamu, Sabrina. Jadi, jangan lari dari tanggungjawab. Aku pun akan bertanggungjawab padamu jika nanti kamu sampai hamil. Jika tak tokcer dan kamu beneran hamil, anak kita nanti akan seumuran dengan anak dari nona muda Queen. Bukankah nanti mereka bisa menjadi sahabat baik?"
"Kata-katamu sangat konyol, aku tidak mungkin hamil secepat itu." Sabrina terdiam beberapa saat karena sedang mengingat-ingat masa suburnya dan ia baru ingat bahwa seminggu yang lalu baru selesai menstruasi dan bisa dibilang bahwa sekarang ini adalah masa suburnya.
__ADS_1
"Iya bener, ini adalah masa suburku. Aku benar-benar bisa hamil karena sudah berkali-kali bercinta dengan Dave. Bagaimana ini, aku belum siap untuk memiliki anak dari pria yang belum jelas aku cintai," gumam Sabrina dengan perasaan yang sangat cemas.
TBC ...