
Sabrina terlihat berbinar dan membuatnya langsung mengarahkan tangannya untuk melakukan tos pada pria di depannya yang baru saja menolongnya dari Haris. Haris adalah pria yang diketahuinya telah lama menyukainya, tapi ia sama sekali tidak pernah tertarik padanya karena dari pertama Aditya bekerja di perusahaan, ia langsung jatuh cinta pada pria yang terlihat sangat sopan dan selalu taat beribadah itu.
Hingga ia yang berada 1 divisi dengan Aditya membuatnya sering berinteraksi dan mendapat tugas bersama. Dan hal itulah yang semakin membuatnya merasa nyaman dan jatuh cinta. Akhirnya dirinya memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya pada pria Sholeh yang menjadi idaman setiap wanita tersebut. Dan ungkapan hatinya langsung diterima oleh Aditya untuk menjalani masa ta'aruf. Dengan catatan tidak melampaui batas, yaitu tidak bersentuhan secara fisik karena belum muhrim.
Dan selama 1 tahun menjalin hubungan dengan Aditya, ia tidak pernah berpegangan tangan, apalagi berciuman. Hal itulah yang membuatnya merasa sangat marah saat Dave tadi melecehkannya dengan mencuri ciuman pertamanya. Saat ia ingin menghindar dan kabur, malah dihadapkan pada situasi yang mengharuskan berhubungan dengan pria di depannya yang membantunya untuk keluar dari masalah. Yaitu, dikejar-kejar oleh Haris.
Dave mengarahkan tangannya untuk menyambut tangan dari Sabrina yang mengajaknya untuk melakukan tos. "Sepertinya kamu sangat senang saat berhasil membuat pria yang menyukaimu pergi. Bukankah seharusnya kamu merasa beruntung, ada pria yang menyukaimu. Itu akan membuatmu melupakan tuan muda. Lagipula, pria itu cukup tampan. Tidak malu-maluin lah jika diajak jalan."
"Kenapa tidak mencoba menerimanya? Siapa tahu cocok dan kalian menikah," ujar Dave yang sudah mengarahkan tangannya merebut botol air mineral di tangan kanan Sabrina dan langsung membukanya. Kemudian mereguknya hingga habis.
Sabrina yang dari tadi menatap ke arah pria yang berada di depannya tengah mereguk air mineral yang baru dibelinya dan baru ia minum sedikit, tidak berkedip menatap jakun Dave yang bergerak saat sedang minum. Bahkan ia mengamati bibir pria di depannya yang menempel pada botol kemasan air mineral yang tadi diminumnya.
"Astaga, itu bahkan ada bekas lipstikku saat minum tadi. Dia bilang aku jorok saat berpeluh setelah dance tadi, tapi dia malah lebih jorok lagi karena minum di bekas bibirku. Tunggu ... bukankah itu namanya ciuman secara tidak langsung? Pria ini benar-benar ya, sudah lancang mencuri ciuman pertamaku, sekarang malah melakukan ciuman tidak langsung. Memangnya matanya tidak melihat ada bekas lipstik di botol itu apa!" batin Sabrina yang sudah bersungut-sungut di dalam hati.
"Aaarrh ... gara-gara aku tadi sibuk mencarimu, membuatku haus." Menyerahkan botol kosong air mineral itu ke tangan wanita yang terlihat masam dan sudah menekuk wajahnya atas perbuatannya. "Sebenarnya tadi kenapa kamu pergi tanpa memberitahuku? Tidak sopan, main pergi-pergi begitu saja! Kenapa dari tadi diam saja? Apakah kamu sedang mengamati wajahku dan baru menyadari kalau aku sangat tampan?"
Sabrina yang merasa sangat kesal dengan perkataan dari Dave, refleks langsung meremas botol plastik kosong di tangannya hingga terlihat sangat mengenaskan tak berbentuk. Kemudian ia langsung menginjaknya berkali-kali, baru membuangnya ke tempat sampah yang berada tak jauh dari tempatnya.
"Tampan dari Hongkong? Aku sedang sangat kesal, jadi jangan mencoba untuk memantik amarahku dengan kalimat konyolmu itu." Sabrina yang masih sangat geram, mendaratkan tubuhnya di atas kursi besi di depan supermarket.
__ADS_1
"Kamu kesal pada pria tadi, kenapa aku harus kena imbasnya? Sebenarnya siapa pria tadi?" Dave ikut duduk di sebelah Sabrina dan menatapnya dengan tatapan intens karena menunggu jawaban dari pertanyaannya.
Sabrina sama sekali tidak menoleh ke arah pria yang bisa dilihatnya tengah menatapnya. "Aku pun kesal padamu pria kurang ajar, tidak sadar diri banget jadi orang. Ya Allah, sabarkanlah aku," batin Sabrina.
"Pria itu adalah rekan 1 kantor yang sudah lama menyukaiku, tapi aku sama sekali tidak pernah menyukainya karena aku sangat mencintai ...." Sabrina tidak melanjutkan perkataannya karena tidak ingin membuatnya terlihat bodoh. "Sudahlah, jangan dibahas lagi."
"Justru itu," sahut Dave yang sudah menepuk pundak Sabrina.
"Iish ... apaan sih! Tidak perlu pegang-pegang, bukan muhrim. Kamu mau mencuri kesempatan dalam kesempitan ya?" sarkas Sabrina yang sudah menatap tajam ke arah Dave yang terlihat selengek'an padanya. Seolah sudah mengenalnya lama, padahal baru beberapa jam yang lalu dijumpainya.
"Uups ... sorry," jawab Dave yang sudah mengangkat tangannya. "Aku hanya ingin bilang padamu agar segera move on dari tuan muda dengan cara menerima pria lain. Hanya itu saja."
"Tidak perlu memberiku saran, aku pasti nanti akan menemukan seorang pria yang sesuai dengan yang aku harapkan, tapi bukan Haris." Sabrina mengarahkan tatapannya pada para pengunjung yang terlihat berjalan di sekitarnya. "Siapa tahu jodohku ada di sekitar sini dan sedang berjalan di Mall ini untuk mencari pasangan," ucap Sabrina dengan terkekeh.
Sabrina menoleh ke arah samping kanan, di mana pria di sebelahnya itu terlihat seolah tersenyum menyeringai padanya. "Ya iyalah bukan muhrim, memangnya kamu baru tahu?"
"Apakah semua wanita itu selalu berubah-ubah sepertimu?"
"Maksudmu?" sahut Sabrina dengan tatapan penuh dengan sorot pertanyaan.
__ADS_1
"Bukankah baru beberapa menit yang lalu kamu bergelayut manja di lenganku? Tapi setelah beberapa menit kemudian, kamu malah seolah jijik padaku saat aku tidak sengaja menyentuh pundakmu. Wah ... sepertinya kamu sudah seperti bunglon saja, karena bisa berubah-ubah di setiap waktu." Dave bertepuk tangan seraya tersenyum smirk.
Wajah Sabrina terlihat sangat kebingungan begitu mendengar kalimat skak mat dari Dave. "Sialan, Dave seperti sedang mengulitiku hidup-hidup," gumam Sabrina. "Bukankah tadi aku hanya sedang berpura-pura saja? Kamu tahu sendiri posisiku yang sedang berada di ujung tanduk?"
"Oh ... jadi saat sedang merasa terancam, berarti bisa mengabaikan kata bukan muhrim ya? Baiklah, aku akan memahaminya, tapi ...." Dave tidak melanjutkan perkataannya, seolah sedang memikirkan kata-kata yang pas.
"Tapi? Kenapa tidak dilanjutkan?" tanya Sabrina dengan wajah penasarannya.
"Bagaimana dengan ciuman tadi? Menurutmu bagaimana?" Dave menatap ke arah Sabrina yang terlihat sangat malu dan langsung kelimpungan begitu mendengar perkataannya.
"Sialan, aku pikir apa tadi. Tidak perlu membahasnya, aku sangat mual saat memikirkannya," sarkas Sabrina dengan memalingkan wajahnya agar tak menatap wajah pria yang sudah membuatnya merasa sangat malu.
"Jadi, kamu sudah melupakannya? Syukurlah kalau begitu, aku pun sama. Jadi, aku tidak perlu merasa bersalah karena telah melakukan kesalahan yang tidak disengaja." Dave meraih ponselnya yang berdering.
"Apa dia bilang, kesalahan yang tidak disengaja? Bukankah itu tadi dia sengaja menciumku? Dengan santainya dia bilang seperti itu, menyebalkan," gumam Sabrina.
Lamunan dari Sabrina seketika buyar saat mendengar suara teriakan dari ponsel Dave yang baru diloudspeaker.
"Dave, cepat kembali! Atau aku akan memecatmu karena berduaan dengan si keong racun."
__ADS_1
Refleks Dave dan Sabrina saling ber-sitatap saat mendengar ancaman dari sang nona muda yang baru saja menelfon.
TBC ...