Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Siapa wanita itu


__ADS_3

Dave sudah berada di dalam mobil yang menuju ke arah rumah Sabrina. Karena jalanan yang belum macet, membuatnya bisa cepat sampai di sana. Bahkan tadi ia merasa sangat terganggu saat 2 wanita itu sama-sama menghubunginya karena belum datang juga. Sehingga ia menyuruh sang supir untuk mengebut agar segera tiba di tempat tujuan yang pertama. Yaitu, rumah Dewi yang sekitar 20 menit dari Mansion.


Sedangkan untuk Dewi, ia menyuruhnya untuk menunggu sampai kopernya keluar dari bagasi dan menunggu di depan bandara sampai ia datang. Mobil Mercedes Benz e-class berwarna hitam yang membawa Dave sudah tiba di depan pintu gerbang rumah Sabrina. Dave langsung menghubungi ponsel wanita yang dipanggilnya bar-bar tersebut. Karena ia tidak ingin masuk atau bertemu dengan orang tua Sabrina, dengan alasan tidak ingin jika sampai terjadi kesalahpahaman yang menganggapnya adalah kekasih wanita itu dan akan membuat urusan bertambah rumit.


"Aku sudah ada di depan, keluarlah! Aku buru-buru karena ada janji."


Tanpa menunggu jawaban dari seberang, Dave memutuskan sambungan telepon dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya. Netra pekat dengan silinder hitam miliknya mulai mengamati pintu gerbang utama berwarna coklat tua di sebelah kanannya dan menunggu Sabrina keluar dari rumah minimalis lantai 2 itu.


Dan seperti perkiraannya, terlihat wanita yang sudah memakai setelan kemeja kantor berwarna peach dengan rok dibawah lutut berwarna hitam, terlihat keluar dari sana dengan tas kerjanya dan juga laptop di tangannya.


Dave yang masih duduk di tempatnya langsung membuka pintu agar memudahkan Sabrina masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelahnya, karena ia bisa melihat wanita itu terlihat agak kesusahan saat membawa barang-barang di tangannya.


"Cepat masuk! Aku sedang buru-buru," ucap Dave dengan suara baritonnya.


Sabrina yang merasa sangat kesal dengan perkataan dari pria yang terlihat sangat datar itu hanya mampu mengumpat di dalam hati. "Sialan, kalau bukan karena perintah dari presdir, ogah banget aku meminta bantuan dari pria berlagak macam dia."


"Iya ... iya, sabar. Sebenarnya kamu ada janji dengan siapa sih," kesal Sabrina dan sudah mendaratkan tubuhnya di sebelah Dave seraya langsung menutup pintu mobil.


"Tidak perlu tahu," jawab Dave dengan wajah datarnya.

__ADS_1


Sabrina yang semakin merasa kesal, hanya bisa menahan sekuat tenaga amarahnya di dalam hati. "Baiklah, aku tidak akan tanya lagi." Kemudian ia langsung membuka laptop untuk menanyakan tentang laporan yang diminta presdir untuk diperbaiki. "Lebih baik bantu aku."


Sedangkan sang supir sudah melajukan kembali mobil mewah itu menuju ke bandara, membelah suasana pagi kota Jakarta.


Sedangkan Dave sudah serius menatap ke arah layar laptop yang menampilkan banyaknya angka-angka yang juga membuatnya merasa pusing. Karena ia sudah lama tidak bekerja di perusahaan, tentu saja butuh waktu untuknya bisa menyesuaikan diri. Sehingga ia kini benar-benar berkosentrasi menatap pada laporan keuangan yang ada di sana.


Karena presdir Abymana yang kemarin memeriksa semua laporan dari semua divisi bisa langsung menyadari ada hal yang janggal, membuatnya kini berakhir menyelesaikan pekerjaan tidak becus dari staf yang lama dan sudah dipecat karena melakukan kecurangan.


Dan akhirnya Sabrina lah yang ditunjuk oleh presdir karena mempercayainya dan menyuruhnya untuk membantu pekerjaan dari wanita yang selalu memanggilnya pria berengsek meski tahu ia adalah atasannya.


Entah mengapa, ia sama sekali tidak marah dan seolah sudah terbiasa dengan panggilan itu seperti ia yang selalu memanggil Sabrina adalah wanita bar-bar. Selama 30 menit berlalu, keduanya terlihat saling berdiskusi dalam membahas laporan tersebut. Seolah keduanya sejenak melupakan permusuhan diantara mereka.


"Kita sudah sampai di bandara Tuan Dave, apakah mobil perlu diparkir dulu atau bagaimana?" tanya pria paruh baya yang sudah bekerja puluhan tahun sebagai supir dari keluarga Raharja semenjak pertama kali majikannya menikah.


"Tidak perlu, biar aku turun untuk mencarinya. Sepertinya tidak lama, karena aku sudah menyuruh dia menunggu di terminal kedatangan." Dave turun dari mobil tanpa memperdulikan Sabrina yang menatapnya dengan tatapan penuh dengan sorot pertanyaan.


Sabrina menatap ke arah sang supir dan mengeluarkan pertanyaannya karena merasa sangat penasaran dengan Dave yang mengatakan mempunyai janji penting dengan seseorang. "Sebenarnya kita menjemput siapa di bandara ini, Pak?"


"Saya juga tidak tahu Nona," jawab sang supir yang sudah menggaruk rambutnya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Oh ... aku kira Bapak tahu. Baiklah, nanti juga aku akan mengetahui jawabannya," sahut Sabrina yang menampilkan sifat bodohnya. Ia pun menatap siluet Dave dari kaca mobil untuk memuaskan hasrat penasaran yang dirasakannya. Dan bisa dilihatnya bahwa pria yang selalu disebutnya berengsek itu sedang berbicara dengan seorang gadis dengan rambut panjang dibawah bahu yang dibiarkan tergerai tengah menenteng koper di tangan kiri dan kanannya.


"Memangnya siapa gadis itu? Dia terlihat sangat muda. Apakah dia adalah pacar dari Dave? Kenapa sepertinya gadis itu membawa 2 koper seolah orang yang sedang pindahan saja. Memangnya dia mau tinggal di Jakarta? Astaga, kenapa aku malah ingin tahu gadis tidak penting itu?" gumam Sabrina yang langsung berpura-pura menatap ke arah layar laptopnya begitu melihat Dave dan gadis tidak dikenalnya itu berjalan mendekat ke arah mobil.


Hingga pintu mobil pun terbuka dan suara bariton dari Dave terdengar. "Kamu duduk saja di situ! Aku akan duduk di depan."


"Terima kasih," ucap Dewi yang langsung menundukkan kepalanya dan melangkah masuk untuk duduk di sebelah wanita yang tidak dikenalnya setelah sebelumnya ia tersenyum sebagai sebuah penghormatan. "Permisi Nona."


Sabrina yang bisa melihat bahwa gadis yang baru duduk di sebelahnya itu terlihat sangat cantik dan manis, membalas senyuman dan menganggukkan kepalanya. "Silahkan."


"Gadis ini sangat cantik dan manis, bahkan sebagai seorang wanita, aku sangat menyukainya. Apalagi seorang pria. Sepertinya Dave akan menyukai wanita ini. Apakah mereka berdua adalah pasangan kekasih? Karena itulah tadi Dave membatalkan janjinya dan terpaksa datang karena aku murka. Oh ... jadi dia takut padaku, jadi datang dulu ke rumah dan baru menjemput wanita ini," gumam Sabrina.


Sementara itu, Dave memilih duduk di kursi depan dan sekilas melirik ke arah sang supir. "Antarkan kami ke perusahaan dulu, baru kembali ke Mansion. Karena Nona muda ingin bertemu dengan Dewi terlebih dahulu sebelum tinggal di rumah baru yang sengaja dihadiahkan untuknya."


"Baik Tuan Dave," jawab sang supir yang sudah menyalakan mesin mobil dan mengemudikannya meninggalkan area Bandara Internasional Soekarno Hatta untuk menuju perusahaan yang baru diambil alih oleh Raharja Group.


Sabrina yang bisa mendengarkan percakapan dari Dave, masih merasa sangat tidak paham dengan apa maksud dari pria yang sudah fokus menatap ke arah depan itu. Sehingga ia hanya sibuk menebak-nebak di dalam hati saja tanpa berani menanyakannya pada pria di depannya atau pun wanita yang duduk di sebelahnya.


"Daebak ... dihadiahi rumah? Wah hebat sekali wanita ini, memangnya dia berbuat apa ya? Hingga membuat sang nona muda arogan sampai berbuat luar biasa padanya. Aah ... aku sangat penasaran sekali. Apakah lebih baik nanti aku tanyakan saja pada Dave, kira-kira siapa wanita itu?" batin Sabrina.

__ADS_1


TBC ...


__ADS_2