
Awalnya rencana dari Queen adalah ingin mengerjai pria yang baru saja diciumnya. Namun karena ia merasa menyukai bibir tipis pria yang hanya diam saja saat ia cium, tentu saja membuatnya semakin menyesapnya. Karena tidak mendapatkan balasan, lama-lama dirinya kesal juga.
Lalu ia mulai melepaskan pagutannya dan menatap ke arah pahatan sempurna di depannya. "Aditya, kamu benar-benar tidak normal. Bahkan saat aku menciummu, kamu sama sekali tidak terangsang."
Aditya yang dari tadi dengan sekuat tenaga menahan hasratnya yang sudah memuncak dan malah mendapatkan sebuah pertanyaan konyol dari sang istri, membuatnya memijat pelipisnya.
Kamu tidak tahu aku sangat tersiksa istriku. Seandainya saja aku bisa membalasnya, mungkin aku sudah membuatmu mandi dua kali pagi ini.
"Queen, lepaskan tanganmu dan cepat pakai bajumu!"
"Kenapa? Apakah perasaanmu merasa gelisah dan mengalami seperti sebuah traumatik? Apa perlu aku memanggil sahabatku yang merupakan dokter?" tanya Queen yang merasa sangat khawatir melihat wajah merah padam dari Aditya. Kemudian ia mulai mengarahkan tangannya untuk meraba setiap inci wajah Aditya.
"Ini suhu tubuh kamu juga masih normal. Tapi kenapa wajahmu bisa semerah ini?" tanya Queen dengan tatapan penuh dengan sorot kekhawatiran.
"Entahlah, rasanya aku seperti sedang terbakar," jawab Aditya yang mencoba menurunkan tangan Queen dari wajahnya.
"Maafkan aku!" ucap Queen dengan perasaan menyesalnya dan menampilkan puppy eyes andalannya.
"Buat apa kamu minta maaf? Kamu tidak bersalah Queen!"
"Aku bersalah karena membuatmu menjadi merasa traumatik begini," ucap Queen yang sudah mengusap lembut wajah tampan Aditya.
Tentu saja sentuhan dari Queen, membuat Aditya langsung menahan tangan sang istri. Tatapan parau terlihat jelas dari bola matanya.
"Queen, aku sudah tidak bisa menahannya!" ucap Aditya dengan suara seraknya yang menandakan ia sedang menahan hasratnya.
Setelah mengungkapkan kalimat ambigunya, Aditya mulai meraup bibir merah merekah milik wanita yang terlihat sangat polos itu. Dan mulai bermain-main di sana.
Queen yang sama sekali tidak pernah menyangka jika Aditya akan menyerangnya, membuatnya merasa sangat terkejut. Namun, karena dirinya sangat menikmati perbuatan pria yang sudah menyesap habis bibirnya, membuatnya membalasnya karena terbawa suasana..
Keduanya sama-sama terbawa hasrat dan saling menikmati setiap sentuhan masing-masing. Hingga tanpa bisa ditahannya lagi, keduanya mulai melakukan ritual pasangan suami istri untuk yang kedua kalinya di sebuah sofa tunggal berukuran panjang di ruangan walk in closet tersebut.
Setengah jam berlalu, keduanya sama-sama sudah berpeluh setelah menyelesaikan percintaan panas mereka. Masih berusaha menormalkan deru nafasnya, Aditya memeluk erat tubuh polos wanita yang berada dalam dekapannya.
Sementara itu, Queen yang sudah mulai membuka matanya daritadi mengamati ekspresi wajah dari pria yang sudah menjamahnya untuk yang kedua kalinya. Seolah saat ini otaknya tengah buntu dan tidak bisa berpikir. Hingga dirinya tidak bisa mengeluarkan suaranya sepatah kata pun setelah bercinta dengan pria yang menurutnya terlihat sangat normal.
Keheningan melanda beberapa saat, seolah keduanya sama-sama tengah berkutat dengan pikirannya masing-masing. Hingga keduanya sama-sama saling menyebut nama masing-masing.
__ADS_1
"Queen."
"Aditya."
"Kamu saja dulu!" ucap Aditya.
Queen yang merasa sangat gugup dan malu, menggelengkan kepalanya. "Kamu saja dulu!"
"Lady first!" Aditya menatap wajah cantik wanita yang berjarak cukup intim di depannya.
"Kamu ...."
Queen tidak melanjutkan perkataannya, karena merasa sangat ragu dengan apa yang ada di pikirannya.
"Lanjutkan saja, Queen! Aku akan mendengarkannya."
"Kamu tadi, bisa bercinta tanpa lampu yang dimatikan. Apakah kamu tidak merasakan apa-apa saat kita tadi ...."
Karena merasa sangat malu, membuat Queen tidak melanjutkan perkataannya.
"Aku tidak merasakan apa-apa, jadi tenanglah!"
"Queen, aku ingin mengatakan sesuatu padamu!"
"Mengatakan apa?" tanya Queen dengan raut penasarannya.
"Apakah kamu bisa berjanji kepadaku!" tanya Aditya dengan sangat ragu-ragu.
"Berjanji apa lagi?"
"Aku ingin kamu berjanji bahwa apapun yang akan aku katakan, kamu tidak akan membenciku!"
"Kenapa aku harus membencimu? Cepat katakan! Jangan buat aku penasaran begini!" ucap Queen dengan kesal.
Aditya mengarahkan jari kelingkingnya. "Berjanjilah padaku dulu!"
"Baiklah ... baiklah, aku berjanji!" ucap Queen yang sudah mengaitkan jarinya ke arah pria yang masih menatapnya dengan intens. "Sekarang cepat katakan padaku!"
__ADS_1
Aditya mulai berdehem sejenak untuk menormalkan suaranya, lalu ia mulai membuka suaranya. "Queen, sebelumnya aku ingin memohon maaf padamu!"
"Maaf? Tentang apa lagi?"
"Jangan memotong pembicaraanku, dengarkan saja apa yang akan aku katakan, oke!"
"Baiklah ... baiklah!"
"Ingatlah baik-baik, apa yang aku lakukan adalah karena demi sebuah kebaikan. Kebaikan dalam hubungan kita. Sebenarnya aku ...."
Suara ketukan pintu dan suara bariton dari pegawal, membuat Aditya tidak melanjutkan perkataannya. Buru-buru ia turun dari sofa dan meraih handuknya yang teronggok di lantai, lalu memakainya. Tak lupa ia meraih kimono handuk sang istri dan menutupi sebagian tubuh wanita yang masih berbaring di atas sofa itu.
"Aku lihat dulu, kenapa pengawal mengetuk pintu."
Queen yang merona karena merasa sangat malu, akibat perbuatan pria yang baru saja berjalan keluar dari ruangan ganti tersebut, berkali-kali menepuk jidatnya.
"Astaga ... aku benar-benar sudah sangat gila. Bagaimana bisa aku sangat mendamba dan menikmati setiap sentuhan dari Aditya tadi. Seolah otak dan respon tubuhku tidak bersinergi. Kira-kira apa yang akan dikatakan oleh Aditya? Kenapa aku sangat deg-degan ya."
"Jika aku tidak bugil begini, aku akan mengetuk kepala para pengawal yang mengganggu itu. Mengganggu saja." Queen asyik merenggut dan menunggu hingga pria yang sudah berhasil merubah hatinya itu kembali. Dan beberapa saat kemudian, dilihatnya pria yang daritadi ditunggunya telah datang.
"Ada apa? Kenapa para pengawal itu?"
"Mereka ingin memberitahukan bahwa Daddy mu telah membooking hotel di Bali. Katanya disuruh bersiap untuk segera berangkat ke Honeymoon."
"Honeymoon? Lalu rencanamu untuk pergi ke tempat kawanmu bagaimana?"
"Kita bisa pergi ke sana sebentar sebagai bentuk penghormatan. Setelah itu kita langsung berangkat ke bandara. Menurutmu bagaimana?"
"Bagaimana apanya?"
"Apakah kamu setuju untuk pergi honeymoon?"
"Bukankah apa yang kita lakukan barusan juga honeymoon? Mau di mana saja, menurutku tidak masalah. Lagipula aku sudah berulang kali pergi ke Bali, jadi aku bosan. Kenapa Daddy tidak menyuruh pergi ke luar negeri?" rungut Queen.
"Aku tidak bisa pergi lama-lama, Queen! Karena Ayahku masih di rumah sakit. Daddy Abymana benar-benar sangat pengertian pada menantunya. Karena kalau pergi ke luar negeri, bukankah membutuhkan waktu yang cukup lama? Kalau di Bali kan cuma perlu waktu 2 atau 3 hari saja "
Mengerti dengan penjelasan dari pria di depannya, membuat Queen menganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku tidak akan lagi mempermasalahkannya. Sekarang lanjutkan ceritamu mengenai tadi!"
__ADS_1
"Ooh ... itu, sebenarnya aku ...."
TBC ....