Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Karena kamulah takdirku


__ADS_3

Sudut bibir Aditya melengkung ke atas saat mendengar ungkapan pengakuan cinta yang setiap hari di dengarnya dari bibir sang istri. Bahkan pengakuan cinta Queen jauh lebih banyak dari pengakuannya. Dan hal itulah yang membuatnya semakin merasa bahagia meskipun ada sedikit kesedihan dalam hidupnya. Karena sosok wanita yang harusnya menjadi surganya malah tidak memperdulikannya sama sekali.


Aditya menurunkan tubuh ramping Queen setelah berada di dekat mobil mewah berwarna silver tersebut, "Alhamdulillah, akhirnya sampai juga. Aku haus, Sayang. Sepertinya berat badanmu naik setelah hamil, karena aku sudah ngos-ngosan menggendongmu dari dalam sana hingga ke sini."


Queen mengerucutkan bibirnya begitu mendengar kalimat bernada sindiran yang menyangkut tentang berat badan. Karena bagi seorang wanita, masalah itu merupakan sesuatu hal yang bersifat sensitif.


"Aku tidak seberat itu, My hubbiy. Kamu pasti hanya bercanda kan? Jangan membuat mood aku hilang dari peredaran," seru Queen dengan wajah masamnya saat masuk ke dalam mobil.


Di saat bersamaan, Aditya berniat masuk menyusul wanita yang terlihat marah padanya. Akan tetapi, suara dari pengawalnya, membuatnya tidak jadi melakukannya.


"Tuan Aditya, tadi Tuan Dave menelfon," seru pengawal pribadi Queen yang baru.


"Iya, memangnya Dave bilang apa?" tanya Aditya yang menatap pria di depannya dengan tatapan intens.


"Saya disuruh menanyakan, apakah Anda bersedia untuk pergi ke perusahaan? Ada hal-hal yang ingin dibahas dengan Anda mengenai divisi yang Anda pegang dulu," ucap pengawal tersebut.


Aditya mengarahkan tangannya ke depan, "Sebentar, aku harus bertanya dulu pada istriku. Karena aku sekarang sudah menikah dan harus bertanya dulu pada seorang istri saat hendak melakukan sesuatu." Aditya menundukkan kepalanya untuk melihat ke arah sang istri, "Sayang, apa kamu mendengar perkataan dari pengawalmu tadi?"


Queen yang dari tadi mendengar percakapan dari pengawal dan suaminya, langsung senyum-senyum sendiri begitu mendengar perkataan bernada manis dari pria Sholeh luar biasa yang akan menjadi sosok ayah untuk bayi yang dikandungnya. Karena merasa sangat bahagia, ia refleks mengarahkan 2 jempolnya ke arah pria yang menatapnya dengan intens.


"Aku mengijinkan, My hubbiy."


"Alhamdulillah, ternyata istriku benar-benar sudah menjadi seorang wanita shalihah sejati," sahut Aditya dengan senyuman mengembang. Kemudian ia ganti mengarahkan jempolnya pada pria dengan kulit sawo matang tersebut. Yang menunjukkan bahwa ia setuju untuk pergi ke perusahaan tempat ia dulu bekerja.


Kemudian ia langsung masuk dan duduk di sebelah sang istri yang sudah merona dan berbinar wajahnya, serta tersenyum ke arahnya. Bahkan langsung bergelayut di lengannya seraya merebahkan kepala di dadanya.


"My hubbiy," ucap Queen yang tidak melanjutkan perkataannya.


"Hem ...." Mengusap lembut lengan yang terbalut gaun syar'i berwarna biru muda itu.


"Terima kasih."

__ADS_1


"Untuk?" tanya Aditya yang tidak mengerti dengan ucapan ambigu dari istrinya.


"Untuk semuanya, aku tidak akan bisa menyebutkannya satu persatu padamu. Aku sangat bahagia memiliki suami sepertimu. Aku tidak akan menyebutmu adalah seorang pria sempurna, karena aku tahu kamu pasti akan protes dan ceramah lagi," ucap Queen dengan merengut.


"Akan tetapi, bagiku, kamu adalah sosok suami yang sempurna bagiku, My hubbiy," gumam Queen di dalam hati.


Aditya hanya terkekeh geli mendengar rengutan dari sang istri, karena ia selalu menekankan kalimat tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. "Karena kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT, Sayang. Bukankah apa yang aku katakan padamu adalah benar?"


"Iya ... iya, aku mengerti Pak Ustaz. Jadi, jangan ceramah lagi, oke! Daripada kamu ceramah, dan membuat telingaku terasa panas, lebih baik kamu menyanyikan lagu kesukaanmu itu yang kamu bilang mewakili perasaanmu padamu. Ayo, aku mau mendengarkannya," bujuk Queen yang sudah mengangkat kepalanya dan tidak bersandar lagi di dada bidang suaminya. Bahkan ia sudah menggerakkan lengan kekar itu agar mau menuruti permintaannya.


Sementara itu, Aditya terlihat sedikit kebingungan menghadapi tingkah kekanak-kanakan dari Queen yang sudah seperti anak kecil. "Sayang, aku tidak bisa bernyanyi di depan orang lain."


Queen menaikkan kedua alisnya, "Siapa bilang? Bukankah kamu pernah bernyanyi untukku?"


"Iya, itu karena kamu bukan orang lain, Sayang. Bukankah kamu adalah istriku? Karena itulah aku bisa bernyanyi." Aditya mendekatkan bibirnya di telinga sang istri, "Tapi hanya khusus di dalam kamar. Kalau di sini, aku tidak bisa. Apa kamu mengerti, Tuan putri?" Menjauhkan bibirnya agar bisa menatap permukaan kulit wajah sang istri yang sudah merona.


Akhirnya Queen hanya menganggukkan kepalanya, saat mendengar kalimat demi kalimat dari pria yang berhati mulia dan sangat penuh kasih sayang tersebut. Seolah bibir suaminya itu mengandung sebuah mantra cinta yang membuatnya selalu tidak berkutik dan berkata apa-apa.


"Insya Allah," jawab Aditya seraya menautkan jari kelingkingnya. "Sebelum kamu mengajakku main, aku akan menyanyikan sebuah lagu untukmu. Akan tetapi, bukan lagu itu."


Mencubit perut sixpack pria yang tersenyum menyeringai ke arahnya, "Isssh ... dasar nakal. Lalu, lagu apa? Jangan bikin aku penasaran, My hubbiy." Queen terlihat sangat penasaran atas perkataan dari pria yang sudah membuka pintu mobil, begitu sampai di depan perusahaan yang baru saja di ambil alih oleh daddy-nya.


Aditya membuka pintu mobil dan sebelum beranjak turun, ia menasehati sang istri. "Nanti malam juga kamu akan tahu, Sayang. Sekarang kita turun dulu, tetapi jangan sampai kamu membuat ulah dengan menyebut Sabrina keong racun di depan semua pegawai!"


"Memangnya kenapa? My hubbiy marah jika aku memanggil Sabrina keong racun," sarkas Queen yang merasa marah dan kesal saat mendengar sang suami membela mantan kekasihnya. "Kalau begitu kita pulang saja, mendadak aku berubah pikiran!" Beralih menatap ke arah pria paruh baya yang tak lain adalah supirnya, "Jalan Pak, kita kembali ke Mansion."


Sedangkan sang supir terlihat melirik ke arah Aditya, seolah ingin meminta pertimbangannya. Karena ia merasa bingung menghadapi sikap dari majikannya yang setiap saat berubah-ubah.


Aditya hanya menganggukkan kepalanya, tanda menyuruh sang supir menuruti perintah dari sang nona muda yang sudah murka. Dan mobil pun akhirnya kembali melaju meninggalkan area perusahaan. Sedangkan mobil di belakang yang membawa para pengawal, hanya mengikuti mobil majikannya dengan pikirannya masing-masing yang bertanya-tanya.


Melihat tingkah pria yang selalu menuruti apa saja yang diinginkannya, refleks membuat kemarahan Queen mendadak berkurang. Bahkan seperti langsung surut saat pasang melanda. Ia melirik ke arah sang suami, "My hubbiy."

__ADS_1


"Hem ... apa ada lagi yang kamu inginkan, Sayang?" tanya Aditya dengan tatapan intens, seolah menganggap bahwa tidak terjadi apa-apa barusan.


"Aku butuh penjelasan soal keong racun," sahut Queen dengan suaranya yang tegas.


"Oh ... ternyata masih berlanjut? Aku pikir akan selesai setelah aku menuruti perintahmu, Sayang."


"Belum, karena aku tidak akan pernah bisa tidur nyenyak jika terus-terusan memikirkan keong racun. Jadi, jelaskan padaku!" titah Queen bagaikan seorang ratu yang mengadili kacungnya.


"Karena aku tidak ingin semua orang mentertawakanmu, Sayang."


"Maksudnya? Memangnya siapa yang berani mentertawakanku? Para pegawai di perusahaan itu? Memangnya mereka mau dipecat!" sarkas Queen dengan sangat kesal.


"Astaghfirullah, sabar, Sayang. Kamu sedang hamil, jangan sering marah-marah. Nanti anak kita jadi sepertimu, bagaimana?"


"Biarin!"


"Baiklah ... baiklah, aku menyerah. Sekarang aku akan menjelaskan kenapa aku melarangmu menyebut Sabrina keong racun. Karena sebenarnya yang pantas disebut keong racun adalah kamu, bagi para pegawai perusahaan yang mengetahui tentang hubungan kami. Bahkan semuanya sudah tahu kalau kami berencana untuk menikah, tapi ternyata takdir berkata lain. Karena jodohku bukan Sabrina, tetapi Queen Aqila Wijaya Raharja. Karena kamulah takdirku," ucap Aditya dengan tatapan penuh cinta.


Tentu saja kalimat terakhir dari pria yang membuatnya berbunga-bunga itu ibarat sebuah air es yang memadamkan kobaran api di dalam hatinya. Dan berhasil membuatnya merasa gemas pada sang suami. Tanpa membuang waktu, Queen mengeluarkan suaranya.


"Kita kembali ke perusahaan yang tadi, Pak!"


"A-apa, Nona?" tanya sang supir yang merasa sangat kebingungan karena sudah diombang-ambingkan oleh majikannya.


"Kembali ke perusahaan, Pak. Karena Tuan putri sudah tidak merajuk lagi," ujar Aditya yang mengulangi perintah dari istrinya.


"Oh ... iya, Tuan dan Nona muda," jawab pria paruh baya tersebut sambil bergumam di dalam hatinya.


"Nona dan Tuan muda ini ibarat api dan air. Yang satu panas dan yang satunya lagi dingin, sangat pas dan cocok. Akan tetapi, selamanya tidak akan berhenti mengombang-ambingkan para pekerjanya. Seperti hari ini yang harus berputar balik beberapa kali," batin sang supir di dalam hati.


TBC ...

__ADS_1


__ADS_2