
Dave sudah menyelesaikan surat perjanjian yang dibuatnya dan berjalan ke arah Sabrina. Dengan posisi tangan masih memegang bolpoin dan juga kertas berwarna putih itu, Dave menyerahkannya pada Sabrina. "Nah ... sebaiknya kamu baca dulu sebelum menandatanganinya. Siapa tahu ada yang tidak berkenan dari isi surat perjanjian tersebut."
Bola mata Sabrina mengarah pada tangan Dave yang menggantung di udara tersebut saat menyerahkan kertas berisi tulisan Dave. Untuk beberapa saat ia masih merasa bingung apa yang harus dilakukan. Karena sejujurnya ia sama sekali tidak merasa tertarik untuk menikah ataupun pada surat perjanjian tersebut. Akan tetapi, ia menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh pria di depannya benar adanya.
Yaitu, jika ia sampai menolak lamaran dari keluarga Raharja, sedangkan orang tuanya sudah menerima, yang terjadi adalah nama baik keluarganya akan tercemar. Sehingga setelah memikirkan segala kemungkinan-kemungkinan buruk dari apa yang akan dilakukannya, ia menghela napas kasar sesaat sebelum meraih kertas di tangan Dave.
"Aku benar-benar sudah gila, karena menerima idemu tentang surat perjanjian pernikahan," ucap Sabrina mengungkapkan keluhannya. Kemudian ia mulai sedikit menunduk untuk membaca tulisan tangan dari Dave.
Saya Dave Anggara sebagai pihak pertama dan Sabrina Anggraini sebagai pihak kedua.
Pihak pertama dengan sadar berjanji tidak akan pernah membuat pihak kedua mengalami kerugian dalam bentuk apapun. Baik dalam bentuk fisik, batin, maupun materi.
Tidak akan pernah terjadi sentuhan fisik karena pihak pertama akan tidur di kamar terpisah, bukan tidur bersama setelah menikah ketika tinggal bersama. Serta, tidak akan menyusahkan pihak kedua dalam bentuk apapun.
Sabrina mengangkat pandangannya setelah selesai membaca tulisan tangan yang terkesan tidak merugikannya. Namun, ia menatap menelisik penuh kecurigaan pada Dave. "Kamu pikir aku percaya dengan tulisanmu ini?"
Dave mengerutkan keningnya begitu mendengar kalimat bernada ambigu dari wanita yang menatap curiga padanya. "Maksudmu? Jadi, kamu tidak percaya padaku?"
Sabrina mengarahkan jari telunjuknya pada tulisan tidak ada sentuhan fisik. "Apa kamu tidak sadar kalau kamu sudah menciumku 2 kali? Apakah itu bukan sentuhan fisik namanya? Kamu bukan apa-apa saja sudah berani melakukannya, apalagi jika kita beneran menikah. Bisa-bisa nanti kamu malah memperkosaku," sarkas Sabrina dengan wajah masam.
"Aku bukan pria berengsek yang akan memperkosa wanita. Karena tanpa aku memperkosa, banyak wanita yang rela menyerahkan tubuhnya padaku. Jadi, jangan khawatir. Aku tidak akan pernah menyentuhmu walau seujung kuku pun. Kamu bisa menambahkan poin penting di sana, sesuai dengan keinginanmu," jawab Dave untuk meyakinkan Sabrina.
"Poin penting?" tanya Sabrina dengan mengerutkan keningnya.
"Iya, contohnya kamu akan menuntutku uang atau apa sesuai keinginanmu jika sampai aku mengingkarinya. Terserah padamu saja," ujar Dave meyakinkan wanita yang masih meragukannya tersebut. "Tulis saja apa yang kamu inginkan. Aku akan menyetujuinya."
Sabrina terdiam beberapa saat, ia tengah menimbang-nimbang keputusan apa yang akan diambilnya. Tawaran dari Dave membuatnya merasa goyah begitu mendengar perkataan pria yang menyuruhnya untuk menuliskan apapun keinginannya. Namun, ia terlihat berpura-pura untuk memikirkannya.
__ADS_1
"Apa yang aku inginkan? Apapun itu?" tanya Sabrina yang menatap intens ke arah Dave.
Dave menganggukkan kepalanya, "Iya, tulis saja apapun yang kamu inginkan."
Senyuman mengembang tampak jelas di wajah Sabrina begitu mendengar jawaban dari Dave. "Sebentar, aku pikirkan dulu. Kira-kira apa ya?"
"Terserah kamu. Lebih baik cepat tuliskan dan tanda tangan, karena nona muda Queen sudah mengirimkan pesan ini," ucap Dave yang baru saja membuka notifikasi di ponselnya. "Makanannya sudah datang, katanya kita disuruh ke sana." Menunjukkan ponselnya, agar Sabrina mempercayainya.
"Nona muda arogan itu selalu saja menyusahkan dan tidak menghargai hak asasi manusia," keluh Sabrina yang mulai menuliskan sesuatu pada surat perjanjian itu.
Pihak pertama akan menyerahkan seluruh hartanya pada pihak kedua jika sampai melanggar perjanjian yang telah disepakati.
Senyuman lebar terbit dari wajah Sabrina dan tidak membuang waktu, ia langsung menandatangani surat perjanjian tersebut di atas materai. Kemudian menyerahkannya pada pria yang terlihat berdiri menjulang tak jauh di tempatnya. "Nah ... tanda tangan sana!"
Dave melangkahkan kakinya mendekati Sabrina yang sudah mengulurkan kertas berwarna putih tersebut. Kemudian ia membaca apa yang dituliskan oleh wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Namun, ia mengerutkan keningnya begitu membaca poin terakhir.
"Kamu boleh berpikir aku adalah wanita matrealistis. Bahkan semua harta yang kamu miliki tidak bisa membayar harga diriku, karena itulah aku menulis itu agar kamu berhati-hati atas perbuatanmu. Jika tidak, kamu akan kehilangan semua hartamu. Ingat itu!" ujar Sabrina dengan sangat tegas untuk mengancam pria yang akan menjadi suami atas dasar sebuah perjanjian.
"Baiklah, aku akan mengingatnya. Ini, kamu simpan saja suratnya agar aman dan percaya padaku." Dave menyerahkan kertas tersebut pada Sabrina.
Sabrina bangkit berdiri dari sofa, menerima kertas berisi surat perjanjian tersebut. "Baiklah, aku yang akan menyimpannya agar aman."
Dave mengulurkan tangannya, " Sekarang kita *d*eal."
Sabrina menyambut uluran tangan Dave, "Deal. Ingat ini baik-baik, kamu akan kehilangan semua hartamu jika sampai mengingkari janji."
"Aku akan selalu mengingatnya, jadi jangan selalu mengingatkan aku. Karena aku bukan anak kecil," jawab Dave dengan tersenyum kecut.
__ADS_1
"Aku akan menjalani takdir hidupku dan menyerahkan semuanya pada Tuhan. Seperti tuan Aditya yang selalu menyerahkan semua hal pada Allah SWT," gumam Dave.
"Bagus," jawab Sabrina seraya tersenyum tipis. "Aku akan ke ruanganku dulu untuk menyimpan surat ini. Kamu pergi saja duluan." Berjalan ke arah pintu, tetapi ia membulatkan kedua matanya begitu melihat pria yang tak lain adalah mantan kekasihnya begitu membuka kenop pintu. "Mas Aditya?"
Aditya menatap ke arah Sabrina dan beralih ke arah kertas putih di tangan wanita di depannya, "Istriku menunggu kalian dari tadi, karena ia ingin melihat kamu dan Dave makan bersama-sama. Maklumi saja, karena ia tengah hamil dan mungkin sedang mengidam."
Sabrina hanya tersenyum kecut menanggapi permintaan dari mantan kekasihnya tersebut, "Kenapa aku yang selalu harus mengerti dan mengalah? Dunia ini benar-benar sangat tidak adil pada orang miskin sepertiku. Aku sedang malas berbicara," ucap Sabrina yang berlalu pergi dari hadapan Aditya tanpa menunggu jawaban dari perkataannya.
Aditya hanya membiarkan Sabrina meninggalkannya, karena tidak ingin membangkitkan amarah di hati wanita yang pernah berarti di hatinya. Kemudian ia beralih menatap ke arah pria yang terlihat berjalan ke arahnya.
"Dave, kalian berdua tidak bertengkar kan?"
"Tidak Tuan muda, kami akan menerima pernikahan ini," jawab Dave dengan wajah tenangnya.
"Alhamdulillah," jawab Aditya dengan wajah berbinar. "Semoga kalian berdua nanti akan menjadi pasangan yang sakinah, mawadah warahmah hingga kakek nenek dan dikaruniai anak-anak yang sholeh dan shalihah."
"Aamiin ya rabbal alamin," jawab Dave dengan telapak tangan yang sudah mengusap wajahnya. "Doakan saja kami berdua, Tuan muda."
"Aku ingin melupakan nona muda dan menjalani hidup normal, serta mencoba membuka hati untuk wanita lain. Karena lama-kelamaan aku merasa sadar bahwa pada kenyataannya, tidak mungkin bisa memiliki nona muda Queen. Cinta sejati adalah cinta yang bisa menerima kenyataan bahwa orang yang dicintai sudah hidup berbahagia," gumam Dave.
Aditya menepuk pundak kokoh Dave, "Tentu saja, aku selalu mendoakan kalian berdua. Aku ikut merasa bahagia jika melihatmu membina rumah tangga. Tenang saja, Dave. Surat perjanjian yang kalian buat tadi tidak akan berguna setelah kalian resmi menjadi pasangan suami istri."
Dave membulatkan kedua matanya begitu mendengar kalimat terakhir dari tuan mudanya. "A-apa Tuan muda? Surat perjanjian? Memangnya Anda tahu?"
Aditya hanya tersenyum tipis dan beberapa kali menepuk bahu Dave. Kemudian berlalu pergi tanpa menjawab pertanyaan dari Dave sambil bergumam di dalam hati.
"Nona mudamu yang akan membuat kalian berdua bersatu dan menghancurkan sendiri surat perjanjian yang baru saja kalian buat. Semoga kalian hidup berbahagia selamanya."
__ADS_1
TBC ...