
Satu jam setelah berbicara panjang lebar dengan mertuanya, Aditya sudah ditagih oleh Queen untuk menceritakan tentang Ririn dan juga soal hal yang tadi ia bicarakan mengenai dalang dibalik Dewi dan sahabatnya. Ia mengamati sang istri yang saat ini tengah sibuk menyusui malaikat kecilnya dengan bersandar di punggung ranjang dan sudah mendaratkan tubuhnya di sebelah wanita yang dari tadi fokus dengan kegiatan rutinnya.
"Apakah princess Papa sudah kenyang menyusunya? Papa ingin menggendong putri yang paling cantik ini." Mengarahkan tangannya untuk meminta putrinya dari tangan sang istri yang mulai menutup gaun busuinya.
Queen yang saat ini tersenyum, memberikan putrinya ke tangan kekar Aditya dengan sangat berhati-hati. "My hubbiy, cepat ceritakan tentang kejadian siang tadi."
Aditya yang tengah menikmati momen paling luar biasa dengan putrinya, mencoba untuk meminta sebuah pengertian pada sang istri agar memberikannya waktu quality time sejenak bersama putrinya. Tentu saja dengan cara memberikannya sebuah kode. Yaitu, dengan menaruh jari telunjuk pada bibirnya dan mengeluarkan sebuah desisan.
"Sebentar, Sayang. Berikan aku waktu bersama princess sejenak. Seharian aku berada di perusahaan dan tidak bisa berduaan dengannya, jadi tolong biarkan aku sejenak menatap malaikat kecilku."
"Baiklah ... baiklah, aku tidak akan mengganggu kebersamaan ayah dan anak. Karena jika sampai aku mengganggu, berarti aku adalah seorang istri yang kejam." Queen akhirnya hanya diam dan memperhatikan interaksi dari seorang ayah yang saat ini tengah menatap intens putrinya. Semua rasa kebahagiaan, menyeruak dalam hatinya ketika melihat suami yang sangat dicintainya terlihat sangat bahagia saat menggendong putrinya.
"Tidak ada sebuah kebahagiaan yang paling sempurna selain melihat kalian berdua seperti ini. Terima kasih, Tuhan," batin Queen di dalam hati.
Beberapa menit berlalu, Aditya bangkit berdiri dan dengan sangat hati-hati, menaruh malaikat kecilnya di boks bayi yang ada di sebelah kiri ranjang. Hal itu dikarenakan untuk memudahkan sang istri jika ingin menyusui putrinya ketika bangun. Kemudian, ia menghampiri Queen yang dari tadi terlihat sabar menunggunya. Semenjak melahirkan, ia merasa sifat arogan dari sang istri sedikit berkurang dan berubah menjadi penyabar.
Meskipun sifat arogan itu tidak hilang semuanya, tetapi ia sangat bersyukur karena sekarang ini, Queen tidak pernah membantah ucapannya dan lebih menurut. Aditya mendaratkan tubuhnya di sebelah Queen yang masih bersandar di punggung ranjang.
"Sayang, ada sesuatu yang perlu kamu ketahui. Akan tetapi, aku ingin kamu menanggapinya dengan kepala dingin, oke!"
Queen menaikkan kedua alisnya, karena merasa curiga ada sesuatu yang tidak beres dari perkataan Aditya. Sehingga ia menatap menelisik ke arah netra pekat sang suami untuk mencari sebuah kejujuran di sana. "Sepertinya ini bukanlah sesuatu yang kecil, My hubbiy. Cepat katakan padaku tentang hal itu."
__ADS_1
Aditya menggenggam jemari lentik Queen dengan tujuan untuk meredam emosi yang mungkin akan bangkit dari dalam diri wanita di depannya. Kemudian, ia mulai menceritakan tentang hal yang baru saja ia dengar dari mertuanya tanpa melewatkan sedikit pun.
Sementara itu, Queen yang benar-benar merasa sangat terkejut dengan kebenaran yang baru saja ia dengar, tentu saja membuatnya murka pada 3 wanita yang akan menghancurkan keutuhan rumah tangganya dan saudara laki-lakinya. Dengan mengepalkan tangan dan melepaskan genggaman Aditya, ia menggeser tubuhnya untuk meraih ponsel miliknya di atas nakas.
Aditya hanya geleng-geleng kepala melihat kemurkaan sang istri yang sama sekali tidak mengeluarkan suara. Sehingga membuatnya lebih khawatir mengenai rencana yang akan dilakukan oleh Queen. Saat ini ia tengah mengamati sang istri yang tengah sibuk mengetik pada ponselnya.
"Sayang, kamu mengirim pesan pada siapa?"
Queen yang masih fokus dengan kegiatannya, sama sekali tidak menanggapi Aditya. Hingga beberapa saat kemudian, ia sudah selesai mengetik pesan dan menaruh kembali ponselnya di atas nakas dan menatap ke arah sang suami yang masih setia menunggu jawabannya.
"Aku ingin memberikan pelajaran pada 2 keong racun itu."
Queen menggeleng perlahan untuk menolak perkataan dari sang suami yang menurutnya terlalu baik. "Bagiku, itu belum cukup, My hubbiy. Karena itu tidak sebanding dengan hal yang akan mereka lakukan jika sampai rumah tangga kita hancur. Aku baru saja menyuruh orang untuk mem-blacklist Dewi dan Ririn agar tidak bisa bekerja di perusahaan manapun."
"Aku tidak akan mencari dan akan membiarkan mereka, karena masih memikirkan kebaikan saat menyelamatkan nyawamu. Akan tetapi, aku akan membuat mereka berdua tidak bisa hidup enak karena tidak akan diterima bekerja di perusahaan manapun. Biarlah mereka bekerja kasar dengan gaji yang tidak seberapa."
Awalnya Aditya merasa kasihan pada Dewi dan Ririn, tetapi ia sama sekali tidak menyalahkan rencana Queen. Karena menurutnya, itu jauh lebih baik daripadanya menjebloskan para wanita itu ke penjara.
"Baiklah, Sayang. Aku tidak akan menyalahkan atau menghalangi rencanamu. Bagiku, itu jauh lebih baik daripada mereka mendekam di penjara. Kasihan jika seorang wanita mendekam di penjara, pasti masa depannya akan hancur karena menyandang status mantan narapidana."
Queen membenarkan perkataan Aditya dengan bersandar di dada bidang pria yang menurutnya memiliki hati selembut sutra. "Karena aku masih mempunyai perikemanusiaan, My hubbiy. Meskipun aku ingin sekali menghabisi Dewi dan Ririn, tetapi saat aku memikirkan tentang kebaikannya yang berhasil menyelamatkan nyawamu, sebuah hutang budi yang selalu kuingat. Karena, aku bisa melihatmu dan masih tetap bersamamu hingga sekarang juga karena Dewi. Mungkin saat rencana Rey berhasil, kita sudah berpisah."
__ADS_1
Aditya yang dari tadi mengusap lembut lengan Queen, mengigat tentang adik tirinya yang sudah menjalani hukuman selama 1 tahun di penjara. "Ngomong-ngomong soal Rey yang mendapatkan vonis 3 tahun penjara dan denda sebesar 300 juta dan keluarganya kini sudah hidup kesusahan. Aku merasa iba, Sayang."
Queen mendongak menatap wajah tampan dengan rahang tegas itu. "Keluarga Raharja masih cukup baik pada mereka, karena berani mengusik ketenangan kita. Itu semua karena kami memandangmu, My hubbiy. Jika tidak ada kamu, mungkin mereka sudah hidup di bawah kolong jembatan. Sudahlah, jangan membahas mereka lagi, karena aku ingin beristirahat. Bukankah besok kita akan sangat sibuk. Jadi, lebih baik kita beristirahat."
Aditya menganggukkan kepala dan membaringkan tubuhnya di samping sang istri yang sudah miring menghadapnya. Niatnya adalah ingin memeluk erat tubuh Queen, tetapi suara dari sang istri, membuatnya terkekeh.
"My hubbiy, rasanya sangat menyiksa saat tidak bisa bercinta. Bagaimana denganmu?"
"Sayang ... Sayang, kamu benar-benar maniak begituan. Akan tetapi, aku suka. Jadi, aku tidak perlu memintanya, karena kamu yang selalu mengingatkannya terlebih dahulu. Tentu saja aku juga tersiksa, tetapi mau bagaimana lagi. Memangnya kamu mau main? Tunggu hingga masa nifasmu selesai, Sayang. Bersabarlah," ucap Aditya yang sudah mengarahkan tangannya untuk mencubit pipi putih yang sedikit cabi itu.
Queen sudah mengerucutkan bibirnya saat mendengar ejekan dari Aditya. "Kamu yang membuatku seperti ini, My hubbiy. Jadi, jangan mengejekku."
"Iya ... iya, aku minta maaf. Memang suamimu ini yang salah dan istri selalu benar. Begitu, bukan?"
Queen refleks terkekeh geli begitu mendengar perkataan dari Aditya. "Iya, wanita itu adalah makhluk paling benar. Oh ya, bagaimana dengan nama putri kita? My hubbiy pilih yang mana? Aathifa Cleopatra Wijaya Raharja atau Princess Cleopatra Wijaya Raharja?"
Aditya terlihat menimbang-nimbang keputusannya karena sejujurnya ia merasa sangat kebingungan untuk memilih 2 nama yang menurutnya sama-sama memiliki arti yang baik tersebut.
"Ehm ... bagaimana ya, Sayang. Sepertinya aku lebih suka dengan nama ...."
TBC ...
__ADS_1