Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Tidak akan membiarkannya tersakiti


__ADS_3

Suasana di dalam ruangan kamar perawatan VVIP di rumah sakit yang merupakan ruangan dari Aditya seolah dipenuhi dengan hawa-hawa panas antara pasangan suami istri yang sama-sama sedang berkutat dengan pikirannya.


Perbedaannya adalah sosok suami yang hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun karena tidak ingin bertengkar dan membuat suasana panas semakin bertambah runyam.


Sedangkan sang istri yang tak lain adalah Queen malah kebalikannya, karena ia sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak meluapkan apa yang dirasakannya.


"Aku akan mengatakan tentang perbuatan gila si iblis itu yang tadi dengan sangat percaya dirinya mengatakan bahwa kamu akan membebaskannya karena ada hubungan darah di antara kalian. Wah ... ternyata iblis itu memang sangat luar biasa karena bisa langsung menilaimu."


"Akan tetapi, selama aku masih hidup, aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Negara kita adalah negara hukum dan orang yang bersalah harus membayar semua perbuatannya sesuai dengan hukum yang berlaku di negara kita."


Aditya masih tidak menjawab atau pun menyela pembicaraan dari istrinya yang masih murka itu. Karena ia masih sibuk memikirkan tentang kemungkinan hukuman yang akan dijalani oleh adik tirinya. Meski ia tahu perbuatan adiknya memang sangatlah salah karena mencoba untuk membunuhnya, tapi tetap saja ia tidak bisa lepas tangan begitu saja karena merasa bahwa ia masih ada hubungan darah.


Karena merasa sangat penasaran tentang hukuman yang kira-kira harus diterima oleh adiknya, akhirnya Aditya sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk berdiam diri lebih lama.


"Sayang, kira-kira berapa tahun hukuman yang akan diterima oleh Rey? Pastinya kamu sudah bertanya pada pengacara keluarga Raharja bukan?"


"Lebih baik kamu tidak perlu memikirkannya My hubbiy, karena jika kamu mengetahuinya, mungkin kamu tidak tega dan ingin mencabut laporannya," ucap Queen dengan sangat ketus.


"Meski aku ingin, tapi aku tidak punya kuasa Sayang. Bukankah kamu lah yang memiliki kuasa atas hidupku? Aku hanya ingin tahu Sayang?" ucap Aditya yang mencoba untuk merayu sang istri.


"Benar juga apa yang kamu katakan My hubbiy. Ternyata kamu sadar diri juga sedang berurusan dengan siapa," ucap Queen yang sudah terkekeh.


"Tentu saja aku sudah menyadari posisiku saat masuk ke dalam keluarga Raharja, Istriku. Aku memang tidak mempunyai hak sama sekali untuk mengambil keputusan sebagai suamimu." Aditya sudah menampilkan ekspresi wajah memelas untuk menarik simpati dari wanita yang dari tadi tidak mau mengubah pendiriannya.

__ADS_1


Queen yang duduk di kursi yang berada di dekat ranjang sang suami yang berwajah sendu itu, merasa sangat tidak enak karena merasa sangat bersalah. "Aku tidak bermaksud begitu My hubbiy. Kata-katamu seolah membuatku terlihat seperti orang jahat saja."


Aditya hanya terkekeh menanggapi perkataan dari sang istri yang sudah terlihat menampilkan raut wajah penyesalan. Ia langsung menggenggam erat telapak tangan wanita yang berada di sebelahnya. "Kamu tidak jahat Sayang, hanya saja ...."


"Hanya saja apa? Kenapa tidak dilanjutkan?" tanya Queen yang sudah bertanya-tanya.


"Hanya saja kamu sedikit kasar sebagai seorang wanita. Maksudku, kamu tidak bisa menahan amarahmu. Itu saja."


"Mungkin itu turunan dari Daddy, itu bukan sebuah masalah yang besar," ucap Queen dengan wajah datarnya.


"Mungkin aku harus membesarkan rasa sabarku, Sayang. Cepat katakan padaku tentang hukuman yang akan diterima oleh adikku!"


"Sepertinya kamu sangat penasaran banget dengan hukuman yang akan diterima oleh si iblis itu. Tadi pengacaraku bilang kalau kejahatan percobaan pembunuhan dijerat dengan Pasal 340 KUHP Jo pasal 53 ayat (1) KUHP ancaman pidana dalam pasal tersebut yakni hukuman mati atau hukuman 20 tahun penjara."


"Lebih baik jangan memikirkan tentang hal itu, pikirkan saja tentang kesembuhanmu My hubbiy."


Masih dengan pikirannya yang kalut, Aditya menatap wajah cantik wanita yang memakai hijab berwarna merah itu. "20 tahun adalah waktu yang sangat lama Sayang. Apakah kamu tidak mengasihani adikku? Bukankah masa depannya akan hancur jika menghabiskan masa mudanya di penjara? Bukankah dia juga perlu menikah?"


Queen mulai menatap jengah ke arah suaminya yang lagi-lagi memiliki hati yang sangat lemah. "Seharusnya dia memikirkan semuanya itu saat mempunyai pikiran jahat. Apakah dia tidak berpikir akan mendekam di balik dinginnya jeruji besi jika membunuh orang?"


"Adikmu yang bodoh atau kamu yang terlalu lemah My hubbiy?"


"Sepertinya dua-duanya sama-sama benar Sayang. Aku memang seperti ini, dan mungkin adikku juga sangat bodoh karena tidak memikirkan tentang konsekuensi dari perbuatannya."

__ADS_1


Aditya mengarahkan tangannya ke arah sang istri. "Aku pinjam ponselmu Sayang!"


Queen mengerutkan keningnya karena merasa curiga akan apa yang akan dilakukan oleh suaminya saat meminjam ponselnya. "Untuk apa?"


"Aku ingin berbicara dengan Ayah. Bukankah aku harus menanyakan tentang hal ini pada Ayah?"


"Tidak perlu, karena kamu harus banyak beristirahat. Bukankah tadi dokter berpesan tidak boleh banyak bicara? Masih ada banyak waktu untuk menanyakan hal ini pada Ayah. Sekarang lebih baik kamu tidur saja My hubbiy! Aku akan menemanimu di sini, bila perlu aku akan mengelus-elus keningmu jika kamu tidak bisa tidur."


Queen bangkit dari kursi dan mendaratkan tubuhnya di pinggir ranjang di sebelah pria yang terlihat tersenyum ke arahnya. Lalu, ia mulai mengarahkan tangannya untuk mengusap lembut kening suaminya seperti sedang menidurkan seorang bayi.


"Aku sudah seperti bayi saja Sayang. Kamu memperlakukan aku seperti anak kecil. Sebenarnya aku hanya ingin menanyakan tentang alasan Ibu kandungku yang tidak menginginkan aku karena tidak pernah menjenguk atau pun melihatku selama ini." Aditya masih berusaha merayu sang istri agar mau menuruti permintaannya.


Queen langsung menggelengkan kepalanya, seolah dengan tegas menolak keinginan dari pria yang terlihat memelas itu. "Tidak boleh! Aku tidak ingin suamiku banyak pikiran saat kondisimu masih belum pulih. Sudahlah My hubbiy, lebih baik kamu menuruti perintah dari istrimu. Karena perintah dari istri demi kebaikan suami."


Karena tidak ingin bertengkar atau pun memperpanjang masalah, akhirnya Aditya menuruti perintah dari sang istri dan mulai memejamkan kedua matanya. Namun, meski matanya terpejam, tentu saja ia tidak bisa tidur karena banyak memikirkan sesuatu.


"Seperti apa sosok Ibu kandungku? Dan apakah selama ini dia tidak pernah merindukan aku, putranya yang berpuluh-puluh tahun ditinggalkannya?" batin Aditya.


Di saat Aditya sibuk memikirkan tentang ibu kandungnya, suara dering ponsel milik Queen mulai terdengar.


Queen langsung bangkit berdiri dari ranjang dan menjauh untuk mengangkat panggilan telefon dan bisa dilihatnya ada panggilan dari wanita yang tak lain adalah ibu kandung suaminya.


"Ngapain Mama Rey menelfon? Dia menelfon tidak untuk menghubungi suamiku agar membebaskan putranya kan? Jika benar seperti itu, aku tidak akan pernah mau mengangkat panggilannya lagi. Awas saja jika sampai dia lebih memilih Rey dan mengorbankan suamiku. Aku akan melindungi My hubbiy dan tidak akan membiarkannya tersakiti," batin Queen.

__ADS_1


TBC ...


__ADS_2