
Setelah mandi dengan air dingin, perasaan Aditya yang tadinya tidak menentu, kini sudah berubah lebih baik. Sebagai seorang lelaki, ia sebenarnya ingin bersikap tidak lemah di depan wanita yang sudah sah menjadi istrinya. Namun, kenyataannya adalah dirinya tidak bisa melawan apapun perintah dari sang istri, termasuk perintah untuk menghamili wanita yang sedang dikuasai oleh emosi itu.
Meskipun dirinya merasa bahwa apa yang diinginkan oleh Queen salah, namun sejujurnya di dalam hatinya, menganggap itu semua adalah sebuah berkah untuknya. Karena sudah tidak ada jarak lagi antara dirinya dan sang istri setelah melakukan hubungan intim yang membuat mereka menjadi satu dan lebih dekat satu sama lain.
Aditya yang sudah terlihat sangat segar dan bersemangat, melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi. Dan pemandangan pertama yang dilihatnya adalah sang istri yang masih meringkuk di atas ranjang dengan memakai selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Melihat suasana yang terang, menandakan wanita yang berbaring di ranjang itu baru saja menyalakan lampu.
Kemudian ia berjalan ke arah ranjang, untuk menghampiri sang istri. "Kamu tidak mandi, Queen? Apa perlu aku siapkan untukmu air untuk mandi? Setelah melakukan hubungan intim antara suami istri, kamu harus mandi wajib untuk menghilangkan sisa-sisa perbuatanku padamu tadi."
Tanpa menoleh ke arah pria yang bisa didengar suara baritonnya yang menunjukkan posisi yang dekat di belakangnya, Queen yang masih merasa sangat malu, mulai mengeluarkan suaranya untuk menjawab pertanyaan dari Aditya.
"Aku mandi besok pagi saja, karena rasanya sangat sakit. Ternyata melakukan itu untuk pertama kalinya rasanya sangat sakit. Seandainya aku tahu, aku tidak akan menuduhmu telah memperkosaku tadi. Aku mau ke kamar mandi sebentar!" ucap Queen yang langsung menyingkap selimut di tubuhnya dan ia pun langsung bangkit dari posisinya yang tadinya meringkuk seperti seorang bayi.
Kemudian ia buru-buru melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar mandi dengan sesekali meringis kesakitan.
Aditya yang merasa sangat tidak tega melihat sang istri yang kesakitan, membuatnya langsung berjalan cepat untuk mengejar Queen yang masih berjalan tertatih. Kemudian ia langsung meraup tubuh seksi sang istri ke atas lengan kokohnya.
"Kenapa tidak meminta bantuanku untuk menolongmu? Aku tidak tega melihatmu kesakitan dan kesusahan saat berjalan. Maafkan aku, karena aku tadi melakukannya cukup lama. Karena itu pun merupakan pengalaman pertama untukku, dan aku tidak bisa mengendalikan diri saat sudah menyatu denganmu."
Queen yang sangat terkejut saat tubuhnya melayang ke atas saat Aditya menggendongnya, dan mulai mengatakan kalimat yang membuatnya merasa sangat malu. Hal itu seketika membuatnya merasa sangat kikuk saat berada di lengan kokoh pria yang saat ini tengah menatapnya dengan netra pekatnya, sehingga permukaan kulit wajahnya terlihat merah merona.
Untuk menghilangkan rasa malunya, ia berpura-pura marah pada pria yang menggendongnya ala bridal style itu.
__ADS_1
"Kamu mengagetkan saja Aditya, turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri. Kamu pikir ini bukan yang pertama kalinya untukku? Kamu enak nggak merasakan sakit, tapi aku merasakan sangat perih sekali."
Aditya yang sudah berjalan ke arah kamar mandi, refleks langsung menggelengkan kepalanya. Seolah tidak membenarkan tuduhan dari wanita yang terlihat tengah bersungut-sungut padanya.
"Kamu salah, Queen! Meskipun aku tidak bisa merasakan kesakitanmu, tapi aku pun juga merasa sedikit sakit pada bagian yang membuatmu sakit itu. Apa karena kita sama-sama melakukannya untuk pertama kalinya, jadi kita sama-sama merasakan sakit pada bagian itu?"
"Ada baiknya kamu berendam dalam air hangat, Queen! Siapa tahu bisa sedikit mengurangi rasa sakit yang kamu rasakan. Aku akan menyiapkan air hangat untukmu. Duduklah di sini!" ucap Aditya yang sudah menurunkan Queen dan mendudukkannya di atas kursi yang ada di dalam kamar mandi.
Kemudian ia melangkah ke arah bathtub dan mulai mengisinya dengan air, lalu meneteskan aromaterapi.
Sedangkan Queen yang melihat siluet pria yang memakai jubah handuk berwarna biru tua itu, merasakan keanehan dalam hatinya saat mendapatkan perlakuan dari Aditya.
'Ada apa denganku, kenapa aku merasa sangat menyukai perlakuan manis dari Aditya? Dasar bodoh kamu, Queen! Dia adalah pria yang tidak normal dan sama sekali tidak merasa tertarik dengan seorang wanita. Jadi, dia pasti hanya menganggap aku tidak menarik di matanya. Ingat Queen, jangan bodoh dan tertipu dengan perbuatan manis dari pria Gay ini. Semua yang dilakukannya hanyalah semu. Ingat itu Queen ... jangan sampai kamu jatuh cinta pada seorang Gay yang tidak mungkin mempunyai perasaan padamu.'
Lamunan Queen seketika buyar saat suara bariton dari Aditya tertangkap di indera pendengarannya.
Aditya yang telah menyelesaikan kegiatannya, menoleh ke arah wanita yang terlihat tengah menatapnya dengan pandangan kosong.
"Sudah siap, Queen! Kamu bisa berendam sekarang. Berendam di air hangat mungkin bisa merilekskan otot-ototmu yang kaku. Aku akan keluar sekarang," ucap Aditya yang sudah mulai melangkahkan kakinya keluar ruangan.
Sedangkan Queen hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun saat melihat siluet Aditya yang sudah keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Aditya, jangan membuat lemah hatiku. Sial ... kenapa aku jadi melow begini setelah Make Love dengan Aditya. Padahal selama ini aku selalu mencintai my hot Daddy Azriel. Apa rasa cintaku langsung musnah hanya gara-gara aku bercinta dengan seorang pria tidak normal? Astaga ... lama-lama aku bisa gila beneran ini."
Queen memijat pelipisnya untuk mengurangi rasa pusing di kepalanya. Setelah agak sedikit tenang, ia pun melangkah masuk ke arah bathtub dan masuk ke dalamnya setelah melepaskan penutup tubuhnya.
Selama berendam di dalam bathtub, ia terlihat memejamkan kedua matanya. Namun, yang terjadi adalah dirinya selalu mengingat percintaannya dengan Aditya. Merasa sangat kesal, ia menenggelamkan wajahnya di air. Berharap perbuatannya itu mampu menyadarkannya.
Saat ia mulai kehabisan nafas, ia keluar dari air dan mengumpat frustasi.
Brengsek ... brengsek ... brengsek ...
Queen bangkit dari bathtub dan berjalan ke arah shower. Kepalanya yang terasa panas karena efek terlalu memikirkan Aditya yang tidak normal, membuatnya ingin mendinginkan tubuhnya dengan air dingin. Berharap perbuatannya itu bisa mengurangi rasa pusing di kepalanya.
Bahkan dirinya cukup lama berdiri di bawah guyuran air dingin yang keluar dari shower. Hingga bisa didengarnya suara ketukan pintu dari luar kamar mandi.
"Queen, jangan lama-lama mandinya! Nanti kamu masuk angin. Keluarlah, aku sudah memesan minuman hangat untukmu," teriak Aditya.
"Astaga ... kenapa dia sekarang suka memerintahku? Menyebalkan sekali. Lebih baik aku biarkan saja, tanpa memperdulikan dia. Aku tidak ingin semakin dekat dengannya, karena aku tidak ingin jatuh cinta pada seorang Gay."
"Jaga hatimu, Queen. Jangan jatuh cinta pada Aditya, bahaya. Ingat, Aditya adalah seorang Gay!"
Queen menggelengkan kepalanya berkali-kali, seolah ingin menyadarkan diri.
__ADS_1
TBC...