
Aditya baru saja tiba di Mansion hampir memasuki waktu Maghrib, dengan membawa pesanan dari sang istri tercinta. Yaitu mooncake dengan isian telur asin dan pasta biji teratai. Selama di dalam perjalanan menuju ke Mansion, ia sibuk memikirkan alasan yang tepat untuk memberitahu Queen tentang alasan mengapa Dewi dan Ririn memilih pergi tanpa berpamitan. Karena ia tidak mengijinkan Dewi menginjakkan kaki di Mansion untuk menemui wanitanya.
Dengan langkah kaki panjangnya, Aditya berjalan masuk melewati pintu utama dan mengucapkan salam. Istana mewah nan megah itu selalu terlihat sangat sepi di lantai dasar karena semua penghuni lebih sering menghabiskan waktu di lantai atas. Yaitu, di ruangan santai yang ada di depan kamar masing-masing. Sehingga saat ia mengucap salam, hanya pelayan yang berada di sekitar yang menjawab salamnya.
Aditya menatap ke arah pelayan laki-laki yang membawa gunting dan baru saja masuk ke Mansion. "Apa tuan besar sudah pulang kerja?"
Pria yang berusia seumuran dengan Aditya, membungkuk hormat dan menjawab pertanyaan dari majikannya. "Sudah, Tuan muda. Mungkin sekitar setengah jam yang lalu."
"Baiklah, terima kasih." Aditya tersenyum tipis pada pelayan pria yang berada di depannya. Tentu saja ia langsung berjalan menaiki anak tangga untuk segera menemui mertuanya. Karena ingin membahas tentang wanita yang akan menghancurkan keutuhan rumah tangganya.
Namun, baru saja ia menapakkan kaki di lantai atas, suara dari Queen, membuatnya tidak jadi menemui mertuanya.
Queen tadinya ingin memeriksa sang suami yang dari tadi ditunggunya, tetapi tidak kunjung datang. Sehingga saat ia melihat siluet tubuh tegap Aditya, senyuman langsung merekah dari bibirnya. "Baru saja tadi aku ingin ke bawah, My hubbiy. Alhamdulillah kamu sudah datang. Mana pesananku?" Queen melirik ke arah paper bag di tangan kanan pria yang sudah berjalan mendekat ke arahnya dan langsung mencium keningnya.
Aditya yang selalu menjalani ritual rutinnya untuk mencium kening Queen, menyerahkan barang bawaannya pada wanita yang terlihat sangat berbinar saat menyambutnya. "Sepertinya istriku sudah tidak sabar untuk menikmati kue bulan ini. Kamu khawatir suamimu lupa, ya!"
Queen langsung menerima paper bag dari Aditya dan memeriksa pesanannya. "Iya, aku sangat ingin memakannya karena sudah lama tidak menikmatinya, My hubbiy. Untung saja tidak lupa, karena jika itu terjadi, aku akan menghukummu."
Aditya hanya geleng-geleng kepala dan mengarahkan tangannya pada pipi putih nan cabi di depannya. "Memangnya hukuman apa yang ingin kamu berikan padaku jika tadi aku lupa? Padahal saat seseorang lupa, itu merupakan sebuah hal yang tidak disengaja, Sayang."
Queen hanya terkekeh mendengar nada protes dari pria di depannya dan malah membuatnya merasa semakin gemas. Sehingga ia mengalungkan kedua tangannya ke belakang leher Aditya dan langsung mengarahkan bibirnya untuk mengecup lembut bibir tebal di depannya. Hanya sebuah kecupan lembut tanpa sesapan atau gigitan.
Karena ia tahu kalau gairahnya akan bangkit jika sampai melakukannya. Sedangkan ia harus berpuasa selama 40 hari lamanya. "Jangan suka ngedumel tidak jelas, My hubbiy. Mandi sana! Bukankah My hubbiy punya hutang penjelasan padaku? Jadi, setelah mandi, jelaskan padaku mengenai wanita yang pergi bersamamu tadi, oke! Aku mau makan mooncake dulu sambil menunggui my princess." Melepaskan tangannya yang tadi melingkar di leher belakang sang suami dan berjalan ke arah sofa untuk mendaratkan tubuhnya di sana.
Sementara itu, Aditya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah sang istri yang sangat over possesive padanya ketika ia berada di sekitar wanita. "Sayang, aku ingin berbicara dulu pada papa. Nanti aku akan mandi dan menjelaskan semuanya padamu."
__ADS_1
Queen yang terlihat tengah membuka bungkus kue bulan di tangannya, menoleh sekilas ke arah Aditya dan melanjutkan kegiatannya. Karena ia sudah tidak sabar untuk menikmati makanan pesanannya. "Memangnya mau berbicara tentang apa, My hubbiy? Urusan pekerjaan pasti, lebih baik dibahas nanti saja setelah mandi."
"Ada hal penting yang tidak bisa ditunda, Sayang. Aku akan menjelaskan semuanya padamu nanti, oke!" Aditya berjalan meninggalkan Queen yang sudah asyik menikmati makanannya. Kaki jenjangnya kini sudah melangkah menuju ke arah kamar mertuanya yang ada di pojok kiri lantai atas tersebut. Tangannya mengetuk pintu dan menunggu hingga mertuanya keluar.
"Pa, Ma."
Tak lama kemudian, pintu berwarna coklat itu terbuka dan terlihat Abymana sudah terlihat rapi dengan memakai pakaian santai. "Aditya, sepertinya ada kabar yang ingin kamu sampaikan hingga tidak menunggu hingga makan malam."
Aditya terlihat serius dan menganggukkan kepalanya, "Iya, Pa. Ini menyangkut keluarga Raharja."
"Kita duduk di situ." Abymana berjalan lebih dulu dan mendaratkan tubuhnya di sofa, di mana tempat itu selalu untuk ia dan istri bersantai sambil menonton tv. "Duduklah dan katakan saja apa yang ingin kamu sampaikan."
Aditya menganggukkan kepala dan duduk tak jauh dari mertuanya. Tentu saja karena ia tidak ingin saat ia bercerita, tidak didengarkan jelas oleh mertuanya. "Begini, Pa. Apa Papa tahu mengenai wanita yang bernama Novita Sari? Dia adalah bosnya Dewi yang saat ini berada di Bali."
"Wanita itu memang tidak pernah bertaubat setelah semua yang ia alami." Dengan rahang yang mengeras, Abymana mengepalkan kedua tangannya dan menatap ke arah Aditya. "Tenang saja, aku sudah membuatnya tidak berkutik sekarang."
Abymana terkekeh melihat reaksi dari Aditya yang terkejut. "Menurutmu, siapa yang memerintahkan orang untuk memasang CCTV dengan kamera luar biasa di perusahaan Raharja?"
"Jadi ... ternyata Papa tahu semuanya. Astaghfirullah, aku pikir hanya aku yang mengetahui tentang hal ini, Pa. Karena itulah tadi aku ingin membahas tentang wanita itu. Lalu, apa yang Papa lakukan pada Novita Sari?" tanya Aditya dengan menatap intens pada mertuanya.
Abymana meraih ponsel miliknya dan mencari sebuah video. Kemudian memutar video berdurasi 5 menit itu untuk diperlihatkan pada menantunya. "Kamu lihat sendiri nasib wanita menjijikkan itu." Menaruh ponsel pintar miliknya di atas meja.
Sementara itu, Aditya langsung menggeser tubuhnya dan mulai melihat video yang menampilkan sosok wanita paruh baya tengah dibawa oleh para polisi saat keluar dari dirumahnya. Refleks ia menoleh ke arah mertuanya. "Jika Papa sudah tahu tentang wanita ini, berarti soal Dewi dan sahabatnya itu ...."
Abymana menganggukkan kepala untuk membenarkan perkataan dari Aditya. "Iya, tentu saja aku sudah tahu bahwa 2 wanita ular itu adalah kaki tangan dari Novita Sari."
__ADS_1
"Bagaimana mungkin? Papa tahu dari mana?" tanya Aditya dengan sangat terkejut dan wajah penuh sorot pertanyaan.
"Putar video di bawahnya!" Abymana mengarahkan jari telunjuknya ke arah ponselnya.
Aditya langsung menuruti perintah dari mertuanya dan memutar video percakapan dari Dewi dan Ririn saat berada di ruang tamu. "Ini di dalam rumah, kan. Jadi, di sana juga dipasang CCTV? Bagaimana mereka tidak mengetahuinya."
Abymana hanya terkekeh saat melihat menantunya masih merasa heran. "Sekarang jamannya semakin canggih, Aditya. Tidak perlu merasa bingung. Aku dan Arthur lebih waspada semenjak ada penyusup di keluarga Raharja dan hampir saja membuat nyawa menantuku melayang. Karena itulah, kami tidak pernah mempercayai orang lain semenjak kejadian itu. Sedangkan Queen saat itu masih berada di New York." Bercerita panjang lebar mengenai musibah yang pernah dialami karena lengah ada penyusup yang masuk dalam keluarganya.
Aditya mendengarkan cerita dari mertuanya dengan seksama karena tidak ingin melewatkan satu hal pun. "Jadi, di sini hanya aku dan istriku yang tidak tahu tentang Dewi? Astaghfirullah, kenapa Papa dan abang Arthur menyembunyikan hal ini dari kami?" Mengungkapkan nada protes karena merasa sedikit kecewa tidak dipercayai.
Abymana bangkit dari sofa dan berjalan mendekat ke arah Aditya. Kemudian menepuk pundak menantunya. "Aku hanya ingin melihat bagaimana kamu menghempaskan para ular yang mengganggu rumah tanggamu, Aditya. Ternyata kamu sangat tegas menghempaskan para pelakor dengan sangat rapi tanpa mengurangi kebaikan yang ada dalam dirimu. Aku bangga padamu, menantuku."
Aditya merasa sangat bodoh di depan mertuanya karena menjadi orang terakhir yang mengetahui seorang pengkhianat. "Papa membuat aku semakin malu saja. Oh ya, bagaimana dengan istriku, Pa? Apakah aku harus mengatakan semuanya padanya? Bagaimana jika Queen mengejar Dewi dan Ririn untuk dijebloskan ke dalam penjara?"
Dengan mengendikkan bahu, Abymana seolah merasa menyerah dan tidak bisa menjawab pertanyaan menantunya. "Kalau itu, Papa tidak bisa membantu. Karena semua keputusan ada ditangan istrimu. Jika sampai Queen murka dan tidak melepaskan mereka, berarti itu nasib sial Dewi dan Ririn. Karena itulah mereka harus bersembunyi sebaik mungkin agar tidak ditemukan. Sudahlah, tidak penting membahas para wanita ular itu. Temui istri dan anakmu, itu lebih penting dari membahas hal ini."
Aditya menganggukkan kepala dan bangkit berdiri dari tempat duduknya. Namun, sebelum itu, ia menanyakan sesuatu yang sangat mengganjal di pikirannya.
"Pa, kenapa Papa melepaskan Dewi dan Ririn dan tidak menjebloskan mereka ke penjara?"
"Karena aku masih berpikir bahwa kamu berhutang nyawa pada Dewi. Bukankah kamu juga berpikir demikian?" tanya Abymana yang berdiri menjulang di depan menantunya.
Aditya membenarkan perkataan dari mertuanya dengan sebuah anggukan kepala. "Iya, Papa memang benar. Karena itulah tadi aku memberinya uang. Meskipun itu tidak bisa dianggap membayar nyawaku untuk menggantikan setiap tetes darahnya yang menyelamatkan aku dari kematian."
"Sudahlah, setelah kebaikan kita hari ini, tidak ada beban atas dasar balas budi pada wanita itu. Semua orang akan menuai apa yang ditanam. Jadi, mulai sekarang berpikirlah positif mengenai masa depan keluargamu. Besok adalah acara aqiqah sekaligus syukuran dan pemberian nama untuk cucuku. Lebih baik kamu mempersiapkan diri untuk acara besok," ucap Abymana dengan tegas dan berjalan meninggalkan menantunya.
__ADS_1
TBC ...