
Queen masih sangat kesal karena perkataan dari Dewi yang memberitahukan tentang masalah Rey yang baru saja bebas. Ia melirik ke arah sosok pria di sebelahnya masih fokus mengemudi dan sama sekali tidak menanyakan tentang masalah adik tirinya. Ia memiringkan tubuhnya saat menatap wajah tampan yang terlihat sangat datar, tetapi semakin menambah kesan maskulin dan membuat ia semakin memujanya.
"My hubbiy."
Tanpa menoleh untuk menatap Queen yang memanggilnya, Aditya hanya menjawab dengan sebuah deheman. "Ehm ...."
Merasa kesal karena dicueki oleh Aditya yang masih fokus menatap ke arah depan, refleks tangah Queen langsung mengarah ke pipi putih dengan rahang tegas itu.
"Iih ... sebel."
Merasa sangat terganggu dengan ulah nakal sang istri, Aditya menahan tangan Queen dan menurunkannya hingga berada ke dekat bibirnya. Mengecup punggung tangan itu dan mulai mengeluarkan suara.
"Ada apa, Sayang? Aku sedang konsentrasi mengemudi, ini."
Rona merah mulai memenuhi permukaan kulit putih Queen saat merasa sangat tersentuh dengan perbuatan romantis tiba-tiba dari Aditya yang selalu mampu meluluhkan hatinya. Ia menarik tangannya yang berada dalam genggaman sang suami yang kini sekilas meliriknya dan kembali fokus menatap ke arah depan.
"Kenapa kamu diam saja, My hubbiy? Maksudku, kenapa tidak menanyakan tentang Reynaldi?"
Untuk beberapa saat, hanya sebuah keheningan yang memenuhi ruangan di dalam mobil. Karena saat ini, Aditya tengah mencari sebuah kata yang tepat untuk menanggapi pertanyaan dari Queen.
Tentu saja karena ia sangat hafal dengan karakter dari sang istri yang selalu menganggap apapun salah saat tidak sesuai dengan yang dipikirkan. Dan sifat egois itu berhasil mengombang-ambingkan perasaannya. Sehingga ia selalu berhati-hati untuk menjawab setiap pertanyaan dari wanita yang sudah 3 tahun lebih dinikahinya.
"Sayang, sebelum aku menjawab pertanyaanmu, aku ingin bertanya padamu terlebih dahulu."
__ADS_1
Queen yang tadinya menatap ke arah depan untuk melihat lalu lalang kendaraan, mengerutkan kening dan menoleh ke arah pria yang duduk di balik kemudi itu. "Bertanya apa, My hubbiy?"
"Menurutmu, aku harus menjawab apa?" tanya Aditya yang melirik sekilas ke arah Queen untuk melihat ekspresi wajah wanita yang mulai membuka 1 kotak berisi seblak yang tadi ia beli.
Merasa mendapatkan sebuah pertanyaan konyol, membuat Queen yang tadinya ingin menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, refleks tidak jadi melakukannya.
"Astaga, My hubbiy. Aku bertanya padamu, tetapi kamu malah bertanya balik padaku. Konyol sekali." Queen sudah geleng-geleng kepala dan mulai sibuk menikmati makanannya. Namun, ia pun mengarahkan satu sendok makanan ke arah Aditya dan menyuapkannya ke mulut itu begitu terbuka.
"Enak, kan My hubbiy?"
Aditya yang sebenarnya tidak menyukai makanan pedas, hanya menganggukkan kepala untuk membenarkan pertanyaan dari Queen. Meskipun wajahnya kini sudah berubah memerah karena efek dari kepedasan. Akan tetapi, ia berpura-pura untuk tidak terlihat tengah terbakar mulutnya.
Queen hanya terkekeh geli melihat ekspresi wajah dari pria yang asyik berpura-pura menyembunyikan sebuah kebenaran. Refleks ia meraih botol air minum di sebelahnya dan memberikannya pada Aditya setelah membuka tutupnya terlebih dahulu.
"Ketahuan ya, Sayang." Aditya hanya terkekeh dan menerima botol air minum tersebut. Tanpa membuang waktu, ia langsung meneguknya hingga tersisa separuh dan kembali memberikannya pada Queen.
"Gimana nggak ketahuan, wajah My hubbiy sudah memerah seperti itu. Oh ya, apa maksud pertanyaan tadi?" Queen kembali menutup botol air minum dan menaruhnya di tempat semula. Tentu saja ia kembali menikmati seblak level 3 yang menurutnya masih belum terlalu pedas.
"Tentang pertanyaanmu tadi, kenapa aku diam saja dan tidak membahas tentang Rey. Aku tahu kalau kamu akan marah saat membahas tentang dia, karena itulah, lebih baik diam. Akan tetapi, kamu malah bertanya padaku. Terus, suamimu ini harus bagaimana?" Masih tanpa menoleh ke arah Queen yang sibuk menikmati makanannya.
Queen sejujurnya merasa sangat bersalah begitu mendengar penjelasan dari Aditya, sehingga ia yang masih mengunyah makanannya, menutup kotak berisi seblak tersebut. Tiba-tiba seleranya langsung hilang dan tidak ingin melanjutkan makannya.
"My hubbiy, apa kamu muak dengan sikapku selama ini? Aku baru menyadari bahwa sepertinya aku adalah seorang istri yang memuakkan. Apa kamu ilfil padaku?"
__ADS_1
Merasa ada sebuah kesalahpahaman, Aditya langsung menepikan mobil ke tepi untuk menanggapi keluhan dari Queen yang ia ketahui telah menyadari kesalahannya. Begitu mobil berhenti, ia menatap ke arah sang istri setelah mematikan mesin mobil.
"Sayang, kamu salah paham dengan perkataanku tadi. Mana ada seorang suami yang merasa ilfil pada tulang rusuknya sendiri. Aku mencintaimu karena dirimu yang apa adanya seperti ini. Aku berkata seperti itu tadi karena tidak ingin ada sebuah perselisihan di antara kita karena beda pendapat."
"Sebuah hal yang mungkin akan membuat ketenangan rumah tangga kita menjadi rusak, Sayang. Apa kamu mengerti dengan perkataanku?" Aditya menggenggam erat tangan Queen untuk menghibur dan menenangkan perasaan wanita cantik itu.
Queen merasa sangat lega setelah sebuah kata-kata manis yang berhasil menyejukkan hatinya. "Aku paham, My hubbiy. Jadi, kamu tidak ilfil padaku meskipun sikapku sudah sangat keterlaluan padamu? Alhamdulillah kalau begitu."
"Tidak pernah terlintas sedikit pun hal itu, Sayang. Kebetulan tadi Dewi membahas tentang masalah Rey. Aku mencium sesuatu yang tidak beres pada Dewi, Sayang. Kenapa dia bisa bilang bahwa Rey masih tidak berubah? Apakah Dewi bertemu dengannya hari ini? Kamu tidak mau mencari tahu?" tanya Aditya yang ingin memancing tanggapan dari Queen.
Queen mengendikkan bahu dan tidak ingin melanjutkan pembicaraan. "Aku tidak mau tahu tentang mereka, My hubbiy. Asalkan mereka tidak mengganggu ketenangan keluargaku, aku tidak akan memperdulikan mereka. Mau mereka saling berkelahi atau saling menyerang, bukan urusanku. My hubbiy tenang saja, aku sudah menyuruh orang untuk mengawasi setiap gerak-gerik dari Reynaldi. Jadi, saat ia berbuat hal yang mencurigakan, aku akan langsung menghancurkan hidupnya. Akan tetapi, sepertinya dia tidak akan berani macam-macam pada keluarga kita lagi."
Sebuah kecurigaan tentang sesuatu yang mungkin akan terjadi pada Dewi, kini berputar-putar di otaknya.
"Sepertinya aku harus menyuruh orang untuk mengawasi Dewi karena istriku sudah mengawasi Rey. Jika sampai terjadi sesuatu pada Dewi karena Rey, aku akan benar-benar merasa sangat berdosa. Semoga Allah SWT melindunginya," lirih Aditya di dalam hati.
"Baiklah, Sayang. Jika kamu sudah menyuruh orang untuk mengawasi Rey, aku bisa tenang karena rumah tangga kita tidak akan terganggu. Akan tetapi, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu, Sayang." Aditya menatap ekspresi wajah Queen sebelum melanjutkan perkataannya.
"Apa, My hubbiy? Jangan membuat aku penasaran. Aku siap mendengarkan," jawab Queen yang tidak berkedip menatap ke arah Aditya.
Aditya berdehem sejenak untuk menormalkan perasaannya, karena apa yang akan dikatakannya adalah sebuah kesalahan. Seolah saat ini ia seperti sedang mengaku di depan hakim.
TBC ...
__ADS_1