Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Suami yang penurut


__ADS_3

Sabrina melepaskan selimut tebal yang melilit ditubuhnya dan berdiri di depan cermin besar yang ada di kamar mandi. Ia langsung membulatkan kedua matanya saat melihat banyaknya kissmark di tubuh bagian atas. Refleks ia mengarahkan jemarinya pada bagian yang sudah penuh dengan jejak kepemilikan dari pria yang sudah merenggut kesuciannya.


"Pria berengsek itu benar-benar keterlaluan," sarkas Sabrina yang memijat pelipisnya dan mencoba untuk mengingat kejadian semalam. Beberapa saat bayangan pria yang mencumbunya semalaman bisa diingatnya dan juga saat ia menikmati dan mendamba setiap sentuhan itu. Bahkan kini, ia samar-samar mengingat saat bergerak liar di atas Dave untuk memuaskan hasrat.


Refleks ia langsung mengarahkan tangannya untuk membuang semua perlengkapan mandi yang ada di depannya. Sehingga semua barang-barang itu sudah jatuh berantakan ke atas lantai basah itu. Di saat yang bersamaan, tubuhnya berdenyut nyeri dan kembali bergairah.


Sedangkan suara teriakan dari Dave yang tidak berhenti menggedor-gedor pintu bisa didengarnya. Sabrina mencoba sekuat tenaga untuk menahan diri agar tidak lagi menyerang pria yang sangat dibencinya. Sehingga ia yang sama sekali tidak memperdulikan teriakan dari Dave, langsung berjalan ke arah shower dan mandi di bawah air dingin. Dengan berpikir bahwa apa yang dirasakannya akan hilang setelah berdiri di bawah guyuran air shower.


Sabrina tidak berhenti mengepalkan kedua tangannya saat merasakan gairah yang berapi-api di dalam tubuhnya. Seolah sebentar lagi akan meledak dan membuatnya hancur berkeping-keping.


"Aku pasti bisa. Sabrina, tahan dirimu."


Baru saja Sabrina menutup mulutnya, suara pintu yang di dobrak dari luar mulai terdengar. Sabrina menoleh ke arah pintu yang bergerak dan bisa menduga bahwa pintu tersebut akan terbuka sebentar lagi. Namun, ia seperti seseorang yang lupa akan keadaannya. Karena hanya tetap diam di tempatnya dan mengamati detik demi detik pintu tersebut terbuka.


Sementara itu, Dave tidak menyerah untuk mendobrak pintu karena benar-benar merasa sangat khawatir dengan keadaan Sabrina yang diketahuinya sudah kembali minum air yang sudah ada obat perangsang. Hingga saat ia mendorong dengan kuat, pintu pun berhasil terbuka.


Namun, rasa khawatirnya berubah menjadi rasa terkejut saat melihat wanita yang terlihat sangat seksi berdiri di bawah guyuran air shower. Dave menelan kasar salivanya dan beberapa kali mengerjapkan mata saat melihat pemandangan menggiurkan itu. Sebuah godaan berat saat melihat tubuh polos sang istri yang basah dan membuat sesuatu miliknya menegang. Dengan berdehem, ia mencoba untuk menetralkan kegugupannya.


"Maafkan aku, Sabrina. Aku pikir terjadi sesuatu padamu. Jadi, aku buru-buru mendobrak pintunya. Nasib baik kamu baik-baik saja. Kalau begitu, lanjutkan saja mandinya," ucap Dave yang langsung berbalik badan dan melangkah keluar dari kamar mandi.


"Aku tidak akan bisa menahannya jika lama-lama berada di sini. Sepertinya Sabrina ingin mendinginkan hasratnya dengan mandi," gumam Dave yang mulai melangkahkan kaki panjangnya.


Sabrina yang dari tadi asyik menutupi 2 bagian pentingnya saat melihat Dave masuk, hanya diam dan bisa melihat raut wajah penuh kekhawatiran dari pria yang sudah bernapas tidak teratur karena efek kelelahan setelah mendobrak pintu. Saat ia melihat Dave berbalik badan dan meninggalkannya, entah mengapa ia merasa sangat kecewa dan berharap pria itu berhenti. Namun, tidak seperti yang diharapkannya karena Dave terus melangkah menjauh.


Karena gairahnya yang sudah semakin naik dan tidak mampu ia kendalikan, membuatnya berani menghampiri Dave dan berdiri di belakangnya dengan posisi tangan yang menyentuh biseps kuat itu, tentu saja untuk merasakan simpul otot yang hangat dengan ujung-ujung jarinya.


"Dave ...."

__ADS_1


Tubuh Dave mulai meremang dan semakin menegang saat merasakan desir halus yang bergerak di antara mereka. Sentuhan dari Sabrina yang seolah tidak membiarkannya pergi, membuatnya lama-kelamaan terbiasa dan ingin kembali mereguk asmara yang akan menggiringnya menuju ke surga dunianya.


"Sabrina. Apa kamu membutuhkanku?"


"A-aku tidak tahu, tetapi aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Aku sudah berusaha untuk mendinginkan otakku, tetapi tetap tidak bisa."


"Kamu membutuhkanku dan akuilah itu. Berjanjilah padaku," ucap Dave yang melepaskan jemari lentik Sabrina yang melingkar di perutnya dan berbalik badan menatap wajah cantik yang terlihat memerah itu.


Sabrina sedikit mendongak menatap ke arah Dave yang berada pada posisi intim dengannya. Bahkan ia bisa merasakan kehangatan yang disalurkan Dave karena kulit yang sudah bersentuhan.


"Berjanji apa?"


"Kamu akan menerimaku sepenuhnya sebagai suamimu. Tidak akan ada pria lain yang akan menyentuhmu selain aku, karena selamanya kamu akan menjadi istriku."


Otak Sabrina yang sudah tidak bisa berpikir jernih, membuatnya refleks menganggukkan kepala dan langsung mengalungkan tangannya pada leher Dave, kemudian menciumnya.


Awalnya Dave hanya diam dan membiarkan Sabrina menguasai bibirnya, tetapi ia ikut terbawa suasana dan mulai menyesap bibir sensual yang sudah berhasil membuatnya bergairah.


*******


Sementara itu, di kamar sebelah yang ditempati oleh Aditya dan Queen, terlihat keduanya tengah duduk berdampingan di sofa tengah menikmati sarapannya. Bahkan Aditya terlihat sangat sabar dan telaten saat menyuapi sang istri.


Sedangkan Queen terlihat sangat bahagia memiliki seorang suami yang sangat sabar dan selalu menuruti apapun yang ia minta. Termasuk hari ini, ia sangat ingin makan coto Makassar disuapi oleh sang suami.


"Bagaimana rasanya, Sayang?"


"Kalau makan disuapi suami begini, apapun pasti terasa enak. Bahkan mungkin makan nasi dan garam pun akan terasa enak," jawab Queen dengan terkekeh karena merasa sangat konyol dengan apa yang barusan dikatakannya.

__ADS_1


"Ternyata seorang nona muda bisa menggombal rupanya," ujar Aditya yang ikut terkekeh.


"Semua ini karenamu, My hubbiy. Aku dulu sangat mual dan pengen muntah mendengar kalimat rayuan gombal dari para pria yang mencoba merayuku, tetapi kenapa sekarang aku suka, ya?" tanya Queen dengan tatapan intens pada pria tampan yang sangat digilainya.


"Itulah cinta, Sayang. Seperti yang dikatakan oleh orang-orang, dunia serasa milik berdua dan yang lain ngontrak. Meskipun itu terdengar sangat lebay, tetapi semua orang yang pernah jatuh cinta merasakannya. Sekarang kita telah jatuh cinta dan merasakan hal itu," ujar Aditya yang sudah selesai menyuapi Queen hingga habis. "Alhamdulillah, sudah selesai."


"Alhamdulillah," ucap Queen yang menerima gelas berisi air putih dari Aditya. "Terima kasih, My hubbiy." Meneguk air minum hingga habis dan menaruhnya di atas meja. "Kira-kira Dave dan Sabrina sudah bangun atau belum ya? Ayo, My hubbiy, kita lihat mereka."


"Lihat mereka bagaimana, Sayang?" tanya Aditya yang sudah mengangkat alisnya.


"Aku sudah menyuruh staf hotel menyiapkan sarapan untuk mereka. Akan tetapi, aku menyuruh mereka untuk datang ke sini dulu sebelum mengantarkannya. Jadi, aku bisa berpura-pura mengatakan pada mereka bahwa aku berbaik hati. Meskipun tujuan utamaku adalah ingin mengetahui ekspresi Sabrina yang sudah di jebol gawangnya oleh Dave," ucap Queen yang tertawa terbahak-bahak saat membayangkan wajah malu Sabrina saat tertangkap basah olehnya.


Aditya refleks menggelengkan kepala, menandakan sama sekali tidak menyetujui rencana dari Queen. "Jangan seperti anak-anak, Sayang. Jangan ganggu pengantin baru yang sedang bulan madu."


"Akan tetapi, aku penasaran melihat Sabrina."


"Tidak perlu merasa penasaran karena kamu sudah pernah mengalaminya, Sayang. Oh ya, besok aku harus bekerja. Kamu istirahat saja di Mansion, menunggu suami pulang kantor." Aditya mengarahkan tangannya untuk mengusap pipi putih Queen.


"Bagaimana kalau aku ikut dan menemanimu di kantor, Sayang. Anggap saja aku sedang mengawasimu. Agar tidak ada keong racun yang mengintaimu."


"Astaghfirullah, tidak perlu melakukannya, Sayang. Karena banyak pengawal yang sudah sudah mengawasiku. Bukankah kamu menyuruh mereka semua untuk menjadi mata-mata?"


Queen hanya terkekeh saat merasa seperti diadili, "Namanya juga berjaga-jaga, My hubbiy. Oh ya, kemarin Dewi mengenalkan sahabatnya yang mencari pekerjaan. Sebenarnya aku sangat tidak menyukainya, tetapi karena Dewi memohon, jadi aku mengiyakannya. Akan tetapi, jangan dekat-dekat dengan wanita itu meskipun dia adalah sahabatnya Dewi."


Aditya yang merasa sangat gemas dengan sikap posesif dari Queen, refleks mencubit pipi putih itu. "Iya, tuan putri. Aku tidak akan pernah dekat dengan semua wanita seperti titahmu."


"Bagus, aku suka dengan suami yang penurut," jawab Queen dengan tatapan penuh kebahagiaan.

__ADS_1


.


TBC ...


__ADS_2