Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Seperti wanita mengidam


__ADS_3

Aditya dan Queen saat ini sudah berada di dalam mobil mewah yang membawa mereka kembali ke Mansion. Suasana keheningan terjadi antara Aditya dan Queen yang duduk bersebelahan, namun sama-sama diam membisu dan terlihat tengah berkutat dengan pikirannya masing-masing.


Sedangkan sang supir yang fokus mengemudi sesekali melihat ke arah spion mobil untuk melihat pasangan yang duduk di belakang, dan bergumam di dalam hatinya.


Sebenarnya apa yang sedang di pikirkan oleh Nona muda Queen dan juga Den Aditya. Bahkan daritadi mereka tidak bersuara, padahal biasanya Nona muda paling cerewet dan berisik. Akan tetapi, kali ini hanya diam saja seolah sedang banyak pikiran. Apa yang sebenarnya terjadi? Sebentar lagi lewat depan lapak penjual martabak manis kesukaan Nona muda, apa aku harus diam atau bertanya padanya? Nanti takut salah ngomong dan Nona marah padaku, tapi kalau nanti Nona ingat dengan martabak manis kesukaannya, pasti Nona akan murka.


Queen yang daritadi diam karena tengah sibuk memikirkan perkataan dari sang Daddy saat di rumah sakit yang mengatakan pada Ayah dari Aditya akan memberikan Perusahaan Raharja Group pada pria yang dia ajak bekerja sama untuk melakukan sebuah sandiwara pernikahan.


Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana jika nanti Daddy benar-benar menyerahkan Perusahaan Raharja Group pada Aditya saat aku bercerai nanti? Ini tidak bisa di biarkan, aku harus berbicara pada pria miskin ini untuk membahas hal ini. Akan tetapi, tidak di sini. Karena supir pasti akan langsung melaporkannya pada Daddy nanti.


Lamunan Queen seketika buyar saat mendengar suara dari sang supir yang memanggil namanya.


"Nona muda, hari ini mau membeli martabak manis seperti biasannya atau tidak?"


Mendengar pertanyaan dari sang supir, membuat Queen seketika tersenyum. Karena mulai mendapatkan sebuah angin segar saat dirinya memang sedang ingin berbicara berdua dengan Aditya.


"Untung saja Bapak mengingatkan aku. Tentu saja aku mau membelinya, nanti berhenti di tempat biasa! Aku ingin membelinya bersama dengan Aditya nanti."


"Baik Nona," jawab sang supir dan mulai bergumam di dalam hatinya.


Tumben Nona mau membelinya sendiri, biasanya juga menyuruhku atau pengawal untuk membelinya.


Aditya seketika menolehkan kepalanya begitu wanita yang berada di sebelahnya itu menyebutkan namanya, "Kamu mau membeli martabak denganku Queen?"


"Iya," tanpa berpikir, Queen langsung menjawab pertanyaan dari pria yang terlihat tengah menautkan kedua alisnya.


Dasar bodoh, aku ingin berbicara padamu. Dia pasti saat ini kepedean karena aku mengajaknya untuk pergi berdua.

__ADS_1


"Baiklah, aku yang akan membelikanmu martabak manisnya nanti. Kamu di dalam mobil saja nanti!"


"Nggak, aku ingin membelinya denganmu!"


Aditya lagi-lagi merasa sangat aneh melihat tingkah Queen. Karena merasa tidak mungkin menolak seorang Nona muda, membuat Aditya hanya menganggukkan kepalanya.


Rencana apa lagi yang ada di kepalamu itu Queen. Apa kamu saat ini tengah berpikir ingin mengancamku lagi?


Lima belas menit kemudian, mobil mewah milik keluarga Raharja tersebut berhenti tepat di area lapak pedagang kaki lima yang menjual martabak manis dan juga martabak telur. Yang merupakan tempat paling favorit dari seorang Nona muda Queen saat menginginkan makanan manis tersebut. Tanpa mempermasalahkan soal tempat yang merupakan pedagang kaki lima di pinggir jalan tersebut.


"Sudah sampai Nona."


"Bapak tunggu saja di sini! Aku akan turun bersama dengan Aditya untuk membelinya!" Queen mulai membuka pintu mobil dan melangkah turun setelah sebelumnya mengarahkan dagunya yang lancip kepada Aditya untuk memberikan sebuah kode menyuruhnya keluar dari mobil untuk mengikutinya.


Aditya pun menuruti perintah dari Queen dan mulai turun dari mobil dan berjalan ke arah lapak pedagang kaki lima tersebut, "Kamu mau martabak manis rasa apa Queen? Biar aku yang membelikannya untukmu!"


"Mereka sudah tahu kesukaanku, begitu aku datang, jadi tidak perlu bilang apa-apa pada mereka." Queen beralih menatap ke arah penjual yang sudah sibuk di depan kompor, karena banyak orang yang sudah mengantri, "Bang, yang biasa!"


Queen menggelengkan kepalanya, "Tidak masalah, lagipula aku sedang tidak terburu-buru. Jadi santai saja!"


"Siap Nona," jawab pria penjual martabak manis itu.


Queen sudah duduk di kursi yang memang di sediakan untuk para pembeli menunggu saat sedang mengantri, lalu ia mengarahkan tangannya untuk menepuk kursi yang berada di sebelahnya, "Aditya, duduklah disini! Aku ingin berbicara sesuatu!"


Tanpa menjawab perintah dari Queen, Aditya langsung mendaratkan tubuhnya di sebelah calon istrinya tersebut, "Sepertinya daritadi ada hal yang mengganggu pikiranmu Queen. Dan sepertinya aku tahu hal itu, apa daritadi kamu sedang memikirkan janji Daddy mu itu Queen?"


Queen langsung bertepuk tangan dan tertawa, "Waah ... ternyata kamu sangat cerdas Aditya, aku jadi tidak perlu susah-susah untuk menjelaskan tentang hal ini padamu. Kamu jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan Perusahaan Raharja Group setelah kita bercerai nanti."

__ADS_1


"Insya Allah aku tidak pernah sedikitpun untuk bermimpi seperti yang kamu tuduhkan itu Queen. Kamu bisa tenang, karena aku tidak akan pernah menerima sesuatu yang bukan merupakan milikku. Dan Perusahaan Raharja Group bukanlah milikku, itu adalah milik keluarga Raharja. Jadi, aku tidak akan menerima tawaran dari Tuan Abymana."


"Apa sampai disini kamu puas mendengar jawaban dariku Queen?"


Queen refleks langsung menggelengkan kepalanya, "Aku bukanlah wanita bodoh yang gampang di bodohi oleh kata-kata dari laki-laki sepertimu. Jadi, aku ingin kamu menandatangani surat perjanjian yang nanti aku buat saat sampai di Mansion. Semuanya harus ada hitam di atas putih, dan akan menjadi bukti dari ucapanmu itu."


"Baiklah, aku nanti akan menandatanganinya. Bahkan aku akan menandatangani semua surat perjanjian yang akan kamu buat untukku. Agar kamu mempercayaiku Queen."


"Baguslah, aku sangat suka rasa percaya dirimu dan juga keyakinanmu itu Aditya. Karena itu akan memudahkanku untuk menangani masalah ini, ternyata aku tidak salah memilihmu untuk melakukan sandiwara pernikahan. Baiklah, sekarang malam ini aku bisa tidur nyenyak dan tidak akan memikirkan tentang janji Daddy yang sangat konyol itu!"


Queen bangkit dari kursi, dan menatap sekilas ke arah pria yang masih duduk di sebelahnya. "Kamu tunggu martabak manisnya, aku mau kembali ke mobil!"


Aditya menatap siluet Queen yang sudah masuk ke dalam mobil, lalu dirinya bangkit dari kursi dan berjalan mendekati pria yang sudah beraksi di depan loyang martabak.


"Bang, apakah masih lama pesanan Nona muda?"


"Oh ... ini saya lagi membuatnya Tuan, sebentar lagi selesai."


"Bolehkah saya tahu, martabak manis kesukaan Nona muda memangnya rasa apa?" menatap ke arah loyang yang sudah berisi adonan yang hampir matang.


"Nona muda sangat menyukai martabak manis rasa coklat mix kacang tanah dan kacang hijau."


"Ooh ... jadi mix tiga ya Bang? Sepertinya sangat enak rasanya, aku pesan yang serupa satu lagi bang!"


"Loh ... tapi ini sudah pesan lima Tuan, apa nggak kebanyakan?"


"Tidak Bang, itu buat keluarganya. Kalau yang itu buat saya sendiri nanti!"

__ADS_1


*Tidak mungkin aku nanti meminta martabak yang di beli Queen. Pasti dia tidak akan memberikannya padaku. Kenapa aku sekarang tiba-tiba ingin makan martabak manis seperti yang di sukai oleh Queen? Sekarang aku sudah seperti wanita mengidam saja.


Bersambung* ...


__ADS_2