Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Mau dari depan atau belakang?


__ADS_3

Queen baru saja menghabiskan susu coklat hangat buatan sang suami yang duduk di sebelahnya. Kemudian ia menyerahkan gelas kaca itu kepada Aditya, kali ini tingkahnya benar-benar seperti seorang anak kecil yang bermanja-manja pada ibunya saja. "Nah gelasnya," ucapnya seraya tersenyum manis.


Aditya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah dari sang istri yang menyerahkan gelas kosong itu padanya. Namun, dengan sangat sabar ia meladeni tingkah kekanakan Queen tanpa pernah mengeluh sama sekali. Bukan karena ia takut pada sang istri yang mempunyai sifat arogan, tapi lebih mengarah pada bukti cintanya pada sang istri yang telah mengandung benihnya sebagai tanda buah cinta mereka.


"My hubbiy, lucu juga ya si Dave. Kira-kira dia nanti akan jadian sama siapa ya? Apakah Dewi atau Sabrina? Bagaimana kalau kita taruhan saja!" ucap Queen yang memiringkan tubuhnya untuk menghadap ke arah Aditya.


Aditya mengarahkan tangannya untuk mencubit pipi putih yang kini agak sedikit gembul, "Astaghfirullah, yang namanya taruhan itu tidak baik, Sayang. Bukankah itu lebih seperti mengarah ke perjudian? Dan itu haram hukumnya. Sudahlah, jangan membahas atau menebak-nebak siapa yang kelak akan menjadi jodoh dari Dave. Kita serahkan saja pada Tuhan, karena jodoh adalah sebuah rahasia Ilahi. Lebih baik kita sekarang mandi, dan bersiap untuk berangkat ke pengadilan."


Queen mengerucutkan bibirnya saat merasa kesal karena selalu apa yang ia katakan mendapatkan protes dari pria yang sudah berdiri menjulang di depannya seraya mengulurkan tangannya. Refleks ia langsung menggelengkan kepalanya.


"Tidak mau mandi?" tanya Aditya dengan tatapan penuh sorot pertanyaan.


"Bukan, aku sedang malas berjalan. Gendong," ucap Queen yang sudah mengarahkan kedua tangannya kepada pria tampan yang sangat digilainya.


"Manja," sahut Aditya yang lagi-lagi geleng-geleng kepala. "Mau dari depan atau belakang?"


"Maksudnya?" sahut Queen yang otaknya sudah langsung traveling. "Dasar mesum!" Queen mencubit lengan kekar Aditya.


"Mesum?" Aditya menaikkan kedua alisnya karena tidak paham dengan ejekan dari sang istri. Dan saat ia mulai mengerti arah pembicaraan dari Queen, refleks ia langsung menggelengkan kepalanya. "Ternyata istriku benar-benar sudah dipenuhi hal-hal berbau mesum. Aku tadi tanya mau digendong di depan atau di belakang? Bukan gaya bercinta ala pasangan di atas ranjang."


"Eh ... begitu ya?" jawab Queen dengan wajah yang sudah mulai merona. "Kirain tadi ... ah sudahlah, aku mau gendong belakang. Mumpung perutku belum membuncit, nanti kalau sudah besar kan tidak bisa digendong di belakang seperti ini." Queen sudah naik di punggung lebar nan kokoh Aditya yang agak sedikit membungkuk di depannya agar memudahkannya untuk naik.


Aditya yang sudah menggendong tubuh Queen, mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah lift. "Jadi begitu, Sayang. Baiklah, aku akan menuruti semua keinginan dari Tuan putri. Bahkan mau pakai gaya di depan atau di belakang, aku tidak keberatan," ucap Aditya yang menggoda sang istri.

__ADS_1


"Issh ... kali ini mesum kan?" kesal Queen yang lagi-lagi mencubit pipi putih suaminya yang terdengar terkekeh setelah berbicara menggoda.


"Gara-gara istriku yang nakal, membuatku ingin memakai gaya dari belakang. Bagaimana? Apa kita langsung praktek saja di dalam kamar mandi, Sayang?" ucap Aditya yang berbicara dengan lirih agar tidak ada yang mendengarnya.


Perbuatannya bahkan terlihat sangat konyol, karena ia saat ini sedang berada di dalam lift yang membawa mereka ke lantai atas. Bahkan tidak ada orang yang akan mendengar jika ia berbicara, tapi ia sengaja berbisik untuk menggoda wanita yang saat ini ada di punggungnya.


Tentu saja perkataan dari Aditya, membuat Queen langsung berubah merona karena merasa sangat malu mendengar kalimat vulgar bernada mesum itu. "Issh ... dasar nakal. Nih rasakan," kesal Queen yang sudah mengarahkan tangannya untuk mencubit perut kotak-kotak yang penuh ABS seperti roti sobek itu.


Bunyi denting lift menandakan pintu akan terbuka, Aditya yang tidak berhenti terkekeh menanggapi kekesalan dari Queen, melangkahkan kaki panjangnya menuju ke ruangan kamar. "Jadi, kamu tidak mau? Ya sudah kalau begitu, aku tidak akan memaksamu, Sayang. Karena aku ingin kamu pun menginginkannya, jadi tidak membuatku terkesan pemaksa dan seolah hanya aku yang membutuhkan kepuasan batin."


Aditya sengaja berpura-pura untuk tidak melanjutkan aksinya, karena ingin melihat reaksi dari istrinya yang sudah diturunkannya di atas sofa yang ada di ruangan kamar. "Aku mandi dulu, atau kamu yang mandi duluan, Sayang?"


Queen yang merasa kebingungan dengan pertanyaan dari pria yang berdiri menjulang di depannya dan sudah menanti jawabannya, terlihat sangat gugup untuk mengeluarkan suaranya.


"Akan tetapi, aku kan malu dan harus bisa jaga image walau hanya sedikit. Masa asyik aku yang nyosor sih, memalukan. Suamiku ini terlalu sopan orangnya, padahal aku lebih suka suami yang suka nyosor. Kenapa aku bisa se-konyol ini menginginkan My hubbiy seperti angsa yang suka nyosor*," gumam Queen seraya terkekeh geli di dalam hati saat menyadari perkataannya.


Aditya yang melihat sang istri malah melamun, mengarahkan tangannya ke depan wajah cantik yang memakai hijab berwarna ungu tersebut. "Tuan putri, malah melamun."


"Eh ... iya, My hubbiy."


"Kamu sedang memikirkan apa?"


"Tidak ada, hanya hal tidak penting."

__ADS_1


"Jadi, bagaimana?"


"Bagaimana apanya, My hubbiy?" jawab Queen yang berpura-pura bersikap bodoh. "Kenapa aku bisa sebodoh ini sih," gumam Queen.


"Aku yang mandi duluan, atau kamu dulu Sayang? Atau ...." Aditya tidak melanjutkan perkataannya.


"Atau apa My hubbiy?"


"Atau kita mandi bersama dan memakai gaya dari depan atau belakang di kamar mandi," tanya Aditya seraya mengedipkan matanya.


Queen lagi-lagi sudah seperti kepiting rebus wajahnya saat mendapatkan pertanyaan nakal dari sang suami. "A-aku ...." Menggaruk kepalanya yang tertutup hijab.


"Sepertinya aku sudah tahu jawabannya," ucap Aditya yang sedikit membungkuk untuk meraup tubuh seksi sang istri ke atas lengan kekarnya dan membawanya ke arah kamar mandi.


Queen yang merasa sangat terkejut saat tubuhnya melayang ke atas saat digendong oleh sang suami, memekik tajam. "Aaarhh ... apa-apaan sih My hubbiy. Aku kan belum selesai berbicara," ucap Queen yang sedang berpura-pura seolah menampilkan sebuah penolakan.


"Biasanya seorang wanita kalau mau tuh selalu lambat dalam menjawab, tapi kalau menolak selalu cepat. Bukankah begitu, Sayang. Kamu juga menginginkannya bukan? Jadi, jangan berpura-pura untuk menolak." Aditya sudah menurunkan tubuh Queen di bathtub begitu sampai di dalam kamar mandi. "Masih ada waktu sekitar 2 jam untuk kita bersiap bukan? Jadi kita isi waktu luang kita dengan beribadah," ucap Aditya yang sudah mulai melepaskan kaos casual yang dipakainya.


Sementara itu, Queen semakin merasa sangat malu saat melihat tubuh sixpack yang sudah bertelanjang dada di hadapannya. Bahkan sebenarnya ia ingin sekali meraba otot-otot yang terlihat seperti roti sobek itu. Namun, karena gengsi, ia mencoba sekuat tenaga untuk menahan diri.


Aditya semakin mendekati sang istri yang semakin merona permukaan kulit wajahnya. Tangannya mulai bergerilya di setiap sudut wajah itu setelah sebelumnya melepaskan hijab yang dipakai sang istri. Tanpa membuang waktu, ia sudah meraup bibir merah merekah yang selalu menjadi candunya dan mulai menyesapnya untuk memuaskan hasratnya.


Sedangkan Queen hanya menikmati setiap perbuatan pria yang sudah semakin liar melepaskan semua penutup tubuhnya dan membuatnya melenguh dan mendesah saat sang suami menyentuh titik-titik sensitifnya.

__ADS_1


TBC ...


__ADS_2