
Akhirnya drama yang terjadi di dapur dimulai. Yaitu, Aditya yang sibuk membuat ayam yang dibalur tepung, sedangkan Queen dari tadi sibuk memeluk erat perutnya dari belakang. Meskipun sebenarnya merasa sangat tidak nyaman karena perbuatan sang istri, tetapi Aditya sama sekali tidak protes atau pun mengeluh karena terganggu.
"Sayang, kamu mau sausnya pedas level berapa?"
Queen yang dari tadi melingkarkan tangannya di perut berotot Aditya dan menyandarkan kepalanya seraya mengendus aroma khas maskulin dari tubuh sang suami, refleks melongok ke arah depan. "Level yang paling pedas saja, My hubbiy. Karena hari ini aku ingin makan yang very spicy."
Aditya hanya mengangguk perlahan dan sama sekali tidak ingin menanggapi jawaban dari sang istri yang kembali memeluknya. Tentu saja karena ia akan tetap kalah saat berdebat dengan Queen karena sudah sangat hafal dengan karakter dan watak sang nona muda tang tidak pernah mau menerima penolakan.
"Kalau sangat pedas, itu level 10 dan pastinya akan membuat istriku sakit perut nanti. Mungkin anakku juga akan ikut kepedasan nanti. Jadi, aku kasih level sedang saja," gumam Aditya.
"Sayang, sebenarnya ini terbalik."
Queen menaikkan kedua alisnya, "Terbalik? Memangnya apanya yang terbalik, My hubbiy?"
"Biasanya istri yang memasak dan suamilah yang memeluk dari belakang untuk mengungkapkan rasa cintanya. Ini malah terbalik, lucu sekali." Aditya berbicara sambil tangannya sudah mengaduk saus buatannya di atas kompor.
Tentu saja Queen hanya terkekeh geli menanggapi rengutan dari suami idaman yang membuatnya merasa menjadi seorang ratu di dalam hidupnya. Karena berada di samping pria tampan yang saat ini tengah dipeluknya, seolah membuat hidupnya yang terasa hambar berubah menjadi manis dan sempurna.
"Oh ... itu, istrimu ini luar biasa karena berbeda dengan kebanyakan wanita, My hubbiy. Jadi, jangan samakan aku dengan mereka. Aku akhirnya menemukan cinta sejati yang membuatku mengerti apa arti cinta itu sebenarnya setelah menikah denganmu."
Aditya mematikan kompor dan juga sudah mengangkat ayam yang sudah matang. Kemudian ia melepaskan tangan yang dari tadi melingkar di perutnya dan berbalik badan untuk membalik keadaan. Sekarang ia sudah berhadapan dengan Queen pada posisi sangat intim, karena tidak ada jarak di antara mereka setelah ia melingkarkan tangannya untuk mengunci posisi sang istri.
"Sekarang seorang nona muda Queen berubah menjadi pujangga cinta rupanya. Memangnya menurut tuan putri, apa arti cinta itu? Coba katakan, suamimu yang tampan ini ingin mendengarnya."
Queen lagi-lagi hanya terkekeh geli dan wajahnya pun kini sudah berubah merona karena diperlakukan sangat romantis oleh pria yang sudah memeluknya cukup erat. Tanpa merasa malu atau pun merasa canggung bersikap romantis di dapur. Karena ada beberapa pelayan yang berlalu lalang di sana dan langsung buru-buru pergi karena tidak ingin mengganggu keromantisan mereka.
"Cinta berasal dari 5 huruf yang sanggup menjungkirbalikkan kehidupan semua orang. Terkadang terasa hambar, manis dan terkadang terasa pahit. Begitu juga dengan yang aku rasakan selama bersamamu, My hubbiy. Awal-awal aku mengenalmu, rasanya sangat hambar."
"Namun, lama-kelamaan semuanya terasa sangat manis melebihi manisnya gula atau madu. Akan tetapi, saat aku hampir kehilanganmu, rasanya terasa sangat pahit. Seperti aku ingin mengakhiri hidupku saat aku merasakan kepahitan karena ulah adikmu yang berengsek itu." Queen yang awalnya tersenyum, berubah murka saat menyebut seseorang yang sangat dibencinya.
__ADS_1
Aditya yang melihat raut wajah penuh amarah itu, refleks langsung mengarahkan bibirnya untuk menyesap bibir sensual yang menurutnya sangat manis itu. Tentu saja dengan niatan ingin meredam emosi yang menyala di hati sang istri.
Queen yang tidak pernah menyangka akan mendapat serangan tiba-tiba dari Aditya, awalnya membulatkan kedua matanya. Namun, lama kelamaan ia mulai menikmati sensasi kenikmatan bibir tebal yang sudah lama menjadi candunya tersebut. Sehingga ia pun mulai membalas ciuman yang awalnya lembut itu berubah menjadi semakin panas dan membuat gairah keduanya bangkit seketika.
Deru napas yang memburu, membuat keduanya melepaskan pagutannya dan sama-sama saling menatap untuk mengungkapkan apa yang sama-sama mereka inginkan.
Queen yang sudah memerah wajahnya, berdehem sejenak untuk menormalkan perasannya dan napasnya yang tersengal. "My hubbiy, aku tidak jadi mengidam ayam saus keju."
Aditya membulatkan matanya, "Apa? Bagaimana nasib ayam yang aku buat ini? Memangnya kamu mau makan apa lagi, Sayang?" ucap Aditya yang seolah lemas seketika mendengar keinginan macam-macam dari sang istri.
"Aku tidak ingin makan ayam buatanmu."
"Astaghfirullah, kalau tidak mau, kenapa tadi menyuruhku?"
"Tadi pengen sekali ayam buatanmu, tetapi sekarang aku pengen makan yang buat ayamnya. Ayo, My hubbiy." Queen sudah menarik pergelangan tangan dari Aditya untuk mengajaknya keluar dari ruangan dapur yang masih berantakan tersebut.
Queen yang sudah melingkarkan tangannya di belakang leher Aditya sama sekali tidak memperdulikan rengutan itu, karena ia sudah mendekat untuk mencium bibir sang suami, seolah tidak membiarkannya berbicara lagi.
Keduanya seolah terlihat seperti pengantin baru yang sedang manis-manisnya merasakan cinta. Sementara itu, ada beberapa pelayan Mansion yang melihat keromantisan dari majikannya yang baru saja masuk ke dalam lift. Tentu saja mereka hanya senyum-senyum saja dan juga langsung traveling otaknya mengarah ke hal-hal yang berbau vulgar.
Sedangkan Aditya yang sudah membalas ciuman dari sang istri, terus berjalan menuju ke arah kamar dan begitu sampai di ruangan pribadi, ia merebahkan sang istri di atas ranjang. Tanpa membuang waktu, keduanya yang sudah sama-sama terbakar gairah, mulai membantu melepaskan pakaian yang dikenakan mereka dengan terburu-buru.
Seolah saat ini sudah merasa tidak sabar untuk segera melakukan ritual rutin mereka sebagai pasangan suami istri. Namun, kegiatan mereka terganggu karena bunyi dering ponsel yang berada di saku celana Aditya.
"Sebentar, Sayang."
"Siapa sih yang mengganggu keromantisan kita," rengut Queen yang sudah menampilkan raut wajah masamnya saat sibuk melepaskan satu persatu kancing kemeja Aditya.
Aditya yang sudah berhasil meraih ponsel miliknya, bisa melihat panggilan dari mertuanya dan menunjukkan pada Queen. "Dari papa, Sayang. Sepertinya ini penting." Menggulir tombol hijau ke atas dan langsung mengucapkan salam.
__ADS_1
"Halo, assalamu'alaikum. Iya, Pa."
"Wa'alaikumsalam. Aditya, sekarang kamu pergi ke perusahaan lama tempat kamu bekerja. Bukankah kamu sudah ada di Mansion?"
"Iya, Pa. Sekarang, Pa?"
"Iya, sekarang. Papa membutuhkan bantuanmu untuk melakukan persentasi, karena sebentar lagi meeting dimulai. Dave sedang cuti, kamu tahu kan? Tidak mungkin kan Papa mengganggu pengantin baru? Jadi, Papa mengganggu pengantin lama. Karena hanya kamu yang Papa percayai setelah Dave."
"Baik, Pa. Aku akan segera ke sana."
"Oke, Papa tunggu. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Aditya mematikan sambungan telepon dan beralih menatap ke arah sang istri yang terlihat seperti sudah keluar tanduk di kepalanya.
"Sayang, mainnya nanti malam saja, ya. Aku harus pergi, kamu tahan sampai aku kembali. Nanti kita main 2 atau 3 ronde sampai kamu puas, oke!"
"Astaga, apa nafsu bisa ditahan, My hubbiy. Aku benar-benar bisa gila karena harus menahan gairah yang sudah sampai di ubun-ubun," kesal Queen dengan wajah masamnya.
"Sabar, Sayang."
"Sabar ... sabar, bikin aku kesel saja. Kenapa harus sekarang sih! Daddy mengganggu saja, padahal aku sudah ngebet banget ini pengen main. Masa harus aku tahan sampai, My hubbiy pulang. Ya ampun," keluh Queen dengan meremas rambutnya yang tergerai di bawah bahu.
Sedangkan Aditya hanya terkekeh geli melihat ekspresi wajah yang sangat lucu dari sang istri sambil bergumam lirih di dalam hati.
"Istriku benar-benar sangat menggemaskan saat sedang bergairah. Seharusnya seorang pria yang tidak bisa menahan hasrat, ini malah kebalikannya."
TBC ...
__ADS_1