Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Kamulah pemiliknya


__ADS_3

Queen mendaratkan tubuhnya di atas kursi besi berwarna hitam yang berada di sudut toko emas langganan keluarganya. Karena sejujurnya dirinya sangat malas sekali untuk membeli cincin kawin yang akan di gunakan untuk pernikahan yang di anggapnya palsu itu.


Malas sekali memilih cincin kawin palsu itu. Jika bukan Daddy yang memaksa, ogah banget aku pergi. Kira-kira My Hot Daddy lagi ngapain ya? Aku sudah lama tidak berkomunikasi dengannya. Dia online nggak ya?


Queen membuka tas selempang miliknya dan mulai meraih ponsel pintar miliknya, tentu saja daftar kontak dengan nama My Hot Daddy yang di carinya. Senyuman mengembang tampak jelas dari wajahnya saat melihat bahwa nomor dari pria yang sangat di cintainya sedang online dan baru di lihat beberapa detik yang lalu.


Aku kirim pesan saja pada My Hot Daddy Azriel, aku sangat merindukannya. Jangan terlihat seperti seorang wanita murahan Queen, kamu harus terlihat lebih elegan dan jual mahal. Apa aku kabari saja tentang pernikahan palsuku? Agar aku bisa mengetahui bagaimana tanggapannya setelah mendengar kabar bahwa aku akan menikah. Kalau My Hot Daddy merasa marah aku mau menikah, berarti dia cemburu padaku. Jika itu benar, maka sudah bisa di pastikan bahwa My Hot Daddy mempunyai perasaan terhadapku. Ya, sepertinya aku harus mencari tahu tentang perasaannya padaku.


Queen mulai mengetik pesan pada pria yang sudah lama di cintainya.


"Apa kabar My Daddy Azriel?"


Setelah menekan tombol send pada pesan singkat yang di kirimkannya, Queen tidak berkedip menatap ke arah ponselnya. Dirinya menunggu sampai pesan yang di kirimnya di baca oleh pria yang berada sangat jauh darinya.


"Kenapa nggak di baca sih! Bukannya lima menit yang lalu baru saja di lihat?"


Setelah bersungut-sungut, Queen menyunggingkan senyumnya saat pesannya sudah di baca dan terlihat tulisan sedang mengetik pada nomor pria yang di cintainya tersebut.


"Akhirnya My Hot Daddy Azriel membaca pesanku."


"Kabar Daddy baik Queen. Bagaimana denganmu? Semua keluarga yang ada di Jakarta baik juga kan?"


"Ya Dad, semua keluarga disini sehat. Syukurlah kalau Daddy pun baik dan sehat. Kapan Daddy main ke Jakarta lagi? Queen sudah kangen Daddy."


"Akhir-akhir ini Daddy sibuk Queen, jadi tidak bisa ke Jakarta dalam waktu dekat. Mungkin Daddy akan ke Jakarta jika kamu menikah. Kapan kamu menikah Queen? Daddy akan sangat bahagia jika bisa melihatmu menikah, bahkan setiap hari Daddy berdoa agar kamu segera mendapatkan jodoh, yakni seorang pria baik yang mencintaimu dengan tulus."

__ADS_1


Membaca pesan balasan dari pria yang paling berarti di hidupnya itu menyuruhnya untuk segera menikah, membuat jantungnya seketika terasa sesak. Perasaan bahagia yang awalnya di rasakannya itu mendadak berubah menjadi sebuah kesedihan yang semakin lama menghancurkan hatinya.


Queen refleks memegangi dadanya, rasa sesak seketika membuatnya seolah kesulitan untuk bernafas. Sekuat tenaga dirinya menahan bulir air mata yang sudah menghiasi bola matanya. Dirinya hanya bisa mengungkapkan kesedihannya di dalam hati.


Kenapa rasanya sesakit ini Tuhan hiks ... hiks ... hiks ... Tega banget Daddy Azriel berbicara seperti itu padaku. Padahal aku berencana untuk membuatnya cemburu dengan mengatakan aku akan menikah, tapi Daddy malah lebih dulu menyuruhku untuk menikah. Daddy benar-benar kejam hiks ... hiks ... hiks ....


Lamunan Queen seketika buyar saat mendengar suara bariton dari pria yang menyuruhnya untuk mencoba cincin kawin yang sudah di pilih oleh pria yang akan menikahinya besok.


"Nona muda Queen, coba kamu pakai cincin ini di jari manismu! Kira-kira pas atau tidak?"


"Nona muda Queen?"


Karena tidak mendapatkan jawaban dari wanita yang masih menundukkan kepalanya untuk menatap ponselnya, akhirnya Aditya menepuk bahu Queen.


"Nona muda Queen?"


"Ada apa sih?! Kamu kenapa selalu saja menggangguku dan tidak membiarkan aku tenang untuk sebentar saja. Kamu selalu saja membuatku naik darah karena emosi, lama-lama aku benar-benar bisa stroke karena darah tinggi."


Aditya yang merasa sangat terkejut begitu melihat wajah cantik Queen yang sudah berubah sembab itu langsung mengeluarkan pertanyaannya tanpa memperdulikan kemarahan dari wanita di depannya.


"Nona muda Queen, kenapa Anda menangis?"


Queen yang baru saja menyadari kebodohannya refleks langsung membersihkan wajahnya dari sisa-sisa air mata.


Dasar bodoh kamu Queen, kenapa kamu sangat ceroboh. Pria miskin ini malah melihat kamu yang menyedihkan. Aaarrh ... rasanya aku ingin melemparkan pria di depanku ini ke Benua Antartika.

__ADS_1


"Siapa yang menangis memangnya? Aku tidak menangis. Karena tadi mataku terkena debu, makanya mataku langsung berair. Jadi jangan berpikir yang macam-macam, karena aku bukanlah seorang wanita yang lemah seperti kebanyakan wanita yang selalu suka menangis."


Aditya yang tidak mempercayai perkataan dari Queen langsung berjalan mendekat untuk menatap netra kecoklatan milik wanita yang sudah bersungut-sungut padanya.


"Debu? Bahkan toko ini sangat bersih Nona, lalu darimana debu itu berasal? Jika mata Nona terkena debu, apa perlu aku meniup matamu yang terkena debu itu?"


"Tidak perlu, karena debunya sudah keluar dari mataku. Terserah kamu mau percaya atau tidak, aku sama sekali tidak pernah perduli. Apa semuanya sudah selesai? Aku ingin segera kembali ke Mansion, sebentar lagi aku harus bekerja."


Queen terlihat bangkit dari kursi dan menatap ke arah cincin yang di pegang oleh Aditya, "Jadi kamu memilih itu?"


Aditya mengikuti arah pandang Queen yang saat ini tengah menatap ke arah cincin yang baru di pilihnya.


"Iya, apa Nona muda menyukainya? Oh ya, coba saja dulu kira-kira ukurannya pas atau tidak di jarimu."


"Aku tidak terlalu menyukai perhiasan, jadi aku anggap pilihanmu itu biasa saja. Karena ini hanyalah sebuah sandiwara, maka aku tidak akan pernah mempermasalahkan pilihanmu."


Queen mengarahkan jarinya kepada pria yang saat ini masih menatapnya, "Nih, pakaikan saja di jariku! Anggap saja sebagai sebuah latihan untuk sandiwara besok!"


Aditya kini mengalihkan pandangannya untuk menatap ke arah jari lentik yang sudah mengarah padanya.


Bagiku pernikahan kita bukanlah sebuah sandiwara Nona muda Queen. Karena saat aku besok mengucapkan Ijab Qabul dan menyematkan cincin kawin di jemarimu ini, aku sudah menjadi suamimu yang sesungguhnya dan selamanya akan menjadi suamimu. Karena aku hanya ingin menikah satu kali seumur hidup. Meskipun kita memang belum saling mencintai, tapi aku yakin Allah akan memberikan jalan untuk pernikahan kita ini menuju rumah tangga yang di rahmati Nya.


Aditya mulai menyematkan cincin yang di pegangnya ke jari manis Queen, senyumnya seketika mengembang saat cincin yang di pilihnya itu sangat pas di jemari wanita yang akan di persuntingnya itu.


"Ternyata Allah telah mengatur semuanya Nona muda Queen, terbukti cincin ini sangat pas sekali di jarimu. Cincin ini telah menemukan tuannya, dan kamulah yang menjadi pemiliknya. Sangat cocok dan cantik."

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2