
Queen tengah duduk di sebelah pria yang terlihat tengah fokus mengemudikan mobil dengan menatap ke depan. Ia dari tadi sibuk melihat postingan Sabrina di akun media sosial. Karena ia kini sudah berteman dengan mantan kekasih dari suaminya setelah kemarin benar-benar telah berdamai. Lagipula ia sekarang sudah sangat mempercayai sosok suami sempurnanya.
Semua foto-foto yang diposting Sabrina, menunjukkan kebahagiaan yang dirasakan. Sehingga ia pun ikut merasa senang saat Dave, pria yang pernah mencintainya itu sudah hidup berbahagia dan akan dikaruniai anak kedua.
"My hubbiy, baru saja aku melihat semua postingan Sabrina. Sepertinya dia benar-benar sudah melupakanmu. Dulu di awal-awal pernikahan, aku masih bisa melihat cinta di matanya saat menatapmu. Bahkan saat ia mengandung anak yang pertama, masih ada cinta di matanya untukmu. Akan tetapi, kemarin, aku melihat cinta itu sudah tidak ada di matanya. Karena itulah, aku sudah tidak merasa khawatir lagi, atau pun mencurigainya."
Aditya melirik sekilas ke arah sang istri yang masih fokus menatap ke arah benda pipih di tangannya. Sebagai seorang pria, ia sebenarnya tahu bahwa apa yang dikatakan oleh sang istri memang benar adanya. Bahwa Sabrina masih belum move on darinya meskipun sudah menikah dengan Dave. Namun, ia berpura-pura tidak tahu karena tidak ingin menambah masalah menjadi semakin rumit.
"Benarkah, Sayang? Teliti sekali, kamu. Padahal aku tidak tahu, karena tidak pernah memperhatikan Sabrina setelah kita menikah. Karena itu termasuk zina mata jika aku melihat wanita lain selain istriku." Aditya masih fokus menatap ke arah depan dan menunggu tanggapan dari sang istri.
Queen yang merasa sangat terharu dengan penjelasan dari sosok pria yang menurutnya paling tampan sedunia, tersenyum simpul dan menatap ke arah Aditya. "My hubbiy so sweet banget. Makanya dulu aku tidak menyukai Sabrina meskipun sudah menikah dengan Dave, karena alasan itu. Akan tetapi, sekarang aku jauh lebih tenang setelah melihatnya kemarin."
"Alhamdulillah kalau begitu." Aditya yang mengemudikan mobil dan sudah sampai di pelataran rumah sakit, berhenti tepat di depan bangunan tinggi menjulang tersebut. "Sudah sampai, Sayang."
Queen menganggukkan kepala dan langsung melepaskan sabuk pengaman. Kemudian menggeser tubuhnya untuk mendekat ke arah Aditya. Tentu saja untuk mencium punggung tangan sang suami dan dibalas dengan sebuah kecupan lembut yang mendarat di keningnya. Sebuah hal kecil yang sudah menjadi rutinitasnya setiap hari, membuat hubungannya dengan sang suami semakin romantis dan lengket.
"Aku turun dulu, My hubbiy. Hati-hati di jalan." Masih menunggu jawaban dari pria yang terlihat sangat berwibawa tersebut.
"Iya, selamat bekerja, Sayang," ucap Aditya yang menyunggingkan senyumnya saat Queen keluar dari mobil dan menutup pintunya. Kemudian ia langsung melajukan mobilnya meninggalkan kawasan rumah sakit setelah sang istri melambaikan tangan.
Namun, baru beberapa menit berlalu, suara dering ponsel miliknya, berbunyi. Aditya langsung memasang earphone di telinganya untuk menjawab panggilan.
"Halo, assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam, Tuan muda. Ada kabar penting yang harus Anda ketahui mengenai Dewi."
"Katakan saja."
"Ternyata Dewi sudah dipecat dari pekerjaannya dan sekarang sedang sibuk mencari pekerjaan. Akan tetapi, adik tiri Anda selalu mengikutinya dan mengacaukan semuanya. Saat Dewi diterima bekerja sebagai cleaning service di restoran, tuan Reynaldi selalu mengungkapkan pada semua orang bahwa Dewi adalah wanita murahan dan akhirnya dia tidak jadi diterima."
__ADS_1
Aditya geleng-geleng kepala begitu mendengar perkataan dari Leo. Ia pun berpikir sejenak untuk mencari sebuah ide.
"Kamu ikuti terus Dewi. Jangan biarkan Reynaldi berbuat jahat padanya. Untuk masalah Reynaldi, biar aku yang urus. Kamu fokus saja pada wanita itu."
"Baik, Tuan muda."
"Baiklah, aku tutup telfonnya. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Aditya terlihat tengah berpikir keras untuk menyelesaikan masalah yang dibuat oleh Reynaldi. Namun, ia merasa sangat pusing karena tidak menemukan ide untuk membuat adik tirinya tersebut menghentikan kegilaannya.
"Rey ... Rey. Kamu memang sudah tidak lagi mengganggu ketentraman keluarga kami, tetapi kamu malah melampiaskan semuanya pada wanita yang tidak bersalah karena menyelamatkanku dengan darahnya. Aku harus bertanggungjawab pada Dewi. Jangan sampai Rey berbuat macam-macam padanya."
Beberapa menit kemudian, mobil mewah berwarna silver itu sudah tiba di area perusahaan Raharja. Aditya yang sudah memarkirkan mobil di tempat khusus, mematikan mesin mobil dan mulai turun dari sana. Hingga saat ia hendak berjalan, netra pekatnya menatap ke arah pria yang barunsaja keluar dari mobil Range Rover berwarna hitan yang baru saja datang dan parkir di sebelahnya.
Arthur keluar dari mobilnya dan tersenyum pada adik iparnya. "Ternyata aku tiba tak lama setelah kamu sampai, adik ipar."
Arthur menaikkan kedua alisnya, "Tanya tentang apa? Apa itu penting? Kita bicara sambil berjalan saja, karena jam kerja sebentar lagi dimulai." Merangkul pundak Aditya dan mengajaknya untuk berjalan masuk ke perusahaan.
Aditya mengikuti langkah panjang Arthur dan mulai menceritakan tentang hal yang dari tadi dipikirkannya. Mengenai Rey yang selalu mengganggu Dewi.
"Jadi, seperti itu, Bang. Menurut abang Arthur bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?"
Arthur melangkahkan kaki panjangnya untuk masuk ke dalam lift dan pintu kotak besi tersebut pun sudah tertutup. Hanya ada dirinya dan Aditya yang masih menunggu jawaban darinya.
"Kembalikan saja Dewi ke Bali. Bukankah urusan adikku dengan wanita itu sudah selesai? Jadi, kirim saja dia ke tempat asalnya. Lagipula, tidak mungkin Rey akan membuntutinya sampai ke Bali. Bukankah ideku adalah yang terbaik?"
Aditya awalnya mengiyakan perkataan dari saudara laki-laki istrinya. Namun, saat ia mengingat bahwa Dewi adalah seorang gadis yatim piatu dan sudah tidak mempunyai tempat tujuan di Bali setelah bosnya tertangkap, membuat ia menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Sepertinya itu bukanlah ide yang baik. Karena dia tidak mempunyai tempat tujuan di Bali. Kenapa dia tidak kembali ke sana karena sepertinya Dewi lebih merasa nyaman tinggal di Jakarta karena sudah terbiasa di sini."
Bunyi denting lift terdengar tepat saat Arthur menepuk jidatnya begitu mendengar perkataan dari Aditya. "Astaga, kenapa kamu malah repot-repot untuk memikirkan Dewi tidak nyaman tinggal di tempat asalnya sendiri? Aneh sekali. Bukankah yang terpenting di sini adalah dia terbebas dari incaran psyco seperti Rey?" Berjalan keluar dari lift sambil meninju ringan lengan Aditya. "Pikirkan saja tentang hal itu, tidak perlu repot-repot memikirkan yang lain.
Aditya hanya terdiam dan membenarkan semua perkataan dari sang kakak ipar yang sudah berjalan meninggalkannya dan menghilang di balik pintu ruangan kerjanya.
"Benar juga, Dewi akan lebih aman jika berada di kota asalnya sendiri. Rey pun tidak bisa berbuat macam-macam lagi karena tidak mungkin dia akan pergi ke Bali. Sekarang keuangan orang tuanya benar-benar sangat memprihatikan. Jadi, dia tidak bisa berbuat sesukanya."
Merasa itu adalah sebuah jalan keluar terbaik, Aditya meraih ponsel yang berada di saku jasnya dan mencari kontak Leo dan menekan tombol panggil. Hingga suara dari pengawalnya tersebut terdengar.
"Halo, Leo. Temui Dewi dan bilang padanya untuk segera membereskan barang-barangnya. Malam ini, aku akan mengirimnya ke Bali."
"Baik, Tuan muda. Saya benar-benar merasa sangat kasihan. Wanita itu saat ini tengah menangis tersedu-sedu di taman. Saya masih mengikutinya dari tadi."
"Benarkah? Kalau begitu hibur saja dia, jangan hanya diam saja. Belikan sesuatu untuknya, agar ia melupakan kesedihannya."
"Membelikan apa, Tuan muda? Saya tidak tahu."
"Apa saja yang disukai wanita. Coklat atau es krim contohnya."
"Baik, Tuan muda. Kalau begitu saya belikan dia 2 makanan itu."
"Baiklah."
Aditya menutup panggilan telepon setelah sebelumnya mengucapkan salam seperti biasanya. Hingga ia yang saat ini sudah berada di ruang kerjanya, mendaratkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Untuk beberapa saat ia terdiam.
"Coklat. Kenapa aku tidak pernah berpikir untuk membelikan coklat untuk istriku? Malah sekarang memberikan ide pada orang lain untuk membelikan coklat. Mendadak aku ingin membelikan istriku coklat. Nanti aku belikan saja saat pulang dari kantor. Sepertinya ide untuk membuat buket coklat akan terlihat sangat romantis."
Aditya menyunggingkan senyumnya saat membayangkan wajah bahagia sang istri setelah menerima hadiah spesial pemberiannya.
__ADS_1
TBC ...