
Aditya yang sudah membaca isi dari surat pengalihan aset perusahaan Raharja atas namanya itu seketika langsung menggelengkan kepalanya dan kembali menyerahkan kertas putih bermaterai itu ke tangan mertuanya.
"Astaghfirullah Pa, aku tidak bisa menandatangani surat perjanjian ini. Karena itu bukanlah hakku dan bukanlah hal sepele Pa, ini adalah sebuah hal yang sangat besar. Jadi, lebih baik Papa membatalkan rencana ini! Karena aku benar-benar tidak bisa menuruti perintah Papa, maafkan aku Pa!"
Abymana langsung mengarahkan tangannya untuk menepuk bahu kokoh pria yang sangat disukainya tersebut. "Aku tahu kalau kamu tidak akan mau menandatangani surat perjanjian ini. Karena itulah aku membuat surat perjanjian palsu, bahkan ini materainya pun palsu."
"Ini hanyalah sebuah gertakan untuk Queen, karena dia sangat nakal, maka aku yang akan menghukumnya nanti! Jadi cepat tanda tangani surat perjanjian palsu ini Aditya!"
"Benarkah ini surat perjanjian palsu Pa?" tanya Aditya dengan tatapan mata yang penuh dengan sorot keraguan.
Abymana menganggukkan kepalanya. "Iya, kamu harus ikut andil dalam rencanaku ini Aditya! Semua ini adalah cara untuk menyadarkan putriku yang sangat arogan. Bahkan aku sangat heran dengan sifat putriku yang sangat keterlaluan pada pria sebaik dirimu."
"Jadi kita harus bekerja sama untuk menyadarkan istrimu yang sedang tersesat. Apa kamu mengerti?"
Aditya refleks langsung menganggukkan kepalanya. "Mengerti Pa, jika memang ini benar surat perjanjian palsu, aku tidak keberatan untuk tanda tangan." Setelah memeriksa dan memastikan bahwa apa yang dikatakan oleh mertuanya benar, Aditya langsung membubuhkan tanda tangannya di sana dan memberikannya kembali pada mertuanya.
Abymana menerima kertas putih itu dan mengungkapkan apa yang dirasakannya. "Terima kasih Aditya, karena mau berusaha untuk membawa putriku ke jalan kebaikan. Sekarang ikut denganku! Aku akan mengantarmu kembali ke hotel!"
Aditya refleks langsung menggelengkan kepalanya. Maaf Pa, aku tidak bisa ikut Papa, karena aku ingin memberikan Queen waktu untuk menenangkan diri. Jika dia melihatku, sudah bisa dipastikan bahwa Queen akan semakin emosi."
"Justru karena itulah aku ingin kamu bicarakan hal ini pada Queen, bilang padanya bahwa kamu baru saja menandatangani surat perjanjian ini karena aku memaksamu tadi sebelum acara akad nikah. Bilang saja begitu pada putriku. Putriku akan membatalkan gugatan cerainya begitu mendengar hal ini. Ayo, sebaiknya kita pergi!
"Tapi, Pa ...."
Abymana langsung memotong pembicaraan dari Aditya. "Sudah, turuti saja perintah Papa! Queen tidak akan bisa berkutik saat kamu menunjukkan bukti surat perjanjian ini. Aku akan mengirimkan fotonya nanti padamu."
Akhirnya tanpa bisa menolak perintah dari mertuanya yang menurutnya sangat baik itu, membuat Aditya kini tidak bisa menolak. "Baiklah Pa, aku akan kembali ke hotel."
__ADS_1
Abymana menyunggingkan senyumannya dan mulai merangkul pundak menantunya untuk mengajaknya keluar dari rumah menuju ke mobilnya yang sudah terparkir rapi di depan rumah sederhana itu.
Sedangkan sang supir langsung membukakan pintu untuk sang majikan, tak lupa ia membungkukkan badannya. "Silahkan Tuan besar dan Tuan Aditya."
Abymana dan Aditya sama-sama menganggukkan kepalanya seraya tersenyum pada pria paruh baya tersebut, lalu mereka masuk ke dalam mobil dan duduk bersebelahan.
Sang supir yang sudah masuk dan duduk di balik kemudi pun mulai mengemudikan mobil meninggalkan rumah minimalis dengan cat berwarna abu-abu yang sudah mulai usang warnanya itu.
Hening untuk beberapa saat, seolah keduanya sama-sama tengah memikirkan sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Hingga suara dari Abymana memecahkan keheningan di dalam mobil.
"Arthur sudah menceritakan semuanya padaku, jadi kamu tidak perlu menutupi sikap buruk putriku padamu. Aku tahu pasti putriku murka padamu dan menuduhmu, bukan?"
Aditya yang merasa sangat terkejut mendengar perkataan dari mertuanya itu mengenai hal yang coba ia tutupi. Kini ia merasa sangat kebingungan saat menjawab pertanyaan dari pria yang sudah dianggapnya seperti ayah kandungnya sendiri.
"Kalau begitu aku tidak perlu menjelaskannya pada Papa. Jadi, lebih baik Papa tidak membahas hal ini. Aku hanya tidak ingin mengumbar keburukan orang lain, apalagi ini menyangkut istriku sendiri," jawab Aditya.
"Aku sangat mengagumimu Aditya, karena kamu adalah tipe laki-laki yang sangat sempurna. Queen sangat beruntung bisa memiki suami Sholeh sepertimu," ucap Abymana dengan tidak berhenti menepuk bahu kokoh menantunya.
"Aamiin ya rabbal alamin," jawab Abymana yang mengaminkan perkataan dari menantu idealnya.
Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, akhirnya mobil mewah berwarna hitam yang membawa orang penting dari Raharja Group itu sudah memasuki area hotel Raharja.
Abymana menatap ke arah menantunya dan mengungkapkan pertanyaannya. "Apa aku perlu mengantarkanmu menemui putriku?"
Aditya refleks menggelengkan kepalanya dan mulai menjawab pertanyaan dari mertuanya. "Tidak perlu Pa, aku akan pergi sendiri untuk menemui Queen. Aku akan menjelaskan semua kesalahpahaman ini. Karena Papa sudah tahu semuanya, jadi aku tidak perlu menutupinya."
"Bagus, jelaskan saja pada putriku kenyataan yang sebenarnya. Aku yakin dia akan malu sendiri dan merasa tidak mempunyai muka saat melihatmu. Pergilah, temui putriku yang sangat arogan itu. Buat dia malu!" ucap Abymana dengan tatapan yang berapi-api.
__ADS_1
"Aku hanya akan meluruskan kesalahpahaman yang terjadi diantara kami Pa, sama sekali tidak ada niat untuk mempermalukan Queen," jawab Aditya dengan penuh keyakinan.
"Papa tahu, karena itulah Papa sangat mempercayaimu melebihi apapun. Aku akan selalu merestuimu Aditya, karena kamu sangat tulus pada putriku. Semoga Queen bisa melihat dan menyadari ketulusanmu itu," puji Abymana pada menantunya.
Kini giliran Aditya yang mengaminkan perkataan dari mertuanya. "Aamiin, kalau begitu aku masuk dulu Pa. Assalamualaikum," ucap Aditya setelah mencium punggung tangan pria yang sangat dihormatinya tersebut.
"Wa'alaikumsalam," jawab Abymana yang sudah melihat menantunya itu keluar dari mobil.
Sementara itu Aditya tengah berjalan memasuki lobby hotel menuju lift khusus yang akan membawanya ke lantai atas dimana Presidential Suite' room berada. Ia langsung masuk ke dalam lift begitu pintu kotak besi tersebut terbuka.
"Bismillahirrahmanirrahim ... semoga Queen sudah agak mendingan marahnya. Agar aku bisa mengatakan kenyataan yang sebenarnya padanya, bahwa Arthur yang memberikannya obat perangsang."
Bunyi denting lift menandakan pintu akan terbuka, dan begitu pintu kotak itu terbuka, Aditya langsung berjalan menuju ke ruangan kamar terbaik tempatnya menghabiskan waktu setelah menikah. Begitu dirinya berada di depan pintu ruangan terbaik itu, Aditya langsung mengetuk pintu.
Untuk beberapa saat dirinya menunggu, beberapa saat kemudian pintu di depannya terbuka. Dan bisa dilihatnya sosok wanita cantik yang tak lain adalah istrinya tengah menatapnya dengan tatapan tajam.
Queen yang merasa sangat terkejut dengan kedatangan dari Aditya, tentu saja langsung membuatnya mengumpat pria di depannya.
"Pria sialan, untuk apa kau datang kemari lagi haaaah ...!"
"Queen, papamu mengantarkan aku untuk datang ke sini!"
"Apa kamu bilang? Jadi kamu sudah melapor pada daddy? Dasar laki-laki tukang ngadu. Kamu sudah memperkosaku dan sekarang kamu mengadu pada daddy untuk bersembunyi di belakang orang tuaku yang membelamu," ucap Queen dengan bersungut-sungut.
"Bukan seperti itu Queen, tapi *da*ddy tadi datang ke rumah saat aku sedang menenangkan diri di sana. Tanpa aku beritahu, daddy sudah mengetahui apa yang terjadi pada kita. Termasuk kamu yang menghubungi pengacara tadi. Karena itulah daddy tadi datang untuk membahas tentang pengalihan nama pemilik atas perusahaan Raharja."
Queen langsung membulatkan kedua matanya begitu mendengar perkataan dari Aditya yang menyebut pengalihan aset perusahaan Raharja.
__ADS_1
"Aditya, sekarang aku benar-benar ingin membunuhmu."
TBC ...