
Dave menarik pergelangan tangan Sabrina yang hanya diam saja dengan perbuatannya. Tentu saja ia sangat mengerti dengan perasaan dari wanita yang diketahuinya adalah mantan dari tuan mudanya. Netra pekatnya masih mengamati Sabrina yang terlihat berkaca-kaca bola matanya.
Hingga saat sampai di depan rumah, ia mulai mengarahkan tangannya untuk meraih sapu tangan yang ada di saku kemejanya dan menyerahkannya pada wanita yang mulai terdengar terisak.
"Nah ... ambil ini! Lebih baik kamu hapus air matamu sebelum pergi dari sini, karena aku tidak ingin sampai terjadi kesalahpahaman dari orang-orang yang mungkin akan berpikiran buruk pada keluarga Tuan muda dan terutama keluarga Raharja."
Sabrina tersadar dari lamunannya yang dari tadi merasa sangat hancur begitu mengetahui kenyataan sesungguhnya tentang kehamilan dari wanita yang telah merebut pria yang sangat dicintainya. Ia menatap ke arah sapu tangan di tangan pria yang berada di depannya. Karena merasa dirinya sudah dikuasai oleh rasa sakit yang amat dalam, membuatnya ingin mencari sebuah pelampiasan untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya saat ini.
Dan begitu mendengar perkataan bernada sinis yang memojokkannya, membuatnya langsung mengeluarkan amarahnya pada pria yang tidak dikenalnya itu. Ia meraih sapu tangan itu dan langsung melemparkannya ke wajah pria dengan tubuh sixpack, serta wajah tampan yang terlihat menatapnya dengan sinis.
"Aku tidak butuh sapu tanganmu. Kalian hanya bisa menginjak-injak harga diri orang miskin seperti kami, menggunakan kekuasaan yang kalian miliki. Dan kau hanyalah anjing setia yang akan menjual harga dirinya hanya demi uang. Menjauhlah dariku, aku sangat muak melihatmu!"
Dave yang merasa sangat terhina dengan kalimat bernada kasar dari wanita di depannya itu, membuatnya mengepalkan kedua tangannya karena di injak-injak harga dirinya. Dengan wajah datarnya ia meraih sapu tangan tidak berdosa yang menjadi pelampiasan dari wanita yang terlihat sangat mengenaskan itu.
Refleks ia langsung berjalan mendekati Sabrina dan mengarahkan tangan kirinya untuk menahan kepala belakang wanita yang mengenaskan itu, sedangkan tangan kanannya menahan tengkuknya. Tanpa membuang waktu, ia langsung mencium bibir merah merekah yang hanya berjarak beberapa centi darinya dan mulai menggigit bibir bagian bawahnya agar mau terbuka.
Dan seperti yang diharapkannya, wanita yang dikuasainya itu membuka mulutnya. Kemudian ia mulai mengabsen setiap sudut bagian dalam rongga mulut wanita yang berusaha memberontak karena memukul dadanya. Tidak berhenti sampai di situ, ia menyesap habis bibir itu.
__ADS_1
Sabrina yang tadinya dikuasai oleh amarah dan mengumpat habis-habisan pria didepannya, sama sekali tidak menyangka akan mengalami kejadian pelecehan karena orang kepercayaan dari wanita yang sangat dibencinya mencuri ciuman pertamanya yang selalu ia impikan Aditya yang melakukannya saat malam pertama. Namun, hari ini impiannya hancur saat mendengar bahwa pria yang sangat dicintainya sudah membuat istrinya hamil.
Bahkan di saat hatinya hancur, ia harus mendapatkan sebuah pelecehan dari pria yang baru pertama kali dijumpai. Sabrina merasa sangat kesakitan saat pria yang diketahuinya bernama Dave itu menggigit bibirnya dan membuatnya terpaksa membuka mulutnya. Ia mencoba sekuat tenaga untuk memberontak dari ciuman pria itu. Namun, usahanya sia-sia karena tenaganya tidak sebanding dengan kekuatan dari pria dengan tubuh tinggi tegap dengan wajah sangar yang selalu terlihat sinis itu.
"Berengsek, mimpi apa aku semalam hingga sampai berakhir sangat menyedihkan begini. Sudah jatuh tertimpa tangga pula," gumam Sabrina dengan putus asa.
Merasa puas memberikan sebuah pelajaran pada wanita yang menyebutnya anjing peliharaan, Dave melepaskan pagutannya dan tersenyum menyeringai ke arah wanita yang sudah terlihat sangat pucat itu.
"Kau baru saja menikmati ciuman dari anjing peliharaan ini, Nona Sabrina. Semoga harimu indah, sekarang pergilah dari sini! Aku pun sudah muak melihat wajahmu yang menyebalkan itu. Bahkan Nona muda kami jauh lebih baik darimu, Nona Sabrina."
Sabrina yang merasa sangat terhina dan juga terluka, tidak bisa menahan diri lagi. Akhirnya ia langsung mengarahkan tangannya untuk menampar wajah pria yang sudah sangat kasar menciumnya. "Dasar laki-laki berengsek!"
Dave langsung menahan tangan yang melayang di udara itu dan menatap tajam wajah Sabrina. "Jika kau sekali lagi berani menyentuhku walau seujung kuku pun, aku akan membuatmu benar-benar berakhir di jalanan hanya dengan sekali telefon. Bahkan Nona muda sudah mengeluarkan titahnya untuk membuat keluargamu hancur, tapi kau masih bisa berlagak di depanku."
Kalimat menohok bernada ancaman dari pria yang masih menahan tangannya itu, membuat Sabrina menelan salivanya dan semakin pucat wajahnya. "Kau benar-benar pria berengsek yang tidak punya hati. Semoga hidupmu berakhir di neraka!" teriak Sabrina dengan sangat kesal dan marah.
"Lepaskan tanganku! Aku ingin pergi dari neraka jahanam ini," sarkas Sabrina yang masih menatap tajam ke arah pria yang masih menahan tangannya.
__ADS_1
Kemudian Dave langsung menghempaskan kasar tangan wanita yang telah menghinanya habis-habisan. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia berlalu pergi meninggalkan Sabrina dengan wajah datarnya.
Sabrina agak meringis kesakitan saat tangannya dihempaskan oleh pria yang sudah mencuri ciuman pertamanya dengan brutal. Bahkan tubuhnya agak sedikit terhuyung ke belakang akibat guncangan yang terlalu kuat saat dihempaskan.
Tidak berhenti ia menghentakkan kakinya karena merasa sangat marah, kesal, hancur dan sangat terluka pada hari itu.
"Ya Allah, kenapa ini harus terjadi padaku? Kenapa Engkau memberikan sebuah cobaan seberat ini, rasanya aku tidak kuat melihat Mas Aditya hidup berbahagia bersama dengan wanita arogan itu. Karena dia terlalu baik dan sempurna, kenapa ia bisa menghamili nona muda arogan itu? Bahkan tatapan penuh cinta ia tunjukkan saat menatap wajah nona muda Queen."
Sabrina mengusap air matanya yang sudah menganak sungai di wajahnya. Dengan langkah kaki gontai, ia berjalan meninggalkan rumah mantan kekasihnya dengan perasaan yang sangat hancur.
Bahkan beberapa orang melihatnya dengan tatapan iba karena melihatnya berjalan sambil menangis. Sabrina sama sekali tidak memperdulikan tatapan para tetangga yang menatapnya, karena ia hanya fokus pada perasaannya yang sangat terluka.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Apakah Mas Aditya memang bukanlah jodohku? Aku sangat mencintainya ya Allah. Apakah aku bisa melupakan pria se-sempurna dirinya. Rasanya di dunia tidak ada pria Sholeh seperti Mas Aditya, karena di dunia ini hanya di penuhi oleh pria berengsek seperti Dave yang kurang ajar itu. Aku doakan hidupnya menderita karena sudah melecehkan aku."
"Jika memang Mas Aditya bukan jodohku, berikanlah hamba jodoh pria Sholeh sepertinya Ya Allah. Aku akan ikhlas melepaskan Mas Aditya jika benar ia sudah bahagia dengan nona muda arogan itu."
TBC ...
__ADS_1