Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Bersimbah darah


__ADS_3

Queen yang terlihat tengah bergelayut manja pada lengan kekar sang suami hanya terkekeh menanggapi perkataan dari pria yang terlihat kesal padanya. Tanpa memperdulikan kekesalan dari sang suami, ia malah sibuk memanjakan netra penglihatannya saat melihat sunset begitu keluar dari area hotel.


"Wow ... amazing sunset. Pemandangan laut terlihat semakin cantik setelah matahari mulai terbenam, My hubbiy. Lihatlah!"


Aditya mengikuti jari telunjuk sang istri yang terlihat sangat berbinar saat melihat keindahan alam yang merupakan sebuah kuasa dari sang pencipta. Akan tetapi baginya, apa yang saat ini tengah dilihatnya sama sekali tidak lebih indah dari pesona wanita yang telah dinikahinya. Lalu, ia mulai mengungkapkan apa yang ada di hatinya.


"Sayang, pemandangan sunset itu sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kecantikanmu."


Sontak saja Queen yang dari tadi fokus memandang ke arah pemandangan, refleks menatap wajah tampan pria yang baru saja memujinya. "Sepertinya My hubbiy sudah terkena virus cinta. Sehingga setiap kalimat yang keluar dari mulutmu berbau rayuan maut yang membuat istrimu sukses meleleh.


"Mungkin seperti ini akan membuatmu semakin meleleh," ucap Aditya yang sedikit membungkukkan badannya untuk meraup tubuh seksi Queen ke atas lengan kokohnya dan menggendongnya ala bridal style. Kemudian berjalan ke arah bibir pantai untuk memuaskan hasrat mata sang istri yang ingin melihat sunset.


Queen yang berjenggit kaget saat Aditya menggendongnya, membuatnya refleks mencubit lengan kekar pria yang sudah tersenyum ke arahnya.


"Apa-apaan sih My hubbiy, aku malu dilihatin banyak orang. Turunkan aku!"


Aditya menggelengkan kepalanya, seolah ingin menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak mau untuk menuruti perintah dari sang istri yang sudah membenamkan wajahnya di dadanya karena merasa malu dilihat oleh para wisatawan.


"Nanti saja saat aku sudah merasa capek menggendongmu, baru aku akan menurunkanmu Sayang. Bagaimana, apa perbuatanku padamu sekarang kembali membuatmu meleleh?"


"Bukan meleleh lagi, tapi lebih ke arah bucin. Sepertinya lama-kelamaan aku akan benar-benar bucin padamu My hubbiy. Kamu harus bertanggung jawab padaku jika aku nanti terkena syndrom over bucin." Queen melingkarkan tangannya pada bagian belakang leher pria yang saat ini tengah tersenyum manis kepadanya.


"Insya Allah suamimu sangat siap untuk bertanggungjawab padamu Sayang." Mengarahkan bibirnya untuk mencium kening sang istri yang terlihat berbinar.


"Nah kan, mulai lagi bikin aku makin cinta sama My hubbiy." Queen mengarahkan tangannya untuk mencubit gemas dua sisi pipi putih pria yang sangat dicintainya itu. "My hubbiy, I love you."


"Aku tidak pandai berbahasa asing sepertimu Sayang, tapi aku pun juga mencintaimu karena Allah. Mencintaimu setelah aku mengucapkan kalimat suci nan sakral saat Ijab Qabul. Kamu adalah satu-satunya wanita yang membuatku mempertaruhkan hidupku demi masa depan berharga."

__ADS_1


"Karena bersamamu menjalani bahtera rumah tangga adalah masa depan berharga yang akan membuat hati kita semakin menyatu. Apalagi saat nanti ada anak-anak yang akan melengkapi kebahagiaan kita."


Queen yang dari tadi menatap wajah tampan suaminya, sontak merona permukaan kulit wajahnya. "Aku jadi ingat perbuatan konyolku yang memintamu untuk menghamiliku saat aku kesal dengan Daddy Azriel. Pada malam itu, apa yang ada di pikiranmu My hubbiy?"


"Turunkan aku, tanganmu pasti pegal. Ayo kita duduk di sana!" Queen menunjuk ke arah tempat duduk yang berada di area sekitar pantai dengan payung berwarna-warni di atasnya.


Karena memang merasakan pegal pada lengannya, akhirnya dirinya mulai menurunkan tubuh sang istri ke pasir putih itu. Kemudian dirinya menyatukan jemari tangannya dengan jemari lentik wanita yang tak berhenti tersenyum ke arahnya. Lalu, keduanya mulai duduk di tempat yang kosong.


Aditya sama sekali tidak tertarik dengan pemandangan indah di sekitarnya, karena dirinya dari tadi asyik menatap wajah cantik wanita yang duduk di sampingnya.


"Jujur malam itu merupakan malam paling mendebarkan sepanjang sejarah hidupku, Sayang. Karena di satu sisi aku takut dan di sisi lain aku senang. Hal itu membuatku bingung."


Mendengar kepolosan penuh dengan kejujuran dari sang suami, tentu saja membuat Queen lagi-lagi merasa sangat bahagia. Tanpa membuang waktu lama, ia mulai mendaratkan kepalanya di dada bidang Aditya.


"Lagi, aku ingin kamu menceritakan lebih detail tentang rasa takut dan senang yang kamu rasakan saat aku memintamu untuk melakukan ritual suami istri. Kalau dipikir-pikir, aku memang sangat gila kan? Mungkin di dunia ini hanya aku lah satu-satunya wanita yang meminta malam pertama pada suaminya," sahut Queen dengan terkekeh.


"Sepertinya begitu, karena kamu bukanlah wanita sembarangan. Malam itu, aku sangat bersyukur bisa memberikan nafkah batin untukmu sekaligus membuatku merasakan surga dunia pertama kali bersama wanita yang sudah sah menjadi istriku."


Aditya mulai melanjutkan ceritanya. "Aku takut kamu akan membenciku saat sudah sadar. Bukankah kamu saat itu sedang dikuasai oleh amarah? Sejujurnya aku ingin kita memulai malam pertama atas dasar sama-sama ikhlas dan siap. Bukan atas dasar emosi seperti yang kamu rasakan waktu itu."


"Dan ternyata ending-nya aku malah ketagihan," sahut Queen dengan malu-malu. "Kamu terlalu banyak berpikir dan terlalu khawatir berlebihan My hubbiy, karena kamu terlalu lugu. Aku masih tidak percaya kalau aku akan berjodoh dengan seorang pria sepertimu." Queen menoleh sebentar pada pria yang menjadi tempat sandarannya sambil tersenyum malu-malu.


"Jodoh adalah rahasia Ilahi Sayang, kita tidak pernah tahu siapa jodoh kita. Oh ya Sayang, aku tadi melihat ada anak kecil jualan berbagai macam souvenir Bali. Aku ingin membelinya untuk saudara-saudara di Jakarta. Kamu tunggu di sini sebentar ya?"


"Aku ikut, malas sekali aku duduk di sini sendirian seperti orang hilang," jawab Queen dan bangkit berdiri dari tubuh sixpack Aditya.


"Baiklah, kita beli cinderamata dulu, lalu kita ke gerai ponsel. Kamu sudah puas bersenang-senang di sini kan?" Aditya bangkit berdiri dari tempatnya dan kembali menyatukan tangannya pada jemari lentik wanita yang berada di sebelahnya.

__ADS_1


"Sangat puas My hubbiy, aku pun sudah sangat capek dan ingin cepat beristirahat."


"Beneran bisa tidur kalau sudah sampai hotel?"


"Maksudnya?"


"Nggak minta lagi?"


"Astaga, kamu pikir aku wanita yang haus bercinta apa," rengut Queen.


"Maaf ... maaf Sayang!"


"Dasar nakal, nanti aku cubit lagi kamu!"


"Silahkan, aku rela dicubit istri sendiri. Nah, itu anak kecil yang aku bilang tadi." Aditya menunjuk ke arah anak perempuan yang duduk di salah satu stand yang menjual aneka souvenir. Kemudian dirinya mendekat ke arah stand dan sibuk melihat-lihat cinderamata yang akan dibelinya.


Sedangkan Queen pun mulai sibuk memuaskan indera penglihatannya untuk menatap satu persatu aneka suvenir yang mewakili keindahan Bali.


Saat Aditya fokus melihat-lihat, tanpa disadarinya ada seorang pria yang berada di depannya dan langsung mengarahkan sebilah pisau ke perutnya. Sontak saja matanya membulat sempurna begitu merasakan rasa sakit yang teramat dalam di perutnya yang sudah banyak mengeluarkan darah.


"Allahu Akbar," pekik Aditya dan mulai jatuh terhuyung.


Mendengar suara bariton dari sang suami, refleks membuat Queen langsung menoleh ke arah sumber suara. Refleks ia langsung berteriak saat melihat pria yang dicintainya sudah jatuh pingsan.


"My hubbiy, tidaaaaaaakk," teriak Queen dengan histeris. Tangisnya seketika pecah dan menghambur memeluk tubuh suaminya yang sudah bersimbah darah.


Begitu juga dengan para pengawal yang tadinya sibuk mengamati para bule seksi, langsung menoleh ke arah nona mudanya yang sudah histeris.

__ADS_1


"Tuan muda ...."


TBC ...


__ADS_2