Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Hanya omong kosong belaka


__ADS_3

Sabrina masih terus berusaha untuk menghentikan kegilaan dari pria yang sudah sibuk dengan kegiatannya. Meskipun ia sadar bahwa sebenarnya, respon tubuhnya sangat mendamba setiap sentuhan dari Dave. Tubuhnya meremang dan respon otaknya tidak bersinergi, seolah bertarung untuk melawan respon tubuhnya yang sangat menikmati sensasi kenikmatan luar biasa dari perbuatan pria yang masih menguasainya.


"Dave ... hentikan!" teriak Sabrina yang masih tidak menyerah dan berusaha tidak membiarkan suara lenguhan lolos dari bibirnya.


Namun, Dave yang sudah terbakar emosi dan gairah yang bercampur menjadi satu, sama sekali tidak memperdulikan apapun lagi. Yang ada di pikirannya saat ini adalah ingin menaklukkan singa betina yang merupakan sebuah panggilan dari nona mudanya pada sang istri.


"Kamu memang benar-benar singa betina, Sabrina. Akan aku buktikan padamu, bahwa kamu pun sangat menikmati perbuatanku saat sadar dan tidak dalam pengaruh obat perangsang. Saat ini kamu sudah sadar dan aku ingin menghancurkan sikap munafikmu itu," gumam Dave yang masih tidak berhenti untuk membuat Sabrina melenguh panjang saat mencapai klimaks dengan perbuatannya.


Tentu saja ia sangat tahu apa kelemahan dari sang istri setelah malam pertama semalam.


Sementara itu, Sabrina yang awalnya berusaha menolak, lama-kelamaan tenaganya pun habis karena tidak sebanding dengan tenaga kuat dari Dave. Sehingga ia pun memilih pasrah dan menyerah. Bahkan saat ia merasa tidak mempunyai tenaga lagi. Tubuhnya yang lemas, gemetar hebat, kaki dan tangannya seperti meleleh saat merasakan kenikmatan murni yang seolah bisa membuat denyut jantungnya berhenti saat itu juga.


Rasanya seolah setiap syaraf yang ia miliki terfokus pada satu titik, hingga ia merasa ragu bisa menahan penyiksaan manis yang membuatnya merasakan sensasi kenikmatan yang amat luar biasa dan membawanya ke langit ke tujuh.


Akhirnya ia sudah tidak mampu lagi menahan lenguhannya ketika mencapai klimaks. Yakni, akhir dari puncak kegiatan panas itu.


"Dave ...."


Dave tersenyum menyeringai dan langsung bangkit dari posisinya. Tentu saja ia ingin melihat ekspresi dari wajah Sabrina yang sudah berubah merah setelah mencapai klimaks pertama kali dengan menyebut namanya.


"Nikmat, Sayang? Ini belum apa-apa."


Setelah mengucapkan kalimat ambigu, Dave mulai berdiri, menahan tubuhnya dengan kedua lututnya dan sibuk melepaskan satu persatu kancing kemejanya, tidak lupa bagian bawah tubuhnya agar bisa semakin membuat sosok wanita yang masih mencoba menormalkan deru napas dan menatapnya seolah malu itu kembali mengeluarkan suara nyanyiannya saat mendesah dan melenguh.

__ADS_1


Hingga tubuhnya kini sudah tidak tertutup sehelai benang pun, sama persis dengan keadaan sang istri yang masih telentang di bawahnya.


"Kamu sangat menikmatinya, Sayang. Jadi, jangan berpura-pura tidak membutuhkan aku. Karena aku dan kamu sama-sama menikmatinya. Aku tidak akan pernah bisa menghentikan kegilaanku padamu, karena aku sudah kecanduan. Hanya tubuhmu yang aku inginkan, bukan tubuh wanita lain. Mulai hari ini, detik ini, kamu hanya milikku dan tidak akan aku biarkan ada laki-laki lain memilikimu."


Sabrina yang masih tidak bisa berpikir jernih setelah mencapai puncak kenikmatannya, masih terdiam dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Akan tetapi, entah mengapa ada sedikit kelegaan yang dirasakannya begitu mendengar perkataan bernada ancaman yang malah terdengar cukup manis di telinganya.


"Dave, dia barusan bilang bahwa tidak akan membiarkan ada laki-laki lain yang memilikiku? Apa dia serius dengan ucapannya? Apakah dia ingin menegaskan sangat mencintaiku, karena itulah tidak ingin aku bersama pria lain selain dirinya?"


Lamunan dari Sabrina seketika buyar saat Dave sudah kembali membuatnya merasakan sensasi kenikmatan saat dimasuki oleh pria yang sudah beraksi memulai momen paling utama, yakni momen penyatuan diri.


Dave yang bisa melihat wajah Sabrina melamun, membuatnya membuyarkan lamunannya dengan menyatukan diri dan bergerak sesuai ritme teratur. Memuaskan hasrat dan gairahnya yang sudah membuatnya merasa stres. Bahkan ia sudah melupakan pesan dari nona muda dan dokter yang berpesan padanya, agar menahan diri dan tidak memforsir tenaga Sabrina.


Saat ini ia memikirkan ingin menaklukkan wanita yang sudah mulai mengeluarkan suara desahannya. Senyumnya seketika mengembang karena merasa di atas angin ketika Sabrina sudah melenguh, tidak menolaknya lagi dan menikmati perbuatannya.


Setelah beberapa menit berlalu, keduanya terlihat sudah dibanjiri peluh yang membasahi tubuh mereka karena sibuk mereguk asmara untuk menggapai kenikmatan. Hingga rahang tegas dengan tubuh yang menegang, menegaskan bahwa ia sudah mencapai klimaks dengan kepuasan yang ditandai dengan sebuah geraman dan erangan panjang.


Keduanya sama-sama mencapai klimaks dengan saling berpelukan erat pada posisi intim dan tentu saja hawa panas dari kulit mereka masing-masing seolah menyalurkan sensasi rasa hangat yang terasa nyaman. Diiringi suara deru napas yang memburu, terdengar jelas dari keduanya.


Hening untuk beberapa saat, Dave melepaskan dirinya setelah selesai dengan kegiatannya. Saat ini ia berguling ke samping kanan Sabrina dan masih mengarahkan tangannya untuk menguasai tubuh polos wanita yang seolah terdiam membisu karena merasa kebingungan.


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Sabrina karena aku akan bertanggungjawab padamu. Aku suami sahmu dan kamu pun harus berpikir seperti apa yang aku pikirkan. Tidak ada jalan lain kecuali harus menerima dan menjalaninya. Jadi, menyerahlah dan buang sifat keras kepalamu itu."


Sabrina masih terdiam beberapa saat karena merasa bimbang dan juga galau dengan jawabannya. Namun, ia sudah tidak mampu lagi untuk menanyakan sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Sehingga ia kini langsung menoleh ke arah pria yang menurutnya berubah lebih tampan.

__ADS_1


Bisa dilihatnya peluh yang membasahi wajah dengan kulit putih dan pahatan di depannya malah semakin membuatnya terlihat mempesona di matanya.


"A-apa maksudmu tadi?"


"Jangan berpura-pura bodoh, Sabrina. Apa kamu mau memancingku lagi? Apa yang tadi masih kurang?" tanya Dave yang sudah mengarahkan bibirnya untuk memberikan jejak kepemilikan di lengan polos Sabrina dan berhasil membuat suara desahan lolos dari bibir sensualnya.


"Dave!" teriak Sabrina yang langsung mendorong kepala Dave agar menghentikan perbuatannya. "Aku bertanya padamu, apakah kamu mencintaiku? Sehingga mengatakan, tidak ada laki-laki lain yang boleh memilikiku. Karena aku masih ragu dengan semuanya. Apa aku salah jika meragukanmu?"


Untuk sesaat Dave terdiam, seolah merasa kebingungan untuk menjawab pertanyaan dari Sabrina. Karena sejujurnya ia pun masih belum mengerti dengan perasaannya.


"Alu tidak tahu."


Sabrina hanya bisa tersenyum kecut begitu mendengar jawaban dari Dave, "Aku sudah menduganya, bahwa kamu akan menjawabnya seperti itu." Entah mengapa, saat ini Sabrina merasa sangat kecewa dengan jawaban Dave.


"Dasar bodoh kamu Sabrina. Memangnya apa yang kamu harapkan dari dia? Kamu benar-benar hanya akan dijadikan pelampiasan nafsu saat ia sedang marah," gumam Sabrina di dalam hati. Namun, lamunannya buyar seketika saat tubuhnya direngkuh ke dalam dekapan Dave.


Dave yang bisa melihat kebimbangan dari Sabrina, refleks langsung mendekapnya erat untuk menghilangkan kegalauan yang dirasakan oleh wanitanya.


"Aku memang masih belum mengetahui apakah aku mencintaimu atau tidak, tetapi perlu kamu tahu bahwa aku hanya menginginkanmu dan tidak menginginkan wanita lainnya. Jadi, kamu bisa mengambil kesimpulannya sendiri."


Sabrina hanya beberapa kali mengerjapkan matanya begitu mendengar suara bariton dari Dave. Kalimat dengan nada tegas itu berhasil membuatnya merasa seperti seorang wanita yang sangat diinginkan dan dipuja-puja. Sehingga sudut bibirnya melengkung ke atas karena merasa puas dengan jawaban dari pria dengan tubuh kekar yang sudah mengungkungnya dan seolah menegaskan tidak ingin melepaskannya.


"Menginginkanku, bukankah itu hampir sama dengan mencintaiku? Karena mencintai harus memiliki dan pepatah yang mengatakan 'Mencintai tidak harus memiliki' itu hanya omong kosong belaka," gumam Sabrina yang sudah membiarkan tubuhnya berada di pelukan Dave dengan kulit polos yang saling bersentuhan. Seolah ingin merasakan kehangatan masing-masing.

__ADS_1


TBC ...


__ADS_2