
Pukul 04.15 WIB, suara alarm dari ponsel milik Aditya berbunyi. Hingga membuat Aditya langsung membuka kedua matanya dan berniat meraih ponselnya yang berada di atas nakas untuk mematikan alarm di ponselnya. Namun, tubuhnya tidak bisa bergerak saat Queen terlihat memeluknya dengan sangat erat dan menaruh kakinya yang jenjang itu di atas kakinya.
Bahkan dadanya yang polos sudah menjadi tempat kepala Queen bersandar. Tentu saja dirinya tidak bisa memindahkan tangan, kaki dan kepala Queen yang menahan tubuhnya.
Ternyata nona muda merasa nyaman dengan tidur memelukku. Hingga ia dari semalam tidak melepaskan pelukannya dari tubuhku. Bahkan sekarang kakinya yang nakal ini berada di atas pusakaku. Nah kan, jadi bangun dia. Kamu sangat nakal istriku, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghukum kenakalanmu itu.
Aditya yang daritadi membuka matanya dan mengamati wanita yang memeluknya sangat erat itu langsung berpura-pura memejamkan kedua matanya begitu melihat Queen yang mulai menggerakkan tubuhnya.
Merasa terganggu dengan suara dari alarm yang tidak diketahuinya alarm apa, membuat Queen langsung bersungut-sungut meski masih belum membuka matanya.
"Suara apa sih, mengganggu waktu tidurku saja." Queen yang masih belum membuka matanya, meraba-raba sekeliling ranjang, berniat untuk mengambil bantal yang akan dipergunakannya untuk menutupi telinganya. Namun saat ia meraba guling yang dipeluknya itu, perasaan aneh dirasakannya.
Dan kesadarannya sedikit demi sedikit mulai terkumpul, ia mulai mengingat apa yang saat ini tengah dipeluknya. Sontak ia langsung membuka matanya, dan seperti yang diduganya, ia semalaman tidur memeluk pria yang dilihatnya masih memejamkan matanya itu.
"Astaga ... aku semalaman berarti tidur memeluk Aditya? Untung saja dia masih tertidur," ucap Queen lirih dan mulai pelan-pelan mengangkat tangan dan kakinya secara hati-hati. Agar pria yang masih memejamkan matanya itu tidak sampai terbangun karena perbuatannya. Tingkahnya yang mengendap-endap itu, membuatnya seperti seorang pencuri saja.
"Ya ampun ... aku sudah seperti maling saja," ucap Queen yang sudah mulai meraih ponsel Aditya dan mematikan alarm. Kemudian dirinya mengarahkan pandangannya pada pria yang masih tertidur itu. "Buat apa dia menyalakan alarm kalau tidak bangun? Dasar ...."
"Oh ya, mungkin dia menyalakan alarm agar tidak sampai bangun kesiangan, karena harus sholat subuh. Apa aku bangunkan saja ya? Atau nanti saja!" ucap Queen yang saat ini tengah menatap wajah tampan pria yang tidur telentang itu.
Tanpa berkedip, ia mengamati setiap sudut bagian wajah Aditya. Diam-diam ia mulai mengamati pahatan sempurna itu. Tangannya mulai meraba hidung mancung dan beralih turun ke bibir tipis milik pria yang sudah berkali-kali diciumnya karena efek obat perangsang.
"Aditya sangat tampan meskipun pada posisi memejamkan kedua matanya. Bahkan ia tidak bangun saat aku menyentuh wajahnya seperti ini. Dia sudah seperti mayat saja saat tertidur, mungkin jika aku menciumnya, dia juga tidak akan terbangun. Apa aku coba saja? Akan tetapi, kalau aku menciumnya dan dia terbangun bagaimana? Dasar bodoh!" Queen mengetuk kepalanya saat menyadari kebodohannya.
"Lebih baik aku bangunkan saja dia, daripada nanti kesiangan melaksanakan sholat subuh."
Queen mulai menggerakkan lengan kekar Aditya dan mengeluarkan suaranya. "Aditya, bangun! Sudah siang, nanti kamu kesiangan sholatnya!"
Aditya yang sebenarnya daritadi sudah ingin membuka matanya, karena merasa sangat bahagia mendengar perkataan dari wanita yang bilang akan menciumnya tadi. Namun, ia sekuat tenaga ingin menahan diri agar tidak sampai membuat istrinya merasa malu padanya dan tidak nyaman berada di sisinya.
Kemudian ia mulai menggerakkan tubuhnya dan perlahan membuka matanya. Tentu saja netra pekat miliknya langsung ber-sitatap dengan netra kecoklatan milik wanita cantik yang sedang duduk bersila di sampingnya yang hanya mengenakan lingerie seksi.
__ADS_1
Bisa dengan jelas dilihatnya dua benda padat yang membusung di depannya. kemudian ia mengalihkan pandangannya agar tidak melihatnya. Namun, yang terjadi malah lebih membuatnya menelan ludah. Karena saat ia melihat ke arah bawah, yang dilihatnya adalah bagian paling berbahaya. Karena posisi duduk sang istri yang menampilkan segitiga Bermuda yang tertutup kain tipis menerawang yang semalam sempat dirasakannya.
Astaghfirullah ... pagi-pagi istriku sudah membuat libidoku naik ke kepala. Apakah dia tidak sadar bahwa ia sedang mengenakan pakaian minim dan menerawang, apalagi posisinya yang duduk bersila itu membuatku benar-benar bisa melihatnya. Aku harus segera mandi!
Aditya berusaha menormalkan detak jantungnya yang berdegup kencang, lalu ia mulai menyapa sang istri setelah sebelumnya menelan salivanya.
"Kamu sudah bangun, Queen? Rajin sekali, apa kamu ingin menjadi seorang istri yang baik? Karena itulah jam segini kamu sudah bangun."
"Jangan salah paham, aku tadi benar-benar sangat terganggu dengan suara alarm dari ponselmu. Kamu yang menyalakan alarm malah tidak bangun-bangun. Aku jadi tidak bisa tidur lagi kan!" rungut Queen dengan kesal.
"Maaf Queen. Mungkin karena aku merasa sangat capek, karena itulah aku tidak mendengar suara alarm dari ponselku. Aku mau mandi dulu, setelah itu kita sholat berjamaah." Aditya bangkit dari posisinya dan berniat turun dari ranjang king size tersebut.
"Rajin sekali kamu jam segini sudah mandi! Atau karena kamu sudah terbiasa mandi jam segini?" tanya Queen dengan keningnya yang mengernyit.
"Mandi saat subuh itu membuat tubuh kita sehat dan terhindar dari berbagai macam penyakit, Queen. Bukankah kamu seorang dokter? Harusnya kamu tahu hal ini," jawab Aditya yang berusaha menutupi kenyataan yang sebenarnya bahwa dirinya saat ini sudah merasa sakit kepala karena menahan gairahnya.
"Kalau itu menurut agama kan? Bukan menurut ilmu kedokteran. Entahlah, aku tidak belajar soal itu. Karena yang aku pelajari hanyalah mengenai tulang manusia. Ya sudah, mandi sana!" ucap Queen seraya mengibaskan tangannya.
"Sahabat laki-laki atau perempuan?" selidik Queen dengan tatapan tajam.
"Laki-laki, kemarin aku tidak sengaja bertemu dengannya di masjid Agung."
"Tidak boleh! Kamu tidak boleh bertemu dengan seorang pria, nanti kamu semakin tidak sembuh jika tetap berhubungan dengan pria di masa lalumu. Aku bisa meraih kesimpulan, kamu Gay karena pengaruh lingkungan dan pergaulanmu yang dari dulu tidak pernah berhubungan dengan seorang wanita. Jadi, mulai sekarang anggap saja aku adalah doktermu."
"Dokter yang akan menyembuhkanmu dari kelainan yang kamu derita. Jadi, apapun kata dokter harus kamu patuhi, mengerti?"
"Kalau begitu, anggap aku menghadiri acara pernikahan mantan kekasihku, Queen."
"Apa maksudmu?" Queen mengerutkan keningnya.
"Karena yang menikah itu pernah menyukaiku, dan aku sempat dekat dengannya. Bukankah tidak masalah jika aku menghadiri acara pernikahannya?" tanya Aditya dengan tatapan penuh pengharapan.
__ADS_1
"Tidak boleh. Nanti kamu CLBK lagi!" Tunggu, apa kamu bilang tadi? Kamu pernah dekat dengan wanita yang akan menikah itu?" tanya Queen dengan bersungut-sungut dan tatapan tajam menghunus.
"Iya, karena aku dulu sering ke rumahnya. Abangnya kan sahabatku, bukankah wajar jika aku main ke rumahnya? Tunggu, apa kamu sekarang sedang cemburu padaku, Queen? Karena kamu tidak mengijinkan aku untuk dekat dengan seorang pria maupun wanita. Apakah aku bisa mengartikannya sebagai cemburu?"
Setelah mengungkapkan pertanyaannya, Aditya mulai berjalan mendekati wanita yang masih duduk di atas ranjang itu. "Jujurlah padaku, Queen! Kamu cemburu? Jika kamu tidak cemburu, tidak mungkin kamu melarangku untuk berinteraksi dengan semua orang. Apakah kamu menahanku agar tetap berada di kamar saja setiap hari?"
"Sikapmu seperti seseorang yang posesif saja. Aku benar bukan?"
Queen merasa deg-degan karena takut ketahuan oleh pria yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan menelisik. Untuk menghilangkan kegugupannya, ia langsung mengeluarkan jurus amarahnya.
"Jangan kepedean, aku melakukan semua ini demi kebaikanmu! Jadi, jangan mengambil persepsi seenak jidatmu. Cepat mandi sana! Aku malas melihat wajahmu yang jelek itu."
"Baiklah ... baiklah, aku akan mandi. Jadi, jangan marah lagi. Nanti kecantikan di wajahmu berkurang." Aditya segera berjalan ke arah kamar mandi dengan sesekali tersenyum.
Dirinya tahu bahwa apa yang dikatakan oleh sang istri tadi hanyalah sebuah kebohongan semata, karena ia mendengar Queen memujinya tampan saat berpura-pura tidur tadi.
Hal yang sama dirasakan oleh Queen, mendengar pujian dari pria yang sudah masuk ke dalam kamar mandi yang memujinya cantik, tentu saja berhasil membuat dirinya berbunga-bunga.
"Aku memang cantik, dan kecantikanku ini tidak akan pernah berkurang meskipun aku sedang marah. Dia hanya sedang menggodaku tadi. Dasar Aditya, kenapa kamu malah semakin menggemaskan saja."
TBC ...
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokaatuh.
"Hai pembaca setiaku, semoga semuanya diberikan kesehatan dan rejeki yang melimpah, Aamiin ya rabbal alamin. Kali ini Author memang sengaja ingin menyapa kalian semua, dan mohon maaf ya, karena Author tidak pernah menyapa kalian. Kali ini Author ingin bertanya sesuatu. Seandainya Author membuat grup khusus untuk pecinta novel dari Author, ada yang mau gabung nggak?"
"Author ingin lebih dekat dengan kalian semua yang menyukai tulisan dari penulis remahan ini. Siapa tahu kita bisa saling mengenal dan menambah tali silaturahmi. Bisa juga jadi ajang untuk tanya-tanya seputar karya Author juga ya 🤭.
"Bagi yang mau masuk grup khusus ini, silahkan tinggalkan nomor ponsel di kolom komentar, nanti aku masukkan di grup. Bagi yang sudah mencantumkan nomor di novel Savage Love, tidak perlu mencantumkan lagi ya. Terima kasih sebelumnya 🙏, apabila ada salah kata, Author minta maaf yang sebesar-besarnya 🙏.
"Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokaatuh."
__ADS_1