
Aditya dan Queen sudah berada di luar hotel Raharja untuk acara joging pagi. Tentu saja mereka berdua tidak pergi keluar tanpa pengawasan, karena beberapa pengawal sudah mengikuti mereka dari belakang. Semua itu dikarenakan sang Daddy yang sangat over protective pada putrinya, akibat dulu pernah ada kejadian yang membuat Queen hampir saja terluka akibat ulah para pria hidung belang yang sedang mabuk-mabuk'an.
Suasana pagi yang masih belum banyak kendaraan yang melintas, serta udara yang segar belum tercemari udara, membuat keduanya sama-sama menikmati jalan-jalan pagi mereka. Tampak beberapa pedagang kaki lima yang sudah mulai membuka lapak, terutama penjual nasi dan warung kopi.
Ada juga beberapa orang terlihat sedang mendorong gerobak dagangan mereka, menuju tempat lapak mereka masing-masing. Queen baru kali ini melihat orang-orang kalangan bawah yang jauh dari kehidupan keluarganya yang merupakan keluarga terpandang dan juga merupakan pengusaha sukses yang terkenal di kota besar itu.
Ada pemandangan yang membuat Queen tertarik, yaitu seorang anak laki-laki berusia sekitar 10 tahunan yang terlihat sibuk mencuci mangkok. Pemandangan miris itu membuatnya merasa trenyuh, karena disaat anak-anak seusianya masih bergumul dengan selimutnya, anak laki-laki itu sudah sibuk mencuci mangkuk bekas orang-orang yang baru saja makan bubur ayam di tempat.
Sedangkan Aditya yang biasanya rutin lari-lari pagi setelah sholat subuh, kini ia hanya bisa berjalan ringan mengikuti Queen yang berada di depannya. Tentu saja dirinya bisa melihat arah pandang sang istri yang sedang mengamati anak laki-laki yang sudah berkutat dengan banyaknya mangkuk.
Seorang nona arogan sedang merasa trenyuh melihat anak itu. Aku tahu kalau kamu adalah seorang wanita yang berhati malaikat meskipun kamu menutupinya dengan sifatmu yang arogan. Aku ingin melihat apa yang akan kamu lakukan?
Queen menoleh ke arah belakang, dimana Aditya berjalan di belakangnya. "Aditya, kamu bawa uang nggak?"
"Bawa, untuk apa?"
"Tiba-tiba aku lapar, aku ingin makan bubur itu!"
Aditya menyunggingkan senyumnya saat mengikuti arah telunjuk dari sang istri. "Ayo, sekarang kita ke sana!"
Queen menahan tangan Aditya yang sudah berjalan ke arah lapak bubur ayam tersebut.
"Tunggu!"
"Ada apa?"
"Kamu bawa uang berapa?"
"Cukuplah untuk memborong satu rombong bubur ayam tersebut."
"Astaga ... aku tanya nominalnya!"
"Sebentar, aku lihat dulu dompet aku," ucap Aditya yang meraih dompet miliknya di saku celananya. Dan mulai menghitungnya, lalu menoleh ke arah wanita yang mengamati perbuatannya. "Aku cuma bawa uang cash 500 ribu."
"Miskin amat cuma 500 ribu," ucap Queen dengan kesalnya."
"Astaghfirullah ... aku memang pria miskin, Queen. Tidak perlu berkali-kali mengingatkan aku," ucap Aditya yang berpura-pura menampilkan wajah memelasnya.
"Astaga ... bukan seperti itu maksudku!"
"Lalu?"
__ADS_1
"Aku ingin memberikan uang untuk anak kurang beruntung itu, tapi nanti kamu yang memberikannya ya! Aku malu, takut nanti Ibunya salah paham. Atau berpikir aku menghina mereka, jika langsung memberikan uang pada anaknya. Kalau kamu kan sama-sama bisa merasakan kepedihan mereka, jadi nanti kamu bisa baik-baik bicara pada wanita itu."
Queen melambaikan tangannya pada pengawalnya. Dan seperti yang diharapkannya, pengawal itu mulai berjalan mendekat, lalu ia mengulurkan tangannya.
"Berikan dompet kalian!"
Sontak dua pria berbadan gempal itu sama-sama saling bersitatap, dan buru-buru memberikan dompet miliknya.
"Ini Nona muda!"
"Baiklah, kalian boleh pergi!" ucap Queen yang sudah mengibaskan tangannya.
Lagi-lagi pengawal itu merasa kebingungan, karena dompet mereka yang berisi uang tak seberapa diminta oleh majikannya yang jelas-jelas mempunyai banyak uang.
Mengerti dengan kekhawatiran dari para pengawalnya, membuat Queen langsung mengeluarkan suaranya. "Tenang saja, nanti aku ganti uang kalian dua kali lipat dari uang di dalam dompet kalian."
"Terima kasih Nona muda."
"Dasar matre."
Setelah mengejek pengawalnya, Queen langsung membuka dompet dua pria itu. Lagi-lagi ia hanya memijat pelipisnya, karena melihat uang yang menurutnya tidak seberapa itu. Lalu ia mengambil semuanya, dan memberikannya pada Aditya.
"Nah, berikan uang satu juta lima ratus ribu ini pada wanita itu. Untuk biaya sekolah anaknya, dan juga suruh mereka pergi ke Mansion Raharja setiap tanggal 1. Karena akan ada acara santunan anak yatim dan para dhuafa."
"Maksudmu? Mereka akan menolak uang ini? Tidak mungkin mereka akan menolaknya, karena uang tidak seberapa ini bisa sedikit membantu meringankan beban mereka, atau untuk biaya sekolah anaknya."
"Akan tetapi, terkadang orang sederhana seperti mereka malah tidak suka menerima bantuan orang lain. Karena itulah mereka lebih suka mencari uang sendiri. Akan tetapi, tidak ada salahnya mencoba. Ayo, kita makan bubur ayam dulu!"
"Aku mau makan di hotel saja, jadi bubur ayamnya dibungkus."
"Kenapa tidak makan di sini saja?"
"Aku capek, aku mau kembali ke hotel!"
Kalau aku makan, nanti aku malah berat. Aku kan mau kamu gendong.
"Baiklah, kita bungkus saja bubur ayamnya."
Aditya dan Queen mulai berjalan ke arah lapak pedagang kaki lima tersebut, dan memesan lima bubur ayam yang dibungkus.
Wanta yang berusia sekitar 40 tahunan itu mulai sibuk menyiapkan bubur ayam. "Budi, sini bantu Ibu!"
__ADS_1
"Baik Bu."
Dengan sangat lincah bocah laki-laki itu mulai membantu sang Ibu. Mulai dari memberi toping dan memberikan penutup pada sterofoam bulat itu. Tidak lupa memasukkannya pada kantong plastik.
"Berapa Bu?" tanya Aditya dengan sesekali menatap ke arah anak laki-laki itu.
"Tujuh puluh lima ribu Tuan."
"Ini Bu, kembaliannya ambil saja! Untuk uang saku anaknya pergi ke sekolah."
"Alhamdulillah, terima kasih Tuan."
"Oh ya Bu, saya kemarin baru menikah. Jadi, saya ingin berbagi rejeki sedikit untuk Ibu dan anaknya. Tolong doakan saya dan istri saya agar menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Dan cepat diberikan momongan," ucap Aditya yang memberikan uang tersebut ke tangan wanita itu.
"Pasti Tuan, saya akan mendoakan yang terbaik untuk kalian. Akan tetapi Tuan, saya tidak bisa menerimanya."
"Kalau begitu berikan saja pada putra Ibu. Kalau begitu terima kasih Bu! Saya permisi."
Aditya buru-buru menarik pergelangan tangan sang istri dan berjalan meninggalkan lapak pedagang kaki lima tersebut. Tentu saja bisa didengarnya suara dari wanita yang berteriak untuk mengucapkan terima kasih padanya.
"Benar kan apa yang aku bilang, wanita itu tidak mau menerima bantuan dari orang. Karena itulah aku segera mengajakmu pergi dari sana, dan belum sempat mengatakan acara santunan di Mansion."
Queen menganggukkan kepalanya. Iya, meskipun mereka susah, mereka tidak mau meminta bantuan dari orang lain. Aditya, aku capek banget," ucap Queen yang sudah berakting memijat kakinya.
"Kalau begitu kita istirahat dulu!"
"Akan tetapi, aku ingin cepat makan bubur ini di kamar, mumpung masih hangat."
"Kalau begitu, naiklah ke punggungku! Aku akan menggendongmu," ucap Aditya yang sudah berjongkok.
Queen berpura-pura menimbang-nimbang perkataan dari Aditya.
Dia tahu banget kalau aku mau digendong.
"Cepatlah Queen! Nanti keburu dingin buburnya."
"Baiklah, karena kamu yang memaksa, aku akan naik. Jangan mengeluh aku berat, awas jika sampai bilang aku berat!"
"Tidak akan."
Queen langsung naik ke atas punggung lebar pria yang sudah siap di bawahnya dengan sesekali tersenyum tipis.
__ADS_1
Asyik, nyamannya digendong Aditya. Dia bodoh sekali, mau saja aku tipu.
TBC ...