
Sabrina yang sudah merasa segar setelah mandi, kini telah memakai pakaian santai. Yakni, kaos casual berwarna putih dengan bawahan rok panjang. Biasanya ia hanya memakai hot pant saat berada di rumah, tetapi karena ada pria yang sedang berbincang dengan sang mama, membuatnya merubah penampilan.
Saat ini ia sudah berdiri di depan cermin, karena sedang menyisir rambut panjangnya yang dibawah bahu. "Aku harus segera turun dan mengawasi Dave. Jangan sampai dia berbicara macam-macam pada mama."
Tanpa memakai make up sama sekali, Sabrina buru-buru berjalan keluar dari ruangan kamarnya. Kaki jenjangnya melangkah menuruni anak tangga dan begitu menapak anak tangga terakhir, indera pendengarannya bisa menangkap suara dari sang mama yang sudah membahas tentang masalah anak pada Dave.
Refleks ia buru-buru berjalan ke arah pria yang sudah mulai membuka suara untuk menjawab perkataan bernada vulgar dari wanita yang telah melahirkannya dengan merengut.
"Mama apa-apaan sih. Buat apa membahas hal konyol dengan Dave. Malu-maluin saja," geram Sabrina yang merasa sangat malu bercampur kesal pada perkataan mamanya.
Dave menoleh ke arah wanita yang berjalan ke arahnya, matanya tidak berkedip saat melihat penampilan Sabrina yang terlihat natural dan lebih fresh. Mulai dari ujung kaki hingga kepala, penampilan rumahan sederhana dari wanita yang sudah berdiri menjulang di sebelahnya, malah membuatnya merasa kagum dan terpesona. Karena ia adalah tipe pria yang tidak menyukai wanita dengan make up tebal di wajah dan menurutnya adalah sebuah topeng untuk menutupi cacat di wajahnya.
"Tidak usah mengganggu urusan Mama dengan menantu. Ini adalah pesan orang tua untuk seorang calon pengantin baru. Dan yang bisa melaksanakan perintah dari Mama, cuma calon suamimu yang nantinya akan menjadi pemimpin. Bukankah begitu, menantu?" tanya wanita paruh baya yang bernama Aryani Fitriana.
Dave hanya menganggukkan kepalanya dan sekilas menatap ke arah Sabrina untuk melihat ekspresi dari wanita yang sudah berjalan mendekat ke arah mamanya.
"Lebih baik Mama ke kamarku dan suruh bibik untuk mengeluarkan seserahan yang luar biasa itu. Aku bahkan tidak bisa beristirahat jika ranjangku penuh dengan barang-barang itu. Kenapa tidak menaruhnya di kamar tamu tadi," ucap Sabrina yang sudah mengomel pada mamanya.
"Itu kan barangmu, Sayang. Bukankah kamu yang harus mengurusnya? Mama sengaja menaruhnya di kamarmu karena ingin kamu sendiri yang memilah-milah. Jika kamu merasa terganggu, bereskan saja semuanya sendiri," jawab Aryani yang sudah tersenyum penuh dengan seringai jahat begitu menemukan ide di kepalanya.
"Terserah Mama saja lah, aku mau kamar aku bersih saat aku ingin istirahat," ujar Sabrina dengan sangat kesal.
"Jadi begitu? Baiklah," jawab Aryani yang berjalan ke arah Dave. "Menantu, bantu Mama membereskan hantaran lamaran darimu tadi. Itu terlalu banyak, jadi kasihan pelayan akan kecapekan saat memindahkannya. Kamu tidak keberatan kan?"
__ADS_1
Refleks Dave langsung bangkit dari posisinya yang duduk di atas sofa. "Tentu saja tidak, Ma. Saya dengan senang hati membantu."
"Kamu memang menantu idaman," sahut Aryani yang sudah mendorong punggung lebar nan kokoh itu agar berjalan di depan. "Ayo, ikut Mama." Kemudian ia berjalan ke arah anak tangga bersama pria dengan postur tinggi tersebut.
Melihat ulah dari wanita yang telah melahirkannya, tentu saja membuat Sabrina benar-benar merasa sangat kesal. Karena membawa pria asing yang bukan siapa-siapa ke ruangan pribadinya.
"Astaga, Mama apa-apaan sih. Aku suruh pergi, agar tidak terlalu banyak menanyakan sesuatu pada Dave, tetapi malah membawakannya ke kamarku. Mama benar-benar keterlaluan," omel Sabrina yang terlihat frustasi dan beberapa kali menghentakkan kakinya ke atas lantai granit mengkilap berwarna silver yang dipijaknya.
Puas merengut dan merutuki perbuatan dari mamanya, ia kembali melangkah ke arah anak tangga, berniat untuk pergi ke kamarnya.
Sementara itu, Dave baru saja mengekor langkah kaki dari mertuanya. Ia masuk ke dalam ruangan kamar wanita yang rencananya akan ia nikahi 1 Minggu lagi. Netra pekat miliknya mengamati ruangan pribadi cukup luas nan rapi dengan ranjang berukuran sedang yang sudah dipenuhi oleh beberapa hantaran lamaran yang dibawa oleh keluarga majikannya.
"Jadi sebanyak ini barang-barang yang dibawa oleh tuan Abymana saat melamar? Mungkin untuk acara hari ini saja sudah banyak uang yang dikeluarkan oleh mereka. Aku tidak mungkin bisa membalas kebaikan dari keluarga Raharja. Ruangan kamar Sabrina sangat rapi dan terlihat sesak karena barang-barang mewah ini. Pantas saja dia marah-marah dan kesal karena tidak bisa beristirahat," gumam Dave di dalam hati.
"Tidak masalah Ma, ini hanya masalah kecil saja. Jadi, ini dipindahkan ke kamar sebelah ya Ma?" tanya Dave yang sudah mulai mengangkat 2 hantaran yang dikemas demikian indah tersebut.
Dave menganggukkan kepalanya dan mulai berjalan keluar kamar. Namun, netra pekat miliknya ber-sitatap dengan manik kecoklatan dari sosok wanita yang sudah berdiri di depan pintu. "Kenapa tidak menunggu di bawah saja?" tanya Dave pada Sabrina.
"Aku ingin melihat hasil pekerjaanmu. Anggap saja aku mandor atau pengawas yang sedang mengawasi pekerjaanmu," jawab Sabrina dengan sangat santai.
"Baiklah, terserah kamu," sahut Dave yang melanjutkan pekerjaannya dan mengarahkan dagunya pada Sabrina yang menghalangi jalannya. "Minggirlah, jangan berdiri di situ."
Sabrina yang menyadari kebodohannya, hanya bisa tersenyum kecut saat mendapat kalimat bernada pengusiran dari pria yang sudah melewatinya begitu ia berjalan masuk ke dalam kamar menghampiri sang mama.
__ADS_1
Saat ia ingin mengeluh pada wanita yang telah melahirkannya, yang ada, pukulan cukup keras mendarat di pundaknya, membuat Sabrina terlihat meringis kesakitan.
"Aarhh ... Mama apa-apaan sih."
Aryani yang dari tadi merasa heran pada sikap putrinya yang arogan, membuat ia langsung memukul bahu belakangnya untuk memberikan sebuah hukuman.
"Dasar gadis nakal, bukannya bersikap sopan, tapi malah berkata kasar pada calon suami. Apa kamu mau ditinggalkan lagi seperti Aditya yang memilih menikah dengan nona muda itu. Jika sikapmu terus-terusan seperti ini, bisa-bisa calon suamimu kabur lagi. Kamu mau itu?" hardik Aryani pada putrinya dan kembali menjewer telinga itu.
"Astaghfirullah Ma, jangan berbicara buruk pada putrimu. Lagipula ceritanya tidak seperti itu, karena Mama tidak tahu apa-apa. Doakan saja putrimu agar mendapat calon suami yang bisa mencintaiku dengan tulus," sahut Sabrina yang terlihat mengusap daun telinganya yang sudah memerah.
Aryani mengerutkan keningnya begitu mendengar perkataan dari putrinya yang menurutnya terdengar sangat aneh. "Apa maksud perkataanmu, Sayang? Bukankah kamu sudah mendapatkan calon suami yang mencintaimu dengan tulus? Memangnya menantu saat ini tidak mencintaimu?" tanya Aryani dengan tatapan menyelidik.
Di saat yang bersamaan, Dave baru saja kembali dan tentu saja bisa mendengar perkataan dari wanita paruh baya tersebut. Bahkan saat ini ia sudah ditatap tajam dengan pertanyaan yang membuatnya tidak berkutik.
Aryani yang melihat calon menantunya, kini menatap menelisik dan mengungkapkan pertanyaan yang menggangu pikirannya begitu mendengar kalimat bernada ambigu dari putrinya.
"Apakah kamu tidak mencintai putriku, Menantu? Apakah pernikahan kalian ini hanyalah sebuah kebohongan?"
Refleks Sabrina dan Dave saling ber-sitatap dan saling memberi kode dengan sebuah tatapan mata.
TBC ...
"
__ADS_1