
Di depan ruang operasi, Queen terlihat mondar-mandir dengan wajahnya yang dipenuhi rasa kekhawatiran. Bahkan penampilannya kini sudah sangat berantakan dengan banyaknya noda darah di baju dan tangannya. Tentu saja dirinya sama sekali tidak memperdulikan semua itu karena ingin terus berada di depan ruangan operasi untuk menunggu sampai dokter keluar.
Berkali-kali ia mengacak frustasi rambutnya karena merasa sangat khawatir dengan keadaan dari pria yang sedang berjuang antara hidup dan mati. "My hubbiy, jangan tinggalkan aku. Aku mohon padamu, kamu harus menepati janjimu!"
Sedangkan para pengawal sama sekali tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun pada sang nona muda karena menyadari kesalahannya. Mereka hanya berdiri seperti patung manekin tak jauh dari tempat sang majikan.
Sementara itu, tak jauh dari ruangan operasi terlihat ada 1 perawat yang mengawasi orang-orang yang berada di sana. Ia mengeluarkan ponselnya dan mulai menghubungi seseorang. Begitu sambungan telefon terputus, ia langsung mengungkapkan apa yang dilihatnya.
"Halo Tuan, pria itu masih berada di ruangan operasi. Bahkan sudah 1 jam lebih, tapi dokter belum juga keluar dari ruangan operasi. Sepertinya lukanya sangat parah dan membuat para tim dokter bekerja keras."
"Bagus, lanjutkan saja pekerjaanmu untuk mengintai mereka dan beri kabar padaku saat dokter sudah keluar dari ruangan operasi. Aku ingin mendengar kabar gembira bahwa pria tidak berguna itu dinyatakan mati."
"Baik Tuan. Kalau begitu saya tutup telponnya dulu."
"Baiklah."
"Tunggu Tuan!"
"Ada apa?"
"Dokter baru saja keluar dari ruangan operasi, jadi saya akan mencoba untuk mendekat agar mengetahui apa yang dikatakan oleh dokter."
"Cepatlah!"
Sambungan telefon langsung terputus dan wanita yang bekerja sebagai cleaning service itu pun mulai berpura-pura untuk membersihkan lantai dan semakin berjalan mendekati dokter dan wanita yang terlihat sangat kacau itu untuk mendengarkan percakapan.
Sementara itu, Queen langsung menghambur ke arah pria paruh baya yang masih memakai seragam operasi yang baru saja keluar dari ruangan yang paling menakutkan itu.
"Bagaimana keadaan suami saya, Dokter? Operasinya berjalan lancar kan? Suami saya tidak apa-apa kan?"
__ADS_1
Sang dokter yang bisa mengenali siapa yang berada di depannya, membuatnya pertama-tama membungkuk hormat pada wanita di depannya yang dirinya tahu bukanlah orang sembarangan karena sangat terkenal di dunia kedokteran dan juga merupakan salah satu anak orang konglomerat di Jakarta.
"Untuk pertama kali, saya ingin mengucapkan selamat datang pada Anda di Bali Dokter Queen. Sebuah kehormatan bagi rumah sakit ini bisa kedatangan orang penting seperti Anda."
Merasa sangat kesal karena sang dokter malah mengungkapkan hal yang tidak penting dan menurutnya sangat konyol, membuat Queen refleks langsung menaikkan nada suaranya 1 oktaf lebih tinggi.
"Dasar Dokter bodoh! Apa kau mau mati! Aku tidak ada waktu untuk mendengarkan kalimat konyolmu itu, cepat katakan padaku tentang apa yang terjadi pada suamiku!" sarkas Queen dengan mata penuh kilatan api.
"Maafkan saya Nona muda. Saya hanya ingin menyapa Nona," ucap dokter dengan menundukkan kepalanya.
"Aku sama sekali tidak membutuhkan itu, cepat jelaskan padaku!" Queen terlihat sangat khawatir dengan wajahnya yang terlihat agak pucat seolah menunjukkan dirinya telah kehilangan semangat hidup.
"Suami Anda saat ini kritis dan karena luka tusukan yang dialaminya cukup dalam dan berhasil merusak bagian dalam perutnya. Hal itulah yang membuat pasien kehilangan banyak darah dan membutuhkan transfusi darah," ucap dokter bedah dengan wajah yang agak sedikit merasa takut dan kebingungan untuk menjelaskan.
Penjelasan dari pria berseragam itu malah semakin membuat Queen merasa murka, hingga ia kembali mengumpat di depan pria tersebut.
"Dasar dokter bodoh! Jika suamiku sedang kritis karena membutuhkan transfusi darah, harusnya cepat kamu lakukan transfusi darah agar suamiku bisa cepat tertolong. Lalu, apa yang kau lakukan di sini? Apa kau ingin dipecat dari rumah sakit ini? Aku akan membuat kalian semua yang berada di ruangan operasi berakhir di penjara jika sampai terjadi sesuatu pada suamiku."
"Golongan darah langka? Jangan bilang golongan darah suamiku adalah Rh-null atau yang sering disebut "Golden Blood", karena hanya 43 orang di dunia ini yang memiliki golongan darah ini." Tubuh Queen seketika lemas saat membayangkan kemungkinan buruk itu.
Refleks sang dokter langsung menggelengkan kepalanya dan mulai menjelaskan tentang golongan darah dari pasien. "Bukan itu Dokter Queen."
"Lalu?" tanya Queen dengan sedikit bernafas lega.
"Golongan darah dari suami Anda adalah O-. Pasti Dokter Queen sudah tahu tentang golongan darah O- yang dimiliki sekitar 2,55 persen populasi manusia di seluruh dunia."
"Meski dapat melakukan transfusi ke semua jenis golongan darah, tetapi suamiku hanya bisa menerima transfusi dari yang golongan darahnya sama," jawab Queen dengan tatapan penuh kekhawatiran.
Sang dokter langsung membenarkan perkataan dari wanita yang terlihat sudah seperti mayat hidup itu. "Jadi, saya tidak perlu menjelaskan lagi tentang golongan darah yang disebut juga dengan donor universal. Sehingga menjadi darah yang paling berharga di dunia. Apakah suami Anda mempunyai saudara? Atau mungkin orang tuanya memiliki darah yang sama."
__ADS_1
Tanpa menjawab pertanyaan dari sang dokter, Queen langsung meraih ponselnya di saku bajunya dan langsung menghubungi mertuanya.
"Cepat angkat Yah!" Queen yang diliputi raut kekhawatiran benar-benar sangat gelisah dan tidak sabar untuk menunggu jawaban dari mertuanya. Dan beberapa saat kemudian, ia langsung bertanya pada pria yang baru saja mengangkat panggilannya.
"Halo, assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam Yah. Apakah golongan darah dari Ayah adalah O-?"
"Bukan Menantu, golongan darah Ayah adalah A. Ada apa?"
Mendengar jawaban dari pertanyaannya, membuat Queen seketika hampir kehilangan seluruh tenaganya. Karena harapan satu-satunya telah sirna begitu saja. Tangisnya seketika pecah dan mulai terisak sambil berbicara dengan mertuanya.
"Bagaimana nasib suamiku Yah? Dia membutuhkan donor darah O- karena ada orang jahat yang menusuk perutnya. Jika Ayah bukan golongan darah O-, itu berarti Almarhumah Ibu suamiku yang memiliki golongan darah itu. Akan tetapi, bukankah Ibu sudah meninggal. Lalu, apa yang harus aku lakukan untuk menolong suamiku Yah? Aku tidak ingin kehilangan dia."
Queen sudah terduduk di kursi yang ada di depan ruang operasi karena tidak mampu menopang tubuhnya lagi. Hingga suara dari sang mertua membuatnya langsung membulatkan kedua matanya.
"Menantu, ada 1 orang yang bisa menolong Aditya. Mungkin saja Ibunya memiliki golongan darah yang sama. Aku akan menghubunginya. Bahkan aku rela bersujud di kakinya agar mau mendonorkan darahnya pada putraku."
Queen yang masih tidak memahami pembicaraan dari mertuanya yang sudah terdengar serak karena efek menahan tangis, mulai menanyakan hal yang membuatnya tidak mengerti.
"Apa maksud Ayah? Bukankah Ibu sudah meninggal?"
"Belum, dia masih hidup. Dulu aku bercerai dengannya karena dia berasal dari keluarga berada. Aku akan menghubunginya sekarang."
"Tunggu Yah? Keluarga berada? Memangnya siapa nama Ibu dari suamiku? Siapa tahu aku mengenalnya."
"Nayla Ratnasari, putri dari pengusaha sukses pasangan suami istri Subroto."
"Apaaaaa?"
__ADS_1
Queen langsung menjatuhkan ponselnya saat mengetahui rahasia besar dari suaminya. "Nayla Ratnasari bukankah Mama dari Reynaldi? Takdir macam apa ini Tuhan?"
TBC ...