
Aditya masih dalam posisi menahan tubuh Queen agar diam di bathtub, dan dirinya berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri saat melihat bagian atas tubuh sang istri yang terekspose dengan jelas di depannya.
Sedangkan Queen yang merasakan rasa panas di tubuhnya mulai sedikit demi sedikit berkurang, akhirnya dirinya lama-lama bisa sedikit tenang dan tidak bersikap agresif lagi. Dan dirinya perlahan memejamkan kedua matanya saat tubuhnya sudah kelelahan akibat efek obat perangsang yang berada ditubuhnya.
Aditya menatap iba ke arah wanita yang terlihat lemas di dalam bathtub, refleks dirinya mengusap lembut kening Queen dan merapikan sebagian anak rambut yang menutupi sebagian wajah cantik Queen. Netra dengan silinder hitamnya mengamati dengan intens wajah cantik wanita yang sudah sah menjadi istrinya.
Dimulai dari bagian mata yang terpejam dengan bulu mata lentik, serta kedua alis hitam yang tipis, lalu turun ke hidung mancung dan terakhir bibir tipis yang sudah berkali-kali tadi menciumnya. Aditya berkali-kali menelan salivanya saat melihat semua lekuk tubuh wanita yang masih memejamkan matanya.
"Aku hanya manusia biasa yang juga mempunyai nafsu Queen. Bahkan saat kamu telanjang di depanku tadi dan sudah menyerangku, aku sebenarnya tidak bisa menahan diriku untuk tidak menyentuhmu. Respon tubuh dan otakku saat itu benar-benar tidak bersinergi, Queen."
"Saat otakku menolaknya, namun respon tubuhku ingin langsung memuaskan hasratku yang tadi langsung bangkit. Akan tetapi, aku langsung tersadar dan tidak mempunyai nyali saat membayangkan kamu akan sangat membenciku."
"Karena hal itulah yang membuatku bisa menahan nafsuku, kebencianmu padaku akan membuat hidupku sebagai seorang imam untuk seorang istri tidak ada artinya. Dan aku tidak mau menodai kepercayaanmu padaku, karena aku ingin kamu menganggapku sebagai seorang suami yang pantas untukmu nona muda Queen. Semoga suatu saat kamu bisa melihat ketulusanku, bahwa aku ingin menjadi pasanganmu di dunia hingga ke JanahNya."
Aditya masih tidak berkedip menatap ke arah wanita cantik yang sudah mulai membiru bibirnya, yang menandakan bahwa saat ini istrinya tersebut sudah mulai kedinginan. Karena merasa sangat tidak tega melihat kondisi sang istri, membuat Aditya langsung masuk ke dalam bathtub dan memeluk tubuh lemah yang sudah hampir kehilangan kesadarannya.
Berniat perbuatannya itu bisa sedikit mengurangi efek kedinginan dari sang istri. Untuk beberapa saat Aditya memeluk Queen, dan tak lama kemudian suara dengkuran halus mulai terdengar dari nafas Queen. Sehingga dirinya langsung bangkit dari bathtub untuk meraih jubah handuknya setelah dirinya melepaskan pakaiannya yang sudah basah.
Tak lupa ia membawa jubah handuk untuk wanita yang terlihat bersandar di punggung bathtub yang sudah kehilangan kesadarannya.
Untuk beberapa saat dirinya merasa sangat ragu dan hanya diam di tempatnya, karena tentu saja hal yang akan dilakukannya merupakan perbuatan yang sangat luar biasa. Karena dirinya dituntut untuk tidak sampai kehilangan kendali saat membuka selimut yang menutupi tubuh istrinya.
"Ya Allah, cobaanmu sungguh luar biasa. Apakah aku bisa menahan nafsuku saat melihat istriku telanjang untuk yang kedua kalinya? Kuatkan aku ya Allah! Bismillahirrahmanirrahim ...."
__ADS_1
Aditya membersihkan niat dan memantapkan hatinya agar tidak sampai berbuat khilaf pada istrinya. Setelah dirasanya dirinya siap, ia mulai berjalan mendekati Queen dan membuka selimut tebal yang menjadi penutup tubuh sang istri. Dan tentu saja bisa dengan jelas dilihatnya tubuh telanjang sang istri yang sudah tidak sadarkan diri itu.
Dengan jantung yang berdegup sangat kencang karena melihat tubuh telanjang istrinya, Aditya berkali-kali menelan salivanya. Tidak lupa ia berkali-kali geleng-geleng kepala untuk berusaha menyadarkan diri.
"Kamu bisa Aditya, kamu harus kuat menahan ujian ini. Jangan sampai kamu berbuat khilaf hanya gara-gara nafsu syetan. Astaghfirullah ... astaghfirullah ... astaghfirullah."
Aditya telah mengangkat tubuh polos Queen dan langsung menutupinya dengan jubah handuk yang tadi diambilnya. Lalu ia berjalan menuju ke arah ranjang dan langsung membaringkan tubuh istrinya di sana. Tentu saja dalam hati ia tak berhenti mengucap kalimat basmalah agar tidak sampai tergoda bujukan syetan.
Dengan sangat berhati-hati dirinya mulai mengeringkan tubuh basah istrinya dengan handuk. Tak hanya sampai di situ saja, kini dirinya sudah sibuk memakaikan Queen pakaian dalam dan piyama yang tadi dibelinya. Begitu kegiatannya telah selesai, Aditya bernafas lega dan tak berhenti mengucap puji syukur.
Sebuah pencapaian yang sangat luar biasa saat dirinya bisa menahan diri untuk tidak berbuat khilaf pada istrinya sendiri. Karena tidak ingin berlama-lama menatap wajah cantik wanita yang sudah tertidur pulas itu, Aditya segera menutupi tubuh Queen dengan selimut tebal yang baru. Kemudian ia mulai berjalan menuju ke arah sofa, mendaratkan tubuhnya di sana.
Terlihat dirinya saat ini memijat pelipisnya. Rasa pusing teramat sangat dirasakannya, tentu saja dirinya sangat tahu apa penyebabnya. Menahan gairah yang sudah mulai memenuhi jiwanya, membuatnya langsung naik ke kepala.
Setelah berhasil menenangkan perasaannya, Aditya mengalihkan pandangannya ke arah wanita yang sudah tertidur pulas di atas ranjang, "Semoga saat terbangun nanti, kamu tidak mengingat akan kejadian hari ini Queen."
"Sepertinya aku harus berbicara dengan abangnya Queen, bahkan aku jauh lebih tua darinya. Mungkin karena itulah dia bisa berbuat hal di luar batas seperti ini. Apa dia tidak berpikir dampak negatif dari perbuatannya pada adiknya? Bagaimana jika terjadi hal buruk pada Queen? Mungkin maksud dia baik, tapi tidak menyadari bahwa semua yang dilakukannya akan sangat berisiko."
Aditya langsung meraih ponselnya yang berada di atas meja. Tanpa membuang waktu, ia langsung menghubungi nomor dari abang iparnya. Tak perlu menunggu waktu yang lama, suara dari pria yang dihubunginya terdengar.
"Halo, bagaimana acara kalian Aditya?"
"Assalamualaikum Bang."
__ADS_1
"Oh ya lupa, wa'alaikumsalam. Karena aku sangat bersemangat ingin mendengar ceritamu tentang ML, sehingga membuatku lupa untuk mengucapkan salam. Oh ya, jangan panggil aku abang! Panggil saja aku seperti Queen memanggilku, Brother. Itu lebih terdengar keren daripada abang, karena aku selalu membayangkan pedagang keliling jika mendengar kata abang. Bukankah panggilan abang itu identik dengan pembeli yang memanggil penjualnya?"
"Baiklah, aku tidak akan memanggilmu abang. Brother, jangan melakukan hal ini lagi pada Queen! Karena itu sangat berbahaya untuknya."
"Asal tidak berlebihan, itu tidak akan menjadi masalah. Kalian berdua sudah ML kan?"
"Aku bukan seorang pria yang bisa melakukannya pada wanita yang tidak sadar Brother, karena aku ingin menjadi seorang suami yang dipercaya oleh Queen. Pria yang memegang janjinya dan Queen suatu saat akan bisa melihat ketulusanku ini. Sehingga dia akan mencintaiku nanti."
"Jangan bilang kamu bisa menahan diri saat adikku menyerangmu dengan brutal tadi! Karena jika itu memang benar, kamu harus segera periksa ke dokter."
"Periksa ke dokter? Untuk apa?"
"Karena fix kamu tidak normal Aditya. Tidak mungkin seorang pria normal bisa menahan diri saat wanita yang sudah menjadi istrimu menyerangmu secara brutal. Berarti kamu benar-benar tidak normal, karena tidak tertarik pada istrimu yang mengajakmu untuk bercinta. Apa perlu aku suruh dokter ke situ untuk memeriksa kondisimu? Aku tidak mau adikku mempunyai seorang suami yang tidak bisa On."
"Astaghfirullah, apakah seorang pria yang bisa mengendalikan nafsunya dianggap tidak normal? Bukankah itu sangat aneh di dengar? Memangnya salah jika aku berhasil menahan nafsuku Brother?"
"Sungguh sangat luar biasa kamu Aditya, karena benar-benar tidak tergoda saat wanita yang sudah sah menjadi istrimu itu memaksamu untuk bercinta. Aku jadi penasaran, bagaimana caramu untuk mengendalikan nafsumu. Coba ceritakan padaku bagaimana caranya!"
"Brother, aku menghubungimu karena aku ingin mengingatkanmu agar tidak sampai melakukan hal ini lagi, bukan untuk membahas tentang hal yang aku alami tadi. Biarlah aku sendiri yang cukup tahu, karena hal bersifat privasi antara suami istri tidak boleh diumbar dengan orang lain. Sepertinya aku hanya ingin berbicara itu saja, jadi tolong diingat sekali lagi. Jangan berikan istriku obat perangsang lagi!"
"Jadi seperti itu pilihanmu? Baiklah ... baiklah, aku tidak akan pernah membantumu lagi untuk mendapatkan adikku yang sangat arogan itu. Terserah apa yang akan kamu lakukan Aditya."
"Insya Allah aku tidak akan pernah meminta bantuanmu Brother, karena aku akan meminta bantuan langsung pada sang pencipta alam semesta yang dengan mudah membolak-balikkan hati manusia. Dan hal yang tidak mungkin akan menjadi mungkin hanya dengan satu kalimatnya, Kun Fayakun."
__ADS_1
TBC ...