Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Apakah itu penting?


__ADS_3

Flashback on ...


Queen baru saja menyelesaikan tugasnya memeriksa banyaknya pasien yang sudah datang dari tadi pagi untuk bisa bertemu dengannya secara langsung. Karena semua orang lebih suka berkonsultasi dengannya saat memeriksakan diri. Hal itu disebabkan ia selalu menganggap pasiennya adalah keluarganya sendiri yang sangat ia sayangi. Semua itu berawal dari penderitaan para pasien yang pernah dirasakannya saat ia masih kecil dulu dari cerita orang tuanya.


Sikap ramahnya lah yang membuatnya menjadi dokter paling terkenal di rumah sakit Raharja, bukan karena ia adalah cucu dari pemilik rumah sakit, tapi karena sifat ramahnya pada pasien lah yang membuat banyak orang menyukainya.


Berbeda saat ia berada di luar ruangan prakteknya, ia kembali ke sifat aslinya yang selalu tidak bisa menahan amarahnya jika sedang marah atau saat menghadapi sesuatu yang tidak sesuai dengan harapannya, atau saat ada orang yang mengecewakannya. Queen melirik ke arah asistennya yang terlihat membereskan semua berkas dari beberapa pasien.


"Reyna, setelah ini kamu belikan aku es buah dan juga rujak buah ya. Aku rasanya ingin makan dan minum yang segar-segar. Aku tunggu di ruanganku!" Queen bangkit dari kursi dan berjalan menghampiri Reyna.


"Baik, Dokter Queen. Anda beristirahat saja di ruangan Anda sambil menunggu suami. Lagipula wajah Dokter saat ini terlihat sangat pucat. Mungkin benar Dokter saat ini tengah hamil," ucap Reyna.


Queen terlihat sangat berbinar mendengar perkataan dari asisten pribadinya. "Alhamdulillah kalau benar aku hamil, karena kebahagiaan keluarga kami akan semakin lengkap dengan hadirnya buah cinta kami. Ya sudah, aku tunggu di ruanganku. Rasanya aku saat ini ingin membaringkan tubuhku di atas ranjang. Untung saja dulu aku meminta ruangan khusus untukku yang ada ranjangnya untuk aku bisa istirahat."


"Ternyata ada gunanya juga saat aku hamil sekarang. Aku pun akan menunggu suamiku datang dengan rebahan sebentar. Aku pergi," ucap Queen yang berlalu pergi meninggalkan ruangan prakteknya.


"Iya, Dokter Queen. Sebentar lagi saya meluncur untuk membelikan pesanan Anda. Selamat beristirahat dan menunggu kedatangan dari suami tercinta," jawab Reyna yang melambaikan tangannya begitu melihat atasannya tersebut melangkah keluar.


Beberapa saat kemudian, Queen sudah tiba di ruangan pribadinya. Setelah menutup pintu, ia ingin membaringkan tubuhnya di atas ranjang, mendadak kepalanya terasa pusing dan lama-kelamaan pandangannya kabur. Di saat yang bersamaan ia jatuh pingsan di lantai berwarna abu-abu tersebut.


Flashback off ...


*****

__ADS_1


Aditya yang baru saja masuk ke dalam ruangan sang istri, langsung membulatkan kedua matanya begitu melihat wanita yang sangat ia cintai terbaring di lantai yang dingin. "Sayang, apa yang terjadi padamu?" Mengangkat tubuh lemah itu ke atas lengan kokohnya dan mulai membaringkannya di atas ranjang yang berada di sudut kanan ruangan.


Para pengawal yang mendengar suara teriakan dari majikannya itu langsung menghambur masuk ke dalam. Di saat yang bersamaan, Reyna baru saja tiba di depan ruangan atasannya, melihat beberapa pengawal yang berlari masuk ke dalam ruangan. Sehingga ia buru-buru berlari untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada atasannya.


"Apa yang terjadi pada Nona muda, Tuan?" tanya salah satu pengawal yang terlihat sangat khawatir melihat majikannya tidak sadarkan diri.


"Aku tidak tahu, karena begitu aku masuk tadi, istriku sudah pingsan di lantai. Nasib baik tadi posisi jatuhnya jauh dari meja, jadi kepalanya tidak sampai terbentur meja. Sebaiknya kalian panggil dokter!" ucap Aditya yang awalnya menatap ke arah pengawal dan tatapannya beralih ke sosok wanita yang baru saja masuk ke dalam ruangan dengan membawa bungkusan makanan.


"Kamu, adalah asisten pribadi istriku kan?"


"Iya, Tuan muda. Apakah Dokter Queen pingsan tadi? Sepertinya itu karena efek kehamilannya di trimester pertama. Biarkan saya saja yang memanggil dokter Obgyn untuk memeriksa keadaan dari ibu dan bayi." Reyna memberikan bungkusan makanan di tangannya kepada salah satu pengawal. "Tolong bawakan makanan pesanan dari Dokter Queen tadi! Saya akan segera memberitahu dokter Obgyn."


"Terima kasih," teriak Aditya karena wanita berseragam putih itu secepat kilat sudah berlalu pergi.


Aditya terlihat sibuk mengusap lembut punggung tangan sang istri yang terlihat pucat itu. "Sepertinya kamu harus beristirahat di Mansion dulu, Sayang. Bagaimana jika kamu pingsan lagi dan terjadi hal yang buruk. Aku tidak ingin mengambil resiko dengan keselamatamu dan anak kita. Sepertinya aku harus tegas padamu agar kamu mau menuruti perintahku."


Saat Aditya masih terlihat cemas, ia melihat pergerakan dari sang istri yang mulai membuka matanya. "Alhamdulillah Sayang, kamu sudah sadar? Aku benar-benar sangat mencemaskan keadaanmu saat melihat kamu tidak sadarkan diri di atas lantai tadi."


Queen terlihat tersenyum tipis dan langsung mengarahkan tangannya untuk menyentuh pipi putih suaminya. "Aku tidak apa-apa, tadi hanya pusing sedikit dan tiba-tiba aku sudah kehilangan kesadaranku. Tidak perlu khawatir atau berlebihan begitu."


"Tidak apa-apa bagaimana? Bagaimana mungkin aku tidak merasa khawatir saat melihatmu pingsan di atas lantai. Bagaimana jika kamu tadi saat pingsan, kepalamu terbentur meja. Atau ada benda-benda tajam di sini? Bukankah itu akan membahayakan keselamatanmu dan juga anak kita? Aku tidak mau tahu, mulai sekarang lebih baik kamu mengambil cuti dulu dari rumah sakit!"


"Kamu harus beristirahat di Mansion, karena saat ini sedang hamil trimester pertama. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu dan anak kita. Jadi, turuti perintah dari suamimu jika kamu ingin masuk Surga," ucap Aditya dengan tegas.

__ADS_1


Queen mengangkat kedua alisnya dan merasa sangat aneh melihat sosok pria di depannya yang biasanya terlihat sangat lembut mendadak berubah menjadi seorang pria yang tegas saat sedang marah.


"Aneh sekali rasanya melihat My hubbiy marah-marah seperti ini. Kenapa dia bisa semarah itu dan malah mengancamku? Tunggu, tadi aku baru saja bilang pada Daddy bahwa aku akan mengubah sifat lembek dari suamiku, bukan? Akan tetapi, tanpa perlu bersusah payah, suamiku malah sekarang terlihat menjadi sosok pria yang tegas," batin Queen.


"My hubbiy, kamu sekarang marah dan mengancamku?"


"Aku tidak marah atau mengancammu, Sayang. Akan tetapi, aku sedang melindungi keluargaku agar tidak sampai terjadi sesuatu yang buruk. Mau tidak mau, kamu harus menuruti perkataanku, oke!" Untuk sesaat Aditya terdiam sejenak untuk menormalkan perasaannya, kemudian ia baru melanjutkan perkataannya.


"Karena tadi begitu aku melihatmu terbaring tidak berdaya di lantai, aku sangat takut, Sayang. Aku sangat takut kehilanganmu, aku ingin kita selamanya hidup bahagia dan menua bersama membesarkan anak dan melihat kelahiran dari cucu-cucu kita nantinya."


"Kenapa kamu sangat lebay sekali, My hubbiy? Padahal aku hanya pingsan, tapi reaksimu sudah berlebihan seperti ini. Bagaimana jika kamu melihatku bersimbah darah seperti aku yang dulu melihatmu jatuh tidak sadarkan diri setelah ditusuk oleh orang suruhan Reynaldi. Mungkin kamu akan langsung menghabisi orang yang menyakiti istrimu tanpa memperdulikan apapun."


"Sekarang kamu bisa menyadari apa yang aku rasakan pada adik tirimu itu, bukan? Dan kebetulan sekali, aku ingin memberitahu sesuatu padamu, My hubbiy," ucap Queen dengan tatapan intens.


Untuk sesaat Aditya mencerna perkataan dari sang istri yang mengungkit keburukan dari adik tirinya. "Kamu benar, Sayang. Sepertinya aku mulai menyadarinya, saat melihatmu tadi. Memangnya apa yang ingin kamu katakan padaku?"


"Besok kamu harus datang di persidangan Reynaldi agar dia dihukum seberat-beratnya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Kamu harus bisa tegas pada kejahatan adikmu itu. Apa kamu mengerti My hubbiy?" tanya Queen dengan tatapan tajam penuh nada ancaman.


"Oh ... jadi besok sidang Reynaldi? Apakah aku memang harus datang? Apakah itu penting?" sahut Aditya dengan ekspresi wajah yang terlihat agak shock.


"Sangat penting, kamu harus datang sekaligus sebagai saksi dari kejahatan adik tirimu itu, My hubbiy. Bagaimana?" Queen dengan cemas menunggu jawaban dari pria yang terlihat sudah menampilkan wajah murungnya.


"Aku ...."

__ADS_1


TBC ...


__ADS_2