
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Abymana yang baru saja melangkah masuk ke ruangan meeting.
Karena ada sesuatu hal, membuatnya datang terlambat ke perusahaan untuk menyaksikan pengangkatan menantunya yang menjabat sebagai wakil presiden direktur dari putranya. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah menantu kesayangannya tengah mencubit gemas pipi putrinya. Hal menggemaskan itu, tentu saja membuat Abymana awalnya menyunggingkan senyumannya saat melihat interaksi dari putri dan menantunya.
Untuk sesaat ia hanya mengamati aksi menantunya, tapi karena waktu yang sebentar lagi menunjukkan jam masuk kantor, membuatnya mengganggu ulah pasangan suami istri tersebut.
Aditya dan Queen refleks langsung menoleh ke arah sumber suara yang sangat tidak asing itu dan melihat sosok pria tinggi besar yang berada di depan pintu tengah berkacak pinggang seraya menatap tajam.
"Papa!" ucap Aditya refleks langsung melepaskan tangannya yang masih berada di pipi putih sang istri dan merasa sangat malu ketahuan berbuat konyol di depan mertuanya. Apalagi saat berada di Perusahaan Raharja di hari pertamanya bekerja.
"Tumben Daddy datang terlambat," sahut Queen yang terlihat sangat santai dan menghambur memeluk tubuh kekar daddy-nya. "I miss you, Dad."
"Dasar gadis nakal," sahut Abymana yang membalas pelukan dari putri kesayangannya. "Mommy-mu sangat merindukanmu, tapi kamu tidak pulang ke Mansion dulu tadi. Bahkan mommy sudah menyuruh para pelayan untuk memasak makanan kesukaanmu dan juga bermacam-macam menu untuk menantu kesayangannya tadi. Akan tetapi, kamu malah mengecewakannya. Hari ini jangan pulang terlambat, karena kalian semua harus makan malam bersama di Mansion."
Queen hanya terkekeh menanggapi kekesalan dari pria yang menjadi cinta pertamanya. "Iya, maaf Dad. Aku dan suamiku tadi sibuk sekali mengurus segala sesuatu di rumah. Ada banyak barang yang tidak boleh dibuang oleh mertua, padahal tadi aku ingin membuang semua perabotan dan menggantinya dengan yang baru dan lebih berkualitas." Queen menghentikan ucapannya untuk mengeluh, seolah mengungkapkan ketidak puasannya.
"Akan tetapi, terjadi perdebatan sengit tadi antara aku dan Ayah yang sangat melindungi barang-barangnya. Akhirnya, putrimu mengalah dan menuruti semua permintaan dari Ayah tadi. Bukankah aku sudah menjadi anak yang berbakti pada mertua, Dad."
"Alhamdulillah, ternyata putriku yang arogan sudah bisa merubah sifat buruknya. Sepertinya Daddy harus berterima kasih pada Aditya." Abymana beralih menatap ke arah menantunya yang berada tak jauh dari tempatnya setelah melepaskan pelukannya. "Terima kasih Aditya. Karena kamu sudah bisa merubah putriku yang nakal ini menjadi lebih baik. Semoga selamanya kalian berdua hidup berbahagia."
"Aamiin ya rabbal alamin," sahut Aditya seraya mengusap telapak tangannya ke wajahnya untuk mengaminkan doa dari mertuanya yang merupakan salah satu konglomerat di Jakarta.
"Alhamdulillah Pa, ini semua karena Allah SWT yang memberikan hidayah-Nya pada istriku. Saya hanya perantara saja." Berjalan mendekati mertuanya dan mencium punggung tangan pria yang masih terlihat tampan dan gagah meski usianya sudah tidak muda lagi.
__ADS_1
"Aku sangat suka dengan setiap kata demi kata yang keluar dari mulutmu itu, Aditya. Karena setiap kalimat yang kamu ucapkan itu penuh dengan kata-kata bijak," ucap Abymana yang sudah menepuk bahu kokoh sang menantu dan tak lupa senyuman terbit dari wajahnya. "Karena itulah kamu menjadi menantu kesayangan mommy-nya Queen."
"Alhamdulillah, terima kasih Pa dan juga Mama yang selalu mendukungku selama ini. Mungkin aku tidak akan pernah bisa sampai pada titik ini tanpa kalian. Karena aku hanyalah seorang pria biasa dari keluarga yang sederhana." Aditya kemudian beralih memeluk mertuanya.
"Jangan pernah mengatakannya lagi di depanku!" sahut Abymana seraya menepuk bahu kokoh itu.
"Iya Pa, aku akan selalu mengingatnya. Maafkan aku," jawab Aditya dengan wajah penuh penyesalan.
Entah mengapa, Queen yang dari dulu mempunyai sifat yang keras, sekaligus tidak gampang meneteskan air mata di depan orang lain, mendadak sifatnya seolah berubah begitu melihat pemandangan 2 pria yang sama-sama mempunyai tempat khusus di hatinya tersebut terlihat seperti ayah dan anak. Bahkan tanpa ijinnya, bulir bening sudah jatuh dari pelupuk matanya.
"Aaarrh ... Daddy dan My hubbiy sangat manis sekali. Meski suamiku bukanlah anak kandung dari Daddy, tapi kasih sayang yang ditunjukkan oleh Daddy terlihat sangat nyata dan seperti sosok ayah kandung. Alhamdulillah, semoga selamanya kebahagiaan ini melingkupi keluarga kami. Terima kasih Tuhan, atas semua kebahagiaan yang Engkau berikan," batin Queen.
Tanpa membuang waktu, Queen ikut menghambur memeluk ke arah 2 pria yang saling berpelukan itu. "Aku sangat bahagia hari ini, karena memiliki 2 pria hebat di sisiku. Terima kasih Dad, dan juga My hubbiy. I love you so much."
"Dia masih belum bisa menghilangkan kebiasaannya berbicara asing. Apalagi Queen cukup lama berada di New York. Maklumi saja istrimu, Aditya. Lebih baik kamu segera ke ruanganmu, karena seorang wakil presiden direktur harus memberikan sebuah contoh yang baik untuk para staf perusahaan. Agar mereka tidak membicarakan kinerjamu. Pergilah, aku yang akan mengantar gadis arogan ini ke rumah sakit," ucap Abymana yang sudah melepaskan pelukannya pada menantu dan putri satu-satunya.
Aditya langsung menganggukkan kepalanya, "Baiklah, Pa. Kalau begitu, saya permisi dulu untuk ke ruangan saya. Saya titip istriku yang sangat nakal ini."
Abymana hanya terkekeh menanggapi perkataan dari Aditya. Sedangkan Queen terlihat mengerucutkan bibirnya karena merasa kesal.
"Siapa yang nakal sebenarnya, dasar suami lempar batu sembunyi tangan. Awas saja nanti," rengut Queen saat sang suami sudah berjalan meninggalkannya bersama daddy-nya keluar dari ruangan meeting.
Tentu saja kalimat kekesalan dari sang istri saat ia berlalu pergi dari ruangan tersebut bisa didengar olehnya. Akan tetapi, ia sama sekali tidak menanggapinya dan terus berjalan dengan senyuman terbit dari wajahnya.
__ADS_1
Sedangkan Abymana sudah merangkul pundak dari putrinya dan mengajaknya untuk segera pergi. "Ayo, Daddy akan mengantarmu ke rumah sakit. Sekalian ada hal penting yang ingin Daddy bicarakan."
Queen yang sudah melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki panjang sang daddy, sekilas menoleh ke arah kiri. "Hal penting apa Dad?"
"Kita bicarakan saat kita sudah sampai di mobil," jawab Abymana yang sudah melangkah masuk ke dalam lift khusus para petinggi perusahaan.
"Baiklah, terserah Daddy saja." Queen kini sibuk menebak-nebak tentang hal yang ingin dibicarakan oleh daddy-nya.
"Sebenarnya apa yang ingin dibahas oleh Daddy? Sepertinya ini adalah sebuah hal yang penting, karena itulah Daddy tidak sabar menunggu hingga nanti malam," gumam Queen.
Beberapa saat kemudian, Abymana dan Queen sudah masuk ke dalam mobil mewah berwarna hitam setelah sang supir membukakan pintu dan membungkuk hormat. Kini, keduanya sudah duduk di kursi belakang.
Abymana mulai membuka suaranya, "Ini masalah acara resepsi pernikahan kalian dan juga mengenai sidang Reynaldi yang mengharuskan Aditya datang ke pengadilan sebagai korban. Menurut Daddy, Aditya harus datang besok. Agar persidangan cepat selesai dan tidak menggangu ketenangan dari keluarga Raharja. Karena Daddy sangat risi saat melihat dan mendengar permohonan dari mama kandung Aditya."
"Wanita tua itu benar-benar sangat merepotkan. Sepertinya aku harus bertindak tegas padanya, agar dia merasa sadar diri dengan siapa berhadapan. Queen adalah seorang wanita yang menjunjung tinggi keadilan. Bukanlah tipe yang gampang luluh dengan rayuan gombal dari orang-orang munafik," sarkas Queen dengan tatapan penuh kilatan amarah, tak lupa tangannya yang sudah mengepal.
"Ingat Queen, meski dia bukanlah seorang wanita yang baik, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa dia tetap mertuamu. Kalau orang lain, mungkin Daddy sudah menghancurkan mereka sampai ke akar-akarnya," ucap Abymana untuk mengingatkan putrinya yang terlihat sudah mengepalkan tangannya.
"Akan tetapi, kali ini Daddy merasa sangat tidak enak pada suamimu. Meski ia bilang tidak akan memperdulikan ibu kandung dan adik tirinya, tapi Daddy sangat yakin kalau jauh di lubuk hati Aditya, terselip sebuah rasa bersalah dan juga tidak tega. Dan tugasmu adalah menghilangkan hal itu setelah persidangan besok. Rubahlah Aditya menjadi sosok suami yang tegas, pada semua orang yang bersalah."
"Baiklah Dad, aku akan berusaha untuk merubah sifat lembek dari suamiku. Tidak ada yang tidak bisa aku lakukan, karena aku adalah nona muda Queen yang jenius," jawab Queen dengan penuh keyakinan.
TBC ...
__ADS_1