Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Membuat gempa bumi


__ADS_3

Aditya seketika berjalan mendekati sang istri yang masih menangis tersedu-sedu seraya memegangi ponselnya. Ia merengkuh tubuh wanita yang sesekali bergetar karena efek menangis ke dalam pelukannya. "Hei, kenapa menangis? Apakah kamu sangat merindukan dia?"


Queen masih terus menangis dan menangis, ia tidak mampu menjawab pertanyaan dari pria yang sudah memeluknya dengan sangat erat. Yang ia lakukan hanyalah ingin melepaskan apa yang ia rasakan dengan cara menangis untuk meluapkan perasaannya. Tangannya memeluk pinggang kokoh suami yang sudah merubah perasaannya.


Aditya menepuk-nepuk bahu belakang Queen, agar merasa sedikit terhibur dan berhenti menangis. "Sayang, jangan menangis lagi. Sekarang jelaskan apa yang sebenarnya terjadi!"


Sementara itu, Boby yang mendengar suara tangisan dari menantunya, seketika buru-buru datang ke dapur untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Namun, pemandangan di depannya yang melihat putranya tengah berusaha mendiamkan istrinya agar berhenti menangis, sontak membuatnya mengalihkan pandangannya ke arah penggorengan. Akhirnya ia berjalan ke arah kompor dan memeriksa ayam yang sudah berwarna kecoklatan itu.


Aditya menatap ke arah sang ayah yang sudah membalik ayam yang digorengnya tadi. "Maaf Yah, karena membuat Ayah harus repot turun ke dapur."


"Tidak apa-apa, ini sebentar lagi juga matang ayamnya. Tinggal ditiriskan setelah diangkat. Ada apa dengan menantu, kenapa menangis? Kalian habis bertengkar?" tanya Boby Syaputra yang mulai mengangkat ayam dari penggorengan.


Aditya langsung mengendikkan bahunya, seolah menegaskan bahwa ia sendiri pun tidak mengetahui apakah alasan yang menyebabkan istrinya bisa sampai menangis tersedu-sedu. "Sayang, Ayah tanya tuh! Jangan membuat Ayahku salah paham padaku, karena berpikir aku telah menyakitimu."


Queen menggelengkan kepalanya dan menyerahkan ponsel yang berada di tangannya. Masih dalam posisi menangis, ia sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari pria yang mulai merenggangkan pelukannya.


Aditya langsung menerima ponsel pintar milik sang istri yang masih terisak di pelukannya. Kemudian ia mulai memeriksa benda pipih tersebut yang masih menampilkan gambarnya tengah berdiri di depan kompor di akun sosmed istrinya. Netra pekat miliknya tengah serius membaca komentar panjang lebar dari akun dengan nama Elfaiza husband.


"Sayang, ini akun sosmed milik hot daddy-mu itu kan?"


Queen hanya bisa menganggukkan kepalanya, tanpa berniat mengeluarkan suaranya. Karena rasa sesak di dadanya, membuat suaranya seolah tercekat di tenggorokannya.


"Astaghfirullah ... aku pikir kamu sangat merindukan pria itu tadi, tapi ternyata kamu merasa terharu dengan kata-kata dari Daddy-mu? Aah ... Sayang, cup ... cup ... cup." Aditya tidak berhenti mengusap punggung sang istri yang sudah tidak sekeras tadi menangisnya.


Queen mengusap kasar bulir bening yang berada di wajahnya. "Aku bukan anak kecil, My hubbiy. Aku benar-benar sangat terharu dengan kata-kata dari Daddy Azriel. Ternyata Daddy sangat menyayangiku dengan tulus seperti putrinya sendiri, tapi aku yang dari kecil terobsesi padanya dan menyalah artikan kasih sayangnya padaku. Aku memang benar-benar sangat bodoh, karena berpikir Daddy Azriel menyukaiku."

__ADS_1


"Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Jadikan semuanya sebagai sebuah pelajaran untuk menjadi manusia yang lebih baik, oke. Sekarang ayo kita bantu Ayah menaruh makanan di meja makan! Lihatlah, bukannya menantu yang melayani mertuanya, tapi malah mertua yang melayani menantunya." Aditya mengarahkan dagunya ke depan, di mana sang Ayah sedang sibuk memindahkan semua masakannya ke mangkuk dan piring.


"Maaf," ucap Queen yang merasa sangat menyesali perbuatannya. Ia bangkit dari kursi dah melepaskan pelukan suaminya, lalu berjalan mendekat ke arah mertuanya. "Biar Queen yang membawanya Yah."


"Tidak apa-apa Nak, seharusnya kamu duduk saja, karena sedang hamil. Biar Ayah dan Aditya yang menyiapkannya," ucap Boby Syaputra yang berusaha menghentikan menantunya yang tentu saja ia ketahui terbiasa dilayani sejak kecil. Sehingga merasa tidak enak jika menantunya yang seperti putri raja itu harus susah payah saat tinggal di rumahnya. Boby Syaputra memberikan sebuah kode kepada putranya agar menghentikan istrinya yang baru saja membawa piring berisi ikan balado dan ayam Kentucky.


"Jangan buat putri mahkota dari keluarga Raharja bekerja keras di sini, putraku. Istrimu sudah terbiasa dilayani, jadi jangan buat dia menjadi pelayan di rumah kita," ucap Boby pada putranya dengan suaranya yang lirih.


"Tidak apa-apa Yah, biarkan istriku berubah menjadi seorang wanita yang Sholihah dengan melayani suami dan mertuanya. Lagipula tidak setiap hari dia ada di sini," jawab Aditya yang sudah meraih mangkuk berisi sayur asem.


"Ayah merasa tidak enak pada mertuamu, Aditya," sahut Boby yang sudah berjalan ke arah meja makan.


"Tidak perlu menganggapku istimewa, Yah. Aku suka melakukan ini, asalkan tidak menyuruhku untuk memasak. Karena aku memang tidak bisa memasak dan juga takut terkena minyak panas saat memasak." Queen yang mendengar pembicaraan dari 2 pria tersebut, akhirnya menengahi perdebatan dari ayah dan anak yang membahas tentangnya.


"Tuh kan, menantumu saja sama sekali tidak keberatan, Yah. Jadi, buat apa Ayah merasa tidak enak." Aditya mengarahkan tangannya untuk mengajak sang istri duduk di sebelahnya. "Sekarang kita makan, Sayang! Bukankah tadi kamu bilang ingin menjadi seorang juri untuk menilai masakan dari suamimu?"


Boby Syaputra hanya menganggukkan kepalanya seraya terkekeh. "Iya, kamu coba saja masakan dari suamimu. Kalau Ayah kan sudah terbiasa."


Queen menyadari kebodohannya dan hanya menggaruk tengkuknya. "Oh iya, Ayah benar juga. Kalau begitu, aku mau mencobanya dulu, Yah."


"Silahkan Nak," jawab Boby yang merasa sangat senang saat melihat raut wajah bahagia dari menantunya.


Sedangkan Aditya hanya geleng-geleng kepala saat melihat istrinya sudah mengambil nasi beserta sayuran dan Ayam goreng buatannya. Ia tidak berkedip mengamati ekspresi dari wajah wanita yang sudah mulai mengunyah makanannya. "Bagaimana Sayang? Enak?"


Queen yang sudah mengunyah makanan yang ada di mulutnya, seolah menikmatinya dan masih belum berkomentar apa-apa. Hingga makanan yang dikunyahnya habis, ia baru mengangkat 2 jempolnya. "Sangat enak My hubbiy, kamu benar-benar mempunyai bakat untuk menjadi Chef. Ini ayam saos kejunya benar-benar menggugah selera orang yang melihatnya."

__ADS_1


"Aku jadi mempunyai ide untuk membuat menu ini di restoran yang ada di hotel Raharja. Nanti aku akan berbicara dengan Chef yang ada di sana untuk menambah menu andalan restoran dengan menu dari My hubbiy tercinta." Melanjutkan kegiatannya untuk menghabiskan makanannya.


"Alhamdulillah kalau kamu sangat menyukai masakanku, Sayang." Aditya mengambil nasi dan sayur, serta lauk pauk yang ada di meja. Lalu, ia mulai menikmati makanannya.


"Beginilah nasib mempunyai seorang istri wanita yang bukan merupakan orang sembarangan. Aku tidak boleh berharap banyak pada istriku untuk dilayani saat makan. Tentu saja ia tidak akan mengerti tanggungjawabnya untuk mengambilkan makanan suaminya," gumam Aditya.


"Sayang, malam ini kita menginap di sini ya? Semalam saja kita tidur di sini untuk menemani Ayah. Bukankah kamu akan merenovasi rumah ini? Jadi, anggap saja hari ini kita mengukir kenangan di rumah ini," ucap Aditya seraya menatap intens wajah cantik istrinya yang sedang mengunyah makanan.


Mendengar permintaan dari suaminya, membuat otak Queen langsung traveling ke ranjang yang menurutnya sudah sekarat dan tidak layak pakai tadi saat digunakannya untuk berbaring.


"Apa lagi ini, My hubbiy benar-benar membuatku tidak bisa berkutik di depan Ayah. Masa seorang nona muda harus tidur di ranjang berdecit dan berisik itu. Bagaimana jika nanti malam suamiku meminta bercinta? Apakah akan terjadi hal yang aku takutkan? Astaga, kenapa aku bisa berpikir mesum hingga ke sana? Aku sudah benar-benar gila, karena berpikir akan bercinta di ranjang yang sudah mengenaskan itu," batin Queen.


"Sayang, kenapa malah melamun?" tanya Aditya dengan tersenyum menyeringai, karena ia mengerti dengan apa yang saat ini tengah dipikirkan oleh wanita di sampingnya yang tengah melamun.


"Eh ... tidak apa-apa My hubbiy. Baiklah, kita menginap di sini saja. Karena besok, rumah ini sudah di renovasi," jawab Queen dengan menatap ke arah mertuanya. "Ayah tidak keberatan bukan?"


"Tidak menantu, seharusnya Ayah berterimakasih padamu, karena akan membangun rumah Ayah yang memang sudah tidak layak ini."


"Jangan bicara seperti itu Yah, aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk Ayah. Terima kasih Yah," ujar Queen yang terlihat berbinar.


Boby Syaputra hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sedangkan Aditya mendekatkan bibirnya di telinga sang istri untuk membisikkan sesuatu. "Nanti malam, kita coba pengalaman seru saat membuat gempa bumi di atas ranjang yang kamu bilang berdecit tadi, Sayang."


Queen refleks langsung mencubit paha pria yang menurutnya sudah sangat nakal itu. Bahkan tatapan mata tajam ia arahkan pada suaminya yang sudah tersenyum smirk ke arahnya.


"Benar kan apa yang aku takutkan, suamiku benar-benar sangat nakal. Awas saja nanti saat ada di dalam kamar, aku cubit habis-habisan perutnya," gumam Queen.

__ADS_1


TBC ...


__ADS_2