Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Apakah hari ini adalah hari terakhirku?


__ADS_3

Mobil yang membawa Reynaldi dan orang tuanya sudah tiba di sebuah restoran yang merupakan tempat favorit keluarga besarnya. Untuk merayakan kebebasannya, Reynaldi ingin makan sepuasnya di tempat yang biasa ia kunjungi dulu. Dengan langkah kaki panjangnya, ia berjalan masuk ke dalam restoran dan langsung duduk di kursi yang berada di sudut ruangan.


Begitu juga dengan orang tuanya yang langsung duduk di depannya dan langsung memanggil waiters untuk segera memesan makanan.


Reynaldi bangkit dari kursinya, "Pa, Ma, aku ke toilet dulu."


Desy mengangguk perlahan dan mendongak menatap ke arah putranya yang berdiri menjulang di depannya. ""Iya, Nak. Kamu seperti biasa, kan? Atau ingin makan yang lain?" Masih memegang daftar menu di tangannya.


"Yang seperti biasanya, Ma. Aku sudah lama tidak makan seafood. Jadi, aku ingin makan sepuasnya hari ini." Reynaldi berjalan menuju toilet setelah menjawab pertanyaan dari mamanya yang sudah mengiyakan perkataannya.


Dengan langkah kaki panjangnya, ia berniat masuk ke dalam toilet. Namun, netra pekatnya menangkap siluet dari seorang wanita berseragam cleaning service yang tengah mengepel lantai dengan posisi memunggunginya.


"Kenapa aku seperti pernah melihat wanita itu? Mungkin hanya mirip," lirih Reynaldi yang langsung berjalan masuk ke dalam toilet karena sudah merasa tidak tahan menahan ingin buang air kecil.


Sementara itu, wanita yang terlihat tengah sibuk mengepel lantai di dekat area toilet, menghapus peluh yang menetes di pelipisnya. Hingga suara dari seseorang yang merupakan manager restoran, memanggil namanya.


"Dewi, cepat cuci semua piring kotor di dapur. Hari ini ada banyak pelanggan yang datang. Cepat kerjakan tugasmu dengan menyelesaikan mengepelnya!" ucap pria berusia sekitar 40 tahunan yang menjadi manager di restoran.


Dewi menganggukkan kepala, "Baik, Bos. Saya taruh ini dulu di gudang." Mengarahkan pandangannya pada alat pel yang dari tadi dipegangnya dan juga trolley cleaning service di sebelah kanan ia berdiri.


"Baiklah. Aku mau pergi ke toilet, karena itulah, aku sekalian memanggilmu." Berjalan meninggalkan Dewi dan menuju ke toilet.

__ADS_1


Dewi pun membereskan peralatan cleaning service yang ada di trolley dan begitu selesai, ia berjalan ke arah gudang yang ada di sebelah toilet. Namun, saat ia melewati toilet pria, indera penglihatannya menangkap siluet seorang pria yang baru saja keluar.


"Pria itu ... sepertinya aku pernah melihatnya. Akan tetapi, siapa? Aku lupa, mungkin hanya perasaanku saja yang menganggapnya mirip dengan seseorang," gumam Dewi yang terus melangkahkan kakinya dan melewati pria yang sudah melakukan gerakan menyisir rambut menggunakan sela-sela jarinya.


Reynaldi menoleh sekilas ke arah sosok wanita yang baru saja lewat di depannya dengan mendorong trolley cleaning service. Bisa dilihatnya dengan jelas wajah wanita yang masih sangat ia hafal wajahnya, karena menjadi orang pertama yang menggagalkan rencananya dulu hingga membuatnya harus mendekam di dalam sel yang dingin selama 3 tahun.


"Hei kau, berhenti!" hardik Reynaldi yang langsung berjalan untuk mendekati wanita yang sangat ingin dihancurkannya.


Kini, Reynaldi sudah berada tepat di hadapan Dewi dan mengarahkan jari telunjuknya ke arah depan. "Bukankah kau si donor darah itu, bukan?"


Dewi yang awalnya merasa sangat heran karena dipanggil oleh pria yang sama sekali tidak dikenalnya, menghentikan langkahnya saat langkah kakinya dihadang oleh pria yang berdiri menjulang di depannya. Hingga ia mulai mengingat sosok pria yang tak lain adalah saudara tiri dari pria yang pernah ia donorkan darahnya.


Karena itulah dirinya sampai melupakan pria dengan rambut sedikit panjang dan ditumbuhi bulu-bulu halus di area dagu dan sekitar bibir. Tentu saja itu disebabkan penampilan yang sangat jauh berbeda dari yang dulu dilihatnya.


Reynaldi refleks langsung bertepuk tangan dan tersenyum menyeringai. "Tenyata kamu pun belum melupakanku. Baguslah, jadi aku sudah tidak perlu repot-repot mengingatkanmu. Sepertinya Tuhan berpihak padaku karena membuat pekerjaanku lebih mudah."


Dewi mengerutkan kening karena tidak mengerti dengan kalimat ambigu dari pria yang ada di hadapannya. "Apa maksud Anda, Tuan. Pekerjaan apa yang Anda maksud? Maaf, saya harus segera pergi karena harus bekerja. Jadi, tolong menyingkir dari hadapan saya."


Reynaldi yang masih tidak memperdulikan perkataan dari Dewi, mengamati penampilan wanita di depannya, mulai ujung kaki hingga kepala.


"Apa yang dilakukan Queen? Bukankah kamu adalah wanita yang sangat disukai olehnya. Sepertinya kau telah melakukan sebuah kesalahan besar dan berakhir menjadi sampah tidak berguna. Menyedihkan."

__ADS_1


Sementara itu, Dewi hanya bisa tersenyum kecut karena merasa sangat kesal mendengar kalimat terakhir yang menurutnya sangat kasar.


"Anda benar-benar tidak sopan, Tuan. Tolong jaga sopan santun Anda pada seorang wanita!" sarkas Dewi dengan sangat kesal dan tanpa memperdulikan pria yang masih berdiri menjulang di depannya, ia berjalan melewatinya untuk masuk ke dalam gudang dan menaruh peralatan kebersihan itu.


Sedangkan Rey yang semakin dibakar amarah, mengepalkan tangannya dan karena melihat suasana di sekitarnya sepi, ia mengejar Dewi yang sudah masuk ke dalam gudang.


"Kamu harus menebus kesalahanmu dulu," hardik Reynaldi yang langsung menutup pintu gudang tersebut dan menguncinya dari dalam.


Dewi yang berniat untuk keluar dari gudang, merasa sangat terkejut saat ruangan pengap nan sempit itu tertutup. "Apa kau sudah gila! Kenapa kau ikut masuk ke sini dan menutup pintunya! Cepat buka pintunya, atau aku akan berteriak dan membuat semua orang menghajarmu habis-habisan karena bersikap kurang ajar pada pegawai restoran."


Reynaldi yang sudah menatap tajam Dewi, sama sekali tidak memperdulikan teriakan kemarahan itu. Karena saat ini, yang ada di kepalanya adalah ingin membalas dendam, agar hatinya merasa puas melihat kehancuran dari wanita yang berdiri di hadapannya.


"Berteriaklah sekuatnya dan aku akan mengatakan pada semua orang bahwa kamulah yang menggodaku. Kita lihat siapa yang akan mereka percayai. Orang sepertiku, atau wanita dari kasta rendahan sepertimu. Bahkan seorang nona muda Queen saja sudah membuangmu dan membuatmu bekerja sebagai cleaning service di sini."


Reynaldi tersenyum smirk dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan sempit di hadapannya untuk mencari sesuatu.


Dewi yang merasa sangat gugup sekaligus ketakutan, kini berpikir bahwa nyawanya berada di ujung tanduk. Dan berpikir bahwa dirinya tidak akan pernah bisa melawan pria di depannya, karena tenag yang tidak sebanding.


"Apa yang harus aku lakukan? Jika aku berteriak untuk meminta tolong, orang-orang akan lebih mempercayaiku, kan? Bukan mempercayai pria gila ini. Apa ini adalah hari terakhir aku berada di dunia ini? Apa dia akan membunuhku?" gumam Dewi di dalam hati.


TBC ...

__ADS_1


__ADS_2