
Malam semakin larut dengan cahaya gemerlap bintang yang menghiasi langit malam. Suasana Mansion Raharja pun kini sudah terlihat sangat sepi saat pukul 23.00 WIB, karena semua penghuni rumah megah bak istana itu telah masuk ke peraduannya masing-masing setelah cukup lama mengobrol tentang banyak hal. Dan atas permintaan dari orang tuanya dan adik perempuannya, Arthur sekeluarga menginap di Mansion karena sudah lama juga meninggalkan istana mereka.
Sedangkan Queen dan Aditya yang berada di dalam kamar, terlihat baru saja selesai menunaikan sholat isya berjamaah di kamarnya. Wajah bercahaya Aditya bisa dilihat jelas oleh Queen yang baru saja selesai mencium punggung tangan dari imamnya tersebut. Lalu, ia mulai melepaskan mukena yang yang dipakainya dan melipatnya.
"My hubbiy, kenapa kamu tidak menjadi imam untuk keluargaku saat sholat? Harusnya kesempatan tadi kita manfaatkan untuk sholat berjamaah, bukan sholat sendiri-sendiri seperti ini."
Aditya yang baru saja melepas songkok di kepalanya dan juga sarung tenun berwarna biru itu, hanya menggelengkan kepalanya. "Aku merasa tidak pantas untuk memimpin semua orang, Sayang. Kalau hanya menjadi imam Ayah dan kamu, aku tidak merasa keberatan. Akan tetapi, aku merasa tidak pantas jika menjadi seorang imam untuk semua orang-orang hebat dari keluarga Raharja, khususnya Papa."
Queen hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban dari sang suami yang menurutnya sangatlah konyol, karena ia sangat tahu bahwa kemampuan dalam hal agama dari suaminya itu jauh lebih tinggi dari semua keluarganya. Akan tetapi, suaminya selalu asyik merendah dan mengatakan belum memiliki ilmu agama yang cukup dan mumpuni. "Selalu saja merendah, padahal kenyataannya tidak begitu kan."
"Sudahlah, terserah kamu saja My hubbiy. Aku hanya bisa diam jika kamu tidak setuju dengan ideku tadi. Lebih baik aku tidur, rasanya tubuhku pegal-pegal semua ini. Pijat aku dulu ya, My hubbiy," rayu Queen seraya menampilkan wajah puppy eyes andalannya. Meski sejujurnya di dalam hatinya mengumpat perbuatannya.
"Padahal aku bisa pergi ke spa untuk melemaskan otot-ototku yang kaku karena sering bercinta dengan My hubbiy, tapi rasanya lebih enak dipijitin oleh suami sendiri daripada pijat di spa yang mengeluarkan biaya. Bukan karena tidak punya uang atau sayang uangnya, tapi dipijat suami sendiri termasuk ibadah," batin Queen yang sibuk tertawa di dalam hati dengan menahan diri sekuat hati agar tidak sampai tertawa di depan sang suami yang sudah berjalan ke arahnya. Dan langsung naik ke atas ranjang untuk duduk di sebelahnya.
"Karena itulah aku menyuruhmu untuk sementara mengambil cuti hamil, Sayang. Setelah trimester pertama ini berlalu, kamu bisa kembali bekerja. Lagipula, rumah sakitnya bahkan adalah milik keluargamu. Jadi, itu bukan menjadi masalah besar bukan," ucap Aditya yang sudah mengarahkan tangannya untuk memijat kaki jenjang nan putih sang istri yang sudah berbaring telentang di sebelahnya. Dengan gerakan tidak terlalu kuat, Aditya dengan sangat telaten memijat kaki Queen mulai dari bawah hingga ke bagian paha.
"Iya ... iya, aku paham Suamiku. Sudahlah, jangan cerewet, telingaku sudah cukup panas untuk mendengarkan omelanmu itu berkali-kali. Lanjutkan saja kegiatanmu karena pijatanmu sangat enak dan nyaman sekali, sehingga membuatku ketagihan." Queen berbicara dengan posisi mata tertutup karena ia sedang menikmati pijatan lembut dari pria yang masih memijatnya.
__ADS_1
Aditya hanya geleng-geleng kepala menanggapi kalimat bernada kasar dari wanita yang terlihat memejamkan matanya. Meski ia tahu itu adalah kalimat kasar, tapi ia sudah terbiasa dengan semua itu seolah sudah menjadi makanannya sehari-hari. Dan ia hanya melanjutkan kegiatannya yang masih terus memijat. Beberapa menit kemudian, suara napas teratur bisa terdengar jelas dari sang istri.
"Lihatlah, sang tuan putri langsung tertidur saat merasa keenakan," ucap Aditya yang bangkit dari ranjang dan menutupi tubuh seksi Queen yang memakai lingerie berwarna hitam dengan selimut tebal berwarna pink. Ruangan kamar dengan dekorasi interior yang didominasi warna pink itu seolah sama sekali tidak mencerminkan kepribadian dari sosok wanita arogan yang sudah 1 bulan lebih dinikahinya.
Mulai dari korden, selimut, kain penutup ranjang king size, dinding berwarna pink mewakili suasana kamar tersebut. Awalnya tadi, ia merasa sangat terkejut begitu memasuki ruangan pribadi dari sang istri yang berwarna pink mewakili kesan feminim dari seorang wanita. Akan tetapi, tidak berlaku pada wanitanya yang sangat jauh dari kata lemah lembut.
Aditya meraih ponsel miliknya dan langsung mencari daftar kontak yang ada di sana. Kemudian menekan tombol panggil dan menunggu jawaban dari seberang. Beberapa saat menunggu, akhirnya suara bariton dari seorang pria bisa didengarnya.
"Halo, assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam, ya Tuan muda. Apa Anda membutuhkan sesuatu?"
"Belum Tuan muda, karena saya baru saja memeriksa file yang dikirimkan oleh direktur keuangan tadi."
"Oh ... baiklah, kalau begitu aku ingin ke sana melihat. Sekalian belajar, karena aku tidak ingin terlihat bodoh di depan abang dari istriku. Dan ada sesuatu hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Baik Tuan muda, apakah Anda akan datang ke kamar saya? Atau mengobrol di ruangan lain?"
__ADS_1
"Di kamar kamu saja, karena ini adalah hal pribadi. Aku tidak ingin ada orang lain yang mendengarnya. Baiklah, aku sekarang ke sana."
"Baik Tuan muda."
Aditya langsung mengakhiri panggilan telepon dan meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas. Sekilas ia menatap ke arah wanita cantik yang terlihat seperti seorang bidadari itu sangat damai saat tertidur dengan pulasnya.
"Aku harus memberitahu pada Dave agar melupakan istriku dan tidak lagi menyimpan rasa yang tidak akan pernah terbalaskan. Mungkin jika aku memberikannya nasehat, dia akan mau membuka hati pada Sabrina. Aku sangat berharap Dave melupakan istriku dan bisa hidup berbahagia bersama dengan Sabrina. Semoga Allah SWT mengabulkan niat baikku ini, aamiin ya rabbal alamin."
Setelah mengaminkan doa dan harapannya, Aditya melangkahkan kakinya untuk berjalan keluar dari ruangan kamar menuju ke ruangan pribadi Dave yang ada di area depan, tak jauh dari Mansion utama.
Beberapa saat kemudian, ia sudah tiba di depan kamar Dave dan bisa melihat pria dengan tinggi badan lebih darinya itu sudah menyambutnya.
"Selamat datang Tuan muda, silahkan masuk." Dave membuka pintu kamarnya dan mengarahkan tangannya untuk menyuruh majikannya masuk. "Maaf sedikit berantakan."
"Tidak apa-apa, ini masih jauh lebih rapi daripada rumahku. Jadi, jangan sungkan dan menganggapku adalah orang berada," jawab Aditya yang sudah mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang menurutnya terlihat sangat rapi dan mewah.
"Baik Tuan muda. Sebenarnya apa yang ingin Anda katakan pada saya? Apa maksud urusan pribadi tadi?"
__ADS_1
"Oh ... itu, sebenarnya kedatanganku ke sini adalah untuk mengatakan sesuatu. Sebenarnya aku ...."
TBC ...