Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Penasaran


__ADS_3

Queen hanya terkekeh menanggapi pertanyaan dari sosok pria yang baru saja merebahkan tubuh kekar yang masih memakai jubah handuk berwarna gelap tersebut di sebelahnya. Jemari tangannya sudah memeluk dada bidang dan membenamkan wajahnya di pelukan sang suami.


"Nanti juga tahu sendiri, tunggu tanggal mainnya saja, My hubbiy." Memejamkan kelopak matanya dan sesekali menguap, seolah mewakili rasa kantuk yang teramat sangat dirasakan olehnya. "Aku ingin melanjutkan tidur yang tadi sempat terganggu."


Aditya sudah mengeratkan pelukannya pada tubuh sang istri yang meringkuk seperti bayi saat mengungkungnya. Seolah tidak membiarkan ia pergi atau beranjak dari ranjang, sehingga posisinya sudah dikunci oleh tangan dengan jemari lentik itu. Sejujurnya ia merasa sangat penasaran dengan apa yang ada di otak wanita yang sudah terdengar suara napas teratur dari bibir mungil nan sensual itu.


Namun, jawaban yang menegaskan bahwa sang istri tidak akan pernah memberi tahu tentang rencananya, tentu saja membuat ia hanya bisa menebak-nebak dan menunggu hingga sampai hari H. Yakni, 1 Minggu lagi.


"Kira-kira apa rencana istriku? Apakah dia akan membuat acara resepsi pernikahan Dave di lain hari, ataukah mengadakannya di tempat yang berbeda? Hanya 2 kemungkinan itu saja yang saat ini ada di pikiranku. Lebih baik aku berbicara pada mama untuk membahas hal ini. Bahwa putrinya sama sekali tidak berubah pikiran, meskipun sudah aku buat melenguh dan mendesah di atas ranjang dan di kamar mandi tadi," batin Aditya di dalam hati.


Untuk beberapa saat, Aditya menunggu hingga sang istri tertidur pulas. Karena tidak ingin mengganggu kenyamanan dari sang istri yang terlihat sangat lelah tersebut. Tentu saja ia bisa memahami bahwa wanita cantik yang saat ini tengah mengandung benihnya itu sering merasa mudah lelah, lemas dan muntah-muntah. Sehingga membutuhkan banyak waktu untuk beristirahat.


Setelah merasa wanita yang memeluknya erat itu tertidur pulas, Aditya dengan sangat perlahan melepaskan tangan yang memeluk dadanya dan meletakkannya di atas ranjang. Tak lupa ia sangat berhati-hati saat turun dari ranjang. Agar tidak menimbulkan suara berisik dari pergerakannya. Untuk sesaat, ia menatap wajah yang terlihat sangat damai saat tertidur tersebut, kemudian sudut bibirnya melengkung ke atas saat mengingat aksi liar yang beberapa saat lalu dilakukan oleh wanita secantik bidadari tersebut.


"Hamil, membuat istriku sangat agresif dan lebih bergairah. Aku baru tahu bahwa ada dampak positif dari kehamilannya," lirih Aditya dengan tersenyum tipis sebelum berjalan ke arah walk in closet untuk berganti pakaian santai.

__ADS_1


Ia memilih memakai kaos casual berwarna putih dengan celana panjang berbahan katun dengan merek H&M yang merupakan brand berasal dari Swedia dan beberapa tahun terakhir sudah membuka gerai di Indonesia dan merupakan salah satu fashion terkini, karena bahan yang digunakan sudah teruji dan sangat berkualitas tinggi, sehingga sangat nyaman saat digunakan.


Semua barang bermerk yang memenuhi lemari kaca berukuran raksasa tersebut adalah pilihan dari sang istri dan membuat kehidupannya berubah total dalam segi penampilan. Karena ia sudah tidak lagi memakai pakaian yang dibeli di toko biasa, tetapi harus mengikuti kemauan dari sang istri yang selalu memakai barang-barang mewah dan selalu dibilang branded oleh orang-orang kaya.


"Harga 1 celana ini saja bisa untuk membeli 10 celana di toko baju langganan aku," ucap Aditya yang baru selesai memakai celana dengan potongan regular fit tersebut yang menurutnya sangat nyaman melekat di pinggang.


Kemudian berjalan keluar dari ruangan ganti, menuju ke arah meja rias untuk menyisir rambutnya yang agak sedikit basah. Setelah dirasa rapi, ia kembali melangkah ke arah pintu. Tangannya masih perlahan membuka kenop pintu agar sang istri tidak terbangun, tak lupa menutupnya perlahan.


Kakinya yang panjang sudah menuruni anak tangga yang ada di samping kanan kamarnya, ia berniat untuk menemui mertuanya yang diketahuinya sedang berada di taman depan Mansion mewah tersebut. Begitu melihat siluet dari wanita yang dicarinya, Aditya sudah berjalan mendekat.


"Ma, ada yang ingin aku bicarakan."


"Sepertinya kamu tidak mampu mengubah pendirian istrimu, Aditya." Berjalan ke arah kursi yang ada di bawah pohon palem dan meraih botol minuman yang ada di sana. Karena merasa sangat haus setelah berkutat dengan pekerjaannya yang hobi menanam bunga. Sehingga membuat taman yang ada di depan Mansion terlihat asri dan indah dengan banyaknya aneka bunga berwarna-warni yang menghiasinya.


"Ternyata Mama sudah tahu," jawab Aditya yang terlihat mengamati gerakan dari mertuanya yang sudah mendaratkan tubuhnya di kursi kayu berwarna putih tersebut. Sehingga ia pun mengikuti pergerakan mertuanya untuk duduk di depannya.

__ADS_1


"Queen memang seperti itu, tidak mudah untuk merubah apapun keinginannya. Sebenarnya aku dan papamu tadi sudah berpikir bahwa Queen akan merasa keberatan, tetapi kami hanya mencoba saja dan berharap apa yang kami pikirkan salah. Ternyata benar, istrimu masih tidak bisa menerima mantan kekasihmu," seru Qisya yang sudah meraih piring saji berbentuk pipih berisi pisang coklat itu ke arah menantunya. Kemudian ikut mengambil camilan ringan itu dan mulai mengarahkan ke mulutnya, mengunyah dan menikmati sensasi manis dari rasa coklat yang melumer di mulutnya.


Aditya belum bisa melanjutkan perkataannya karena sibuk menikmati camilan yang baru saja ditawarkan oleh sang mertua. Begitu sudah menghabiskannya, ia kembali melanjutkan perkataannya.


"Menurut Mama bagaimana? Bukankah Mama dan papa sudah mengatakan kepada orang tua Sabrina bahwa resepsi pernikahan dilakukan 1 Minggu lagi? Jika membatalkannya, apakah tidak apa-apa? Maksudku adalah, apakah nanti Mama dan papa tidak merasa sungkan pada orang tua dari Sabrina, karena tidak menepati janji. Aku tidak ingin membuat nama baik keluarga Raharja tercoreng hanya gara-gara masalah ini," ujar Aditya dengan tatapan penuh pertanyaan.


"Kami sudah memikirkan opsi lain."


"Opsi lain, apa, Ma? Oh ya, Ayah kemana, Ma?" Aditya mengarahkan pandangannya pada kegiatan para pelayan yang sibuk memangkas pepohonan yang sudah tidak beraturan. Sehingga kini terlihat lebih rapi dan semakin terkesan asri.


"Ada 2 pilihan nanti, yang pertama adalah ...." Qisya tidak melanjutkan perkataannya saat melihat pintu gerbang utama Mansion yang berwarna keemasan itu terbuka. Beberapa saat kemudian, mobil mewah Range Rover berwarna hitam sudah memasuki area dalam.


"Papa dan ayahmu sudah datang, mereka baru saja dari hotel Raharja. Untuk membicarakan tentang masalah resepsi pernikahan kalian dengan para staf hotel." Qisya bangkit berdiri, karena ingin menyambut sosok suami yang menurutnya sangat sempurna dan luar biasa dalam mencintainya.


Sementara itu, lagi-lagi Aditya diliputi rasa penasaran akan rencana dari mertuanya sambil bertanya-tanya di dalam hati.

__ADS_1


"Lagi-lagi aku dibuat penasaran oleh 2 wanita yang ada di keluarga Raharja. Sepertinya ibu dan anak ini sama-sama memiliki hobi untuk membuat seseorang penasaran. Meskipun sifat keduanya tidak sama dan sangat bertentangan," gumam Aditya yang mengikuti pergerakan dari mertuanya. Karena ia pun sudah berdiri dan menyambut 2 pria yang sudah berjalan semakin mendekat.


TBC ...


__ADS_2