
Aditya seketika menolehkan kepalanya saat mendengar suara teriakan dari Queen. Dan bisa dilihatnya wanita yang merupakan istrinya itu terlihat sangat dikuasai oleh amarah dengan mata merah yang menakutkan. Untuk menghentikan kesalahpahaman antara dirinya dan sang istri, buru-buru ia meraih pergelangan tangan dari wanita yang tengah menatap tajam pramugari.
"Sayang, kamu salah paham! Jangan memecat orang yang tidak bersalah! Tahan emosimu, ayo kita ke dalam! Aku akan menjelaskan semuanya padamu."
Queen refleks menghempaskan kasar tangan Aditya yang sudah menggenggam erat tangannya. Tatapan tajam diarahkannya pada pria yang berada di sebelahnya. "Diam! Kamu mau membela keong racun ini bukan?"
"Astaghfirullah ... istighfar Sayang, ini bukan seperti yang kamu pikirkan! Karena itulah dengarkan aku dulu!" Aditya berusaha untuk meredakan emosi dari sang istri yang saat ini masih menatap tajam ke pramugari yang dari tadi hanya diam dan menundukkan kepalanya karena merasa sangat takut.
Ya Allah, kenapa istriku malah salah paham dengan niat baikku. Kasihan pramugari tidak bersalah ini kehilangan pekerjaannya hanya gara-gara aku menyuruhnya untuk menyiapkan minuman hangat dan obat untuk istriku. Aku harus segera mengakhiri kesalahpahaman ini. Jangan sampai ada orang tidak bersalah yang harus menanggung kemurkaan dari istriku.
"Bukan seperti itu, Sayang. Ayo, kita bicarakan ini di dalam!" Tanpa menunggu jawaban dari sang istri yang murka, Aditya langsung meraup tubuh seksi itu ke atas lengan kokohnya dan membawanya masuk ke dalam kamar pribadi.
Queen seketika menjerit saat tubuhnya melayang di udara ketika diangkat oleh sang suami yang sudah menggendongnya ala bridal style ke arah kamar. Tentu saja ia yang masih sangat marah, menggerak-gerakkan tubuhnya mencoba untuk menolak perbuatan suaminya.
"Turunkan aku, apa kamu mau melindungi keong racun itu? Wanita rendahan sepertinya pasti berpikir ingin menggoda pria kaya dan menjeratmu agar bisa mengubah kehidupannya menjadi lebih baik. Wanita seperti itu adalah bibit-bibit pelakor yang membahayakan rumah tangga orang lain, karena mereka akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang di incarnya."
Tanpa memperdulikan rengutan dan kemarahan dari wanita yang digendongnya, Aditya mulai menurunkan tubuh sang istri di dekat ranjang dan menahan kedua sisi tangannya. Kemudian menatap dengan intens wajah cantik yang memerah karena dikuasai oleh amarah.
"Sayang, dengarkan aku!"
"Tidak mau, jangan bicara! Aku tidak mau mendengar apa pun!" Queen menutupi ke 2 telinganya.
"Aku mencintaimu!" teriak Aditya dengan tersenyum tipis. "Aku mencintaimu nona muda Queen Aqila Wijaya Raharja. Aku tidak akan pernah melirik atau pun tertarik pada wanita lain, karena hanya kamu yang aku cintai. Percayalah padaku, Istriku tersayang."
Meskipun Queen sudah menutupi telinganya, tentu saja dirinya bisa mendengarkan kalimat yang merupakan kalimat cinta dari pria yang masih menatapnya dengan tatapan penuh sarat makna. Seolah ingin menunjukkan rasa cintanya terhadapnya. Dan pernyataan cinta dari sang suami ibarat sebuah bongkahan es yang langsung berhasil menyejukkan hatinya yang tadinya dikuasai oleh api amarah.
"Kamu mau merayuku agar aku mau memaafkan si keong racun itu kan?"
Aditya menggelengkan kepalanya. "Bukan seperti itu, Sayang."
"Aku hanya ingin melindungi istriku agar tidak berbuat dosa, karena jika sampai istriku berbuat dosa, aku sangat takut akan adzab dan kemurkaan Allah SWT. Seperti yang berkali-kali aku katakan padamu bahwa aku ingin bergandengan tangan denganmu saat pergi ke Surga nanti."
Aditya mengajak wanita yang sudah mulai terdiam itu untuk duduk ke atas ranjang. Kemudian melanjutkan perkataannya untuk menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi.
"Aku tadi keluar untuk menyuruh pramugari menyiapkan minuman hangat untukmu. Karena kamu masuk angin, minum minuman hangat akan membuatmu lebih baik lagi. Selain itu, aku menyuruhnya untuk membawakan minyak angin dan obat. Hanya itu saja. Kamu percaya padaku kan?"
Queen merasa sangat malu atas perbuatannya begitu mendengar penjelasan dari pria yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan intens.
"Kamu tidak berbohong untuk melindungi si keong racun kan!" selidik Queen.
"Dia punya nama Sayang, jangan panggil dia keong racun. Itu tidak baik, apalagi menuduhnya tanpa alasan."
"Tidak penting, aku tidak tertarik mengetahui namanya."
__ADS_1
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu."
Aditya bangkit dari ranjang begitu mendengar suara dari pria yang berada di luar yang menyatakan pesanannya sudah siap.
"Tuan muda, ini minuman hangat untuk Nona muda."
"Terima kasih," jawab Aditya yang merasa mengerti kenapa pengawal yang mengantarkan pesanannya. Tentu saja agar tidak memancing amarah dari sang Nona muda yang sangat arogan yang tadi memecat pramugari tidak bersalah itu.
Aditya melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam dan langsung menghampiri wanita yang masih duduk di atas ranjang. "Minumlah, Sayang! Susu jahe ini akan menghangatkan tubuhmu!" Memberikan cangkir berwarna putih itu pada sang istri.
Queen langsung bergidik begitu melihat minuman yang tidak disukainya. Refleks ia menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau! Aku malah akan muntah jika minum susu jahe itu, kalau susu coklat aku suka? Akan tetapi, kalau susu putih rasanya aku mau muntah, apalagi ditambahkan jahe yang sangat tidak aku sukai.”
Akhirnya Aditya meminum sendiri susu jahe yang ditolak oleh sang istri. "Ya sudah, aku minum sendiri saja kalau kamu tidak mau. Lebih baik kamu minum obat ini saja!" Menyerahkan obat ke tangan sang istri.
"Aku sudah bosan minum obat dari kecil. Tenang saja, aku hanya ingin tidur. Setelah tidur pasti akan sembuh dengan sendirinya. Jadi, jangan berlebihan hanya karena aku masuk angin." Merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan membelakangi sang suami.
Lagi-lagi Aditya terlihat geleng-geleng kepala melihat tingkah kekanakan dari sang istri. Memang membutuhkan ekstra kesabaran dalam menghadapi sikap dari seorang nona muda yang sangat arogan.
"Kalau aku mengoleskan minyak angin pada tubuhmu bagaimana, Sayang? Ini adalah minyak angin aromatherapy kualitas tinggi yang baik untuk menghilangkan masuk angin," rayu Aditya yang sudah mulai mendekati Queen.
"Tidak perlu, aku tidak suka minyak angin. Nanti tubuhku bau kayak nenek-nenek."
Dasar suami tidak peka sekali, aku tidak mau minum obat karena aku tidak ingin cepat sembuh agar kamu perhatian padaku. Apalagi kalau sampai aku pakai minyak angin, yang ada nanti kamu malah jijik padaku dan tidak mau memelukku. Karena aku hanya ingin tidur dengan kamu memelukku.
"Berisik sekali sih, sudah kubilang aku hanya ingin tidur! Jadi, jangan berisik!" ucap Queen dengan kesal.
"Baiklah ... baiklah, aku akan diam. Tidurlah!" Aditya ikut membaringkan tubuhnya di sebelah wanita yang masih memunggunginya. Dengan posisi miring menghadap sang istri, ia melingkarkan tangannya di perut datar Queen.
Seketika sudut bibir Queen melengkung ke atas begitu dipeluk oleh laki-laki yang sangat dicintainya.
My hubbiy ternyata pengertian sekali. Aaaarrhh ... aku suka.
Suasana di dalam ruangan pribadi itu untuk beberapa saat hening. Seolah keduanya tengah sibuk berkutat dengan pikirannya masing-masing. Hingga suara dari Aditya memecahkan keheningan.
"Sayang."
"Astaga, apa lagi?"
"Aku hanya sedang mengecek, ternyata kamu belum tidur."
"Astaga, konyol sekali perkataanmu itu."
"Sayang, ada yang ingin aku katakan padamu!"
__ADS_1
"Apa?"
"Akan tetapi, kamu harus berjanji jangan marah."
"Aku tidak bisa janji. Cepat katakan saja!" ucap Queen dengan tegasnya.
"Sebenarnya, seorang istri tidak boleh tidur membelakangi suami. Jadi, apakah kamu tidak merasa keberatan jika kamu tidur menghadap ke arahku?" Dengan suara penuh kelembutan, Aditya mencoba merayu wanita yang masih tidak bergeming dari posisinya.
Aku sangat mau tidur menghadap ke arahmu dan memelukmu My hubbiy. Akan tetapi, aku tidak mau kamu sampai mengejekku. Tahukah kamu bahwa aku mencoba sekuat tenaga untuk menahan diri? batin Queen.
Setelah menimbang-nimbang keputusan apa yang akan ia ambil, akhirnya dirinya memutuskan untuk menghadap ke arah pria yang berada di belakangnya yang masih memeluknya.
"Apa maksudmu seperti ini?"
Aditya awalnya hanya bisa diam menunggu sampai sang istri membuka suaranya. Hingga ia langsung menyunggingkan senyumannya saat tubuh Queen mulai bergerak dan menghadap ke arahnya.
"Alhamdulillah, iya seperti ini baru benar," ucap Aditya yang saat ini menatap wajah cantik yang juga tengah menatapnya. "Sayang, kamu cantik seperti seorang bidadari."
"Astaga, mulai lagi gombalnya," ucap Queen dengan bersungut-sungut.
"Aku tidak sedang gombal, tapi aku jujur padamu. Kalau tidak percaya, belah saja dadaku!" ucap Aditya seraya terkekeh.
Refleks Queen langsung tertawa terbahak-bahak begitu mendengar kalimat rayuan gombal yang sering diucapkan oleh para playboy dan para buaya darat bisa keluar dari mulut sang suami.
"Ya ampun, seorang Aditya pria yang Sholeh bisa berbicara seperti itu. Kamu hari ini salah makan apa sebenarnya?"
"Akhirnya aku bisa melihat senyuman di wajah cantikmu, Istriku sayang. Inilah tujuanku dari tadi, ingin membuat wajahmu yang bermuka masam itu berubah semanis madu saat sedang tersenyum." Aditya mendekatkan tubuhnya dan memeluk erat tubuh ramping Queen.
"Jadilah seorang istri yang manis seperti ini dan jangan meneruskan julukan nona muda arogan, Sayang. Aku tidak menuntutmu untuk langsung merubah dirimu seperti wanita yang kuinginkan, karena cinta sejati adalah menerima semua kelebihan dan kekurangan dari pasangannya. Aku tidak ingin merubahmu, tapi aku akan berdoa pada Tuhan agar kamu kelak menjadi seorang istri Sholihah."
Queen benar-benar sangat terharu dengan kata-kata penuh kelembutan dan penuh ketulusan dari pria yang masih memeluknya dengan sangat erat. Tentu saja dinding pertahanannya seketika langsung runtuh saat pria yang mulai dicintainya itu mengeluarkan kalimat sakral yang berhasil membuatnya meleleh.
Akhirnya tanpa membuang waktu lagi, ia mengangkat wajahnya dan menatap dengan intens wajah tampan yang sangat dipujanya itu.
"My hubbiy, aku mencintaimu!"
Queen langsung mengarahkan bibirnya untuk meraup bibir sang suami yang sudah membuatnya merasa tergila-gila.
Sedangkan Aditya merasa sangat terkejut mendapat serangan tiba-tiba dari sang istri yang sudah sibuk menyesap habis bibirnya. Tentu saja perbuatan dari Queen, membuat hasratnya seketika bangkit dan membuatnya tidak sanggup untuk menahan diri.
Dan untuk yang ketiga kalinya, keduanya mulai melakukan ritual suami istri untuk mengungkapkan perasaan bahagianya di ruang pribadi yang ada di dalam kabin pesawat.
TBC ...
__ADS_1