Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Sangat bodoh dalam menilai perasaan


__ADS_3

Setelah acara makan malam bersama selesai, kini semua orang yang sudah terlihat kekenyangan itu pindah ke ruang keluarga untuk melanjutkan acara mengobrol. Tentu saja untuk membahas banyak hal yang tadi belum selesai dibahas. Topik utama adalah mengenai persidangan yang akan berlangsung besok. Dan juga memberikan sebuah support pada Aditya agar kuat pendirian saat melihat adik tirinya akan divonis hukuman untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.


Karena semua orang sangat mengkhawatirkan sosok pria yang lemah hati dan terlalu baik itu. Hingga membuat orang-orang memberikan banyak nasehat agar Aditya tetap teguh pada pendirian awalnya, yakni menghukum Reynaldi.


Aditya yang sedang duduk di sebelah sang istri, terlihat berkali-kali menganggukkan kepalanya saat satu persatu orang-orang mengeluarkan petuahnya. Bahkan dirinya merasa sudah seperti anak kecil yang sudah berbuat kesalahan dan mendapatkan omelan.


Awalnya Queen ingin menjadi orang terakhir yang berbicara pada suaminya, tapi melihat pria tampan yang dari tadi hanya menganggukkan kepalanya tanpa berkata panjang lebar saat menanggapi pesan dari Daddy, Ayah mertua dan sang brother. Akhirnya ia merasa iba dan tidak ingin menambah beban pikiran pria yang sudah lama menjadi imamnya tersebut.


"Sepertinya sudah cukup sampai di sini kita membahas tentang masalah persidangan besok. Lagipula Sepertinya telinga suamiku sudah cukup panas karena mendengar petuah dari semua orang. Lebih baik sekarang kita mengobrol santai saja," ucap Queen yang mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


"Tumben, si nona arogan tidak cerewet hari ini. Kamu nggak mau nambahin sesuatu pada Aditya?" sahut Arthur.


Queen menggelengkan kepalanya, "Aku rasa sudah cukup. Jadi aku tidak perlu menambahkan lagi." Belum selesai ia berbicara, Queen mendengar suara ketukan pintu, dan membuatnya menolehkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang. Bisa dilihatnya Dave berjalan masuk ke dalam ruangan dengan membawa beberapa dokumen di tangannya.


Kaki panjang Dave mulai melangkah semakin mendekati atasannya. Dengan wajah lelahnya dan muka kusutnya, Dave mulai membungkuk hormat setelah menyapa semua orang yang ada di ruangan tersebut. "Ini dokumen yang Anda minta tadi Tuan besar." Menyerahkan beberapa dokumen di atas meja yang berada di depan majikannya.


Abymana meraih dokumen itu dan memeriksanya sekilas. Kemudian kembali meletakkannya di atas meja, dan menatap ke arah Dave yang berdiri menjulang di depannya. "Sepertinya kalian semua baru pulang dari lembur ya? Bahkan wajahmu terlihat sampai kusut begitu."


"Iya Tuan Abymana, ternyata efek lama tidak bekerja di perusahaan, membuat saya seperti orang bodoh saja tadi saat memeriksa beberapa dokumen dan laporan dari setiap divisi. Apakah Tuan tidak merekrut salah satu orang terpercaya dari perusahaan Raharja saja untuk menjadi wakil Anda? Sepertinya saya tidak pantas untuk menjadi wakil presiden direktur di perusahaan itu," ucap Dave yang merasa sangat tidak suka bekerja di perusahaan bekas tempat kerja suami dari wanita yang dicintainya.


"Kenapa? Apa kamu merasa tidak suka bekerja di sana karena ada wanita yang kamu sebut bar-bar tadi?" tanya Abymana seraya mengangkat kedua alisnya.


"Bukan karena itu Tuan Abymana, tapi karena saya sudah nyaman menjadi pengawal pribadi Nona muda Queen," jawab Dave yang menoleh ke arah majikannya yang terlihat duduk berdekatan dengan sang suami.

__ADS_1


Queen bisa melihat wajah kusut dari Dave saat tatapan matanya bersibobrok dengan netra pekat pria yang diketahuinya mempunyai perasaan padanya. "Sudahlah Dave, lebih baik kamu menikmati pekerjaan barumu dan membantu Daddy. Seharusnya kamu bangga karena dipercaya oleh Daddy."


"Ini semua demi kebaikanmu, Dave. Kamu harus melupakan aku dan membuang cintamu yang bertepuk sebelah tangan itu. Mungkin saat ini kamu akan tersiksa, tapi nanti kamu akan berterima kasih saat mulai jatuh cinta pada keong racun," gumam Queen yang tersadar dari lamunannya saat mendengar suara dari sang suami yang tertangkap indera pendengarannya.


"Apa yang dikatakan oleh istriku benar, Dave. Syukurilah apa yang saat ini telah kamu dapatkan. Anggap saja ini sebuah jalan untuk menuju kesuksesanmu sebelum menemukan calon istri. Karena jika kamu berhasil menduduki jabatan yang bagus, kelak kamu akan bisa bertanggungjawab pada wanita yang kamu nikahi. Bukankah begitu, Sayang?" tanya Aditya yang mengarahkan tangannya untuk mengusap lembut punggung tangan sehalus sutra itu.


Tatapan teduh yang menandakan bukti cinta yang teramat besar dari netra pekat Aditya, bisa dilihat jelas oleh Queen. Hingga seulas senyuman terbit dari wajahnya. "Iya, My hubbiy benar. Impian setiap wanita di dunia ini adalah ingin memiliki seorang suami yang mempunyai pekerjaan mapan, bukan pengangguran. Karena pada dasarnya wanita itu mempunyai sifat materialistis di dalam dirinya. Cuma, terkadang mereka mengendalikan diri dan menyembunyikan kenyataan itu agar terlihat seperti orang yang baik," ucap Queen dengan terkekeh.


"Dan pada kenyataannya perceraian semakin ramai karena alasan faktor ekonomi. Wanita tidak kuat saat diuji dengan kemiskinan, sedangkan seorang pria tidak kuat imannya saat diuji oleh kekayaan. Bukankah begitu?" tanya Arthur seraya menatap satu persatu orang-orang yang ada di ruangan itu dimulai dari orang tuanya, istri dan adik perempuannya bersama dengan suaminya. Terakhir adalah pria paruh baya yang merupakan mertua dari adiknya.


"Meski itu kata-kata yang cukup kasar, tapi memang pada kenyataannya seperti itu," jawab Abymana. Dan semua orang membenarkan perkataan dari Arthur dengan sebuah anggukan kepala.


"Terkadang kejujuran lebih menyakitkan daripada sebuah kebohongan yang terlihat manis, tapi sebenarnya hanya semu." Aditya menambahkan kalimatnya untuk membenarkan perkataan dari Arthur.


"Dan aku sudah seperti menjilat ludahku sendiri karena aku dulu pernah bilang pada Sabrina kalau aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Akan tetapi, aku malah berakhir bekerja di 1 perusahaan yang sama dengannya. Mimpi apa aku hingga sampai berakhir seperti seorang pria pecundang. Bahkan tadi dia sangat terkejut saat melihatku di lobby perusahaan bersama Tuan Abymana," batin Dave.


"Ya sudah, lebih baik kamu istirahat sana!" ujar Abymana. "Dalam waktu 1 bulan, kita harus bekerja keras untuk memajukan perusahaan dengan mencoba ide-ide baru dan tidak membawa pemikiran lama dari pemilik perusahaan yang dulu. Karena sistem kerja dan segala aspek yang mencakup perusahaan akan dirubah sesuai dengan sistem kerja Perusahaan Raharja," ucap Abymana.


"Baik Tuan Abymana, kalau begitu saya permisi dulu." Dave membungkuk hormat pada semua orang sebelum berlalu pergi. Kemudian ia mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut. Namun, baru beberapa langkah, suara dari wanita yang masih sangat dicintainya itu membuatnya menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sang nona muda yang saat ini memakai dress panjang berwarna hitam dan hijab senada.


"Besok, semua keluarga Raharja akan menghadiri persidangan Reynaldi. Jadi, urusan perusahaan kamu urus saja!" ucap Queen dengan tatapan yang masih intens menatap ke arah Dave yang mematung tak jauh dari tempatnya.


"Baik Nona muda Queen "

__ADS_1


"Bagus, semoga kamu berjodoh dengan si keong racun itu, Dave," ucap Queen dengan terkekeh.


"Saya tidak akan pernah mengaminkan doa dari Nona muda," jawab Dave kembali berjalan dan beberapa saat kemudian menghilang di balik pintu.


Sedangkan semua orang kini tengah mengarahkan pandangannya pada Queen. "Sepertinya sekarang kamu mulai menyadarinya, Queen," ujar Arthur yang tersenyum menyeringai.


"Sepertinya begitu, karena dari dulu Queen selalu marah saat aku ingin merekrut Dave untuk kembali ke perusahaan," jawab Abymana.


Queen yang sudah mengerutkan keningnya itu mulai menatap ke arah Arthur dan sang daddy secara bergantian. "Tunggu, memangnya kalian semua tahu bahwa ...."


"Bahwa Dave menyukaimu?" sahut Qisya.


"Jadi, kalian semua sudah tahu?" tanya Queen dengan membulatkan kedua matanya. "Ini sebenarnya aku yang bodoh atau kalian yang terlalu pandai sih?"


Melihat raut wajah penuh kekesalan dari Queen, malah membuat semua yang ada di ruangan keluarga itu terkekeh. Hanya 2 orang pria yang tidak mentertawakan kebodohan Queen. Yakni, Aditya dan ayahnya.


Sedangkan Queen yang berwajah masam, masih mengerucutkan bibirnya. Rasa kesal bercampur malu benar-benar dirasakan olehnya. Seolah dirinya adalah orang yang sangat bodoh karena tidak bisa membaca pengawal pribadinya jatuh cinta padanya.


"Kalian semua sukses membuat aku terlihat sangat bodoh," rengut Queen dengan wajah masam dan kusut seperti kertas yang diremas-remas.


"Seorang Nona muda arogan yang jenius ternyata sangat bodoh dalam menilai seseorang," ejek Arthur dengan tidak berhenti tertawa.


TBC ...

__ADS_1


__ADS_2