Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Dasar anak durhaka


__ADS_3

Aditya yang bisa melihat pikiran sebenarnya dari adiknya tersebut, berpura-pura mempercayai semua yang dikatakan oleh Reynaldi. Mulai dari perkataan menyesal dan sudah bisa menerima kenyataan bahwa Queen adalah kakak iparnya. Serta berjanji tidak akan menggangu keutuhan rumah tangganya karena memandang kebesaran keluarga Raharja.


Beberapa saat kemudian, terlihat pengacara dari Reynaldi yang datang untuk memberitahukan bahwa sidang akan dimulai. Tak lupa di belakangnya ada 2 polisi yang tadi diminta untuk berjaga di luar pintu, sudah datang untuk mengawalnya.


"Sudah waktunya sidang putusan hakim dimulai, Tuan Reynaldi."


"Akhirnya, aku akan mengetahui berapa lama hukuman yang aku terima karena mencoba melakukan pembunuhan pada saudaraku sendiri," jawab Reynaldi yang tersenyum tipis pada Aditya. "Bukankah Abangku juga merasa penasaran dengan hukumanku?"


Aditya menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak penasaran dengan hukumanmu. Akan tetapi, aku hanya ingin melihat kesungguhanmu untuk berubah setelah menjalani masa hukuman. Itu saja," sahut Aditya yang bisa mendengar suara derap langkah kaki semua orang yang satu persatu mulai masuk ke ruangan. Termasuk sang istri yang menatapnya dengan tatapan penuh kecemasan.


"My hubbiy, kamu tidak apa-apa kan? Adik tidak tahu tahu diri ini tidak berbuat macam-macam padamu kan? Atau dia menghasutmu untuk mau meringankan hukumannya?" cerca Queen bertubi-tubi.


Aditya hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab berbagai macam pertanyaan dari Queen yang saat ini sibuk memeriksa tubuhnya. Mulai dari tangan, wajah dan terakhir berniat membuka kemejanya. Seolah ingin memastikan bahwa tubuhnya tidak lecet sedikit pun.


"Sayang, aku tidak apa-apa. Jadi, jangan berlebihan seperti ini," ucap Aditya yang menahan tangan Queen saat meraba-raba tubuhnya tanpa merasa malu pada semua orang yang ada di sana. "Reynaldi sudah menyadari kesalahannya dan akan menerima dengan ikhlas berapa pun vonis hakim akan hukumannya."


Queen menaikkan kedua alisnya, kemudian sekilas melirik ke arah Reynaldi. "Benarkah? Aneh sekali. Kenapa aku merasa aneh dan tidak mempercayainya. Karena aku lebih percaya kalau dia saat ini mempunyai sebuah rencana yang licik." Menatap tajam pria yang saat ini malah tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


"Percayalah padaku, Kakak ipar. Apakah adikmu ini tidak boleh bertaubat? Kata suamimu ini, Tuhan selalu mengampuni umatnya yang mau bertaubat." Reynaldi beralih menatap ke arah Aditya, "Bukankah begitu Brother?"


"Benar sekali," jawab Aditya yang sudah menganggukkan kepalanya. "Sudahlah, jangan memasukkan ke dalam hati perkataan dari Kakak iparmu. Yang penting aku mempercayaimu." Menepuk bahu kokoh Reynaldi sebelum berjalan keluar dari ruangan tersebut bersama dengan sang istri dan juga keluarganya.


Bahkan ia hanya menganggukkan kepalanya pada wanita yang masih terlihat cantik, meski umurnya sudah tidak lagi muda. Yang tak lain adalah ibu kandungnya sendiri, yang seolah sama sekali tidak berniat untuk mengajaknya bicara. Dan ia bisa memakluminya karena ada ayah kandung dari Reynaldi yang mungkin membuat ibunya tidak berani berbicara dengannya.


Queen yang sudah digandeng oleh Aditya, seolah ingin menolak perbuatan dari suaminya. "Aku belum selesai berbicara dengan adik tirimu, My hubbiy."


Sebentar lagi sidang akan dimulai, ayo kita masuk ke ruang sidang!" titah Aditya yang tidak ingin dibantah.


Dan semuanya berjalan keluar dari ruangan tersebut untuk menuju ruangan yang tak jauh dari sana, serta duduk di tempatnya masing-masing. Satu persatu para penegak hukum yang berpakaian serba hitam seperti jubah yang tak lain adalah jaksa, advokat lengkap dengan atribut sesuai dengan peran mereka masing-masing mulai datang dan duduk di tempatnya.


Memasuki ruangan persidangan, majelis hakim langsung menempati posisinya masing-masing. Ketua majelis tentunya menempati posisi tengah di antara para anggota majelis. Meja dan kursi 'singgasana' mereka sengaja dibuat berbeda dan posisinya pun juga dibuat lebih tinggi dibanding meja lainnya yang ada di dalam ruang persidangan.


Semua orang bisa melihat bahwa para 'wakil tuhan' itu terlihat berwibawa jika dilihat dari bangku pengunjung. Dimana keluarga Raharja ada di bagian paling depan.


Sementara itu, Reynaldi yang tadi menampilkan wajah datarnya, seketika berubah. Rahangnya seketika mengeras, gerahamnya pun berbunyi gemeretak saat netra pekatnya ber-sitatap dengan wanita yang sangat dibencinya duduk diantara keluarga Raharja, yaitu Dewi yang telah mendonorkan darahnya untuk saudaranya. Sehingga membuatnya menjadi gagal untuk mendapatkan wanita yang sangat diinginkannya.

__ADS_1


Tangannya yang berada di bawah meja terkepal menahan amarah yang memuncak di dadanya. Bahkan ia sudah mengumpat berkali-kali di dalam hati, tapi wajahnya masih menampilkan seulas senyuman di depan semua orang.


"Sial, sebenarnya apa yang dilakukan oleh wanita itu di sini? Apakah dia sedang ingin menertawakanku dan juga ingin melihat berapa lama aku dihukum? Hari ini kau bisa tersenyum, tapi saat aku bebas nanti, aku benar-benar akan membuat hidupmu mati segan, hidup pun tak mau. Tunggu pembalasanku, wanita sialan!"


Bunyi ketukan palu sebanyak 3 kali yang dari hakim mulai terdengar, sehingga semua orang yang awalnya berisik mulai terdiam dan fokus mengamati jalannya persidangan yang hari ini adalah putusan dari hakim.


Sebelum menjatuhkan vonis, hakim mempertimbangkan berdasarkan atas surat dakwa, segala sesuatu yang terbukti di persidangan, tuntutan pidana, pembelaan dan tanggapan-tanggapan. Hakim menjelaskan bahwa sidang hari ini adalah pembacaan putusan dan meminta agar pihak yang hadir memperhatikan isi putusan dengan seksama.


Pada saat hakim akan membaca amar putusan (sebelum memulai membaca/kata-kata 'mengadili'), Reynaldi yang tadinya merasa sangat santai, berubah menjadi sangat gugup. Karena ia sudah tidak memiliki kebebasan lagi untuk berbuat seenaknya dan harus mendekam di dalam penjara yang mungkin selama bertahun-tahun.


"Berapa lama kira-kira aku akan membusuk di penjara? Pria bodoh itu malah menyuruhku untuk menikmati hukumanku dan sama sekali tidak berniat untuk mengeluarkan aku nanti. Berengsek, semua perkiraanku dan Mama jauh meleset. Karena ternyata dengan santainya ia berbicara seperti itu tadi," batin Reynaldi.


Suara dari hakim ketua mulai terdengar, memecah keheningan di ruangan persidangan. Sementara itu, semua orang mulai memasang indera pendengarannya masing-masing dengan perasaan yang berbeda-beda. Dimulai dari Queen yang paling bersemangat dan tidak sabar lagi untuk mendengarkan putusan hakim, berbeda dengan yang dirasakan oleh sosok wanita yang tak lain adalah Nayla.


Wanita yang merupakan ibu dari Reynaldi, melirik ke arah putra sulungnya Aditya. Tatapan penuh pengharapan tampak jelas dari wajahnya, yang sangat mengharapkan putranya tersebut nanti mengajukan banding. Akan tetapi, saat ia mendengar bisikan dari Reynaldi, membuatnya semakin membenci Aditya.


"Dasar anak durhaka. Selama ini dia hanya berpura-pura baik, ternyata aslinya munafik," lirih Nayla dengan tangan yang mengepal.

__ADS_1


TBC ...


__ADS_2