
Selama dalam perjalanan menuju ke Bandara, Queen asyik memeluk erat tubuh kekar pria yang sedang fokus melajukan motornya. Tentu saja dirinya sangat berbunga-bunga bisa beralasan berpegangan sambil memeluk dan mencium aroma khas maskulin dari pria yang sudah 2 kali menjamah tubuhnya.
Karena tadi, Queen sudah mengganti dress panjang yang dipakainya dengan celana jeans panjang dan kemeja berlengan pendek. Tentu saja itu adalah saran dari Aditya yang tidak mau dirinya kesusahan karena duduk menghadap ke arah samping terlalu lama. Alhasil, seperti sekarang ini, ia bisa duduk menghadap ke arah depan dengan melingkarkan tangannya pada perut penuh roti sobek itu seraya bersandar di punggung kokoh sang suami.
Sementara itu, pikiran Aditya berbanding terbalik dengan yang dirasakan oleh Queen. Tentu saja dirinya merasa sangat khawatir dengan keadaan fisik wanita yang diboncengnya itu. Karena sang istri adalah seorang nona muda yang tidak pernah merasakan teriknya matahari, apalagi terkena angin saat naik motor.
Meski sebenarnya dirinya merasa sangat keberatan dengan keinginan sang istri yang ngotot untuk naik motor, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak ingin sang istri marah ataupun kesal.
Ya Allah, lindungilah istriku. Aku sangat khawatir dia akan sakit karena efek satu jam naik motor. Akan tetapi, aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk melarangnya. Karena aku tahu kalau istriku merasa sangat senang bisa melakukan hal-hal kecil yang tidak pernah dia lakukan semasa hidupnya. Aku ingin membuat istriku merasa bahagia dan bisa melakukan apapun yang dia inginkan.
30 menit berlalu, Aditya menghentikan motornya di area jalan raya yang dekat dengan bandara. Niatnya adalah ingin menyuruh sang istri naik ke mobil dengan alasan tidak ingin ada orang yang melihat seorang nona muda pergi ke bandara naik motor.
"Ayo, sekarang kita naik ke dalam mobil! Aku yakin akan ada wartawan yang berada di Bandara. Akan terlihat lucu jika sampai mereka melihat seorang nona muda naik motor saat pergi ke Bandara." Aditya mulai membuka helm yang dipakainya dan meletakkannya di spion motor. Kemudian melepaskan helm di kepala wanita yang baru saja turun dari motor.
"Sebenarnya tidak masalah, tidak usah memperdulikan para pemburu berita itu. Aku saja yang bersangkutan sama sekali tidak keberatan, kenapa kamu malah bingung?" ucap Queen yang menampilkan wajah masam dan melihat ke arah mobil mewah yang dari tadi mengikutinya dari belakang.
Suara pesawat terbang tertangkap indera pendengaran mereka dan membuat keduanya mulai mendongak menatap ke atas, di mana pesawat mulai semakin terbang ke atas.
"Sudahlah, lebih baik kita segera masuk ke dalam mobil! Aku tidak ingin kamu sampai masuk angin. Ayo!" Aditya meraih pergelangan tangan Queen dan mengajaknya untuk berjalan menuju ke mobil berwarna hitam yang terparkir tak jauh dari tempatnya.
Queen mengarahkan tatapannya ke arah tangannya yang saat ini digandeng oleh pria yang berjalan di depannya.
My Hubbiy menggandeng tanganku. Kenapa aku jadi lebay begini ya? Cuma digandeng oleh pria yang merupakan suamiku sendiri, tapi aku malah deg-degan seperti ini. Apa yang Aditya pikirkan jika sampai mengetahui hal ini? Dia pasti akan mengolokku habis-habisan bukan?
__ADS_1
"Masuklah Queen!" ucap Aditya yang sudah mengarahkan tangannya pada kepala sang istri untuk melindunginya agar tidak sampai terbentur body mobil.
Queen menuruti perintah dari Aditya dan langsung masuk ke dalam mobil. Akan tetapi, dia merasa sangat kecewa karena Aditya kembali memanggil namanya.
Jadi, My Hubbiy hanya memanggilku Sayang di depan orang-orang? Sedangkan saat kami berdua saja, My Hubbiy memanggilku Queen. Menyebalkan sekali, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Sial!
Aditya melirik sekilas ke arah ekspresi wajah dari wanita yang duduk di sebelahnya. Sudut bibirnya terangkat ke atas begitu melihat raut wajah masam dari sang istri.
Aku tahu kamu saat ini sedang kesal karena aku tidak lagi memanggilmu sayang. Aku memang sengaja melakukannya, istriku. Agar kamu jujur padaku tentang perasaanmu dan tidak malu lagi padaku.
"Sayang, ah ... maaf, aku salah panggil." Aditya berpura-pura menyesali perbuatannya yang memanggil Sayang pada wanita yang langsung menoleh ke arahnya.
Queen awalnya merasa sangat senang atas panggilan dari pria yang duduk di sebelahnya. Namun, saat sang suami bilang salah panggil, tentu saja membuatnya lagi-lagi merasa sangat kesal.
"Maafkan aku!"
”Astaga, aku sampai bosan mendengarmu meminta maaf padaku."
"Lalu, aku harus bilang apa agar kamu tidak marah padaku, Queen?"
"Tidak perlu bilang apa-apa. Kamu mau bicara apa tadi?" Queen mencoba mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin melakukan kesalahan dan keceplosan lagi.
"Itu ...."
__ADS_1
Queen mengerutkan keningnya, merasa curiga dengan kalimat yang tidak dilanjutkan oleh pria yang terlihat sangat ragu mengungkapkan pertanyaannya.
"Itu apa? Kenapa tidak dilanjutkan?"
"Apakah ini akan menjadi momen bulan madu yang sebenarnya, Queen? Maksudku, apakah kamu tidak keberatan saat aku melakukan kewajibanku untuk memberikan nafkah batin untukmu?" ucap Aditya untuk sengaja memancing reaksi dari sang istri yang terlihat sudah merona wajahnya.
"Apaan sih!" Queen yang merasa sangat malu, refleks mencubit paha Aditya.
"Karena kamu masih menggantung perasaanku, Queen. Jadi, aku tidak mau berbuat kesalahan padamu. Karena dua kali kita melakukan "itu" karena sebuah kesalahan. Apa kamu mengerti maksudku?"
"Aku bukan anak kecil yang tidak paham dengan arah pembicaraanmu. Memangnya kamu mengharapkan jawaban apa dariku?" tanya Queen yang berpura-pura mengungkapkan pertanyaan.
"Tentu saja jawaban kamu menerimaku sebagai suamimu sepenuhnya, Queen Sayang. Memangnya apa lagi? Tidak ada yang lainnya, hanya satu permintaanku, kita bisa menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya. Bukan menggantung seperti sekarang."
Setelah mengungkapkan jawabannya, Aditya mulai memegang punggung tangan Queen dan mengusapnya dengan lembut. "Maukah kamu menjadi istri dan ibu dari anak-anakku, Nona muda?"
Kalimat cinta dari pria yang saat ini menatapnya dengan tatapan teduh, membuat Queen benar-benar merasa seperti satu-satunya wanita yang paling bahagia di dunia memiliki seorang suami sempurna seperti Aditya. Akan tetapi, dirinya masih merasa bingung untuk menjawab pertanyaan romantis dari sang suami.
Tentu saja aku mau My Hubbiy, tapi aku tidak ingin membuatmu besar kepala jika aku langsung menjawab iya padamu. Tidak semudah itu untuk mendapatkan seorang nona muda. Akan tetapi, nanti aku yang tersiksa sendiri lagi. Astaga, apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku menjawab iya atau berpura-pura memikirkannya dulu? Aarrh ... aku bingung.
"Sayang, kenapa malah melamun? Apa jawabanmu? Kamu tidak mau menerimaku dan masih berpikir pernikahan kita hanyalah sebuah sandiwara?" tanya Aditya dengan mengamati ekspresi wajah Queen yang terlihat sangat gelisah.
A-aku ...."
__ADS_1
TBC ...