
"Haloooo ... kamu masih mendengarku kan Ratuku?"
Queen sama sekali tidak menanggapi ponsel yang telah jatuh dari tangannya. Seolah dirinya sudah tidak sanggup lagi menahan perasaannya yang berkecamuk.
Tanpa bisa ditahannya lagi, bulir bening air mata sudah lolos dari bola mata indahnya. Bahkan kini rasa sesak di dadanya membuatnya seolah tidak bisa bernafas. Bahkan saat ini jantungnya seperti hendak keluar dari tempatnya. Queen memegangi dadanya dan menangis tersedu-sedu dengan tubuhnya yang bergetar.
Bahkan 1 orang pengawal pun tidak bisa berbuat apa-apa untuk menenangkan majikannya yang menangis terisak di kursi yang berada di depan ruangan operasi. Ia hanya bisa berbicara di dalam hatinya mengungkapkan tentang apa yang dilihatnya.
"Nona muda Queen menangis? Baru kali ini aku melihatnya menangis tersedu-sedu seperti itu. Ternyata Nona muda benar-benar sudah melupakan Tuan Azriel dan sangat mencintai Tuan Aditya. Melihat Nona muda menangis seperti itu, membuatku tidak tega melihatnya.
Lalu, pria dengan tubuh tegap itu mulai berjalan ke arah majikannya karena merasa sangat iba. Berniat untuk menghibur dan membesarkan hati dari wanita yang sudah terlihat sangat mengenaskan itu.
"Nona muda, Anda tidak perlu khawatir karena saya sudah menghubungi tuan besar dan tuan muda Arthur. Saya yakin mereka bisa menemukan donor untuk Tuan Aditya."
Queen yang dari tadi asyik menangis dengan menundukkan kepalanya, mulai mengangkat pandangannya untuk menatap ke arah pria yang merupakan orang kepercayaannya.
"Aku bahkan sampai melupakan keluargaku dan terjebak dengan kekhawatiranku. Apa kata Daddy dan Brother? Kenapa mereka tidak menghubungi aku langsung untuk menghiburku?"
"Karena mereka saat ini sedang sibuk untuk mencari informasi tentang orang yang memiliki golongan darah O- Nona muda. Lebih baik Anda tenangkan diri dan mencoba berpikir positif," ucap pengawal tersebut.
"Aku harus menghubungi Daddy untuk menanyakan tentang hal ini." Mengambil ponselnya yang sudah putus panggilan telefon dari Reynaldi telah tadi. Namun, baru ia ingin membuka daftar riwayat panggilan, bunyi notifikasi masuk di ponselnya langsung membuatnya memeriksa pesan dari pria yang tak lain adalah Reynaldi.
Aku tunggu keputusanmu dalam waktu 10 menit, Ratuku. Jika dalam waktu 10 menit kamu tidak mengatakan apa-apa, aku tidak akan pernah sudi untuk mendonorkan darahku pada suami miskinmu itu. Saat ini aku ada pertemuan di Bali.
"Berengsek!" Queen berteriak dengan suaranya yang sangat keras karena emosinya sudah sampai di ubun-ubunnya. "Jika aku menemukan donor darah itu, aku akan menghabisimu Rey!"
Pria tegap itu hanya bisa melihat tanpa mengeluarkan suaranya karena tidak ingin lebih menyulut api amarah dari majikannya. Dirinya lebih terlihat seperti manekin yang hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Jika aku tidak membutuhkanmu, mungkin aku sudah membantingmu tadi," ucap Queen yang sudah seperti orang gila karena marah pada benda mati berbentuk pipih yang berada di dalam genggamannya.
__ADS_1
Baru saja dirinya ingin menghubungi Daddy-nya, namun orang yang sangat disayanginya itu telah menghubunginya. Lalu, ia menggulir tombol hijau ke atas dan langsung mengeluarkan suaranya.
"Halo Dad, bagaimana? Apakah Daddy sudah menemukan orang yang mempunyai golongan darah O-?"
"Tenanglah Queen, kami sedang menghubungi orang-orang yang bisa menolong Aditya. Suamimu pasti akan selamat, Daddy yakin itu. Sekarang Daddy dan Brother-mu berada di Bandara dan sebentar lagi terbang ke sana. Kamu tenanglah, ada banyak orang yang memeriksa data-data dari orang yang bisa mendonorkan darahnya untuk Aditya."
"Akan tetapi, aku sangat takut Dad. Bagaimana jika nanti tidak keburu atau tidak ada orang yang mempunyai darah itu? Aku tidak ingin mengambil resiko dengan nyawa dari suamiku."
"Serahkan saja semuanya pada Daddy, oke! Masih ada waktu beberapa jam lagi karena Daddy sudah berbicara dengan pihak tim dokter yang menangani operasi suamimu tadi. Tunggu, ada telfon masuk dari salah satu pengawal."
Queen mulai mendengarkan suara percakapan dari Daddy-nya dan pengawal dengan harap-harap cemas. Tentu saja ia sangat berharap bahwa ada kabar baik dari pengawalnya.
"Halo, Tuan besar. Saya sudah mengantongi nama-nama orang yang mempunyai golongan darah O-."
"Syukurlah kalau begitu. Langsung cari mereka dan bawa ke Bali."
"Masalah apa lagi?"
"Ada beberapa nama dan kami sudah menghubungi mereka satu persatu. Ada yang sedang tidak sehat, ada yang posisinya jauh di luar pulau, ada yang sedang mengandung dan sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. Ada 1 orang yang sehat, tapi ada di Papua sana."
"Astaga, kalian semua tidak berguna! Cari lagi yang lainnya dan tidak bermasalah. Kalau di Papua tidak keburu waktunya karena perjalanan ke sana membutuhkan waktu yang cukup lama."
"Baik Tuan besar, kami akan menyuruh orang untuk menghubungi PMI dan bank darah."
"Baiklah, kalian harus bergerak cepat!"
"Baik Tuan besar."
Bunyi sambungan telepon yang terputus membuat Queen langsung mengeluarkan suaranya.
__ADS_1
"Dad, setelah mendengar perkataan dari pengawal, sepertinya nyawa suamiku sekarang ada di tanganku. Aku harus berbuat sesuatu karena aku tidak ingin menyesal seumur hidupku!"
"Apa maksudmu Sayang? Jangan bertindak gegabah mengambil keputusan! Daddy sudah tahu semuanya kalau Aditya adalah kakak tiri Reynaldi. Jangan menuruti permintaan gila dari pria yang tidak kamu cintai."
"Aku tidak ingin melihat suamiku meninggal Dad. Sudahlah, aku harus menyelesaikan masalah ini karena sudah tidak ada waktu lagi."
Queen langsung mematikan sambungan telefon dan mengetik pesan pada ponselnya.
Aku menyetujui permintaanmu. Sekarang datanglah ke rumah sakit.
Setelah selesai menekan tombol kirim, Queen menyandarkan kepalanya di dinding. Saat ini kepalanya benar-benar sangat pusing memikirkan tentang kejadian naas dari suaminya.
"Maafkan aku My hubbiy. Aku lebih baik kehilanganmu daripada melihatmu meninggal," gumam Queen.
Beberapa menit kemudian, terlihat seorang pria tampan yang memakai celana panjang berwarna hitam dengan atasan kemeja berwarna abu-abu dengan memakai kaca mata hitam yang membuatnya semakin terlihat keren dan maskulin. Bahkan saat dirinya berjalan saja bisa membuat para kaum hawa terpesona.
Kakinya yang panjang terus melangkah mendekati wanita yang sibuk memijat pelipisnya saat bersandar di dinding. Kemudian dirinya mulai mengeluarkan suaranya untuk menyadarkan wanita yang terlihat sangat mengenaskan di depannya.
"Astaga, apakah benar ini adalah Ratuku? Aku bahkan sampai tidak mengenalimu Nona muda Queen yang arogan," ejek Reynaldi dengan tersenyum menyeringai.
"Diamlah! Aku malas bicara denganmu, cepat masuk dan lakukan transfusi darah untuk Abangmu. Dasar adik tidak tahu diri, bagaimana bisa kamu mengincar kakak iparmu sendiri." Tatapan mata penuh kilatan api yang terpancar dari wajah Queen terlihat jelas saat menatap pria yang sangat dibencinya.
"Kamu yang mulai permainannya, jadi kamu juga yang harus menyelesaikannya Ratuku. Aku sama sekali tidak menganggapnya saudara, karena aku tidak sudi mempunyai saudara sepertinya. Sekarang tanda tangani surat perjanjian ini!" Reynaldi menyerahkan satu kertas berisi surat perjanjian yang tadi dibuatnya.
Dengan tangan yang gemetar, Queen menerima kertas putih yang sudah ada materai di atasnya. Kemudian dengan perasaan berkecamuk mulai membaca isi dari surat perjanjian yang menyatakan bahwa dirinya dengan sangat sadar telah memutuskan untuk bercerai dan akan menikah dengan Reynaldi.
"Maafkan aku My hubbiy, aku harus melakukan ini demi menyelamatkan nyawamu. Jangan membenciku saat kamu nanti tersadar dari tidurmu. Aku sangat mencintaimu My hubbiy.
TBC ...
__ADS_1