Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Mana yang harus dipilih


__ADS_3

Aditya yang mendengar suara dering ponsel milik istrinya tentu saja langsung membuka matanya dan melihat siluet dari wanita yang hendak membuka pintu ruangan perawatan. Karena merasa curiga sang istri yang pergi keluar hanya untuk mengangkat panggilan telefon, membuatnya langsung menanyakan hal yang ada di pikirannya.


"Kamu mau kemana Sayang? Kenapa tidak mengangkat panggilan telefon di sini saja?"


Queen yang baru saja hendak melangkahkan kakinya keluar ruangan, seketika berjenggit kaget saat mendengar suara bariton dari suaminya. Untuk menutupi kegugupannya, ia mulai berbalik badan menatap ke arah pria yang terbaring di atas ranjang tengah menatapnya dengan tatapan tajam.


"Ada telfon penting dari rekan sesama dokter My hubbiy. Ini pasti tentang pekerjaan dan akan membutuhkan waktu lama jika sudah membahas tentang pekerjaan. Aku tidak ingin mengganggu waktu tidurmu. Tidurlah, aku keluar sebentar!"


Aditya hanya menganggukkan kepalanya dan melihat siluet dari sang istri yang sudah menghilang di balik pintu. "Sepertinya kamu berbohong padaku Queen. Sebenarnya siapa yang menghubungimu?"


Karena merasa sangat penasaran, Aditya dengan susah payah berusaha bangkit dari ranjang dan membawa infusnya. Lalu, ia tertatih-tatih berjalan menuju ke arah pintu keluar seraya sesekali meringis kesakitan pada perutnya. Seolah ia tidak memperdulikan rasa sakitnya setelah operasi karena ingin mendengarkan percakapan dari istrinya yang dicurigainya.


Aditya membuka pintu sedikit dan bisa melihat siluet dari wanita yang tengah memunggunginya tengah berbicara di telepon. Ia memasang indera pendengarannya dengan sangat tajam agar bisa mendengarkan percakapan dari istrinya.


"Untung saja Dave menghadap ke arah Queen, sehingga ia tidak menyadari bahwa aku sedang ada di sini untuk mendengarkan percakapan dari nona mudanya," batin Aditya.


Sementara itu, Queen yang mengerti basa basi dari wanita yang tak lain adalah Mama dari Rey dan suaminya, sudah tidak sabar lagi untuk mengeluarkan umpatannya.


"Lebih baik Tante katakan saja langsung mengenai tujuan menghubungiku! Karena aku bukanlah orang yang bodoh."


"Queen, kamu memang seorang wanita yang sangat cerdas. Karena itulah 2 putraku sama-sama mencintaimu."


"Apa Tante bilang, 2 putra? Bukankah putra Tante hanya Rey? Jangan mengaku-ngaku seenaknya Tante!"


"Maafkan Tante, Queen. Karena tidak pernah memperhatikan suamimu, tapi kenyataannya Aditya adalah putra Tante juga. Akan tetapi, karena keadaan lah yang membuat kami terpisah."


"Jangan pernah bersandiwara di depanku Tante! Sepertinya tadi Ayah telah menelfon Tante dan menceritakan tentang semuanya. Apakah Tante menghubungiku untuk membebaskan Rey? Jika benar begitu, lebih baik aku tutup telfonnya. Karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah mencabut tuntutanku!"


"Queen, Tante ingin bicara dengan Aditya. Tolong berikan ponselnya pada suamimu sebentar saja. Tante mohon."


"Tidak akan! Karena aku tahu apa yang ingin Tante bicarakan dengan suamiku. Bukan tentang pertemuan ibu yang merindukan anaknya yang telah lama tidak ditemuinya. Akan tetapi, ingin memanfaatkan kebaikan suamiku untuk membebaskan putra Tante yang sangat manja itu bukan?"

__ADS_1


"Tante akui kalau Tante memang bersalah Queen, tapi ijinkan Tante bicara dengan suamimu sebentar. Bukankah mereka berdua bersaudara? Tante ingin mengakhiri permusuhan dari anak-anak Tante agar bisa akur dan rukun."


"Queen."


Aditya membuka pintu ruangan perawatan dan mulai tertatih-tatih berjalan keluar untuk mendekati sang istri yang terlihat terkejut melihatnya. Ia langsung mengulurkan tangannya. "Biarkan aku bicara Sayang!"


Queen menggelengkan kepalanya, seolah menolak keinginan dari pria yang masih mengulurkan tangannya. "Kenapa kamu turun dari ranjang My hubbiy. Kamu baru di operasi, coba aku lihat!"


Dengan wajah yang menunjukkan rasa khawatir, Queen buru-buru mematikan sambungan telefon sepihak dan berjalan untuk mengangkat baju suaminya ke atas. Dan benar saja, luka bekas operasi itu mengeluarkan darah. Bahkan wajahnya sudah terlihat pucat.


"Astaghfirullah, benar kan apa yang kutakutkan," ucap Queen yang langsung menatap tajam ke arah suaminya. "Kamu bandel banget sih dibilangin! Bukankah tadi aku bilang untuk istirahat?"


Queen beralih menatap ke arah orang kepercayaannya. "Bantu suamiku masuk ke dalam Dave!"


Tanpa membuang waktu, Dave langsung membantu memapah majikannya dan berjalan masuk ke dalam ruangan kamar perawatan dan menyuruh tuan mudanya untuk berbaring.


"Berikan ponselnya padaku Sayang! Aku ingin bicara dengan Ibu kandungku." Masih mencoba merayu wanita yang terlihat sangat kesal melihatnya.


"Iya Nona muda." Dave langsung pergi untuk melaksanakan perintah dari majikannya.


"Sayang ...."


"Sudah kubilang tidak!" Queen mengeluarkan ancamannya dan menatap tajam ke arah suaminya yang masih memperlihatkan wajah yang memelas.


"Aku akan melakukan apa pun perintahmu, tapi ijinkan aku untuk berbicara sebentar dengannya. Aku hanya ingin menanyakan tentang masa lalu Ibuku yang melahirkan aku dan apakah dia sama sekali tidak memikirkan aku saat lama tidak bertemu denganku." Aditya memegangi tangan sang istri untuk mencoba merubah pikirannya.


Merasa risih dengan perbuatan suami yang tidak menyerah merayunya, membuat Queen akhirnya merasa iba dengan wajah memelas yang terlihat pucat itu.


"Kamu memang benar-benar sangat bandel My hubbiy." Akhirnya Queen meraih ponselnya yang ada di saku dress yang ia pakai. Kemudian melakukan panggilan telepon. "Aku melakukan semua ini karena aku tidak tega melihat wajahmu yang sudah seperti benang kusut ini My hubbiy. Akan tetapi, jangan pernah berpikir untuk menarik laporan! Jika sampai My hubbiy melakukannya, lebih baik kamu menceraikan aku!"


Aditya hanya geleng-geleng kepala mendengar perkataan dari wanita yang baru saja mengeluarkan ancamannya. "Astaghfirullah, jangan pernah menyebut kata perceraian dalam rumah tangga kita Sayang. Itu sangat dibenci oleh Allah SWT. Berhati-hatilah dalam berucap karena ucapan adalah sebuah doa."

__ADS_1


"Bodo amat," rengut Queen yang sudah menjawab panggilan telefon yang sudah tersambung.


"Halo Tante, ada yang ingin bicara dengan Tante."


Queen mulai me-loudspeaker ponselnya dan mendekatkannya ke arah pria yang terlihat sangat gugup itu. "5 menit, karena dokter akan menangani lukamu yang mengeluarkan darah."


Aditya hanya menganggukkan kepalanya dan bisa mendengar suara dari seorang wanita yang tak lain merupakan ibu kandungnya.


"Halo, kamu Aditya?"


"Assalamualaikum Bu,"


"Wa'alaikumsalam Nak. Panggil Mama saja karena panggilan Ibu menurutku sangat tidak cocok."


"Akan tetapi, aku lebih nyaman memanggilmu Ibu. Karena surga ada di telapak kaki ibu. Bukankah begitu Bu?"


"Oh iya, kamu benar Aditya. Maafkan Ibu kalau begitu."


"Maaf, apakah Ibu pernah merindukan aku selama lebih dari 20 tahun tidak bertemu? Apakah Ibu pernah menyayangi aku?"


"Tentu saja Ibu merindukanmu dan juga sangat menyayangimu. Akan tetapi, keadaan lah yang tidak memungkinkan Ibu untuk melihatmu. Ibu sangat menyayangimu dan juga adikmu. Tidak mungkin Ibu bisa memilih salah satu diantara kalian. Jadi, Ibu sangat berharap kamu mau mencabut ...."


Queen langsung mematikan sambungan telefon karena merasa sangat geram dengan kalimat terakhir dari wanita yang tak lain adalah mertuanya sendiri.


"Waktu 5 menit habis!"


Aditya yang baru saja hendak mengeluarkan suaranya untuk menanggapi perkataan dari wanita yang telah melahirkannya, sontak merasa kecewa pada sang istri. Namun, ia sama sekali tidak ingin membuat wanita yang baru saja memasukkan ponselnya ke dalam saku bajunya itu marah.


"Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan? Di satu sisi aku tidak ingin membuat istriku kecewa, tapi di sisi lain aku ingin menjadi anak yang berbakti kepada orang tua. Mana yang harus hamba pilih ya Allah, berikan hamba petunjukmu."


TBC ...

__ADS_1


__ADS_2