Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Kamu tetap bisa menghamiliku!


__ADS_3

Akhirnya Queen menuruti perkataan dari Aditya, meskipun ada sedikit keraguan di dalam hatinya. Niatnya adalah suatu saat akan bertanya pada seorang ustadz yang selalu mengisi ceramah di acara pengajian yang selalu diadakan di Mansion Raharja setiap satu bulan sekali yang melakukan acara santunan untuk para dhuafa dan anak yatim.


Dan keduanya sama-sama mengambil air wudhu sebelum menunaikan kewajibannya. Queen berjalan ke arah walk in closet untuk mengambil mukena yang tadi dibelikan oleh pria yang diketahuinya adalah seorang Gay itu.


"Astaga ... mungkin aku benar-benar sudah gila, karena menuruti perkataan dari seorang Gay. Akan tetapi, telingaku benar-benar sangat panas saat mendengar ceramahnya. Sebenarnya kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga apa yang dikatakan olehnya, yang menerangkan bahwa meskipun ia berdosa, dia tetap melaksanakan perintah dari Tuhan dengan harapan dirinya suatu saat bisa sembuh."


"Sepertinya aku harus membantunya agar dia bisa sembuh dari kelainannya nanti setelah aku bercerai dengannya saat aku mendapatkan cintaku. Kalau untuk saat ini, biarkan saja dia tidak normal. Karena itu akan menguntungkan aku. Dengan dia tidak normal, aku merasa tenang berada satu kamar dengannya."


Queen membuka lemari kaca berukuran raksasa di depannya dan dilihatnya lingerie seksi berwarna mencolok yang menghiasi lemari tersebut.


"Lingerie ini ... berarti tidak masalah kan aku memakai ini di depan Aditya? Karena dia tidak memandang aku sebagai lawan jenis yang menarik di matanya. Karena dia lebih menyukai sesama jenis yang terang saja sangat menarik dimatanya. Syukurlah, ternyata ada hikmah dibalik kejadian buruk hari ini. Karena aku jadi tahu rahasia besar yang selama ini disembunyikan oleh Aditya."


Setelah beberapa saat berbicara sendiri di ruang ganti, Queen mulai melangkahkan kakinya yang jenjang keluar dari ruangan tersebut sambil menenteng tas berukuran sedang yang berisi mukena baru.


Aditya yang saat ini duduk di atas sajadah dan melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an saat menunggu kedatangan Queen, kini telah menyelesaikan ritualnya sebelum sholat, yaitu melafalkan surat-surat pendek yang sudah dihafalkannya.


Senyuman langsung terukir di wajahnya saat melihat Queen mulai memakai mukena yang dibelikannya tadi saat membeli piyama. "Sudah siap, Queen?"


Queen mengamati mukena yang sudah dikenakannya dan mulai bergumam di dalam hati.


Ternyata selera Aditya boleh juga, karena ia memilih mukena yang cantik dan sangat nyaman saat dipakai.


"Baru kali ini aku memakai sesuatu yang tidak dicuci terlebih dahulu. Setelah ini, suruh para pegawai hotel untuk meloundry ini, karena aku tidak ingin banyak bakteri yang nantinya akan menempel di kulitku gara-gara memakai sesuatu yang tidak bersih."


"Nanti setelah sholat Isya, aku akan memanggil pegawai hotel untuk meloundry mukena itu Queen. Insyaallah itu tidak akan membuatmu terkena penyakit, karena Allah yang akan melindungimu. Sekarang kita mulai sholat Maghribnya!" ucap Aditya yang sudah mulai bangkit dari posisinya untuk berdiri dan mulai mengimami sholat.


Sedangkan Queen hanya menurut saja dan mulai mengikuti Aditya untuk melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.


Terlihat keduanya sangat kusyuk saat melaksanakan ibadah sholat Maghrib. Dan setelah beberapa menit, keduanya telah mengakhiri ibadahnya setelah mengucapkan salam. Aditya mulai memimpin doa dan menyuruh Queen untuk mengamininya.


Beberapa menit kemudian, Aditya telah menyelesaikan ritual rutinnya setelah sholat, yaitu memanjatkan doa. Lalu ia menoleh ke belakang seraya mengulurkan tangannya pada Queen.

__ADS_1


Awalnya Queen hanya menatap tangan yang melayang di udara itu, karena ia merasa ragu untuk menjabat tangan Aditya. Hingga suara bariton Aditya mulai terdengar.


"Kewajiban sesama muslim setelah melaksanakan perintah dari Allah SWT, kita disarankan untuk saling berjabat tangan dengan maksud saling menyapa dan memaafkan kesalahan. Anggap aku pun demikian, Queen!" ucap Aditya yang berusaha untuk membujuk wanita yang terlihat ragu-ragu itu.


Akhirnya Queen mulai menjabat tangan Aditya setelah mendengar penjelasan dari pria yang masih mengarahkan tangannya padanya.


Aditya tersenyum saat Queen mulai menjabat tangannya, meskipun tidak seperti yang dilakukan oleh para istri yang mencium tangan suaminya setelah selesai melakukan sholat. Namun, ia sudah merasa sangat senang, karena ada sedikit perubahan dari sang nona arogan setelah ia melakukan sebuah kebohongan. Kini, Queen mulai merasa nyaman saat berada di dekatnya dan mulai mau menuruti perkataannya.


"Alhamdulillah," ucap Aditya seraya menyunggingkan senyumannya.


Dan disaat yang bersamaan, terdengar bunyi pintu kamarnya yang diketuk dari luar. Aditya bangkit dari posisinya. "Biar aku saja yang membuka pintunya."


Queen yang masih memakai mukena, hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Karena selama mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan oleh Aditya, ia merasa tersentuh dengan ayat demi ayat yang tadi diucapkan oleh pria yang khusyuk memanjatkan doa tadi.


Sebenarnya Aditya adalah pria yang baik dan luar biasa, tapi sayang sekali dia tidak normal. Kasihan sekali dia, apakah dia akan selamanya menjadi Gay? Jika itu benar, bukankah itu sangat tidak adil? Karena Tuhan memberikan sebuah cobaan yang besar pada seorang pria Sholeh sepertinya.


Lamunan Queen seketika buyar saat mendengar suara bariton dari pria yang sangat dihafalnya.


Sontak saja Queen dengan buru-buru melepaskan mukena yang dipakainya dan langsung berlari ke arah saudara laki-lakinya.


"Saudara sialan dan brengsek!!" teriak Queen dan sudah melayangkan tinjunya pada perut sixpack Arthur.


Arthur hanya terkekeh menanggapi kemurkaan dari adik perempuannya itu dan membiarkan dirinya dipukuli. Namun ia langsung meringis kesakitan saat rambutnya pun terkena imbasnya, karena Queen sudah menarik rambut.


"Aaaaaaarrrh ... lepaskan Queen! Aku sudah membelikanmu ponsel sama persis seperti yang dibelikan oleh daddy Azriel. Atau aku buang saja ponselnya?"


Queen yang masih menarik rambut dari saudaranya itu seketika menatap paper bag di tangan Arthur. Akhirnya ia melepaskan tangannya dari rambut saudaranya dan langsung merebut paper bag tersebut.


"Aku belum memaafkan perbuatanmu Brother! Aku akan memberikanmu hukuman lagi nanti," ucap Queen yang masih bersungut-sungut. Dan mulai mendaratkan tubuhnya dengan kasar di atas sofa, lalu mulai membuka kotak yang berisi ponsel baru itu.


Senyumnya mengembang saat melihat ponsel yang sama persis dengan miliknya yang berwarna pink. "Ternyata kamu cepat juga melaksanakan perintahku, Brother. Tidak percuma namamu Arthur."

__ADS_1


Arthur ikut mendaratkan tubuhnya di samping adik kesayangannya tersebut, sedangkan tatapannya kini mengarah kepada pria yang masih berdiri menjulang tak jauh dari posisinya yang daritadi hanya diam mengamati interaksinya.


"Hei adik ipar, sebenarnya apa yang kamu lakukan pada adikku? Apakah kamu sudah menyulap gadis arogan ini menjadi gadis yang patuh? Meskipun sikapnya masih barbar saat sedang marah, tapi menurutku dia sudah mengalami perubahan. Bukankah kalian berdua baru saja melaksanakan sholat berjamaah?" tanya Arthur dengan tatapan penuh dengan sorot pertanyaan.


Mendengar pertanyaan dari sang abang ipar, membuat Aditya hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman. "Kami berdua memang baru saja sholat Maghrib berjamaah, Brother. Bukan aku yang merubah Queen, tapi memang Queen sebenarnya adalah seorang wanita yang baik. Hanya saja, dia belum bisa mengontrol amarahnya saat sedang murka."


"Seperti tadi yang langsung menyerangmu tanpa bisa menahannya. Akan tetapi, sebenarnya Queen adalah gadis yang sangat patuh," jawab Aditya seraya menatap ke arah Queen yang masih sibuk dengan ponsel barunya.


Mendengar perkataan dari adik iparnya, membuat Arthur langsung bangkit dari sofa dan berjalan mendekati Aditya untuk mengungkapkan pertanyaannya. Lalu ia berbisik di telinga Aditya.


"Sepertinya ada yang kamu tutupi dariku, cepat katakan apa yang kamu lakukan pada nona arogan ini?"


Aditya hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari abang iparnya. Karena ia sama sekali tidak berniat untuk mengatakan kebohongannya.


Sedangkan Arthur merasa sangat kesal karena tidak diberitahu oleh adik iparnya tersebut. "Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk mengatakannya. Kalau begitu silahkan menikmati malam pertama kalian, karena tugasku sudah selesai melayani sang tuan putri ini."


"Aku pergi, Queen! Semoga kalian berdua cepat diberikan momongan oleh Tuhan. Aku tahu doa orang yang teraniaya akan langsung dikabulkan oleh Tuhan," ucap Arthur yang sudah berjalan ke arah pintu keluar.


Sementara itu, Aditya mengantarkan Arthur sampai ke depan pintu. Sedangkan Queen sama sekali tidak memperdulikan kepergian dari saudara laki-lakinya. Karena saat ini ia tengah membaca balasan pesan dari pria yang sangat dicintainya. Sesekali ia meremas sofa empuk itu untuk mengungkapkan kekesalannya.


Selamat atas pernikahanmu, my little Queen. Daddy sangat bahagia mendengarnya, karena akhirnya kamu menemukan pria yang menjadi tulang rusukmu. Berbahagialah dan semoga kalian bisa cepat diberikan momongan. Akhirnya doa Daddy setiap malam dikabulkan oleh Tuhan. Semoga kebahagiaan selalu mengiringi rumah tanggamu, putriku my little Queen.


Queen yang merasa sangat hancur perasaannya, langsung melemparkan ponselnya ke atas sofa dan dirinya bangkit dari tempat duduknya. Kaki jenjangnya mulai melangkah ke arah walk in closet untuk mengganti pakaiannya dengan lingerie seksi berwarna merah.


Kemudian ia keluar dari walk in closet dan bersitatap dengan netra pekat pria yang terlihat sangat terkejut melihat penampilannya.


"Aditya, meskipun kamu adalah seorang Gay, kamu tetap bisa menghamiliku bukan?" tanya Queen dengan tatapan yang penuh dengan sorot kilatan amarah.


Aditya refleks langsung membulatkan kedua matanya begitu mendengar sebuah pertanyaan dari wanita yang berstatus sebagai istrinya yang terlihat sangat seksi saat memakai lingerie.


TBC ...

__ADS_1


__ADS_2