
Aditya sudah tiba di depan kamarnya, dan mengarahkan tangannya pada pengawal yang membawakan bubur ayam yang dibelinya tadi. "Selamat menikmati sarapannya!"
Tentu saja 2 pengawal itu langsung mengangguk hormat dan menjawab dengan serempak. Terima kasih Tuan Muda."
Aditya langsung melangkah masuk ke kamar hotel dan menutup pintunya. Kakinya melangkah menuju ke arah ranjang, di mana ada wanita yang sedang berbaring meringkuk dengan tertutupi selimut tebal. Ia mendaratkan tubuhnya di samping kiri wanita yang memunggunginya tersebut.
"Queen, ayo kita sarapan. Nanti buburnya dingin!"
Tidak ada jawaban dari pertanyaannya, kemudian ia mulai mengeluarkan ide yang ada di kepalanya tadi. "Queen, maafkan aku. Kita pergi bersama nanti, aku tidak akan pergi jika kamu tidak ikut. Sebagai permohonan maafku, aku akan menuruti 3 permintaanmu. Anggap saja aku Om jin yang akan mengabulkan keinginanmu. Sekarang katakan padaku, apa yang kamu inginkan."
Queen yang daritadi hanya memejamkan kedua matanya, meskipun dirinya tidak sedang tidur, tentu saja bisa mendengar tawaran dari Aditya yang membuatnya sangat tertarik.
3 permintaan? Kenapa kedengarannya sangat menarik? Kira-kira apa ya? Aku bisa memintanya untuk melakukan hal apa saja kan? Bahkan aku bisa mengerjainya lagi seperti tadi.
Perlahan Queen membuka matanya, dan mulai menghadap ke arah pria yang duduk di belakangnya. "Memangnya apa yang bisa kamu lakukan untukku? Kamu bersalah, jadi kamu memang pantas untuk aku beri hukuman. Akan tetapi, aku belum tahu hukuman apa yang pantas untukmu. Aku pikirkan dulu nanti soal tiga permintaan itu."
"Baiklah, kamu bisa saja meminta apapun padaku setelah kamu mempunyai 3 permintaan. Sekarang kita makan bubur ayamnya, setelah itu kita bersiap untuk pergi ke acara resepsi pernikahan. Aku akan memperkenalkanmu sebagai istriku, agar tidak ada para pria maupun wanita yang akan menggangguku."
Aditya bangkit berdiri, dan mengarahkan tangannya pada Queen yang masih berbaring. "Bangunlah!"
Tanpa ragu, Queen menerima uluran tangan Aditya. Dan bangkit dari posisinya, lalu sama-sama melangkahkan kaki ke arah meja yang sudah ada bubur ayam di atasnya.
Queen memandang bungkus bubur itu, mendadak ada sebuah ide muncul di kepalanya. "Sepertinya rasanya sangat enak, tapi aku sangat malas untuk makan sendiri. Oh ya, ini hukuman untukmu! Suapi aku!"
"Baik Tuan putri, hamba siap menerima hukuman," ucap Aditya yang sudah mulai membuka penutup bubur ayam tersebut. Lalu mengambil sendok, dan mengarahkan sendok yang sudah penuh dengan bubur itu, dan mengarahkan tangannya untuk menyuapi wanita cantik yang sudah duduk di sebelahnya.
"Nah ....!"
Queen membuka mulutnya, dan mulai mengunyah makanan yang disuapkan oleh Aditya.
__ADS_1
"Bagaimana rasanya? Enak?" tanya Aditya sambil mengamati wajah cantik wanita yang sedang mengunyah makanannya.
"Lumayan untuk sekelas pedagang kaki lima."
"Kamu aneh."
"Maksudnya, aneh gimana?" tanya Queen dengan mengerutkan keningnya.
"Aku pikir kamu tidak akan makan makanan yang dijual pedagang kaki lima. Apalagi kamu menghabiskan waktumu di luar negeri. Aku kira, seleramu hanya makanan restoran bintang Michelin."
"Oh itu, mungkin karena aku lebih menuruni gen dari Mommy, yang sederhana dan lebih suka makan-makanan sederhana. Berbeda dengan Brother yang lebih menuruni Daddy, karena tidak suka makan di pinggir jalan. Aku dan Brother bagaikan bumi dan langit. Dia phobia ayam dan tidak pernah memakannya, seperti Daddy. Sedangkan aku sangat suka ayam seperti Mommy.”
"Jadi begitu? Syukurlah kalau begitu," jawab Aditya yang kembali menyuapkan makanan ke mulut Queen.
"Syukurlah? Kamu senang atau lega sebenarnya?"
"Dua-duanya, karena aku tidak akan ragu lagi mengajakmu untuk pergi makan di lapak pedagang kaki lima."
"Kemana memangnya? Bahkan ada banyak supir yang bisa mengantarmu, tapi kamu meminta aku untuk mengantarmu. Bahkan mobil saja aku tidak punya. Kamu lucu sekali Queen, tapi aku akan mengantarmu. Memangnya tempatnya di mana?"
"Itu adalah permintaan pertamaku, aku ingin pergi ke sana naik motor. Seumur hidup, aku belum pernah naik motor. Karena Daddy sama sekali tidak memperbolehkan aku untuk naik motor. Dulu saat SMA, aku selalu merasa iri pada teman-temanku yang bisa naik motor sendiri. Sedangkan aku hanya diantar oleh supir setiap hari," ucap Queen yang mengungkapkan keluh kesahnya.
Aditya mendengarkan semua keluh kesah dari wanita di depannya dengan tatapan penuh iba, seolah merasa kasihan dengan keinginan sepele dari Queen. Namun, sangat berarti bagi nona muda itu.
"Queen, bagaimana kalau kita pergi ke resepsi pernikahan naik motor?" ucap Aditya yang mengeluarkan ide yang melintas di kepalanya.
"Naik motor, pake gaun? Nggak salah? Memangnya bisa?" tanya Queen yang mengernyitkan keningnya.
"Bisa, nyatanya orang-orang kalangan bawah sudah biasa pergi naik motor kemana-mana. Asalkan motornya matic, bukan jenis motor sport. Kalau kamu setuju, nanti aku bilang kepada pengawal untuk menyiapkan motor matic untuk kita berangkat ke sana." Aditya menunggu jawaban dari wanita yang masih terlihat memikirkan jawaban atas pertanyaannya.
__ADS_1
"Idemu sangat menarik, baiklah. Ayo, kita bersiap sekarang! Aku ingin naik motor berkeliling kota Jakarta setelah pulang dari acara resepsi pernikahan nanti. Daddy tidak akan marah, jika kamu yang mengajakku. Jadi, kamu nanti bilang saja pada pegawai kalau kamu yang mempunyai ide untuk naik motor."
Queen bangkit dari sofa dan mulai berjalan meninggalkan Aditya, untuk menuju ke kamar mandi.
"Iya, aku akan mengatakan itu pada pengawal," teriak Aditya pada wanita yang sudah bersemangat sekali mengetahui akan pergi naik motor.
"Ternyata sebuah hal kecil bisa membuat seorang nona muda merasa bahagia. Aku sama sekali tidak pernah menyangka kalau kamu ternyata sebenarnya seperti anak kecil, Queen. Istriku ternyata masih kecil."
Setelah asyik senyum-senyum memikirkan sang istri, Aditya bangkit dari sofa. Kemudian ia berjalan menuju ke arah pintu keluar, tentu saja untuk memberitahukan kepada para pengawal untuk menyiapkan motor yang nantinya akan dipakainya. Dan saat membuka pintu, bisa dilihatnya, dua pengawal itu masih berdiri di sebelah kanan ruangannya.
"Ada apa Tuan muda Aditya? Apa Anda membutuhkan sesuatu?" tanya 2 pengawal yang sudah berjalan terburu-buru menghampiri majikannya begitu melihatnya keluar.
"Carikan aku motor matic agak besar! Aku akan pergi naik motor saat pergi acara resepsi pernikahan adik dari sahabatku," ucap Aditya.
"Anda ingin motor yang seperti apa Tuan muda Aditya? Vario, PCX, N-max, atau yang lainnya?"
"Apa saja yang ada, yang penting bukan motor yang kecil. Karena akan merepotkan Istriku nanti."
"Baik Tuan muda, siap laksanakan!"
"Ada satu lagi!"
"Apa Tuan muda?"
"Belikan aku jaket dan helm couple untuk aku dan istriku pakai. Aku ingin menjadi pasangan serasi dengan memakai barang-barang couple."
"Iya Tuan muda."
"Baiklah, kalian boleh pergi!" ucap Aditya yang sudah mengibaskan tangannya.
__ADS_1
TBC ...