
Sabrina menggerakkan tubuhnya yang remuk redam, tidak lupa ia meringis kesakitan saat berniat turun dari ranjang untuk berjalan ke arah kamar mandi. Sejujurnya ia ingin cepat tidur di ranjang empuk itu dengan membalas pelukan dari pria yang terlihat sudah memejamkan kedua matanya tersebut. Namun, rasa risi amat sangat dirasakannya, terutama di bagian inti miliknya.
Sehingga, ia nekad ke kamar mandi untuk segera membersihkan diri. Namun, saat ia berjalan tertatih-tatih, tubuhnya tiba-tiba melayang ke atas dan membuatnya menjerit kecil.
"Aaarh ...." Menyadari tubuhnya sudah berpindah ke atas lengan kekar pria yang menggendongnya ala bridal style. "Dave ...."
"Aku akan membantumu," seru Dave yang sudah berjalan ke arah kamar mandi dan langsung menurunkannya pada lantai dingin yang dipijaknya. "Aku akan menunggumu, Sabrina."
Sabrina sudah seperti kerbau yang dicucuk hidungnya dan segera membersihkan diri tanpa merasa malu. Seolah saat ini ia telah menjadi sosok orang lain. "Aku sudah selesai," ujar Sabrina yang bisa melihat siluet belakang Dave.
Dave yang sudah selesai membersihkan diri, kemudian meraup tubuh ramping Sabrina dan kembali membawanya ke atas ranjang. Merebahkannya di sana, tak lupa ia melakukan hal yang sama dan kembali memeluk erat tubuh Sabrina di bawah selimut tebal.
Sehingga keduanya kini sudah meringkuk di bawah selimut berwarna putih. Sebuah pelukan dari Dave mendarat dengan sempurna di tubuh ramping Sabrina.
"Ayo, kita tidur."
Tanpa menjawab sepatah kata pun, Sabrina pun sudah membenamkan wajahnya di dada bidang polos yang mengeluarkan aroma khas maskulin itu. Tentu saja bola matanya pun sudah tertutup karena merasa sudah tidak mampu lagi untuk lama-lama terbuka. Rasa lelah dan juga remuk redam yang dirasakan oleh tubuhnya, berhasil membuat ia langsung larut dalam bunga tidurnya.
Sementara itu, Dave yang masih bisa menguasai dirinya, masih mencoba untuk memikirkan apa yang baru saja ia lakukan pada Sabrina. Sebagai seorang laki-laki dewasa yang belum pernah melakukan make love, ia merasa sangat bahagia bisa melakukan pertama kali dengan wanita yang masih benar-benar suci dan menandakan bahwa dirinya lah yang pertama kali berhasil memasuki Sabrina.
__ADS_1
Namun, ia saat ini masih bisa berpikir jernih dan mencoba untuk menelaah apa yang baru saja ia lakukan. Karena ia menyadari bahwa apa yang baru saja dilakukannya adalah sesuatu yang tidak wajar.
"Apa yang baru saja aku lakukan? Aku sudah melakukan hubungan intim dengan Sabrina dan dia sama sekali tidak marah, tetapi malah menerima dan menikmatinya. Bahkan ia sama sekali tidak murka seperti biasanya. Ada yang tidak beres dari semua ini," gumam Dave yang mencoba memijat pelipisnya karena merasa sangat pusing.
Dave kembali mengingat-ingat apa yang dirasakannya saat tadi sedang asyik berbincang dengan para sahabatnya. Tiba-tiba saja rasa panas menjalar di tubuhnya dan seolah membakarnya.
Hal itu membuatnya sangat bergairah. Sehingga ia buru-buru berpamitan pada sahabatnya untuk pergi ke kamar, yang sebenarnya pada awalnya ia ingin mandi di bawah air dingin.
Namun, ia benar-benar merasa gila saat melihat Sabrina yang setengah telanjang saat masuk ke dalam kamar dan membuatnya semakin tidak bisa menahan diri lagi. Hingga akhirnya membuatnya melakukannya pada Sabrina dan anehnya, wanita itu sama sekali tidak menolak perbuatannya.
"Ada sesuatu yang tidak beres di tubuhku tadi. Sepertinya Sabrina pun mengalami hal yang sama. Apakah ada yang memasukkan sesuatu ke dalam minuman kami?" ucap Dave lirih seraya menatap ke arah air minum di atas meja dan ada 2 gelas yang terlihat digunakan. "Tadi hanya ada 1 gelas yang terbuka saat aku minum. Akan tetapi, sekarang ada 2. Fix, Sabrina tadi juga minum air itu."
Dave sedikit merenggangkan pelukannya pada sosok wanita yang berada dalam dekapannya. Ia menatap Sabrina dan merapikan anak rambut yang sudah menutupi sebagian wajah cantik dengan sebuah pahatan sempurna itu.
Netra pekatnya tidak berkedip menatap setiap sudut wajah cantik di depannya. Mulai dari mata tertutup yang dilengkapi bulu mata lentik dan alis hitam, turun ke hidung mancung dan terakhir bibir sensual yang agak sedikit tebal bagian bawahnya.
Seolah bibir merah merekah itu memanggilnya untuk kembali mengecupnya. Sehingga ia pun kembali mendekatkan wajahnya dan menciumnya.
Awalnya ia hanya ingin mengecup lembut bibir Sabrina, tetapi lama kelamaan, ia tidak bisa menahan diri. Akhirnya, ia kini kembali sibuk bermain-main dengan bibir sensual yang sudah menjadi candunya.
__ADS_1
Sabrina benar-benar merasa sangat terganggu dengan perbuatan dari pria yang sudah berhasil membuatnya membuka kedua matanya.
Lagi dan lagi suara lenguhan lolos dari bibirnya. Tak lupa ia menyerukan nama pria yang masih tidak melepaskan dirinya dengan suaranya yang serak.
"Dave ...."
Dave menghentikan perbuatannya beberapa saat dan mendongak menatap ke arah Sabrina yang terlihat sudah mulai menikmati sentuhannya. "Aku tidak bisa berhenti menyentuhmu, Sabrina."
Sabrina menarik rambut ber-pomade Dave. "Aku haus," ucap Sabrina yang merasa tenggorokannya sangat kering karena dari tadi memforsir tenaganya saat semua urat syarafnya menegang.
Sudut bibir Dave terangkat ke atas dan tanpa membuang waktu, ia turun dari atas ranjang dan berjalan untuk mengambil air minum untuk Sabrina. Tentu saja ia tahu bahwa air itu mengandung sesuatu yang bisa membuat mereka kembali memadu kasih. Namun, ia hanya ingin membuat Sabrina meminumnya.
"Minumlah, Sayang," seru Dave yang sudah memberikan gelas kaca pada Sabrina.
"Jadilah wanita liar setelah minum air ini, Sabrina," batin Dave yang sudah menyunggingkan senyumnya saat melihat Sabrina sudah menghabiskan air putih itu hingga tandas tanpa tersisa.
Sabrina yang merasa sangat haus, langsung meneguk air minum itu sampai habis dan kembali memberikan gelas kosong pada Dave tanpa mengeluarkan suara karena saat ini ia sibuk menatap canggung tubuh kekar yang mempertontonkan dada bidang berotot yang menawan dan membuat otaknya seperti meleleh dan membuatnya menelan saliva dengan kasar.
TBC ...
__ADS_1