Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Tanda-tanda melahirkan


__ADS_3

Aditya dan Queen saat ini tengah berada di dalam ruangan pribadinya. Queen yang tengah berbaring miring di atas ranjang, tidak berhenti mengusap lembut perutnya yang membuncit karena beberapa hari lagi tiba masa ia melahirkan anak pertama yang merupakan buah cinta dengan suaminya. Ia dari tadi sibuk menatap ke arah pria yang berada di sebelah berbaring di atas ranjang, tengah sibuk memijat kakinya.


Tentu saja selama hamil tua, ia merasakan lebih cepat pegal-pegal pegal pinggang dan kaki. Namun, ia bersyukur kakinya tidak sampai bengkak seperti kebanyakan yang dialami para wanita saat hamil tua.


"My hubbiy, menurut dokter, 1 minggu lagi aku melahirkan. Akan tetapi, terkadang itu bisa maju dan mundur. Lebih baik My hubbiy menyiapkan semua keperluanku yang nanti akan dibawa ke rumah sakit. Daripada nanti tidak sempat karena kebingungan saat tiba-tiba aku merasa mau melahirkan."


Aditya yang masih sibuk mengarahkan telapak tangannya naik turun di kaki sang istri, hanya menganggukkan kepala tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Hal itu dikarenakan ia saat ini merasa sangat cemas sang sang istri sudah mendekati masa-masa persalinan. Tentu saja ia mengerti bahwa perjuangan seorang wanita saat melahirkan adalah mempertaruhkan nyawa dan hal itulah yang beberapa hari ini menggangu pikirannya.


Bahkan dalam beberapa hari ini ia selalu bangun tengah malam untuk melakukan sholat tahajud demi mendoakan sang istri agar diberikan kemudahan dan kelancaran saat melahirkan, agar istri dan anaknya selamat.


Queen mengerutkan kening saat melihat pria yang masih sibuk memijatnya itu tidak mengeluarkan suara. "My hubbiy, kenapa diam?"


Aditya menggeleng perlahan, "Tidak apa-apa, Sayang. Kamu tidak perlu cemas, aku akan menyiapkan semuanya nanti setelah kamu tidur. Apakah kamu sudah mengantuk? Bukankah akhir-akhir ini, kamu susah tidur?"


"Iya, sih. Akan tetapi, aku tahu kalau ini selalu dialami oleh semua ibu hamil saat mendekati masa persalinan," jawab Queen yang saat ini tengah memikirkan sesuatu di kepalanya.


Aditya menghentikan pijatannya karena merasa sudah cukup lama merilekskan otot-otot kaku di kaki sang istri. Kemudian ia menggeser tubuhnya ke depan, untuk mendekati Queen.

__ADS_1


"Pasti saat ini kamu sangat cemas karena sebentar lagi akan melahirkan, Sayang." Meraih punggung tangan yang berada di sebelah pahanya dan mengusap beberapa kali dengan lembut. Seolah ingin memberikan sensasi ketenangan untuk membuat nyaman sang istri.


Queen mengamati wajah dengan rahang tegas dan pahatan sempurna yang sangat dipujanya. "My hubbiy, bagaimana jika terjadi sesuatu padaku saat melahirkan anak kita? Aku tidak akan mati, kan? Bagaimana jika aku mati? Aku sangat takut dan aku belum siap mati karena dosaku terlalu banyak. Aku juga belum mempunyai bekal kebaikan yang cukup. Jika aku ma ...."


Aditya refleks langsung membungkuk untuk membungkam bibir sensual Queen dengan bibirnya dan mulai menyesap, serta bermain-main di sana untuk menghilangkan suasana menegangkan akibat kalimat menakutkan itu. Kemudian ia melepaskan pagutannya saat sang istri kehabisan pasokan oksigen.


"Jangan pernah menyebutkan hal itu, Sayang. Tidak akan terjadi sesuatu padamu, karena aku setiap malam sudah memohon pada Allah SWT untuk melindungi kalian berdua. Kita akan membesarkan anak kita bersama dan kebahagiaan keluarga kecil kita akan semakin lengkap dengan hadirnya buah cinta ini."


Queen yang merasa sangat bahagia sekaligus terharu, menganggukkan kepala dan memeluk erat pinggang kokoh Aditya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Aamiin ya rabbal alamin. Terima kasih, My hubbiy. Ini pengalaman pertamaku, karena itulah aku sangat takut. Aku ingin kamu menemaniku nanti saat di ruang bersalin. Karena jika ada kamu, aku mungkin akan kuat."


"Pasti, Sayang. Itu sudah menjadi tugas seorang suami, apalagi perjuangan seorang wanita saat melahirkan adalah hal yang sangat luar biasa. Jadi, seorang suami harus melihat bagaimana susahnya perjuangan istri saat melahirkan. Bagiku, ini adalah momen paling penting yang tidak boleh terlewatkan karena aku akan menjadi orang pertama yang memberikan sebuah semangat dan kekuatan padamu." Aditya mengusap lembut rambut panjang Queen yang sudah lama tidak dipotong semenjak hamil.


Aditya mengerutkan kening, "Apa? Coba katakan padaku, Sayang?"


"Kamu tidak akan berselingkuh, kan?"


"Astaghfirullah, pertanyaanmu sangat konyol, Sayang. Bukankah aku sudah membuktikan padamu, bahwa aku sangat mencintaimu dan tidak menatap wanita lain. Bagaimana kamu masih meragukan kesetiaan suamimu?" Aditya merebahkan tubuhnya di sebelah Queen dan saat ini tangannya sudah sibuk mengusap perut buncit yang selalu menjadi kegiatan rutinnya setiap hari.

__ADS_1


"Aku tidak meragukan kesetiaanmu, My hubbiy. Akan tetapi, aku mengkhawatirkan nafsumu. Bagaimana jika kamu tidak bisa mengendalikannya?" Queen melihat ekspresi wajah Aditya untuk melihat respon dari pertanyaannya. "Bukankah nanti kamu harus berpuasa cukup lama setelah aku melahirkan? Apa, My hubbiy tahan?"


Aditya yang mulai mengerti maksud dari perkataan Queen, menghentikan perbuatannya yang dari tadi sibuk dengan calon anaknya. "Jadi kamu berpikir aku tidak bisa menahan gairah selama 40 hari, begitu?"


"Iya, bagaimana jika My hubbiy ingin bercinta di saat aku belum bisa melayanimu? My hubbiy tidak akan bercinta dengan wanita lain, bukan? Karena jika sampai itu terjadi, aku tidak akan pernah mau melihatmu lagi. Karena aku tidak rela kamu menyentuh wanita lain, apalagi sampai bercinta." Queen mengepalkan kedua tangannya saat membayangkan kemungkinan buruk yang sangat ditakutkannya selama beberapa hari terakhir ini.


"Berapa lama kita menikah, Sayang? Bagaimana mungkin kamu tidak memahami bagaimana sifat suamimu. Sebenarnya yang tidak bisa menahan gairah selama ini siapa, aku atau kamu?" tanya Aditya yang mengarahkan tangannya untuk meraih dagu lancip sang istri yang malah terlihat merona wajahnya.


Queen yang merasa malu dengan kalimat telak dari pria yang berada sangat intim dengannya, membuatnya terkekeh geli saat menyadari kebodohannya. Karena memang benar apa yang dikatakan oleh sang suami bahwa selama ini, ia yang sering mengajak bercinta. Apalagi saat hamil, gairahnya 2 kali lipat meningkat.


Kamu benar juga, My hubbiy. Selama kita menikah, memang aku yang sering mengajakmu main. Begitu pun dengan sekarang, aku ingin sepuasnya main sebelum melahirkan. Ayo, kita main." Mengalungkan tangannya pada leher belakang Aditya dan berniat untuk mencium bibir tebal yang sudah lama menjadi candunya.


Namun, saat ia hendak melakukannya, perutnya tiba-tiba merasa mulas dan nyeri yang membuatnya meringis menahan sakit. Refleks ia melepaskan tangannya dari leher Aditya dan berpindah memegangi perutnya yang buncit.


Sementara itu, Aditya yang awalnya terkekeh geli menanggapi sang istri yang hendak menciumnya, bisa melihat wajah pucat yang sudah mengeluarkan peluh saat meringis menahan sakit.


"Sayang, kamu sudah merasakan tanda-tanda melahirkan? Tahan sebentar, Sayang. Aku berkemas dulu." Aditya yang terlihat sangat panik, buru-buru berjalan ke arah walk in closet untuk berkemas.

__ADS_1


TBC ...


__ADS_2