
"Itu sama saja Mommy menyuruhku tinggal di gubuk derita Mom!" dengan wajahnya yang sudah terlihat sangat kecewa begitu mendengar perkataan dari wanita yang paling di sayanginya itu.
Kenapa Mama bisa mempunyai ide segila itu sih. Gila apa, aku bisa mati karena tidak kuat hidup di gubuk derita bersama pria miskin ini jika tinggal di rumahnya. Sudah bisa di pastikan rumahnya sangat kecil dan kotor, mungkin juga di perkampungan yang padat penduduk. Astaga ... jangan sampai aku darah tinggi gara-gara memikirkan hal yang sangat konyol ini.
"Yang namanya cinta, akan terasa indah meskipun tinggal di gubuk derita sekalipun Sayang. Kamu belum merasakan indahnya cinta saat bisa tinggal berdua bersama orang yang kita cintai. Jika kamu benar-benar mencintai Aditya, kamu tidak akan pernah merasa keberatan hidup di manapun bersama dengan suamimu."
Queen menggaruk tengkuk belakangnya, kemudian dirinya menatap tajam ke arah Aditya yang terlihat sangat tampan dengan setelan 3 potong itu. Seolah ingin memberikan sebuah kode untuk pria yang berada tak jauh darinya.
Jangan diam saja bodoh, cepat katakan pada Mommy bahwa kamu tidak akan mengajakku untuk tinggal di gubuk deritamu itu. Bahkan gajiku bisa untuk membeli rumah yang mewah, memangnya aku bodoh apa mau hidup menderita di gubuk reyot pria miskin ini.
Mengerti dengan arti tatapan dari Queen, membuat Aditya langsung menanggapi perkataan dari wanita yang merupakan mertuanya itu, "Apa yang Nyonya Qisya katakan memang benar, bahwa merupakan sebuah kewajiban seorang Istri untuk mau ikut kemanapun sang Suami pergi. Namun karena saya sangat mencintai Queen, jadi saya tidak tega untuk membuatnya menderita."
"Karena itulah saya tidak akan mengajak wanita yang saya cintai hidup menderita di gubuk reyot saya. Karena saya menyadari, bahwa Queen terbiasa hidup mewah dan bergelimang harta. Jadi tidak mungkin, mengubahnya untuk menjadi seorang wanita yang bisa hidup sederhana dalam waktu semalam."
"Yang ada malah rumah tangga kami akan sering mengalami cek cok karena ketidakcocokan dan bisa berakhir buruk, saya tidak ingin itu terjadi Nyonya. Jadi saya akan menuruti apapun permintaan dari Queen," beralih menatap ke arah wanita yang juga tengah menatapnya, "Bukankah itu yang kamu inginkan Queen?"
"Iya, kamu benar Sayang. Jika kamu benar-benar mencintaiku dan ingin membuat aku bahagia, maka kamu harus menuruti permintaan dari istrimu," Queen menatap ke arah sang Mommy, "Tuh Mom, calon Suamiku saja tidak menyuruh aku untuk tinggal di rumahnya, kenapa malah Mama yang ngebet banget aku tinggal di tempatnya?"
"Dia sangat mencintaiku, makanya tidak mau aku hidup menderita tinggal di rumahnya. Jadi menyuruhku untuk tinggal di gubuk derita Mom."
"Ya sudah kalau kamu tidak mau tinggal di rumah mertuamu, berarti kamu harus menuruti perintah Mama untuk tinggal di Mansion!" beralih menatap sang Kakak yang baru saja keluar dari ruangan ganti tempat putrinya tadi fitting gaun pengantin, "Aku mau berbicara dengan Aunty kalian!"
Arthur dan Salsabila mulai menyahuti perkataan dari sang Mama, "Mom, kami mau pulang. Anak-anak pasti sudah menunggu kami!"
__ADS_1
"Baiklah, lagipula tugasmu sudah selesai bukan untuk merayu Aditya untuk bekerja di perusahaan Raharja? Jadi kalian berdua pulang saja!" beralih menatap ke arah Aditya, "Kamu bisa mengganti pakaianmu Aditya, dan kalian boleh pulang juga. Biar Aunty Sandra yang mengurusnya!"
"Baik Nyonya Qisya," jawab Aditya tak lupa anggukan kepala di tunjukkannya dan berlalu pergi menuju ke ruangan ganti.
Lalu Arthur dan Salsabila berjalan menghampiri dua wanita cantik itu untuk berpamitan dan mencium punggung tangan keduanya.
"Kami pergi Aunty Sandra, jaga baik-baik adik Aunty biar nggak di lirik oleh mafia lagi hahaha ...."
Sandra seketika tertawa begitu mendengar perkataan dari keponakannya, "Kalau Papamu mendengarmu berbicara seperti itu, mungkin telingamu sudah merah di jewer olehnya. Sudah sana pergi bocah tengil!"
"Memang bocah tengil tuh anak," ucap Qisya dan beralih menatap ke arah menantunya, "Jaga bocah tengil ini Salsabila! Langsung jewer saja jika dia nakal."
Queen tertawa terbahak-bahak begitu mendengar perkataan dari sang Mommy, "Nanti aku bantu jewer telinganya Kakak ipar hahaha ...."
"Queen, kamu tunggu saja calon suamimu disini! Mommy dan Aunty akan ke lantai atas!"
"Sip Mom," mengangkat jempolnya dan mendaratkan tubuhnya di atas sofa di sebelahnya. Queen hanya mengamati siluet dua wanita yang sudah berjalan menaiki anak tangga. "Lama banget sih si miskin itu, aku sudah tidak sabar ingin menghabisinya," di saat yang bersamaan netra coklatnya bersitatap dengan netra pekat pria yang daritadi sudah di tunggunya.
Queen langsung bangkit dan berjalan menghampiri Aditya dan menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam, "Lama banget sih. Ayo ikut aku!!" dengan posisi tangan yang sudah menarik tangan pria yang membuatnya murka, dan menariknya untuk berjalan keluar dari butik milik Kakak dari Mamanya.
Sedangkan Aditya yang berjalan mengekor di belakang wanita yang sudah di kuasai oleh amarah itu, menatap ke arah bawah, dimana tangannya di tarik oleh Queen.
Ampuni dosa hambamu yang terlalu banyak ini ya Allah, dan juga ampuni dosa-dosa dari wanita yang akan menjadi Istriku ini.
__ADS_1
Begitu sampai di area parkiran, Queen dengan kasar menghempaskan tangan Aditya. Tatapan tajam menusuk di arahkannya kepada pria yang sangat di bencinya itu, kemudian tangannya mengayun ke atas dan berhasil mendarat di pipi putih pria yang terlihat tidak menghindar maupun menahan tamparan darinya.
Suara tamparan keras terdengar, bahkan tangan Queen terasa sangat panas begitu selesai memberi sebuah pelajaran pada pria yang di anggapnya tidak tahu diri, "Ini adalah hukumanmu, karena berani-berani memegang tanganku dan memerintahku di depan Mommy dan Kakakku. Apa kamu sudah lupa diri akan posisimu yang sebenarnya haaah ...."
"Kamu hanyalah pria miskin yang sudah aku beli dan kamu harus menuruti semua perintahku, jadi ingat baik-baik kata-kataku! Jangan pernah memerintahku! Apalagi di depan keluargaku, karena derajatmu tidak sebanding dengan keluargaku. Kamu ibarat alas kaki yang tempatnya selalu di bawah dan hanya pantas untuk di injak-injak."
"Jadi jangan lupakan posisimu, hanya karena kamu menikah denganku dan bisa bekerja di perusahaan Raharja, membuatmu langsung merasa besar kepala dan melupakan darimana kamu berasal. Berbicara denganmu benar-benar menguras banyak tenagaku, aku sudah muak melihatmu."
Setelah puas meluapkan amarahnya, Queen membuka pintu mobil dan mulai masuk ke dalam. Kemudian menyuruh sang supir untuk segera meninggalkan area butik meninggalkan pria yang masih terdiam di tempatnya, "Jalan Pak!!"
Sang supir pun menganggukkan kepalanya dan mulai menyalakan mesin dan mengemudikan mobil dengan sesekali menatap ke arah spion mobil untuk menatap pria yang masih terdiam di tempatnya.
Astaghfirullah ... kasihan sekali nasib Den Aditya. Bahkan aku yang melihatnya tadi saat Nona muda menamparnya, rasanya sangat sesak dan iba. Apalagi dengan Den Aditya yang merasakannya sendiri. Ya Allah, lindungilah Den Aditya.
Aditya menatap mobil yang membawa wanita yang sudah menamparnya, perlahan dirinya mengarahkan tangannya pada jantungnya yang berdegup sangat kencang karena merasa sangat terkejut sekaligus terluka mendapatkan hinaan dari wanita yang akan di nikahinya.
"Astaghfirullah ... Astaghfirullah ... begitu luar biasanya Engkau mengujiku Ya Allah. Apakah ini adalah salah satu caramu untuk memuliakan hambamu. Jika memang ini adalah caramu untuk mengangkat derajatku, hamba akan ikhlas menjalaninya ya Allah."
"Ampuni wanita yang akan aku nikahi, kuatkan aku dan sabarkanlah hambamu ini dalam menghadapi Nona muda arogan itu. Hanya kepada Mu hamba berserah diri dan hanya kepada Mu hamba menyerahkan takdir hidupku Ya Allah."
Setelah berhasil menenangkan perasaannya yang saat ini benar-benar tidak menentu, Aditya berjalan meninggalkan butik. Namun baru beberapa langkah dirinya berjalan, suara dari seorang wanita yang sangat tidak asing membuatnya menghentikan langkah kakinya.
"Mas Aditya ...."
__ADS_1
Bersambung ...