Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Selamat datang di dunia, Putriku.


__ADS_3

Queen yang masih memegangi perutnya yang terasa mulas, mengambil napas teratur berkali-kali untuk meringankan rasa sakit yang dirasakannya. Karena ia sudah tahu bahwa rasa mulas di perut akan mulai dirasakan saat bayi mulai mencari jalannya. Tak lupa ia perlahan bangkit dari ranjang dan berjalan ringan untuk mencoba menenangkan perasaannya dan juga rasa sakit di perutnya sambil menunggu sang suami yang berkemas untuk membawa perlengkapan bayi yang sudah dibeli.


"Subhanallah, perutku rasanya mulas sekali. Padahal ini belum apa-apa, sebentar lagi pasti akan semakin lama semakin sering dan bertambah nyerinya." Tangan kanan Queen memegangi pinggang, sementara tangan kiri mengusap lembut perutnya. "Beri aku kekuatan ya Allah."


Aditya yang sudah selesai berkemas, membawa tas jinjing berwarna hitam di tangan kanannya. Bahkan ia sudah membawakan pakaian ganti untuk sang istri karena melihat gaun malam menerawang itu melekat di tubuh Queen yang terlihat 2 kali lipat berat badannya setelah hamil.


"Sayang, ganti pakaianmu dulu. Setelah itu kita langsung ke rumah sakit." Aditya membantu sang istri untuk mengganti pakaian dengan gaun panjang besar berwarna hitam. Bahkan ia juga memakaikan hijab untuk menutupi aurat Queen setelah sebelumnya mengikat rambut panjang yang tergerai tersebut.


Sementara itu, Queen hanya diam seperti patung manekin saat Aditya mendandaninya ketika memakaikan hijab. "My hubbiy, kamu harus selalu di dekatku. Kamu tidak boleh ke mana-mana, karena aku takut sekali."


Aditya menganggukkan kepala dan mencoba untuk tersenyum dengan harapan bisa menenangkan rasa takut sang istri. "Pasti, Sayang. Aku akan selalu ada bersamamu dan tidak akan ke mana-mana. Tenanglah, berdoa kepada Allah SWT untuk memudahkan proses persalinan, oke!"


"Iya, My hubbiy. Dari tadi aku sudah berdoa, tetapi sepertinya doa darimu akan lebih didengar. Jadi, jangan berhenti mendoakan aku." Queen yang sudah tidak lagi merasakan rasa sakit, menatap netra pekat dengan silinder hitam itu. "Sebelum itu, aku minta maaf padamu, My hubbiy. Jika selama ini aku terlalu banyak dosa padamu dan tidak bisa menjadi istri yang shalihah untukmu."


Aditya yang bisa melihat ketakutan di wajah cantik Queen, refleks memeluk dari samping untuk menenangkan hati yang sedang dipenuhi rasa khawatir dan ketakutan.


"Tentu saja aku sudah memaafkanmu, Sayang. Kamu tidak perlu merasa khawatir. Bagiku, kamu adalah seorang istri terbaik karena mempunyai cinta yang begitu besar untuk pria biasa sepertiku. Untuk menjadi seorang istri shalihah memang berat, karena semuanya butuh proses. Aku sangat yakin, lama-kelamaan pasti kamu akan menjadi istri yang shalihah."


"My hubbiy," ucap Queen yang sudah berkaca-kaca melihat kebaikan dari pria yang selama ini selalu sabar dalam menghadapi tingkahnya. "Terima kasih, My hubbiy."


Aditya mengusap lembut punggung belakang sang istri yang sudah menangis tersedu-sedu. "Sudah-sudah, kita berangkat sekarang. Masih kuat berjalan sendiri, kan? Atau perlu aku gendong?"

__ADS_1


Queen menggeleng perlahan dan melepaskan pelukannya, "Aku bisa jalan sendiri, My hubbiy. Lagipula rasa sakitnya sudah hilang." Bergelayut di lengan kekar Aditya dan mengajaknya untuk keluar dari ruangan kamar.


Aditya yang merasa agak sedikit lega karena melihat Queen sudah tidak lagi merasakan sakit, membantu berjalan wanita yang terlihat kesusahan karena efek perut yang membuncit. Beberapa saat kemudian, mereka sampai di lantai dasar, bertemu dengan mertua dan ayahnya yang sedang berbincang-bincang di ruang tamu.


"Pa, kami mau ke rumah sakit. Karena istriku sudah mulai merasakan tanda-tanda melahirkan."


Refleks 3 orang yang melihat Aditya dan Queen, bangkit berdiri dan langsung menghampiri putrinya.


"Kamu yang tenang, Sayang. Semuanya akan baik-baik saja," ucap Qisya yang sudah menghambur memeluk erat putrinya. "Kami akan menyusul nanti. Kalian berangkat saja dulu. Belum terlalu sering kan rasa sakitnya?"


"Belum Mom, baru sekali. Itu pun belum terlalu sakitnya. Jadi, kalian tenang saja. Sudah ada suamiku yang akan selalu mendampingiku. Akan tetapi, sebelum itu ...." Queen yang dari tadi menahan bola matanya agar tidak sampai mengeluarkan air mata, sudah tidak mampu lagi menahannya lebih lama. Karena ia kini memeluk erat wanita yang telah melahirkannya.


"Mom, maafkan putrimu jika selama ini sering membuat kesal dan mungkin terlalu banyak dosa yang aku lakukan. Doakan putrimu ini agar melahirkan dengan lancar, Mom." Tubuh Queen bergetar hebat saat menangis tersedu-sedu.


"Terima kasih, Mom. Aku sangat menyayangi kalian semua." Entah mengapa rasa takut dirasakan oleh Queen saat akan melahirkan. Ia ingin memohon maaf pada orang-orang yang paling disayanginya karena berpikir mungkin jika terjadi sesuatu padanya, semua orang sudah memaafkannya. Sehingga dosanya sedikit berkurang.


"Ya Allah, jika nanti aku mati saat melahirkan, lindungi keluargaku," batin Queen di dalam hati.


Abymana yang merasakan putrinya terlalu berlebihan, mencoba menghentikan interaksi ibu dan anak itu. "Sudah ... sudah! Tingkah kalian berdua malah semakin berlebihan karena sibuk menangis. Lebih baik kamu berangkat ke rumah sakit sekarang, Sayang." Beralih menatap ke arah Aditya, "Cepat bawa istrimu, Aditya. Aku paling tidak suka melihat wanita menangis. Jika ini tidak dihentikan, lama-kelamaan ruang ini akan banjir air mata."


Aditya refleks mengangguk perlahan, "Baik Pa." Memegangi pundak sang istri. Ayo, Sayang. Lebih baik kita berangkat sekarang, sebelum kamu merasa nyeri lagi nanti."

__ADS_1


Queen melepaskan tangannya yang memeluk mommy-nya, "Iya, My hubbiy. Kami pergi dulu, Dad, Mom dan Ayah." Berlalu pergi dari hadapan 3 orang yang ada di hadapannya dengan dibantu pria yang sangat menjaganya dan membantu saat berjalan.


*******


🍃 Rumah sakit Raharja 🍃


Pagi hari pukul 07.30 WIB, Queen yang saat ini sudah berada di ruang persalinan bersama dengan Aditya, tengah berjuang keras saat bayinya sudah mau keluar. Tentu saja ia semalaman tidak tidur karena merasakan nyeri saat pembukaan. Dengan dibantu oleh para tim dokter terbaik, Queen tidak berhenti mengejan dengan posisi tangan yang saat ini memegang erat tangan pria yang selalu setia menemaninya.


Sementara itu, Aditya yang merasa sangat tidak tega melihat perjuangan dari wanita yang sangat dicintainya itu saat detik-detik melahirkan, membuatnya sibuk merapal doa di dalam hati agar semua penderitaan itu segera berakhir dan anaknya segera keluar dengan selamat. Hingga saat ia tidak berhenti memberikan semangat pada sang istri agar kuat, bernapas lega ketika mendengar suara tangis dari bayi yang baru saja keluar.


Suara tangis yang nyaring dari bayi yang baru saja menghirup udara saat lahir ke dunia, membuat Queen langsung mengeluarkan air mata. Rasa sakit yang dirasakannya semalaman, seolah langsung musnah begitu mendengar suara tangis dari bayinya.


"Anakku," ucap Queen yang menatap penuh haru pada Aditya.


Aditya menganggukkan kepala, "Anak kita, Sayang. Sekarang kamu sudah menjadi seorang ibu."


"Selamat, Tuan dan Nona muda atas kelahiran princess keluarga Raharja dengan berat 3,2 kg dan panjang 51cm," ucap dokter wanita yang sudah menaruh bayi di atas tubuh Queen.


Queen refleks mendekap erat bayi yang masih merah itu dan derai air mata sudah memenuhi wajahnya. "Putriku yang akan menjadi princess keluarga Raharja. Selamat datang di dunia, putriku."


Aditya ikut menyentuh malaikat kecilnya yang berada dalam dekapan sang istri. Rasa haru sekaligus bahagia menyeruak di dalam hatinya saat melihat momen membahagiakan seumur hidupnya. Sehingga ia refleks mencium kening Queen.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang. Alhamdulillah ya Allah, atas segala karunia-Mu hingga detik ini pada keluarga kecil kami."


TBC ...


__ADS_2