Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Terlalu percaya diri


__ADS_3

Aditya Syaputra saat ini sudah berada di dalam ruangan kamar perawatan kelas 1 yang baru saja ia pesan. Awalnya ia memilih ruangan perawatan kelas 3, karena tidak mempunyai biaya untuk perawatan sang ayah, sehingga memilih ruangan yang paling murah agar tidak membengkak tagihan rumah sakitnya.


Namun, setelah ia sudah memegang cek sebesar 200 juta, tentu saja itu dimanfaatkan olehnya untuk memberikan yang terbaik pada sang ayah yang saat ini baru saja tersadar dari efek obat bius.


"Ayah sudah sadar? Bagaimana perasaan Ayah saat ini?"


Pria paruh baya yang bernama Boby Syaputra itu mencoba memulihkan kesadarannya dan mulai menatap ke arah sekelilingnya.


"Apa sekarang ini kita berada di rumah sakit, putraku? Dan apa ini, bukankah ini adalah kamar perawatan untuk orang-orang kaya? Seharusnya Ayah berada di ruangan kelas 3, bukan? Bagaimana kita membayar biaya rumah sakit ini? Ayah sudah tidak apa-apa, lebih baik sekarang bawa Ayah pulang! Ayah tidak ingin semakin menyusahkanmu. Ayo, kita pulang sekarang."


Aditya menggelengkan kepalanya, "Jangan pernah berpikir untuk pulang sebelum keadaan Ayah benar-benar sudah baikan dan dokter mengijinkan untuk pulang. Ingat itu baik-baik Yah! Ayah tidak perlu memikirkan tentang masalah biaya, karena aku sudah membereskannya. Alhamdulillah aku mendapatkan pekerjaan tambahan dengan gaji yang sangat besar Yah. Jadi, aku bisa membayar biaya operasi dan perawatan Ayah sampai sembuh."


Boby mengerutkan keningnya saat mendengar perkataan dari putranya, "Pekerjaan tambahan? Memangnya pekerjaan tambahan apa yang memberi gaji besar padamu, putraku? Ayah tidak ingin kamu selalu menanggung biaya pengobatan dari orang tuamu."


"Dulu ibumu yang masuk rumah sakit dan kamu yang yang harus melunasi tunggakan biaya rumah sakit sampai dia meninggal karena penyakit TBC-nya itu. Belum setahun, sekarang gantian Ayah yang malah menyusahkanmu. Bahkan gaji kamu selalu habis untuk membayar cicilan hutang-hutang Ayah. Maafkan Ayah Nak, karena Ayah selalu menyusahkanmu."


Aditya buru-buru menggelengkan kepalanya karena tidak ingin membuat pria yang sangat dihormati serta disayanginya itu merasa bersalah.


"Jangan berbicara seperti itu Yah, ini adalah sebuah kewajiban dan tanggung jawab dari seorang anak kepada orang tuanya. Bahkan ibu dan Ayah dulu bersusah payah untuk membesarkan aku mulai dari bayi hingga dewasa seperti sekarang ini. Jadi, sekarang adalah kewajiban aku untuk membalas budi pada Ayah."


"Aku saat ini bekerja pada keluarga konglomerat, Yah. Karena mereka sangat kaya, makanya mereka memberiku gaji yang sangat besar. Dan besok pagi adalah hari pertama aku bekerja. Karena ini adalah pekerjaan sampingan, jadi aku hanya datang saat aku dipanggil saja. Sehingga aku masih tetap bisa bekerja di perusahaan. Besok pagi, aku akan meminta bibi untuk datang kesini menemani Ayah."

__ADS_1


"Baiklah Nak, syukur alhamdulillah kalau kamu sudah mendapatkan pekerjaan tambahan dengan gaji yang lumayan. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan keadaan Ayah, karena aku baik-baik saja. Kamu konsentrasi saja bekerjanya, agar bosmu menyukai pekerjaanmu."


"Tentu saja Yah, sepertinya Bosku itu sangat menyukaiku. Karena itulah dia memberiku gaji yang lumayan. Lebih baik Ayah istirahat saja, aku mau sholat Isya dulu, karena tadi aku belum sempat salat."


"Kita salat berjamaah saja, Nak. Ayah juga ingin salat, karena tidak ingin meninggalkan kewajiban meski sekarang sedang sakit. Karena Ayah masih bisa salat dengan posisi berbaring seperti ini."


"Ayah memang benar, karena pada prinsipnya, orang yang sakit tidak dicabut kewajiban salatnya. Namun, mendapatkan beberapa keringanan, dengan melakukan gerakan dan posisi-posisi salat semampu yang bisa dilakukan. Seperti yang terdapat dalam Al Qur'an dan Hadits.


"QS At-Taghabun:16 yang artinya "Dan bertaqwalah kepada Allah semampu yang kamu bisa. Dan juga dalam HR. Bukhari yang artinya, "Dan apa yang aku perintahkan kepada kalian, maka kerjakannya semampu yang bisa kamu lakukan."


"Alhamdulillah Ayah mengingat hal itu dan selalu mengerjakan kewajiban kita sebagai umat Islam. Baiklah Yah, kalau begitu aku wudhu dulu sebentar, Ayah tayamum saja!"


"Karena kewajiban seorang anak adalah mengingatkan orang tua yang lalai salat, dan aku akan berdosa jika membiarkan orang tua dalam kesalahan dan hukumnya adalah wajib, Yah." Setelah mengungkapkan hal yang diketahuinya kepada sang ayah, Aditya bangkit berdiri dari kursi dan segera pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Beberapa saat kemudian, ia keluar dari kamar mandi dan mulai mengimami salat. Kewajiban yang selalu dilaksanakannya dimanapun dirinya berada dan bagaimanapun keadaannya. Dan sakit pun tidak menjadikan sebuah alasan dalam memenuhi kewajibannya kepada Tuhan.


Setelah selesai melakukan kewajibannya, keduanya pun memutuskan untuk merehatkan tubuhnya karena hari pun memang sudah larut malam.


*******


🍃 Mansion Raharja 🍃

__ADS_1


Pagi-pagi sekali Queen sudah bangun dari tidurnya. Semalaman ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Karena ia memikirkan tentang mengenalkan pria yang baru saja dikenalnya kepada orang tua sebagai kekasih palsu. Saat ini ia meraih ponsel yang berada di atas nakas. Ia ingin mengecek apakah pria yang dibayarnya kemarin tidak lupa dengan tugas hari ini.


"Pria miskin nan bodoh itu lupa nggak ya tentang tugasnya hari ini? Atau jangan-jangan dia masih tidur lagi jam segini, lebih baik aku hubungi saja dia."


Bunyi sambungan telefon langsung tersambung. Queen menunggu beberapa saat. Namun, tidak ada jawaban dari panggilannya.


"Sepertinya benar dugaanku, dia pasti masih tidur. Sepertinya aku harus bersusah payah untuk membangunkannya."


Saat Queen berniat untuk menghubungi lagi nomor ponsel Aditya, yang terjadi malah ponselnya yang saat ini berbunyi. Dilihatnya nama pria miskin nan bodoh yang sedang menghubungi.


"Halo pria bodoh, apa kamu tadi masih tidur? Sehingga tidak mengangkat telfonku? Apa kamu lupa dengan tugasmu hari ini? Bukankah kamu harus bersiap-siap untuk tampil semenarik mungkin agar membuat orang tuaku percaya dan menyukaimu."


"Halo, assalamualaikum. Saya bantu jawab Nona, wa'alaikumsalam. Maaf tadi saya tidak bisa langsung menjawab telefon dari Nona, karena saya baru selesai salat subuh. Dan ketika saya selesai, saya langsung menghubungi Nona. Anda tidak perlu khawatir, karena saya bukanlah orang yang pelupa. Rencananya setelah salat, memang saya mau pulang ke rumah untuk bersiap-siap. Karena saya sedang menunggu kedatangan bibi yang akan menggantikan menjaga ayah di rumah sakit."


"Oh ... aku kirain kamu masih tidur. Kalau untuk masalah ayah kamu, tidak perlu dipikirkan! Aku akan mengirim orang untuk menjaganya. Jadi, kamu tidak perlu memikirkan tentang masalah siapa yang akan menjaga ayahmu. Lebih baik kamu siapkan mentalmu dan menguatkan dirimu karena daddy-ku adalah orang yang sangat luar biasa. Jangan sampai kamu ketakutan saat berbicara di depan daddy."


"Insya Allah saya tidak akan pernah merasa takut pada orang tua Anda, karena saya hanya takut pada Tuhan yang menciptakan alam semesta. Bukankah orang tua Anda juga makan nasi sama seperti saya? Jadi buat apa saya merasa takut?"


"Astaga ... kamu terlalu percaya diri sekali, Bung. Baiklah, aku akan melihatnya nanti. Jangan sampai kamu kencing di celana saat melihat daddy, karena jika sampai itu terjadi, aku yang akan menghabisimu."


TBC ...

__ADS_1


__ADS_2