
Aditya saat ini sudah berada di dalam ruangan kerja Dave dan duduk di sofa dengan laptop yang ada di atas meja. Keduanya mulai fokus mengamati laporan dari divisi yang dulu dipegangnya.
Dave mulai menanyakan beberapa hal terkait laporan tersebut yang dianggapnya ada sebuah hal yang dicurigai oleh presiden direktur dan menyuruhnya untuk membereskan hal tersebut. Tangan Dave menunjuk ke arah beberapa poin yang menurutnya sangat tidak masuk akal.
"Ini, Tuan muda. Beberapa poin ini terasa sangat janggal jika dipikirkan secara logika. Apa benar laporan ini, Anda yang mengerjakannya?" tanya Dave dengan tatapan intes pada majikannya tersebut. Sejujurnya ia merasa sangat tidak enak bertanya tentang hal itu, tetapi karena ingin menjalankan perintah dari presiden direktur, membuatnya terpaksa harus membahas tentang hal tersebut.
Aditya kini fokus mengamati laporan, tentu saja ia sangat hafal dengan apa yang dikerjakannya. Sehingga begitu melihat angka-angka di depannya tidak sesuai dengan apa yang dulu dikerjakannya, membuat ia membulatkan kedua matanya.
"Ini ada beberapa poin yang sudah diganti dan tidak seperti yang aku kerjakan. Kenapa bisa jadi begini?" tanya Aditya dengan tatapan penuh keheranan pada pria di sampingnya tersebut.
"Berarti memang ada dalang dibalik semua ini, Tuan Aditya. Seperti yang dikatakan oleh tuan Abymana bahwa perusahaan ini ibarat sebuah badan yang terkena komplikasi dan sebentar lagi akan koit. Karena itulah perusahaan tempat Anda bekerja sudah diancam kebangkrutan. Nasib baik diambil alih oleh Raharja Group, jika lainnya, saya tidak bisa menjamin. Mungkin akan banyak staf perusahaan yang di PHK," ucap Dave panjang lebar.
"Astaghfirullah, kenapa bisa seperti itu? Padahal kelihatannya perusahaan ini baik-baik saja. Bahkan semua staf perusahaan tidak pernah mengalami keterlambatan soal gaji," sahut Aditya dengan mengerutkan kening.
"Mungkin belum dan bisa terjadi beberapa bulan lagi jika terus-terusan seperti ini. Karena terjadi korupsi dan itu akan semakin menggerogoti kekuatan dari perusahaan ini. Sepertinya bukan hanya 1 orang yang ada dibalik semua ini. Karena itulah tuan Abymana akan memecat beberapa orang yang dicurigainya." Dave menunjuk ke arah daftar nama yang ada di ponselnya dan menunjukkan kepada tuan muda yang duduk di sebelahnya.
"Inilah daftar nama orang-orang yang akan dipecat secara tidak hormat dari perusahaan besok."
Aditya meraih ponsel pintar milik Dave dan mulai membacanya. Ia mengerutkan keningnya begitu mengetahui siapa saja yang masuk dalam daftar hitam mertuanya. "Benarkah para atasan ini yang sudah melakukan korupsi?"
"Iya, Tuan muda. Mereka bertiga bekerja sama dan sepertinya memang sudah berencana untuk membuat perusahaan ini bangkrut. Anehnya adalah perbuatan mereka bisa lolos dan tidak ada yang mengetahuinya. Bukankah ini sangat aneh?" tanya Dave dengan rasa penasaran yang sangat tinggi di pikirannya.
"Sepertinya ada banyak orang dalam yang terlibat," ucap Aditya yang langsung menatap ke arah pintu, begitu mendengar suara ketukan dan suara dari Sabrina.
__ADS_1
"Apakah saya boleh masuk?" tanya Sabrina dengan posisi tangan yang masih berada di daun pintu.
"Masuk saja," jawab Dave yang beralih menatap ke arah tuan mudanya. "Kita lanjutkan nanti saja Tuan muda."
Aditya menganggukkan kepalanya dan beralih menatap ke arah wanita yang sudah berjalan ke arahnya. Ia mengerutkan kening saat mencari sosok sang istri yang tidak ada di belakang Sabrina. "Apakah istriku belum selesai makan, Sabrina?"
Sabrina hanya tersenyum kecut mendengar pertanyaan dari pria yang sudah ada di depannya. Namun, ia terpaksa menjawabnya karena ada yang ingin ditanyakan. "Sudah selesai, tetapi dia sedang menjawab telefon dari wanita yang menghubungimu tadi."
"Wanita siapa? Apakah dia menyebutkan namanya?" tanya Aditya yang langsung bangkit berdiri dari posisinya. Saat ini yang ada dipikirannya adalah sang istri yang mungkin sedang murka dan mengumpat wanita yang menghubunginya. "Aah ... lebih baik aku tanyakan langsung pada istriku," ucap Aditya yang buru-buru melangkah pergi melewati Sabrina.
"Tunggu," teriak Sabrina untuk menghentikan langkah kaki dari mantan kekasihnya, tetapi sama sekali tidak diperdulikan oleh pria tersebut. "Padahal aku belum selesai berbicara." Sabrina terlihat masam dan sangat kesal karena pria yang masih diharapkannya sudah tidak lagi mau memandangnya.
Sementara itu, Dave terlihat iba saat menatap Sabrina yang merasa frustasi. "Sudahlah, jangan lagi berharap hal yang tidak mungkin."
"Diamlah, aku sedang kesal dan jangan menyulut api kemarahanku." Sabrina menatap ke arah beberapa berkas yang ada di di atas meja. "Lebih baik kita melanjutkan pekerjaan yang tadi sempat tertunda."
Sabrina kembali membuka berkas yang tergolek di atas meja dan mengalihkan pandangannya ke arah Dave, "Apakah kalian berdua sudah membahas soal laporan ini?" tanya Sabrina yang sudah menunjuk ke arah laptop.
"Sudah, semuanya beres," jawab Dave yang tidak berkedip menatap wajah cantik wanita tersebut. "Aku sama sekali tidak pernah menyangka jika aku akan menikahi wanita bar-bar ini," gumam Dave di dalam hati.
Sabrina menautkan kedua alisnya begitu melihat Dave seperti orang yang melamun. Kemudian ia mengibaskan tangannya di depan wajah Dave. "Haloo ... malah melamun, lagi."
"Eh ... siapa yang melamun? Aku hanya sedang memikirkan sesuatu," jawab Dave dengan mengalihkan pandangannya untuk menatap ke sembarang arah.
__ADS_1
"Memikirkan apa?" tanya Sabrina yang merasa sangat penasaran.
"Bukankah kita akan menikah?"
"Ya? Maksudmu pernikahan palsu? Memangnya kenapa?"
"Terserah apa itu namanya, mau palsu atau asli. Dengan lamaran dari keluarga Raharja tadi, menegaskan bahwa aku adalah calon suamimu di mata orang tuamu. Bukankah aku mempunyai kewajiban untuk menjaga calon istri? Jadi, mulai hari ini dan seterusnya aku yang akan mengantar jemput kamu dan aku pun harus menyapa kedua orang tuamu, bukan?" ujar Dave dengan tatapan intens pada Sabrina.
"Benar juga apa katamu. Sepertinya orang tuaku pun ingin bertemu denganmu setelah presdir datang ke rumah tadi. Baiklah, kamu boleh melakukannya. Lagipula aku pun akan mengirit uang transport nanti jika kamu setiap hari mengantar jemput aku," sahut Sabrina dengan terkekeh.
"Yang kamu pikirkan hanya soal itu saja. Tidak jauh dari uang. Apa semua wanita selalu begitu, ya. Uang jadi hal paling utama bagi mereka," sarkas Dave dengan kesal.
"Sepertinya begitu," jawab Sabrina dengan terkekeh.
Saat Sabrina dan Dave tengah membahas masalah uang, di ruangan presiden direktur, Queen dan Aditya terlihat tengah bersitegang karena membahas tentang sosok wanita misterius yang menelfon beberapa saat lalu.
Saat Aditya masuk ke dalam ruangan, bisa dilihatnya sang istri tengah berbicara dengan serius di telfon dengan wajah yang dikuasai oleh amarah.
"Aku tidak mau tahu, cepat cari tahu siapa wanita itu. Dia harus ditemukan dan bawa ke hadapanku dalam waktu 24 jam."
Queen mematikan sambungan telefon dan menatap ke arah sang suami, "Sudah selesai urusan dengan Dave, My hubbiy?"
"Sudah. Kamu mau berbuat apa lagi, Sayang? Memangnya siapa wanita itu? Apakah tadi dia tidak menyebutkan namanya?" tanya Aditya yang sudah memeriksa ponselnya.
__ADS_1
"Wanita itu sudah mematikan sambungan telefon dan saat aku hubungi lagi untuk bertanya, nomor ponsel tersebut sudah tidak aktif. Bukankah itu sangat aneh? Jadi, aku harus mencari tahu siapa wanita itu? Meskipun dia bersembunyi hingga ke lubang semut sekalipun, aku tetap akan menemukannya," ujar Queen dengan sangat geram.
TBC ...